Bab 10. Peringatan

1070 Words
Leonard berjalan cepat menuju ruangannya dan menutup pintu dengan cepat, tangan tuanya bergetar ketika ia meraih ponsel di atas meja kerja. Ia menekan nomor Julian, lalu mendekatkan ponsel ke telinga. “Julian, segera ke ruanganku sekarang!” titahnya dengan nada tegas. Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka pelan, menampilkan sosok Julian yang masuk dengan ekspresi datar seperti biasa. Pria itu melangkah mendekat, lalu berdiri di hadapan Leonard. “Ada apa, Pa?” tanya Julian, suaranya terdengar tenang. Leonard tidak langsung menjawab. Ia menatap Julian tajam, matanya menyorot gelap. Kemudian, dengan nada rendah nan menusuk, ia memulai pembicaraan. “Kau pikir, papa tidak melihat apa yang kau lakukan tadi di kamar rawat itu?!” Julian mengerutkan dahi, tak mengerti arah pembicaraan Leonard. “Maksud Papa apa?” Leonard berdiri dari kursinya, menyilangkan tangan di d**a. “Jangan pura-pura tidak tahu, Julian. Wanita di kamar itu ... kau pikir aku tidak menyadari siapa dia, hah?” Julian tertegun. Matanya menatap Leonard dengan pandangan tidak percaya. Ia mencoba menjawab, tetapi Leonard memotongnya dengan suara yang lebih keras. “Papa tahu siapa dia, Julian. Dan papa tahu apa yang pernah terjadi di antara kalian di masa lalu!” “Papa—” “Diam!” bentak Leonard, menunjuk ke arah Julian dengan telunjuknya. “Papa tidak ingin mendengar alasanmu. Papa hanya ingin memperingatkanmu, jangan sekali-kali bermain api, Julian. Kau sudah punya istri! Laura mencintaimu, dan papa tidak akan memaafkanmu kalau kau menyakitinya!” Julian menunduk, rahangnya mengeras. Kata-kata Leonard menusuk dalam, tapi ia tidak bisa membalas apa-apa. Leonard melangkah mendekat, menatap Julian dengan sorot penuh kemarahan. “Papa masih mentolerir kejadian ini, papa tidak membocorkannya pada Laura karena papa ingin menjaga perasaan Laura. Tapi jangan pikir papa tidak akan bertindak kalau kau melanggar batas. Jangan dekati Keira lagi, Julian!” “Ini tidak seperti yang Papa pikirkan. Itu—” “Tidak seperti yang kupikirkan?” Leonard tertawa pendek, getir. “Aku melihat dengan mataku sendiri, Julian. Sikapmu … cara kau menatapnya … itu seperti kau masih mencintainya!” Julian mencoba menenangkan diri, meski dadanya terasa sesak. “Keira hanya pasien saat ini, Pa. Lagipula dia asistenku dan sudah sewajarnya aku memastikan keselamatannya. Aku tidak berniat melukai siapa pun, termasuk Laura.” Pria paruh baya itu tersenyum remeh, menyeringai. "Papa tidak peduli penjelasanmu. Jika kau terus seperti ini, papa tidak akan ragu memberi tahu Laura.” “Tolong jangan libatkan Laura dalam hal ini, Pa,” pinta Julian, matanya memohon. Leonard menyipitkan mata, menelisik Julian dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Kalau begitu, jaga jarak dengan Keira. Jangan sampai aku melihatmu dekat dengannya lagi. Mengerti?” Julian terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Baik, Pa. Aku mengerti.” Leonard menghela napas panjang, tangannya menunjuk pintu. “Sekarang keluar. Dan pikirkan baik-baik apa yang sudah kukatakan!” Julian membungkukkan badan sedikit sebagai tanda hormat, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan tanpa sepatah kata pun. Kakinya melangkah menuju parkiran rumah sakit, kedua tangannya terkepal di sisi tubuh. Pikirannya penuh gejolak, bercampur antara kemarahan, bingung, dan rasa sakit yang tak kunjung hilang. Ia tahu, semuanya akan semakin rumit jika ia terus berada di dekat Keira. Meski hatinya terasa seperti dirobek perlahan, Julian sadar satu-satunya jalan untuk menjaga semuanya tetap stabil adalah kembali ke rencana awal, yaitu berpura-pura tidak mengenali Keira, menganggapnya tak lebih dari seorang asisten dokter. Julian mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan diri. Langkahnya terhenti sejenak di samping mobilnya, tatapannya kosong menatap jalanan di depannya. Hatinya berbisik ingin kembali ke kamar Keira, memastikan wanitanya dan sang putra baik-baik saja, tetapi akalnya menahan keinginan itu. “Sudah cukup, aku tidak mau papa menyakitinya,” katanya pelan, membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Setelah menempuh perjalanan singkat, Julian tiba di depan rumahnya, sebuah hunian megah yang selalu terasa dingin baginya. Namun, saat hendak membelokkan mobilnya memasuki gerbang, pandangannya menangkap sesuatu di seberang jalan. Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti perlahan, dan pintunya terbuka. Dari dalam mobil, Julian melihat sosok Laura melangkah keluar. Namun, yang membuat dahinya berkerut adalah siluet seorang pria di dalam mobil tersebut. Meskipun samar-samar, ia dapat melihat pria itu duduk di belakang kemudi, mengantar Laura pulang. Julian diam terpaku, memandang adegan itu dengan mata tajam. Siapa pria itu? Apa yang istrinya lakukan dengan seseorang siang-siang begini? Pikirnya. Laura tampak menunduk sedikit, berbicara dengan pria itu sebelum menutup pintu mobil. Setelah itu, ia berbalik dan berjalan menuju rumah. Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat mobil Julian berhenti di depan gerbang. Pria itu segera turun setelah mobil yang mengantar Laura melaju pergi, netranya terpaku pada wajah Laura yang kini tampak gugup. “Julian?” sapa wanita itu, sedikit terkejut. “Kau baru pulang?” Laura tersenyum tipis, berjalan mendekat sambil melirik jam di pergelangan tangannya. “Ya, aku baru selesai dari acara makan siang dengan teman-teman sekolah. Kita sekalian reuni kecil, di hotel yang nggak jauh dari sini, kok. Teman sekolah menengah atas, kita sudah lama nggak ketemu karena masing-masing selalu sibuk. Hari ini mumpung banyak yang senggang, jadi langsung janjian saja.” Julian mengangguk kecil mendengar penjelasan panjang lebar itu, meskipun matanya masih menatap jalan di mana mobil itu baru saja pergi. “Siapa yang tadi mengantarmu?” tanyanya dengan nada datar, sambil sesekali melirik istrinya. “Oh, itu ... itu salah satu temanku juga,” jawab Laura. “Dia kebetulan satu arah, jadi aku menumpang. Kenapa? Kau pasti belum mengenalnya, ya? Kapan-kapan aku kenalkan, ya.” Julian diam sejenak, sedetik kemudian menggelengkan kepala. “Tidak perlu, aku hanya bertanya tadi. Aku hanya nggak nyangka kau pulang diantar oleh seorang pria, sebelumnya kan aku nggak pernah melihat seperti itu.” Laura tertawa kecil, seperti menepis omongan Julian. “Ayolah, Sayang ... kau tahu aku tidak mungkin macam-macam. Lagipula, aku hanya menumpang. Apa itu masalah besar?” Julian menghela napas panjang, menganggukkan kepala tanpa berkata apa-apa lagi. Toh ia juga tak mencintai Laura, mau Laura bersama siapapun juga tak masalah baginya. Hanya saja, ia khawatir kalau orang tua dan mertuanya melihat kejadian barusan, takut membuat persepsi ada sesuatu di dalam rumah tangga mereka. Julian hanya ingin mempertahankan reputasi, sebelum akhirnya nanti ia akan benar-benar keluar dari belenggu rumah tangganya. “Kau sudah makan?” tanya Laura, mencoba mencairkan suasana. “Sudah,” jawab Julian singkat, lantas berbalik badan menuju mobil untuk membawanya masuk. Laura mengerutkan kening, tidak menahan langkah Julian. Ia hanya menatap punggung suaminya, menyadari bahwa suasana di antara mereka kembali dingin seperti biasa. "Maaf aku harus berbohong, Julian," batin wanita itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD