Bab 11. Hasil Tes DNA

1177 Words
Keesokan paginya, Julian membuka mata saat suara alarm di ponselnya berbunyi nyaring. Ia mengambil ponsel, sebuah pesan masuk di layar menarik perhatiannya. [Hasil tes DNA sudah siap, Dok. Anda bisa melihatnya nanti.] Mata Julian menatap pesan itu cukup lama, seolah memastikan apa yang ia baca memang benar adanya. Dadanya berdebar. Seluruh pikirannya kini hanya tertuju pada satu hal, apakah keyakinannya selama ini tentang Revan memang benar? Tanpa berlama-lama, ia bangkit dari tempat tidur, menuju kamar mandi, dan menyalakan keran air dingin. Kepalanya terasa penuh. Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menghantuinya mungkin akan segera terjawab. Setelah selesai mandi, Julian mengenakan kemeja putih dan celana bahan hitam. Ia merapikan rambutnya dengan asal dan melangkah turun ke lantai bawah. Di ruang makan, Laura sudah sibuk menata piring dan cangkir di atas meja. Wangi kopi segar bercampur aroma roti panggang memenuhi ruangan, tetapi Julian sama sekali tidak tertarik untuk menikmati sarapan pagi itu. “Pagi, Sayang,” sapa Laura dengan nada manja, meskipun Julian hanya membalasnya dengan gumaman singkat. “Kopi sudah siap, aku juga buatkan omelet kesukaanmu. Sarapan dulu sebelum pergi, ya,” ucap Laura sambil menarik kursi, memberi isyarat agar Julian duduk. “Aku nggak sempat,” balas Julian singkat, melewati meja makan dan menuju pintu depan. Laura berusaha mencegat langkah suaminya, berdiri di depan Julian sambil menatapnya dengan tatapan setengah memohon. “Kamu nggak boleh gitu. Sarapan itu penting, lho.” “Aku tahu,” sahut Julian tanpa melihat Laura, tangannya sibuk merapikan lengan kemeja. “Tapi aku ada urusan penting di rumah sakit. Sarapan nanti saja di sana.” Laura melipat tangan di depan d**a, mencoba mempertahankan posisinya. “Apa, sih, yang lebih penting dari sarapan bareng istrimu? Kamu selalu kayak gini, Julian. Apa nggak bisa sekali-kali menghargai usahaku?” Julian menghela napas panjang, jelas-jelas merasa terganggu dengan omelan Laura. “Laura, aku nggak ada waktu buat debat pagi-pagi. Aku bilang nanti sarapan di rumah sakit, itu artinya aku nggak akan makan di sini.” Nada suaranya datar, tetapi cukup untuk membuat Laura merasa diabaikan. Wanita itu menggigit bibirnya, mencoba menahan amarah yang mulai naik. “Kamu selalu kayak gini. Dingin, nggak peduli ....” Laura berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan, “Aku ini istrimu, tapi kenapa aku selalu merasa seperti orang asing di rumah sendiri?” Julian menatap Laura sejenak, matanya kosong, tanpa menunjukkan rasa bersalah atau empati. “Aku nggak punya waktu untuk bahas itu sekarang. Kalau mau ngobrol, nanti malam saja.” “Tapi nanti malam kamu juga pasti sibuk!” sergah Laura, suaranya meninggi. “Setiap hari kamu makin jauh. Apa aku salah kalau aku ingin kita seperti pasangan suami istri pada umumnya? Yang saling menyayangi dan mencintai?” Julian tidak menjawab. Ia hanya menghela napas, menghindari tatapan Laura, lalu melangkah menuju garasi tanpa berkata apa-apa lagi. “Julian ...!” panggil Laura dengan nada putus asa, tetapi Julian tidak menghentikan langkahnya. Ia membuka pintu garasi, masuk ke dalam mobilnya, dan menyalakan mesin. Melalui kaca spion, ia bisa melihat Laura berdiri di ambang pintu. Ketika mobil mulai melaju meninggalkan rumah, Julian membuang napas berat, seperti baru saja lolos dari sebuah situasi yang menyesakkan. Dalam pikirannya, hubungan dengan Laura memang dari awal sudah hambar. Sesampainya di rumah sakit dan memarkirkan mobil, ia melangkah tergesa di koridor. Jas putih dokter yang dikenakannya terayun seiring langkah panjang yang penuh ketegangan. Di tangannya, sebuah ponsel tergenggam erat. Wajahnya terlihat tenang, meski ada badai kecil yang mengamuk dalam pikirannya. Ia melewati beberapa orang yang menyapanya. "Pagi, Dokter Julian!" "Pagi," jawabnya singkat, nyaris seperti gumaman. Ia tidak berhenti untuk basa-basi seperti biasanya. Fokusnya hanya satu, menuju Laboratorium Genetika dan Diagnostik Molekuler yang terletak di lantai lima rumah sakit itu. Lift tiba, dan Julian segera masuk. Tangannya bergerak menekan tombol lantai lima. Begitu pintu tertutup, ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Namun, pikirannya terus memutar. Apakah Revan mau menerimanya sebagai ayah? Harus dengan cara apa ia menebus kesalahannya di masa lalu? Dan bagaimana cara menghadapi orang-orang yang sejak dulu menentang hubungannya dengan Keira? Saat lift berdenting dan pintu terbuka, Julian melangkah keluar, menyusuri koridor menuju ruang laboratorium. Di depan pintu laboratorium, ia berhenti sejenak, mencoba mengumpulkan keberanian. Lalu, dengan satu tarikan napas, ia mendorong pintu itu dan masuk. Ruangan itu steril, dingin, dan dipenuhi bau antiseptik. Beberapa alat laboratorium canggih terlihat berjajar rapi. Mesin PCR, centrifuge, serta perangkat analisis STR yang digunakan untuk tes DNA. Di sudut ruangan, seorang teknisi laboratorium, seorang pria berusia sekitar empat puluhan, tengah mengetik sesuatu di layar komputer. Julian mendekat dengan langkah mantap meski tangannya sedikit berkeringat. “Selamat pagi. Saya diberitahu hasil tes DNA atas nama saya sudah siap.” Pria itu menoleh, menyesuaikan letak kacamatanya. “Oh, iya, selamat pagi, Dokter Julian. Ya, benar. Mohon tunggu sebentar, saya cek datanya dulu.” Julian berdiri sambil menyandarkan tangannya di meja, pandangannya beralih pada layar komputer di depan teknisi tersebut. Suasana ruangan yang tenang semakin membuat detak jantungnya terdengar lebih keras di telinganya. Beberapa menit kemudian, teknisi itu mengambil sebuah amplop cokelat. “Ini hasilnya, Dokter Julian. Hasil ini sudah melalui analisis STR pada enam belas lokus genetik yang relevan.” Julian menerima amplop itu dengan tangan sedikit gemetar. “Terima kasih. Saya bisa buka di sini, kan?” “Tentu saja. Jika ada yang perlu dijelaskan, saya siap membantu.” Dengan perlahan, Julian membuka amplop itu dan mengeluarkan kertas hasil tes. Matanya langsung tertuju pada bagian tabel yang menunjukkan hasil analisis STR. Deretan angka dan huruf di tabel itu menunjukkan kesesuaian genetik antara dirinya dan Revan. Teknisi itu menjelaskan sambil menunjuk bagian-bagian laporan. “Seperti yang bisa Anda lihat, pada tabel ini ada enam belas lokus genetik yang kami analisis. Untuk setiap lokus, ada dua alel yang dibandingkan antara subjek A, dalam hal ini adalah Anda, dan subjek B, dalam hal ini adalah Revan. Semua alel menunjukkan kecocokan sempurna, yang menghasilkan tingkat kesesuaian genetik 99,99%.” Julian menatap bagian bawah laporan, di mana terdapat kesimpulan yang ditulis dalam huruf tebal. “Berdasarkan analisis genetik STR, dapat dipastikan bahwa hubungan biologis antara subjek A dan subjek B adalah hubungan ayah dan anak. Tingkat akurasi mencapai 99,99%, Dok.” Julian menelan ludah, suaranya serak ketika akhirnya bertanya, “ini benar, kan? Nggak ada yang salah?” Teknisi itu mengangguk. “Tidak ada, Dokter Julian. Tes STR pada enam belas lokus genetik ini adalah standar emas untuk analisis hubungan biologis. Dengan tingkat kecocokan ini, subjek B adalah anak kandung secara biologis.” Julian terdiam. Matanya masih terpaku pada laporan itu. Revan adalah darah dagingnya. Anak yang selama ini ia curigai sebagai miliknya ternyata memang benar adanya. “Baik. Terima kasih atas penjelasannya. Dan sesuai kesepakatan awal, tolong rahasiakan ini dari siapapun.” Teknisi itu tersenyum kecil. “Sama-sama, Dokter Julian. Jika ada hal lain yang perlu didiskusikan, Anda bisa kembali kapan saja.” Julian mengangguk singkat sebelum beranjak keluar. Di koridor, ia berhenti sejenak, membiarkan kenyataan baru ini meresap ke dalam pikirannya. Tangannya masih sedikit gemetar, dan pikirannya dipenuhi dengan bayangan Keira serta Revan. "Dia adalah anakku, darah dagingku," pikir Julian, hatinya terasa berat sekaligus penuh dengan rasa bersalah yang perlahan mulai menyelimuti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD