Bab 4. Tidak Punya Hak

1193 Words
Julian menarik napas panjang, menatap lorong rumah sakit yang mulai ramai dengan aktivitas pagi. Ia berusaha menguasai diri, menyembunyikan semua gejolak di hatinya. “Aku harus tetap profesional,” batinnya, meskipun hatinya terasa seperti diiris. Ia harus tetap bersikap angkuh dan ketus agar Keira menjauhinya, membenci kalau perlu sehingga wanita itu tak akan mendekatinya lagi. Khawatir orang yang benci melihat mereka bersama, merencanakan niat buruk pada wanitanya. Dengan langkah berat, ia menuju ruang poli umum. Wajahnya berangsur dingin, tatapannya tajam, berusaha keras menunjukkan sikap tak peduli. Jika Keira mengira ia adalah pria yang sama seperti dulu, ia harus menghancurkan anggapan itu. Beberapa menit kemudian, antrean pasien mulai berdatangan. Ruang poli sibuk seperti biasanya. Julian menyibukkan diri, memeriksa pasien demi pasien, mengubur semua rasa di balik sikapnya yang profesional. Hingga akhirnya, seorang pasien dengan kondisi cukup serius masuk. “Dok, ini pasien wanita usia 45 tahun. Keluhan utama sesak napas, tapi tensinya tinggi sekali, 190/110,” lapor Keira saat mendampingi pasien itu masuk. Julian mengangguk cepat. “Bantu pasien ke tempat tidur periksa,” katanya, melirik pasien yang tampak pucat dengan keringat bercucuran. Saat memeriksa, ia menemukan bahwa pasien menunjukkan tanda-tanda pulmonary edema. Ia langsung memberikan instruksi kepada Keira. “Pasien ini butuh diobservasi ketat. Beri oksigen mask, dosis tinggi. Pastikan dia tetap dalam posisi semi-fowler, lalu siapkan lasix injeksi, cepat!” Keira bergerak cepat menuju lemari obat, tapi tangannya gemetar. Dalam situasi genting, ia salah mengambil obat. Alih-alih lasix, ia justru memberikan ampul lidokain kepada Julian. Julian mengerutkan kening saat melihat ampul yang diberikan Keira. “Apa ini? Lidokain?” Nada suaranya mulai meninggi. Keira tampak panik. “M-maaf, Dokter. Saya … saya salah ambil.” “Salah ambil? Pasien dalam kondisi kritis, Keira! Kalau salah obat, risikonya bisa fatal!” bentak Julian keras, suaranya menggema di ruang poli. Beberapa pasien yang masih menunggu di luar menoleh. Perawat lain tampak canggung mendengar bentakan itu. Wajah Keira memucat, tapi ia menunduk, tak berani menatap Julian. “Saya … saya akan ambil yang benar sekarang, Dok,” katanya dengan suara gemetar. “Apa kamu nggak sadar setiap detik itu penting? Kalau kamu nggak becus bekerja, sebaiknya mundur saja!” Julian membentak lagi, emosinya tak bisa dikendalikan. Keira menahan napas, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tidak menangis di depan semua orang. Ia berbalik, mengambil obat yang benar, lalu menyerahkannya kepada Julian tanpa sepatah kata pun. Julian melanjutkan penanganan pasien dengan sigap, meski hatinya terasa panas. Setelah memastikan kondisi pasien stabil dan mengarahkan rujukan ke ICU, ia berbalik menatap Keira yang masih berdiri di sudut ruangan, tampak terpaku. “Keira, ikut saya ke ruang dokter,” perintahnya dingin. Keira mengikuti dengan kepala tertunduk. Begitu mereka sampai di ruang dokter, Julian menutup pintu dengan keras. “Kamu pikir ini tempat main-main? Kesalahan seperti tadi bisa membunuh pasien!” Julian berbicara dengan nada yang masih tinggi. Keira menunduk dalam, tak berani menatap matanya. “Saya minta maaf, Dokter. Itu murni kelalaian saya.” Julian menatap wanita itu lama, rahangnya mengeras. Ia ingin marah lebih keras, tetapi ada sesuatu di mata Keira yang membuatnya menahan diri. “Kalau kamu nggak mampu, bilang dari awal. Jangan sampai pasien jadi korbannya. Kalau kamu masih begini, aku akan rekomendasikan namamu untuk ditarik dari poli,” katanya, suaranya lebih rendah, meski tetap dingin. Keira mengangguk pelan, tak membantah sepatah kata pun. “Saya akan lebih hati-hati ke depannya, Dokter. Terima kasih atas koreksinya.” Melihat reaksi itu, Julian mendadak merasa bersalah. Hatinya seperti dihantam palu. Namun, ia tetap menjaga ekspresi datarnya. “Keluar. Dan pastikan ini kesalahan terakhirmu,” katanya singkat. Keira mengangguk, membuka pintu dan berjalan keluar. Begitu Keira pergi, Julian menghempaskan dirinya ke kursi, mengusap wajahnya dengan kasar. “Kenapa harus dia yang jadi asistenku? Apa seperti ini cara Tuhan menyiksaku? Bukankah Tuhan tahu betapa aku mencintainya dan betapa sakit hatiku saat harus membentaknya?” pikirnya. Di luar ruangan, Keira berjalan menuju ruang poli dengan langkah gontai. Air matanya akhirnya jatuh saat ia memastikan tak ada yang melihat. Namun, ia segera menyeka pipinya, menenangkan diri. “Aku harus kuat. Untuk Revan,” batinnya. Keira tahu, tak peduli apa yang ia rasakan, ia tak boleh menunjukkan kelemahan. Hatinya mungkin hancur karena Julian, tapi ia tidak akan membiarkan itu memengaruhi pekerjaannya lagi. • Setelah jam kerja selesai, Keira bergegas menuju ruang administrasi untuk menjemput anaknya. Langkahnya cepat, seolah ingin segera meninggalkan rumah sakit agar tak perlu lagi bertemu Julian. Perasaan canggung dan malu masih menyelimuti dirinya setelah kejadian tadi pagi. Bocah lima tahun itu sudah menunggu di ruang administrasi dengan senyum ceria seperti biasa. Saat melihat ibunya datang, ia melambaikan tangan. “Mommy!” serunya, melompat turun dari kursi kecil yang didudukinya. Keira tersenyum, perasaan sesak langsung sirna begitu melihat binar cerah di mata putranya. Ia menggandeng tangan Revan dengan lembut. “Ayo, kita pulang,” katanya singkat. Namun, saat mereka berjalan di lorong menuju pintu keluar, takdir kembali mempertemukan mereka dengan Julian. Pria itu baru saja keluar dari ruang dokter dengan map di tangannya, langkahnya terhenti ketika melihat sosok Revan yang berlari mendekatinya dengan senyum lebar. “Om Dokter!” panggil Revan dengan suara riang, matanya berbinar-binar. Julian terkejut sejenak, tapi ekspresi kerasnya melunak seketika. Ia berjongkok, menyamakan tinggi badannya dengan Revan. “Hei, bocah kecil! Sudah mau pulang, ya?” tanyanya, mencoba terdengar ramah. Revan mengangguk antusias. “Iya, Om Dokter. Aku nunggu Mommy selesai kerja,” jawabnya polos. Julian mengulurkan tangan, mengacak-acak rambut Revan dengan lembut. “Kamu anak yang hebat, ya. Bisa sabar nunggu Mommy kerja.” Keira yang berdiri beberapa langkah di belakang Revan hanya bisa terpaku. Jantungnya berdebar keras melihat interaksi mereka. Hatinya terasa seperti diremas, ingin menangis tetapi tak mampu mengeluarkan suara. Julian merogoh saku jas putihnya, mengeluarkan sebuah mainan masa kecilnya berbentuk mobil-mobilan yang selalu dibawa ke mana-mana. “Nah, ini buat kamu,” katanya sambil menyerahkan mainan itu kepada Revan. Revan melompat girang, menerima mainan itu dengan senyuman lebar. “Wah, terima kasih, Om Dokter! Aku suka banget mobil-mobilan!” Julian tersenyum tipis. “Bagus kalau kamu suka. Tapi janji, ya, mainnya nanti di rumah, biar nggak hilang. Kapan-kapan Om belikan lagi yang baru, itu mainan dari Om masih kecil.” Setelah mengucapkan itu, Julian tersenyum pahit, harus menyebut dirinya sebagai Om di hadapan puteranya sendiri adalah hal paling menyakitkan. Namun, ia tahu ini karma atas kesalahannya yang telah meninggalkan Keira. Sementara Keira memalingkan wajah ke arah lain, ia tahu pasal mainan itu yang kini ada di tangan putranya. Ia menarik napas dalam, mencoba mengendalikan emosinya sebelum berbicara, “Revan, ayo, kita pulang,” katanya lembut, tetapi suaranya sedikit bergetar. Julian berdiri, menatap Keira sesaat. Ada keheningan aneh di antara mereka, seolah ada banyak hal yang ingin dikatakan, tetapi terhalang oleh dinding tak terlihat. Keira menunduk, tak mampu menatap matanya. Hatinya menangis, membayangkan bagaimana jadinya jika Julian tahu bahwa Revan adalah darah dagingnya. “Ayo, Mommy. Kita pulang sekarang.” Keira mengangguk, memaksakan senyum di wajahnya. “Iya, Sayang. Ayo,” katanya, lalu melangkah pergi sambil menggenggam tangan kecil anaknya tanpa berpamitan pada Julian. "Hari ini aku kecolongan, tapi setelah ini akan ku pastikan Julian tidak bisa mendekati putraku. Dia yang pergi meninggalkan kami, maka dia tidak punya hak untuk dekat-dekat dengan putraku!" batinnya, pilu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD