Bab 5. Melarang Dekat-dekat

1104 Words
Keira menggenggam tangan kecil Revan sambil membantu bocah itu naik ke dalam taksi. Ia tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang merongrong pikirannya. Setelah memastikan Revan duduk nyaman di sebelahnya, ia memberi alamat rumah kepada sopir taksi. Revan masih memegang mobil-mobilan kecil pemberian Julian, mulai menggoyang-goyangkannya di udara, seolah-olah mainan itu sedang terbang. "Mommy, lihat nih!" serunya dengan mata berbinar. "Mobilnya bisa terbang! Wuuzzzz ..! Om Dokter yang kasih ini ke aku. Om Dokter baaaik banget, ya?" Keira mengangguk kecil, memaksakan senyum. “Iya, Sayang. Om Dokter memang baik,” jawabnya datar, berusaha tidak membiarkan emosinya tersirat dalam suara. Revan memutar tubuhnya sedikit ke arah Keira, mainan itu sekarang didekatkan ke wajahnya. "Mommy, aku mau ke rumah sakit lagi besok. Aku mau ketemu Om Dokter, terus main sama dia. Seru banget tadi, Om Dokter kasih aku mobil!" Keira menarik napas dalam, mencoba tetap tenang. "Revan, Mommy sibuk di rumah sakit. Kamu nggak bisa sering-sering ke sana, Sayang." "Tapi kan aku nggak ganggu, Mommy. Aku cuma mau ketemu Om Dokter. Om Dokter kan baik banget sama aku! Om Dokter juga janjiin mobil-mobilan lagi kalau aku jadi anak hebat." Keira menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan perasaan campur aduk yang menguasai hatinya. Ia tidak ingin anaknya terlalu dekat dengan Julian. Itu hanya akan membuka luka lama, dan ia tidak sanggup menghadapi semua itu lagi. “Revan,” suara Keira terdengar lebih tegas dari biasanya. “Dengar Mommy baik-baik. Kamu nggak boleh terlalu sering bicara atau main sama Om Dokter.” Revan terkejut, menghentikan gerakan tangannya yang tadi memain-mainkan mobil. "Tapi kenapa, Mommy? Om Dokter kan baik, aku suka Om—" “Revan!” Keira tak bisa menahan emosinya. “Dengar Mommy! Mobil itu … kamu kasih ke temanmu saja. Kamu nggak boleh simpan!” Revan menatap Keira dengan mata membesar, jelas tidak memahami mengapa ibunya tiba-tiba marah. Bibir mungilnya mulai mengerucut, dan ia memeluk mobil-mobilan itu erat-erat. “Tapi aku suka mobil ini, ini kan hadiah dari Om Dokter,” katanya dengan suara lirih, hampir seperti bisikan. “Mommy bilang kasih saja ke orang lain!” Keira membentaknya lagi, suaranya sedikit bergetar. “Kamu nggak perlu lagi dekat-dekat dengan Om Dokter!” Revan kini menundukkan kepala, memeluk mobil-mobilannya erat di d**a. Matanya mulai berair, tapi ia menahan agar tidak menangis. “Mommy jahat …,” gumamnya pelan. Keira merasa dadanya seperti dihantam sesuatu yang berat. Ia melihat Revan yang kini menunduk dengan ekspresi sedih. Ia tahu ia sudah berlebihan, tapi rasa takut dan marah yang ia pendam terlalu kuat hingga meledak begitu saja. “Revan, Mommy nggak bermaksud .…” Keira mencoba mengulurkan tangan, tetapi Revan sedikit menjauh, memalingkan wajahnya. “Aku nggak mau ngomong sama Mommy lagi,” ujar Revan pelan, suaranya bergetar. “Om Dokter nggak pernah bentak aku kayak Mommy.” Keira terdiam, hatinya terasa seperti diiris mendengar ucapan itu. Tak ada suara lagi di dalam taksi selain deru kendaraan dan suara mesin mobil. Sopir taksi yang menyadari ketegangan itu memilih tidak berbicara sepatah kata pun. Keira menundukkan kepala, merasa bersalah karena telah melukai hati putranya sendiri. Namun, ia tidak tahu harus menjelaskan apa. Semua ini terlalu rumit untuk dipahami oleh bocah berusia lima tahun. "Aku ingin menjauhkanmu dari orang yang telah menampakkan kita, Nak. Orang yang kamu kira baik itu ... adalah orang yang telah membunuh mental Mommy. Mommy berjuang sendirian demi kamu, mana mungkin Mommy rela membiarkan kamu dekat sama penjaga itu!? Tapi sayangnya Mommy nggak bisa jelaskan semuanya sekarang, kamu masih terlalu kecil," batin wanita itu, melirik putranya dengan pilu. *** Julian baru saja memarkirkan mobilnya di garasi, sementara Laura berdiri di ambang pintu dengan senyum lebar dan apron yang masih melingkar di tubuhnya. Aroma masakan tercium bahkan dari luar rumah. "Sayang, kamu pulang lebih cepat dari biasanya," sapanya lembut, matanya berbinar. Julian hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Ia melepas dasinya dengan gerakan cepat, lalu berjalan masuk tanpa memperhatikan Laura yang mengikuti di belakangnya. “Aku masak banyak makanan sehat malam ini,” katanya sambil menunjuk meja makan yang sudah dipenuhi berbagai hidangan. "Ini semua menu sehat untuk program hamil kita. Aku tadi baca artikel kalau—" “Program hamil?” Julian memotong dengan suara rendah nan tajam. Ia meletakkan dasi dan jasnya di sofa tanpa memedulikan istrinya. "Kenapa pakai program segala? Aku sudah bilang dari awal, kan? Aku nggak mau punya anak dengan kamu!" Ucapan itu langsung membuat Laura terdiam. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak ada kata-kata yang keluar. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia segera memalingkan wajah, berusaha menutupi emosinya. “Tapi, Sayang .…” Laura mencoba tetap tenang meski suaranya bergetar. "Aku cuma ingin … ya, kita berusaha. Kan nggak ada salahnya mencoba." Julian mendengus sinis. “Nggak ada salahnya? Yang salah itu kamu, Laura! Kamu nggak ngerti kalau aku nggak pernah—" Julian menghentikan kalimatnya, lalu menggeleng dengan frustrasi. "Sudahlah, aku capek. Jangan bahas ini lagi." Laura merasa dadanya semakin sesak. Ia menatap punggung Julian yang kini berjalan menuju kamar tanpa menoleh sedikit pun. Perlahan, air matanya mengalir, tetapi ia segera menyekanya. Ia mengikuti Julian ke kamar, tetap dengan suara lembut meski hatinya porak-poranda. “Aku nggak bermaksud bikin kamu marah. Aku cuma mau kita bahagia, mungkin kehadiran anak bisa bikin hubungan kita membaik. Aku tahu kamu sibuk, aku tahu aku mungkin bukan istri yang sempurna, tapi—" “Tolong, Laura ...!” potong Julian kasar. Ia berbalik dengan ekspresi jengkel. "Berhenti kayak gini. Kalau kamu benar-benar peduli sama aku, kamu nggak akan terus-terusan bikin masalah." “M-masalah?” Laura tergagap. “Aku cuma ingin kita punya keluarga sempurna. Aku ingin … kamu menyentuhku, memberiku kehangatan yang enam tahun ini belum pernah kamu lakukan. Aku hanya—” Kalimat itu menggantung di udara, membuat suasana menjadi tegang. Julian memandang Laura dengan tatapan dingin. Kedua pasang itu saling menatap tajam dengan perasaan masing-masing. “Lupakan, Laura. Aku nggak punya waktu untuk itu. Dan jujur saja, aku nggak tertarik,” katanya tanpa sedikit pun rasa bersalah. Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk hati Laura. Ia berusaha menahan tangis, tetapi air matanya kembali jatuh. Ia menundukkan kepala, meremas apron yang masih melekat di tubuhnya. “Tapi aku istrimu …,” bisiknya lemah. “Hanya sebatas istri di atas kertas, jangan pernah berharap lebih!” Laura hanya bisa diam. Enam tahun menikah tanpa disentuh, tanpa kehangatan, telah membuat jiwanya meronta. Ia ingin dipeluk suaminya, ingin merasa dicintai, tetapi Julian hanya memberinya bentakan dan dinginnya sikap yang membuatnya merasa tidak berarti. “Kalau kamu nggak puas, kamu tahu jalan keluarnya,” ucap Julian sebelum memasuki kamar, meninggalkan Laura yang kini berdiri terpaku dalam kesedihan. Di tengah kesepiannya, Laura hanya bisa bertanya pada dirinya sendiri, " Apa aku masih berarti untuknya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD