Malam itu, Keira masih terbaring di ranjang pesakitan. Tubuhnya sudah lebih baik setelah infus dan obat-obatan membantu meredakan asam lambungnya.
Keheningan malam perlahan pecah oleh suara ketukan di pintu. Seorang perawat masuk bersama seorang bocah lelaki berusia lima tahun yang memeluk erat mainan mobil-mobilan di tangannya.
“Bu Keira, maaf mengganggu,” ucap perawat itu dengan lembut. “Ada anak ibu, Revan, yang datang. Dia diantar tetangga karena katanya khawatir ibunya sakit.”
Keira yang baru saja terjaga, tersentak melihat Revan. “Revan? Sayang, kenapa kamu di sini?” tanyanya, terkejut sekaligus bingung.
Revan segera berlari ke sisi ranjang dan memeluk tubuh Keira yang masih lemah. “Mommy sakit, kan? Revan tahu Mommy sakit!” Suaranya bergetar, hampir menangis.
Keira berusaha tersenyum meski hatinya terasa berat. Ia mengusap kepala kecil Revan dengan lembut. “Mommy baik-baik saja, Sayang. Kenapa kamu nekat ke sini, hmm?”
Revan menggeleng keras, menatap sang mommy dalam-dalam. “Revan nggak mau tidur kalau Mommy nggak ada. Revan cuma punya Mommy di dunia ini. Kalau Mommy sakit, siapa yang jagain Revan? Revan ingin selalu ada di samping Mommy, nggak masalah di rumah sakit yang penting Revan lihat Mommy dan di samping Mommy.”
Perasaan hangat sekaligus pedih menyelinap ke hati Keira. Ia menarik Revan ke dalam pelukannya, menahan air mata yang hampir tumpah. “Mommy nggak apa-apa, Sayang. Mommy janji akan cepat pulih.”
Perawat tersenyum kecil melihat momen itu. “Bu Keira, saya tinggalkan dulu, ya. Kalau ada apa-apa, tekan tombol panggil.”
Keira mengangguk lemah. Setelah perawat pergi, ia menatap Revan dengan penuh kasih. “Kamu sudah makan malam, Sayang?”
“Udah, tapi Revan nggak mau pulang. Revan mau di sini sampai Mommy sembuh,” jawabnya tegas, suaranya kecil.
Pagi harinya, Julian berjalan menuju ruang rawat. Ia berniat memastikan kondisi Keira sebelum memulai aktivitasnya di rumah sakit. Namun, langkahnya terhenti sejenak saat ia membuka pintu dan melihat pemandangan di dalam.
Keira masih terbaring di ranjang medis, tetapi kali ini ada seorang bocah kecil yang tertidur di sampingnya, memeluk mainan mobil-mobilan sambil menggenggam tangan Keira. Wajah polos anak itu terlihat begitu damai.
Julian menatap pemandangan itu dengan perasaan yang sulit ia jelaskan. Entah mengapa, setiap kali melihat anak itu, hatinya bergemuruh. Ia merasa ada ikatan yang tak kasat mata antara dirinya dan bocah itu.
Keira terbangun oleh suara langkah Julian. Ia sedikit terkejut melihatnya. “Dokter Julian? Ada apa pagi-pagi begini?”
Julian melangkah masuk, mencoba menjaga ekspresinya tetap tenang. “Aku hanya ingin memastikan kondisi kesehatanmu. Tapi .…” Matanya beralih ke Revan. “Sejak kapan dia ada di sini?”
“Revan datang tadi malam,” jawab Keira pelan. Ia mengusap kepala Revan yang masih tertidur. “Dia khawatir karena tahu aku sakit. Tetangga kami yang mengantarnya ke sini.”
Julian mendekat, memperhatikan wajah kecil itu dengan seksama. Wajah yang begitu mirip dengan dirinya. Ia berusaha menahan perasaan yang semakin membuncah di dadanya. “Dia sangat menyayangimu.”
Keira tersenyum tipis. “Dia anak yang manis. Revan satu-satunya alasan aku bertahan selama ini.”
Saat itu, Revan mulai menggeliat pelan, membuka matanya yang masih setengah mengantuk. Ketika melihat Julian, ia mengerjap dan langsung duduk tegap.
“Om Dokter?” tanyanya dengan suara serak.
Julian berlutut di dekat bocah itu, berusaha menjaga nada suaranya tetap lembut. “Hai, Revan. Kamu semalam di sini, ya?”
Revan mengangguk penuh semangat. “Revan jagain Mommy. Mommy sakit. Revan nggak mau Mommy kenapa-kenapa. Yang Revan punya di dunia ini cuma Mommy.”
Ucapan polos itu membuat Julian tertegun. Ada rasa sakit yang menyelusup ke dadanya. Ia ingin memeluk bocah itu, ingin mengakui bahwa ia adalah ayahnya. Namun, ia tahu ia tidak bisa.
Ia hanya bisa mengusap pelan kepala Revan, menyembunyikan gejolak di hatinya. “Mommy-mu orang yang kuat, Revan. Dia pasti cepat sembuh.”
Revan menatapnya dengan mata yang berbinar. “Om Dokter janji, ya? Jangan biarin Mommy sakit lagi.”
Julian tersenyum samar. “Om janji. Om akan pastikan Mommy-mu baik-baik saja.”
Keira menyaksikan interaksi itu dengan perasaan aneh di dadanya. Julian terlihat begitu natural saat berbicara dengan Revan, seperti seorang ayah yang penuh perhatian.
“Revan, sudah sarapan?" tanya Julian.
“Belum.” Bocah itu menunduk malu.
Julian berdiri, menatap Keira. “Aku akan minta seseorang membawakan makanan untuk Revan. Kamu tetap istirahat. Jangan terlalu memaksakan diri.”
Keira mengangguk pelan. Saat Julian berbalik meninggalkan ruangan, Revan memanggilnya. “Om Dokter!”
Julian berhenti dan menoleh. “Ya?”
“Terima kasih, ya, sudah baik sama aku dan terima kasih sudah mau janji untuk jagain Mommy,” ucap Revan tulus.
Julian menatap bocah itu dengan senyum samar, tetapi di dalam hatinya, ada gejolak besar yang tak terlihat. "Bahkan nada bicaramu sangat mirip denganku, Nak. Jagalah Mommy-mu, jagalah wanitaku dengan darahku yang mengalir dalam tubuhmu. Kau pasti mewarisi cintaku pada Mommy-mu, Nak ...."
Tak lama kemudian, Julian melangkah kembali ke ruang medis dengan membawa sekantong roti dan segelas s**u. Di tangannya kirinya, ada sekotak kecil berisi mainan. Saat pintu terbuka, ia menemukan Keira duduk di ranjang, sementara Revan yang tampak mengantuk bersandar di lengannya. Wajah polos bocah itu membuat langkah Julian melambat, perasaan hangat bercampur getir menguasainya.
“Aku membawakan roti dan s**u untuk Revan,” ucap Julian dengan nada pelan. Ia mendekat, meletakkan semuanya di meja kecil di dekat ranjang.
Keira hanya melirik sekilas. “Terima kasih, Dokter. Tidak perlu repot-repot.”
Julian menatapnya, mendengar nada dingin yang tidak bisa ia sangkal menyakitkan. “Dia masih kecil. Dia butuh makan dan istirahat yang cukup.”
Revan yang mendengar suara Julian langsung mendongak, senyumnya mengembang. “Om Dokter baik banget! Mommy, boleh aku makan roti ini?”
“Tentu, Sayang. Jangan lupa bilang terima kasih,” jawab Keira lembut, meski senyum di bibirnya terasa berat.
“Terima kasih, Om Dokter!” seru Revan riang sebelum menyambar roti itu.
Julian mengacak rambut bocah itu sambil membalas senyum.
Tak lama kemudian, pintu kembali diketuk. Seorang pria masuk membawa beberapa kantong makanan berat. “Permisi, Dok. Ini pesanannya tadi.”
Julian mengangguk. “Terima kasih. Letakkan di meja sana.”
Keira terdiam, matanya tertuju pada kantong-kantong makanan yang jumlahnya banyak sekali.
“Kenapa sebanyak ini, Dokter?”
“Anak kecil butuh makanan sehat. Dan kamu juga butuh makan, Keira,” jawab Julian tanpa menoleh, sibuk mengatur makanan di meja. “Kalian berdua kelihatan kurang gizi.”
Keira mendengus kecil. “Saya bisa mengurus diri sendiri, Dokter. Saya sudah terbiasa.”
Julian menghentikan tangannya sejenak, tapi tidak berkata apa-apa. Dalam diam, ia merasa perih mendengar ucapan itu.
Sementara itu, Revan sudah sibuk memilih makanan dengan mata berbinar. “Mommy, lihat! Ada ayam goreng favoritku! Om Dokter tahu aku suka ayam, ya?”
Julian tersenyum kecil. “Om tebak saja. Anak seusiamu pasti suka ayam goreng, kan?”
Revan mengangguk heboh sambil mengunyah dengan lahap. Julian memperhatikan bocah itu dengan tatapan lembut yang tak mampu ia sembunyikan. Di dalam hatinya, ia semakin yakin bahwa Revan adalah darah dagingnya.
Keira yang diam-diam memperhatikan interaksi itu semakin merasa tenggelam dalam perasaannya sendiri. Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan air mata.
Saat Revan kembali sibuk dengan makanannya dan melirik Keira yang tengah termenung ke arah lain, Julian mendekati bocah itu perlahan.
Ia menunggu momen yang tepat, dan ketika Revan menunduk untuk mengambil sesuatu, Julian dengan hati-hati menyentuh rambutnya. Dengan gerakan cepat dan halus, ia mengambil sehelai rambut Revan.
“Aw …!” Revan menoleh sebentar, tetapi tidak menunjukkan rasa sakit. “Kenapa, Om?”
“Tidak, cuma ada debu di rambutmu,” jawab Julian dengan santai, memasukkan rambut itu ke dalam kantong kecil di sakunya tanpa sepengetahuan siapa pun.
Revan mengangguk kecil, lalu kembali makan dengan riang. Julian menarik napas lega, meski hatinya berdebar-debar.
Ia pamit keluar setelahnya, mengatakan akan ke poli dan menemui pasien. Namun, kakinya malah berbelok ke lorong yang mengarah ke laboratorium.
Di laboratorium, ia menyerahkan rambut Revan dan rambutnya yang sudah ia simpan rapi. “Lakukan tes DNA ini secepatnya,” pintanya tegas.
Teknisi laboratorium mengangguk. “Baik, Dok. Hasilnya akan keluar dalam beberapa hari.”
Julian mengangguk, lalu berjalan keluar dengan langkah berat. "Aku memang yakin, tapi tetap perlu bukti untuk meyakinkan orang lain. Aku akan membawamu dan anak kita ke hadapan orang tuaku, Kei. Dan apapun resikonya ... aku tidak akan lari lagi kali ini," batinnya dengan sorot tajam.