Bab 7. Merindukan Panggilan Sayang

1343 Words
“Kita akan visite siang ini. Bersiaplah,” ucap Julian sambil menaruh catatan medis di meja kerja. “Visite?” Keira sedikit terkejut. “Bukankah biasanya saya hanya di poli?” Julian menatapnya tajam. “Sebagai perawat, kamu juga harus tahu kondisi pasien di rawat inap. Kamu tidak bisa hanya mengurusi administrasi dan poli saja. Ikut dan pelajari, jangan banyak tanya!” Keira mengangguk meski dalam hati ia bertanya-tanya. Mengapa tiba-tiba ia dilibatkan? Bukankah di rumah sakit ini ada tim perawat yang khusus menangani pasien rawat inap? Julian melangkah mendahului, dan Keira buru-buru mengikutinya setelah mengambil buku catatan kecil dan pena dari meja. Mereka berjalan melewati lorong rumah sakit, menuju lantai dua tempat ruang rawat inap berada. Suasana di lorong cukup sepi, hanya terdengar derap langkah keduanya yang menggema. “Pasien pertama di ruang 202. Usia 47 tahun, pria, masuk dengan keluhan nyeri d**a. Pemeriksaan menunjukkan angina pektoris. Sudah saya rujuk ke spesialis jantung untuk evaluasi lebih lanjut,” jelas Julian tanpa menoleh, suaranya formal. Keira mencatat cepat di buku kecilnya. “Apakah pasien sudah diberi terapi nitrat atau hanya observasi, Dokter?” Julian berhenti sejenak, menoleh ke arahnya. Alisnya terangkat tipis, seolah terkejut bahwa Keira cukup paham istilah medis. “Kamu tahu tentang nitrat?” tanyanya. “Saya sempat membaca tentang terapi pada pasien dengan angina, Dokter,” jawab Keira, berusaha tetap tenang meski hatinya berdebar di bawah tatapan Julian. “Bagus.” Julian kembali berjalan, kali ini lebih pelan, seolah memberi waktu untuk Keira mengimbanginya. “Nitrat diberikan pada awal untuk mengurangi gejala, tetapi sekarang pasien dalam observasi untuk efek samping. Itu sebabnya kamu perlu tahu. Peran perawat tidak hanya eksekusi, tapi juga pengawasan.” Keira hanya mengangguk, menahan diri agar tidak terlalu memikirkan perubahan kecil dalam nada suara Julian yang terasa lebih hangat. Mereka tiba di ruang 202, dan Julian mengetuk pintu perlahan sebelum masuk. Di dalam, seorang pria paruh baya terbaring di ranjang, wajahnya tampak lelah. Monitor di samping ranjang menunjukkan denyut jantung yang stabil. “Bagaimana kondisi Anda hari ini, Pak?” Julian membuka percakapan dengan suara tenang. “Lumayan, Dokter. Tapi d**a saya masih kadang terasa berat,” jawab pria itu. Julian mengangguk sambil memeriksa catatan di tangan. “Itu wajar. Obat yang diberikan akan membantu, tetapi Anda harus tetap menghindari stress. Jaga pola makan, kurangi makanan berlemak, dan kalau ada keluhan mendadak, segera tekan tombol panggilan perawat.” Keira berdiri di samping, memperhatikan cara Julian berbicara dan berinteraksi dengan pasien. Di luar sikap dinginnya, ia menyadari Julian memiliki sisi profesional yang sulit disangkal. Setelah memberikan beberapa penjelasan tambahan kepada pasien, mereka melanjutkan ke ruang berikutnya. Perjalanan dari satu ruang ke ruang lainnya berlangsung dengan pola yang sama. Julian menjelaskan kondisi pasien dengan rinci, Keira mencatat dengan tekun, dan keduanya sesekali bertukar pendapat tentang tindakan medis yang diberikan. Namun, ada saat-saat di mana Keira merasakan tatapan Julian yang lebih lama dari seharusnya. Tatapan itu bukan sekadar pengawasan seorang atasan terhadap bawahannya. Ada sesuatu di baliknya, sesuatu yang membuat jantung Keira berdebar tidak karuan. Kalau begini, ia takut pertahanannya untuk membenci bisa runtuh. Ia takut dendamnya akan pudar seiring hujaman tatapan yang ia rindukan itu. Di ruang terakhir, Julian menyelesaikan diskusi dengan pasien, lalu berbalik ke arah Keira. “Kamu harus sering ikut visite seperti ini. Dengan begitu, kamu akan lebih paham bagaimana kondisi pasien di luar poli.” “Baik, Dokter,” jawab Keira singkat, menunduk untuk menghindari tatapan Julian. Julian tersenyum tipis, hampir tidak terlihat. Sebenarnya asistennya tak perlu mendampingi visite, tetapi ini alasan Julian untuk punya waktu lebih lama di dekat Keira. Mau sekeras apapun mulutnya membentak, hatinya tak dapat berbohong bahwa cintanya masih begitu kokoh. Ia rindu, dan kerinduan itu terus menyiksanya. Batinnya terluka, dan hanya ini yang bisa ia lakukan untuk bisa selalu mencuri waktu dengan Keira meski terkesan bak pengecut. Di balik wajah angkuhnya, hatinya terus bergemuruh. Ia hanya ingin lebih banyak waktu bersama Keira, waktu yang dulu ia sia-siakan. Namun, meski hatinya berteriak ingin mengungkapkan semuanya, ia memilih diam. "Maaf, aku hanya bisa menjagamu dari jauh tanpa bisa mendekapmu seperti dulu lagi, Kei," batinnya, nelangsa. Ia berjalan cepat di koridor rumah sakit, diikuti Keira yang tertinggal beberapa langkah di belakangnya. Pria itu tetap menjaga sikap dinginnya, berbicara hanya jika diperlukan, meskipun dalam hati ia sengaja memperpanjang waktu visite agar bisa bersama Keira lebih lama. Namun, Keira semakin sulit mengikuti langkah cepat Julian. Perutnya melilit dengan nyeri hebat, dan rasa pusing mulai menyerang. Ia tahu ini akibat magh yang kambuh karena belum sempat makan siang. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, napasnya tersengal, dan pandangannya mulai buram. “Keira, apa yang kamu lakukan di belakang? Ayo cepat!” perintah Julian dengan nada tegas tanpa menoleh. Keira mencoba menjawab, tapi hanya suara lirih yang keluar. Tubuhnya terasa semakin lemah, kakinya goyah. Hingga akhirnya, di koridor yang sepi itu, tubuhnya kehilangan keseimbangan dan ia terjatuh dengan suara berdebam pelan. “Keira ...!” Julian langsung berbalik, wajahnya berubah panik saat melihat Keira terkapar di lantai. Ia segera berlutut di sampingnya, mencoba membangunkan wanita itu. “Keira, masih bisa dengar aku, kan?! Apa yang terjadi?” Keira membuka matanya sedikit, pandangannya kabur. Ia bisa merasakan tangan Julian menggenggam kuat lengannya. “P-perut ...,” gumamnya lemah. “Ma-magh ....” Julian membelalak seketika. “Astaga, kenapa tidak bilang dari tadi?!” Tanpa berpikir panjang, Julian mengangkat tubuh Keira dalam gendongannya. Wanita itu terkejut, tapi terlalu lemah untuk melawan. Dadanya terasa berdebar, tapi ia tidak tahu apakah itu karena kondisi tubuhnya atau karena sentuhan hangat Julian. “Kau bodoh sekali! Kalau sakit, katakan! Jangan paksakan diri seperti ini!” geram Julian sambil berjalan cepat menuju ruang medis terdekat. Namun, di balik nada marahnya, ada rasa takut yang tidak bisa ia sembunyikan. Di antara sadar dan hampir pingsan sepenuhnya, Keira merasa kepalanya bersandar di d**a Julian. Ada kehangatan yang aneh di sana, sesuatu yang memunculkan kenangan lama. Jantungnya berdetak lebih cepat, tapi kali ini ia tahu, itu bukan karena asam lambungnya, melainkan karena cinta yang tanpa sadar kembali menyala. Julian menerobos masuk ke ruang medis, menarik perhatian perawat di sana. “Asam lambungnya kambuh. Siapkan bad!" Salah satu perawat segera membantu menyiapkan tempat tidur. Julian dengan hati-hati membaringkan Keira, lalu melepas jas putihnya dan menyelimutkannya ke tubuh Keira yang tampak menggigil. "Berikan infus dan cek tekanan darahnya sekarang!” perintahnya. Keira, yang mulai sedikit sadar, malah merasa hatinya semakin diremas mendapati perhatian itu. Matanya berkaca-kaca, sentuhan tangan kekar itu membakar cinta sekaligus dendamnya bersamaan. “A-aku bisa sendiri …,” gumamnya pelan, mencoba bangkit. “Tetap baring!” potong Julian dengan nada tajam. “Kau sudah cukup menyusahkan dengan pingsan di tengah tugas.” Keira mengerjap, merasa terluka oleh ucapan Julian, tapi tidak bisa menyangkal. Setelah infus terpasang dan Keira mendapatkan obat, Julian akhirnya menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur. Ia menyandarkan tubuhnya, mencoba menyembunyikan rasa lega yang membanjiri hatinya. “Kenapa tidak makan siang?” tanyanya tiba-tiba, suaranya lebih pelan dari biasanya. Keira menoleh perlahan. “Tidak sempat. Jadwal terlalu padat.” Julian menghela napas, nadanya terdengar penuh penyesalan. “Kau bukan robot, Keira. Kau tidak bisa terus memaksakan tubuhmu.” “Lain kali, jika merasa tidak enak badan, katakan padaku. Aku tidak mau kau berakhir seperti ini lagi.” Keira mengangguk pelan, merasa aneh dengan perhatian Julian. Ia tidak bisa membaca pria itu, hatinya semakin kacau. Setelah beberapa saat, Julian berdiri. “Istirahat di sini sampai kau benar-benar pulih. Aku akan meminta perawat lain untuk menggantikanmu sementara.” “Julian,” panggil Keira pelan, tanpa sadar menyebut namanya tanpa embel-embel formal. Julian menoleh, tatapan matanya sedikit melunak. “Apa?” Keira membuka mulutnya untuk menjawab, tapi kata-katanya terhenti. Ia sendiri tidak tahu apa yang ingin ia katakan. Hanya saja, dadanya terasa sesak dengan perasaan yang bercampur aduk. “Tidak apa-apa.” Julian menatapnya sebentar, lalu mengangguk. “Istirahatlah,” ucapnya sebelum keluar ruangan. Di balik pintu yang tertutup, ia berhenti, menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil menghela napas panjang. Ia menggenggam dadanya yang terasa berat. Mengapa perasaannya pada Keira tidak pernah padam, meski waktu terus berlalu? "Aku merindukan panggilan sayangmu, Kei," gumamnya dengan mata terpejam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD