Romeo terdiam sambil menatap pintu di depannya. Emma menempelkan sebuah kartu yang diambilnya dari tas pada platform magnet yang berada di samping pintu. Begitu pintu didorong terbuka, Emma menoleh ke belakang karena menyadari Romeo tidak mengikutinya.
Romeo masih berdiam di depan pintu. Terlihat enggan untuk masuk. Dari wajahnya tergambar jelas betapa Romeo merasa tidak nyaman berada di sana. Emma memaklumi hal itu. Ia tahu apa yang ada di pikiran Romeo. Itu pasti anggapan pertama yang akan muncul setelah mengenalnya.
"Kenapa malah diam di depan pintu? Ayo masuk!" ajak Emma halus.
Tidak cukup hanya dengan mengajak, Emma juga menganggukan kepalanya. Seolah mengatakan kepada Romeo bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan. Ragu-ragu Romeo akhirnya memilih melangkahkan kakinya melewati pintu. Emma menutup pintu begitu Romeo masuk.
"Ini rumah saya. Untuk sementara waktu kamu bisa tinggal di sini dulu sebelum nentuin mau pergi ke mana. Ada dua kamar di sini. Yang satu gak pernah saya pakai karena saya emang tinggal sendirian, jadi kamu bisa pakai untuk sekarang."
Yang sekarang Romeo pijak adalah hunian berupa apartemen. Sebenarnya tidak ada yang aneh, siapa pun berhak untuk memilih tinggal di apartemen. Yang membuat Romeo kebingungan adalah tentang seberapa mewah dan besarnya apartemen milik Emma. Tidak semewah apartemen yang sering ia lihat di televisi, tapi bisa dibilang terlalu mewah dan besar untuk ukuran Emma yang hanya bekerja sebagai pramuniaga di sebuah minimarket.
Seperti yang Emma katakan, ada dua kamar di dalam apartemen tersebut, satu kamar mandi, meja makan yang berada dekat dengan dapur, juga ruang santai dengan tiga sofa dan satu buah televisi besar di dekat jendela. Katakanlah apartemen tersebut memang milik Emma, tapi bagaimana Emma bisa membayarnya? Sedangkan Romeo yakin harga sewanya perbulan pasti di atas sepuluh juta, mengingat fasilitas yang didapatkan begitu mewah dan lengkap. Tidak hanya ada satu kamar, di apartemen Emma bahkan ada dua kamar dengan ruang terpisah. Menyajikan kenyamanan bagi siapa pun yang mengutamakan privasi.
Emma hanya bekerja sebagai pramuniaga di sebuah minimarket. Untuk gaji, Romeo tidak tahu tepatnya berapa, tapi sekali lagi ia sangat yakin bahkan gaji Emma satu bulan tidak akan sanggup untuk memenuhi biaya sewa apartemen. Kalaupun sanggup, lantas bagaimana untuk keperluan sehari-hari atau keperluan pribadi Emma?
"Bukannya apartemen ini terlalu mewah untuk ditinggali sendirian?" Romeo bertanya. Memulai dengan pertanyaan pintar untuk mengorek informasi.
Emma menuntun Romeo ke arah sofa. Mempersilakan Romeo duduk di sana. Ia mengangguk membenarkan pertanyaan Romeo. "Memang terlalu besar dan mewah. Saya bahkan yakin tidak akan sanggup menyewa apartemen ini meskipun saya menabung selama tiga bulan menggunakan keseluruhan gaji saya," tuturnya turut duduk di sofa. Di seberang Romeo.
"Lantas dari mana kamu mendapatkan uang untuk membayar biaya sewa apartemen?" Romeo menyipitkan mata, "jangan bilang kalau kamu mempunyai pekerjaan sambilan selain menjadi karyawan di minimarket?"
Terlintas di pikiran Romeo tentang pekerjaan yang menghasilkan banyak uang dalam satu malam. Pekerjaan tersebut biasanya hanya dilakukan oleh perempuan cantik dengan tubuh indah. Emma masuk dalam kategori itu menurut Romeo, dan sepertinya memang begitu.
Romeo tidak bisa membayangkan sosok seperti Emma tidur dengan p****************g. Meski baru bertemu dengan Emma, entah kenapa Romeo tahu bahwa Emma adalah perempuan baik-baik. Setidaknya sebelum dirinya dituntun masuk ke sebuah apartemen mewah. Pemikirannya tentang Emma berubah begitu saja sejak ia memasuki apartemen Emma.
Namun, yang Romeo dapati adalah tawa Emma. Terdengar renyah sekali di telinganya. Nampaknya pemikiran Romeo salah. Karena tawa Emma seolah sedang mengejeknya bahwa apa yang ia pikirkan terlalu berlebihan dan terlalu liar.
"Tenang saja, saya bukan perempuan yang baru saja kamu pikirkan. Saya tidak mencari uang dengan cara yang buruk. Itu tidak baik."
"Lalu?"
Emma memandang sekelilingnya. Meneliti setiap sudut apartemen yang ditempatinya. "Apartemen ini adalah pemberian kekasih saya. Dia membelikan apartemen ini sebagai hadiah ulang tahun. Jujur saja, dulu saya hanya tinggal di kontrakan sempit yang bahkan tidak bisa ditempati dua orang," paparnya kemudian.
Sekarang Romeo bertanya-tanya seperti apa sosok kekasih Emma? Kalau Romeo tidak salah dengar, Emma jelas menyebutkan bahwa kekasihnya memberikan apartemen sebagai hadiah ulang tahun, yang artinya apartemen tersebut bukanlah sewaan, melainkan kepemilikan perorangan. Jika sampai bisa membelikan perempuan sebuah apartemen, Romeo yakin kekasih Emma pastilah seseorang yang kaya dan memiliki jabatan yang tinggi di pekerjaannya.
"Memangnya sekaya apa kekasih kamu sampai bisa memberikan sebuah apartemen? Saya yakin dia pastilah orang ternama atau anak konglomerat."
Emma tersenyum. Bukan karena pertanyaan Romeo yang terdengar terlalu ikut campur, tapi karena Romeo yang sudah mau berbicara lebih banyak dan santai.
"Sepertinya kamu sudah bisa berbicara dengan lebih baik lagi. Apa saya sudah tidak terlihat asing lagi untuk kamu?"
Romeo terdiam dan langsung membuang muka. Hal itu kembali mengundang gelak tawa Emma. Lucu menurutnya. Romeo terlihat angkuh di luar, tapi ternyata memiliki sisi yang sangat menggemaskan yang jarang ditunjukkan.
"Sebenarnya saya tidak terlalu mengenal siapa kekasih saya atau seperti apa pekerjaannya. Saya hanya tahu bahwa dia adalah laki-laki baik yang mau menerima saya apa adanya. Dia yang mengeluarkan saya dari tempat kumuh agar bisa hidup lebih baik di apartemen ini. Kamu bisa mengatakan bahwa saya adalah perempuan materialistis, karena kenyataannya saya jauh lebih nyaman berada di sini, daripada di rumah lama saya."
"Tidak masalah. Setidaknya kamu memiliki sesuatu untuk diperlihatkan jika kamu memang materialistis."
Emma bertanya, "Sesuatu untuk diperlihatkan? Apa itu?" Dengan satu alis terangkat.
"Wajahmu. Setidaknya itu cukup menjual," sahut Romeo lempeng.
Untuk kesekian kalinya Emma dibuat tertawa hanya karena perkataan yang terlontar dari mulut Romeo. Baru saja Emma ditunjukkan bahwa Romeo adalah sosok yang ceplas-ceplos dan tidak terlalu peduli tanggapan orang lain tentangnya.
Untuk Romeo, ia tidak pernah dekat dengan lawan jenisnya sehingga ia tidak tahu bagaimana dimanfaatkan oleh seorang perempuan yang materialistis. Tapi jika ia menemukan seseorang yang seperti itu, ia tidak akan bermasalah. Dengan syarat, orang itu pantas memiliki sifat materialistis. Misalnya, wajahnya terawat dan pakaiannya sepadan. Itu artinya uang yang ia berikan digunakan untuk sesuatu yang pantas.
Berlaku juga untuk Emma. Romeo tidak peduli apakah Emma materialistis atau tidak, apakah Emma kerap memanfaatkan kekasihnya atau juga hanya mengorek banyak uang dari kekasihnya itu. Romeo benar-benar tidak peduli. Karena itu kehidupan Emma, dan ia tidak memiliki hak untuk mengomentari berlebihan apalagi sampai ikut campur terlalu jauh.
"Ahh, ya. Ngomong-ngomong kalau boleh jujur, sepertinya saya sudah cukup lelah." Emma berkata tiba-tiba.
Romeo menatapnya. "Kalau begitu kamu bisa meninggalkan saya di sini dan segera pergi untuk istirahat," sahutnya.
"Bukan itu." Emma menggeleng.
"Lalu apa?"
"Awalnya aku berbicara formal karena mengikuti cara bicaramu yang menggunakan sebutan 'saya'. Sejujurnya aku tidak biasa menggunakan bahasa itu. Kalau kamu mau, kita bisa berbicara santai layaknya seorang teman. Gunakan sebutan 'aku-kamu' saat berbicara. Kamu juga bisa menggunakan sebutan'kau-anda' kalau mau. Bagaimana?"
"Tapi kita baru kenal. Saya merasa tidak sopan kalau bicara sesantai itu."
Dari tanggapan Romeo, Emma tahu bahwa Romeo pastilah dididik oleh seorang ibu yang berwawasan tinggi dan memiliki tatakrama yang baik. Di zaman sekarang, jangankan seseorang dengan tampang dewasa seperti Romeo, Emma bahkan sering melihat remaja yang berbicara seenak jidatnya. Banyak remaja yang tidak tahu sopan santun di zaman sekarang, tapi Romeo seolah baru saja memberitahu Emma bahwa remaja-remaja seperti itu hanya segelintir saja. Dan tentunya ada lebih banyak orang yang tahu sopan santun di luar sana. Seperti Romeo misalnya.
"Bagaimana kalau menggunakan sebutan aku kamu?" tawar Emma akhirnya, "lagi pula kita akan tinggal bersama. Aku yakin nantinya kita akan semakin akrab sebagai seorang teman."
"Kalau itu yang membuatmu nyaman," putus Romeo membuat Emma semringah. Wajahnya yang malu-malu menimbulkan kekehan geli untuk Emma.
Sadar bahwa dirinya terlalu banyak mengobrol dengan Romeo, Emma memutuskan untuk berdiri. Ia melepas tas selempang yang dikenakannya dan meletakkannya di sofa. Setelahnya, Emma melepas sepatunya. Dan membawanya ke arah rak sepatu yang berada di dekat pintu masuk.
"Ke marilah. Lepaskan sandalmu dan taruh di sini."
Romeo mengikuti Emma. Ia bangkit dari posisi duduknya dan berjalan mendekati Emma. Mulai melepas sandalnya saat berada di depan Emma. Emma bahkan mengambil alih sandal Romeo dan meletakkannya di samping sepatunya tanpa merasa risih sedikit pun. Untuk sesaat, Emma sempat memperhatikan sandal yang dikenakan Romeo, kemudian memilih mengabaikannya.
Selepas itu, Emma meminta agar Romeo mengikutinya. Keduanya memasuki salah satu kamar yang ada di sana. Terlihat sekali kamar tersebut memang tidak pernah dipakai. Bukan karena ada debu di mana-mana. Tentu tidak. Mustahil sebuah apartemen mewah terlihat kotor. Terlebih karena penghuninya adalah seorang perempuan. Yang membuat siapa pun yang melihat tahu bahwa kamar tersebut belum pernah dipakai adalah, karena suasana yang terasa dingin dan lembab. Tidak ada apa pun di kamar tersebut kecuali ranjang berukuran besar tanpa seprai, juga sebuah nakas yang berada di samping ranjang. Terasa lengang sekali.
"Mungkin memang agak sumpek, karena jendela untuk melihat view kota ada di kamarku dan di dekat meja makan, tapi setidaknya kamar ini jauh lebih nyaman, daripada kamu harus tidur di jalanan."
"Aku seharusnya berterima kasih karena semua ini."
"Tidak perlu sungkan. Aku senang jika bisa membantu."
Emma kira Romeo akan sedikit merasa canggung saat mengubah cara bicaranya, tapi ternyata tidak. Sepertinya Romeo memang sudah biasa berbicara dengan bahasa formal maupun tidak. Itu melegakan untuk Emma, ia jadi tidak perlu merasa bersalah karena membuat Romeo tidak nyaman dengan mengubah cara bicaranya.
"Ahh, sebentar."
Emma menatap Romeo. Setelahnya ia melesat keluar dari kamar Romeo. Kembali tak lama kemudian dengan seprai, masing-masing sepasang sarung bantal dan guling, juga selimut. Barang bawaannya tersebut diletakkan di atas ranjang. Ia meminta Romeo mendekat, dan Romeo berjalan perlahan ke arahnya. Karena tidak ada kursi atau apa pun yang bisa digunakan untuk menaruh sesuatu, Emma terpaksa menggunakan tangan Romeo sebagai tempat untuk meletakkan selimut dan sarung bantal sementara dirinya memasang sprei.
