Beberapa hari terakhir, suasana di rumah sakit terasa lebih sibuk dari biasanya. Staf berlalu lalang dengan wajah serius, sebagian besar disibukkan oleh persiapan ulang tahun rumah sakit yang akan diadakan dalam waktu dekat.
Siang itu, setelah menyelesaikan jadwal di poli umum, Julian mendapati pesan di ponselnya.
[Dr. Julian, rapat dengan jajaran direksi dimulai pukul 11.00 di ruang meeting lantai atas. Kehadiran Anda sangat diharapkan oleh Pak Dirut.]
Julian menghela napas panjang, menatap layar ponselnya dengan lelah. Ia sudah tahu apa yang akan dibahas. Rapat semacam ini sangat membosankan. Ia lebih suka menghabiskan waktu di ruang praktik atau berfokus pada kasus pasiennya, dibandingkan mendengar ide-ide absurd para petinggi yang seringkali lebih mementingkan citra daripada pelayanan.
Meski enggan, Julian tetap melangkahkan kakinya ke ruang meeting yang berada di lantai paling atas. Lift bergerak perlahan, dan di dalamnya ia memejamkan mata sejenak, mencoba mengatur pikirannya yang terus-menerus berpusat pada Keira dan Revan.
Saat pintu lift terbuka, suara riuh diskusi langsung menyambutnya. Ruang meeting besar itu sudah hampir penuh. Para petinggi rumah sakit, termasuk mertuanya, duduk berjajar di kursi panjang yang mengelilingi meja besar. Julian mengambil tempat di ujung meja, sengaja memilih kursi yang agak jauh dari pusat perhatian.
“Akhirnya kau datang juga, Julian” ucap ayah mertuanya dengan nada ramah.
Julian hanya mengangguk kecil. “Maaf terlambat. Ada pasien di poli tadi,” jawabnya singkat.
“Tidak masalah. Kita baru saja memulai,” balas Pak Dirut.
Diskusi pun dimulai. Beberapa staf membahas susunan acara ulang tahun rumah sakit, termasuk rencana mengundang pejabat kota dan tokoh-tokoh penting lainnya. Julian hanya duduk diam, sesekali menatap layar proyektor yang menampilkan presentasi.
“Dokter Julian, bagaimana pendapat Anda tentang ide gala dinner di akhir acara? Apakah menurut Anda ini akan meningkatkan citra rumah sakit?” tanya salah satu direksi tiba-tiba, membuyarkan lamunannya.
Julian mendongak, menatap pria itu dengan datar. “Saya rasa, citra rumah sakit lebih banyak ditentukan oleh kualitas pelayanan kita, bukan oleh acara seperti ini. Tapi, jika Anda merasa gala dinner penting, silakan dilanjutkan.”
Jawaban yang singkat dan terkesan tak antusias itu membuat suasana sedikit canggung. Namun, Pak Dirut segera menimpali, mencoba mencairkan suasana. “Dokter Julian memang selalu fokus pada pasiennya. Itu yang membuatku bangga padanya sebagai menantu sekaligus dokter di rumah sakit ini.”
Julian menahan diri untuk tidak mendengus keras. Pujian seperti itu hanya sekadar basa-basi untuk menjaga citra keluarga mereka. Ia tahu betul bahwa hubungan mereka tak seharmonis yang terlihat.
Rapat berlangsung selama dua jam, dan sebagian besar waktu dihabiskan Julian dengan mendengarkan tanpa banyak menanggapi. Kepalanya terasa berat, muak dengan pembahasan ini.
Saat akhirnya rapat selesai, Julian langsung bangkit dari kursinya, berniat keluar secepat mungkin. Namun, langkahnya terhenti saat mertuanya memanggilnya.
“Julian, tunggu sebentar.”
Julian menoleh, menatap pria paruh baya itu dengan pandangan datar. “Ada apa, Pa?”
Pak Dirut mendekatinya, ekspresinya serius. “Papa tahu kamu tidak terlalu menikmati rapat tadi. Tapi ingat, acara ulang tahun rumah sakit ini penting untuk reputasi kita. Papa harap kamu bisa memasang wajah yang lebih ramah, setidaknya di depan tamu-tamu nanti.”
Julian mengangguk kecil. “Aku akan mengusahakannya, Pa. Maaf sudah mengecewakan tadi.”
“Bagus. Dan satu lagi,” lanjut Pak Dirut sambil menepuk bahunya, “jangan lupa bahwa kamu adalah wajah dari keluarga ini. Banyak yang mengandalkanmu.”
Ucapan itu membuat Julian semakin muak. Ia hanya tersenyum tipis, lalu segera berpamitan. “Kalau begitu, aku permisi dulu. Ada pasien yang harus aku tangani.”
Julian memutuskan untuk ke ruang rawat Keira. Ia ingin memastikan kondisi wanita itu, agar perasaan tidak terus-menerus dilanda kekhawatiran.
Namun, saat ia tiba di depan pintu, suara tawa kecil terdengar dari dalam. Ia membuka pintu pelan-pelan dan melihat pemandangan yang membuat dadanya menghangat.
Revan sedang bermain dengan beberapa mainan, sementara Keira duduk di ranjang, menyandarkan tubuhnya sambil mengawasi bocah itu dengan senyum lembut.
“Mommy lihat, mobilnya balapan!” seru Revan riang.
“Bagus sekali, Sayang. Tapi hati-hati jangan sampai kena barang-barang di sini, ya,” balas Keira dengan lembut.
Julian melangkah masuk, membuat keduanya menoleh. Revan langsung berseru, “Om Dokter ...!”
“Bagaimana keadaan Mommy-mu hari ini?” tanya Julian sambil mendekat.
“Mommy sudah lebih baik, Om,” jawab Revan dengan polos.
Keira menatap Julian dengan pandangan nanar. “Ada apa, Dok?"
“Aku hanya ingin memastikan kalian berdua baik-baik saja. Kau di bawah pengawasanku, jadi semua yang menyangkut tentangmu menjadi tanggung jawabku,” sahut pria itu yang membuat Keira langsung memalingkan muka.
Tanpa mereka sadari, di balik pintu kamar rawat, seorang pria paruh baya berdiri dengan sorot mata penuh tanya. Leonard, pemilik rumah sakit yang juga ayah mertua Julian, tak sengaja melintasi lorong itu saat ia menangkap pemandangan yang membuat dahinya berkerut.
Melalui celah kecil pintu yang sedikit terbuka, Leonard melihat Julian berdiri di sisi ranjang seorang wanita muda yang tampak lemah.
“Julian?” gumam Leonard pelan, bingung sekaligus penasaran. Ia memiringkan kepalanya sedikit untuk mendengar percakapan di dalam kamar. "Tanggung jawab bagaimana maksudnya? Memangnya sejak kapan aturan rumah sakit memberlakukan hal itu? Ah, aneh sekali."
Matanya masih terpaku, sejak kapan menantu yang selama ini terkenal kaku dan hampir tidak pernah menunjukkan ekspresi hangat, bisa seakrab itu dengan seorang wanita asing?
Wajah wanita itu, ia seperti mengenalnya, tetapi tidak ingat pernah melihat di mana. “Siapa dia? Dan kenapa Julian tampak sangat peduli pada mereka?” gumam Leonard dalam hati.
Ia memutuskan untuk mencari tahu. Leonard melangkah menjauh dari pintu, berjalan dengan langkah tegap menuju ruang administrasi rumah sakit.
Seorang pegawai muda sedang merapikan dokumen ketika Leonard tiba di ruang administrasi. Ia segera berdiri, menyambut bos besarnya dengan sopan. “Selamat siang, Pak Leonard. Ada yang bisa saya bantu?”
Leonard menyilangkan tangan di d**a, matanya menyorot tajam. “Aku ingin tahu tentang pasien di kamar N-305.”
Wanita itu mengangguk cepat, membuka komputer di mejanya. “Tentu, Pak. Tunggu sebentar.” Jarinya lincah mengetik di atas keyboard, lalu ia membaca informasi yang muncul di layar. “Keira Grachiella, usia 25 tahun, alamatnya di Jalan Majapahit. Dia perawat baru yang membantu Dokter Julian di poli umum, dan kemarin dirawat karena asam lambung akut."
Leonard membelalakkan mata mendengar ucapan pegawai itu, suaranya bergetar hebat, "K-Keira? Keira Grachiella ...?!"
Tangan keriputnya membekap mulut, gemuruh dadanya terdengar berdentang keras. Angannya melayang pada beberapa tahun silam saat perjodohan antara Julian dan menantunya diatur.
"Bagaimana bisa dia muncul sebagai asistennya Julian? D-dan ... bagaimana bisa dia masih hidup?! Bukankah ...."