Seprai dibuka dan dilebarkan oleh Emma. Romeo bahkan bisa merasakan hentakan anginnya saat sprei tersebut diangkat kemudian diayunkan. Emma memulai bagian atas ranjang. Cepat dan rapi. Seprai segera terpasang tidak sampai lima menit. Ia lagi-lagi meminta Romeo untuk mendekat menggunakan isyarat tangannya. Dan, ya. Romeo menurutinya layaknya seorang anak yang mengikuti perintah ibunya.
"Sejak tadi aku penasaran." Untuk beberapa detik, Emma meneliti Romeo.
Sejak menuruni taksi di depan apartemennya, Emma sampai lelah karena harus mengikuti tempo pelan dari cara berjalannya Romeo. Jika saja tidak ada lift, ia yakin baru akan sampai di kamarnya besok pagi. Romeo benar-benar lambat dan itu terlihat aneh.
"Sebenarnya ada apa dengan cara berjalanmu? Sejak tadi aku ingin bertanya, kenapa kamu berjalan sangat lambat dan terlihat susah payah sekali?"
Tidak ada jawaban. Romeo memilih bungkam sambil terus memperhatikan Emma yang sedang memasang sarung bantal sambil duduk di atas ranjang yang sudah dilapisi seprai.
"Apa itu ada hubungannya dengan kamu yang masuk rumah sakit dan berakhir kabur? Apa karena kecelakaan?" tanya Emma. Tidak kehabisan bahan untuk menjawab rasa penasarannya.
"Aku tidak pernah mengalami kecelakaan, jadi aku tidak tahu apa efek yang hadir pasca kecelakaan. Hanya saja aku penasaran, apa kamu mengalami kecelakaan yang begitu hebat sehingga berpengaruh pada cara berjalanmu setelah sehat?" Kemudian Emma menggeleng. Sadar bahwa dirinya terlalu ingin tahu, "tapi kalau kamu tidak mau berbicara juga tidak masalah. Maaf karena membuatmu tidak nyaman. Aku memang seperti ini orangnya. Banyak bicara dan terkadang menyebalkan."
Seulas senyum Romeo dapati di bibir Emma. Mungkin sebagai permintaan maaf. Dan Romeo hanya membalasnya dengan anggukan kepala. Emma selesai memasang sarung bantal. Ia beringsut turun dari ranjang dan menata bantal-bantal tersebut dengan rapi. Kembali merapikan bagian yang sempat didudukinya.
"Ahh, ya. Tadi saat kita berdua di minimarket, kamu kelihatan pucat dan pusing. Apa sekarang sudah baik-baik saja? Atau apa perlu aku antar ke rumah sakit?"
"Tidak!" Romeo menyahut cepat. Tidak sadar bahwa hal itu membuat Emma sedikit terkejut. "Maksudku, aku baik-baik saja. Mungkin hanya kelelahan," ralatnya kemudian. Dengan nada yang lebih halus. Berusaha menutupi fakta bahwa rumah sakit akan menjadi satu tempat yang paling dihindarinya untuk saat ini. Terlebih jika rumah sakit tersebut adalah rumah sakit yang pernah merawatnya.
"Kalau kamu menolak, aku tidak akan memaksa. Mungkin kamu hanya butuh istirahat." Emma tersenyum kecil, "jadi sebaiknya kamu mandi. Kebetulan ada baju yang pastinya cukup untuk kamu pakai. Kalau aku libur, kita akan belanja pakaian lain."
"Kamu tidak perlu melakukan itu. Aku bisa—" Perkataan Romeo terhenti. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya memiliki seseorang yang bisa diandalkan, tapi tidak jadi karena ia sudah mengakui bahwa dirinya tidak memiliki siapa-siapa.
"Tidak masalah. Kalau kamu memang keberatan, anggap saja kamu berhutang padaku. Kamu bisa membayarnya jika nanti kamu memiliki uang. Gampang, bukan?"
"Ba-baiklah."
Keduanya keluar. Emma menunjukkan pintu kamar mandi. Meminta Romeo untuk menunggu di depan pintu sementara dirinya mengambilkan pakaian untuk Romeo.
Romeo langsung tahu saat Emma kembali. Bahwa pakaian yang Emma bawakan merupakan pakaian laki-laki, dan sepertinya milik kekasih Emma. Ia tidak punya pilihan lain selain menerimanya. Pakaian rumah sakit yang dikenakannya sangat mengganggu, dan pakaian yang diberikan Emma terlihat jauh lebih nyaman. Setidaknya itu lebih baik, daripada seragam biru yang menjelaskan bahwa dirinya seorang pasien.