1; Awal Mula Pelarian
"Tuan Muda, Tuan Muda!"
Seorang laki-laki perlahan membuka kelopak matanya saat merasakan guncangan di bahunya. Manik kelabu itu mengerjap beberapa kali. Menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya yang ada di sekitarnya. Romeo namanya. Laki-laki berusia dua puluh tiga tahun yang baru saja terbangun dari koma satu bulan lalu.
Romeo menatap orang yang mengguncang tubuhnya. Ia diberitahu bahwa dirinya sudah koma selama enam bulan akibat kecelakaan dan baru terbangun dari komanya satu bulan lalu. Selama satu bulan penuh, yang menemaninya hanyalah pria yang saat ini ada di hadapannya. Martin.
"Ada apa?" tanya Romeo setelah beberapa saat.
Martin, selaku orang kepercayaan ibu Romeo membungkukkan sedikit tubuhnya agar bisa berbisik pada Romeo.
"Saya akan berbicara dengan Tuan, tapi saya mohon agar Anda tidak menyela ucapan saya dan mau mendengarkan ucapan saya baik-baik."
Romeo tidak mengerti. Tatapannya beralih ke arah jendela yang ditutupi tirai. Ada dua siluet yang tertangkap jelas oleh penglihatannya. Dua siluet itu adalah para penjaga yang disewa ayahnya untuk mengawasinya selama berada di rumah sakit. Dan gerak-gerik Martin yang sedang berbisik padanya seakan sedang menunjukkan bahwa para penjaga tersebut tidak boleh mendengar pembicaraannya.
"Saya ingin Tuan kabur dari rumah sakit ini."
Bola mata Romeo membesar. Ia memandang Martin tidak habis pikir. Kondisi fisiknya bahkan belum sepenuhnya pulih. Semenjak sadar dari koma satu bulan lalu, ia seperti orang lumpuh yang tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Ia tahu bahwa otot-ototnya dilatih dan dibiasakan lagi agar ia bisa kembali seperti semula, tapi tentu butuh waktu yang tidak sebentar.
Satu bulan menjalani perawatan, Romeo memang sudah bisa berjalan, tapi jika disuruh kabur, ia yakin hanya akan menjadi gembel di pinggir jalan.
"Apa yang kamu—"
Mendengar nada suara Romeo yang keras, Martin segera membekap mulut Romeo. Tidak membiarkan Romeo bicara sedikit pun.
"Tolong dengarkan saya, Tuan. Ini semua demi kebaikan Anda. Anda benar-benar harus kabur dari rumah sakit ini jika ingin selamat."
Romeo semakin tidak mengerti. Kepalanya yang sudah tidak lagi merasakan pusing kini kembali berdengung mendengar perkataan dari Martin. Berbagai pertanyaan hilir-mudik di kepalanya. Mengganggu sekali. Kenapa ia harus kabur? Kenapa juga ia akan selamat jika kabur? Dan sebenarnya ia harus kabur dari apa atau siapa?
"Dengar!" Romeo melepaskan bekapan Martin, "kita sama-sama tahu bahwa keadaanku sedang tidak baik-baik saja. Aku baru sadar dari koma sebulan lalu, tidak sampai di situ, aku juga dipaksa menerima kenyataan bahwa ibu kandungku sudah meninggal. Aku sedang tidak baik-baik saja, Martin! Daripada menyuruhku untuk kabur, lebih baik kamu membunuhku saja agar bisa menyusul ibuku. Kenapa hanya aku yang selamat dari kecelakaan itu? Kenapa ibuku harus meninggal? Dan kenapa aku harus sadar dari koma jika harus kehilangan ibuku?"
Napas Romeo memburu. Sekuat tenaga menahan diri agar tidak berteriak marah. Kehidupannya hancur karena kecelakaan yang dialaminya tujuh bulan lalu. Kala itu ia mengalami kecelakaan bersama ibunya. Beberapa hari setelah dirinya sadar, Martin memberitahunya bahwa ibunya meninggal di tempat. Tapi bukan itulah yang Romeo inginkan. Jika ia selamat, tapi harus kehilangan orang yang paling berharga untuknya, ia bahkan tidak b*******h untuk menjalani kehidupannya.
"Dengar, Tuan! Saya tahu Anda belum bisa dibilang sehat betul, saya tahu Anda bahkan masih dalam suasana berduka, tapi ibu Anda tidak akan suka jika Anda mengakhiri hidup Anda sendiri. Tolong mengertilah, saya melakukan ini demi kebaikan Anda, Tuan Muda."
"Berhenti memanggilku Tuan Muda! Aku punya nama!" sungut Romeo kesal.
"Tuan, tolong jangan berisik! Atau para penjaga yang ada di luar bisa mendengar obrolan kita."
"Biarkan saja mereka mendengar, biar mereka tahu apa yang kamu katakan kepadaku. Itu lebih baik. Aku akan meminta ayahku untuk memecatmu sekarang juga lewat para penjaga itu jika kamu tidak berhenti menyuruhku untuk kabur."
Martin menegakkan tubuhnya, sementara Romeo membuang muka agar tidak melihat Martin. Tentu itu hanya sebuah gerakan agar Martin berhenti berbicara yang aneh-aneh dan mengundang emosinya.
Bisa dibilang Martin adalah orang yang paling dekat dengannya. Tangan kanan ibunya itu sudah bekerja dengan ibunya selama lebih dari sepuluh tahun. Dan selama itu, Martin sering sekali menghabiskan waktu di rumahnya. Ia bahkan lebih dekat dengan Martin, daripada ayah kandungnya sendiri.
Martin adalah orang yang bisa diandalkan, cerdas, cekatan, bisa dipercaya, dan yang pasti jujur. Sudah tentu Romeo terheran-heran mendengar Martin menyuruhnya kabur dari rumah sakit.
"Saya mohon agar Tuan mau mendengarkan saya," kata Martin.
"Tidak, aku tidak akan mendengarkan apa pun darimu." Romeo menyahut tanpa melihat kearah Martin sedikit pun.
"Saat ini Anda sedang dalam bahaya besar. Semua penjaga yang berada di luar kamar ini sebenarnya bukan ditugaskan untuk menjaga anda, Tuan Muda. Mereka semua dipekerjakan agar Anda tidak pergi dari rumah sakit ini."
Barulah Romeo kembali menatap Martin. Kesal sekaligus jengkel dengan sikap aneh Martin. "Ya, tentu saja mereka tidak akan membiarkan aku pergi ke mana pun karena aku pun tidak akan pergi ke mana-mana. Berhenti berbicara hal aneh kepadaku dan segeralah keluar dari kamarku. Lagi pula kenapa aku harus kabur dari rumah sakit ini?"
"Karena ada saya." Martin menyahut pelan.
Romeo diam. Apa maksudnya?
Martin kembali membungkukkan tubuhnya dan membisikkan sesuatu di telinga Romeo.
"Anda harus segera pergi dari rumah sakit ini dan dan lari sejauh mungkin dari ayah kandung Anda jika Anda masih ingin hidup."
Saat Martin kembali menegakkan tubuhnya, Romeo melihat keseriusan terpampang di wajah Martin. Dan ia langsung tahu bahwa Martin tidak sedang bercanda.
"Pak Ryan sedang merencanakan sesuatu mengenai Anda. Saya berjanji akan menceritakan semua yang saya tahu sejauh ini, tapi tidak sekarang. Untuk saat ini saya hanya ingin memastikan Anda berada di tempat yang aman dan berada jauh dari ayah Anda. Saya mohon ikuti permintaan saya untuk kabur dari rumah sakit ini."
Ayahnya? Kenapa Martin seolah sedang mengatakan bahwa ayahnya adalah orang jahat?
"Saya mohon. Saya pernah berjanji kepada ibu Anda kalau saya akan melindungi Anda apa pun yang terjadi. Dan sekarang saya akan memegang teguh janji itu."
Martin merogoh saku jasnya yang berada di bagian dalam. Mengeluarkan sebuah ponsel dari sana. Ponsel itu langsung diberikan kepada Romeo.
"Baiklah." Martin melirik arloji di pergelangan tangan kirinya, "sekarang sudah waktunya Anda menjalani fisioterapi. Kita bisa mengambil kesempatan ini untuk Anda kabur."
Bola mata Romeo membesar. Rupanya sejak membangunkannya tadi, Martin sudah memperhitungkan waktu yang digunakannya. Hal itu langsung membuat Romeo tahu bahwa Martin tidak main-main dengan perkataannya. Pria itu memperhitungkan waktu dan jadwal perawatannya agar bisa mengambil kesempatan.
Martin adalah orang kepercayaan ibunya. Awalnya ia mengira bahwa Martin sedang bermain-main, tapi setelah tahu bahwa yang dibicarakan oleh Martin adalah keselamatan nyawanya, ia tahu Martin serius. Karena itulah ia langsung bangun dari posisi berbaringnya. Setidaknya untuk saat ini ia akan mengikuti perintah Martin sambil mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kalau nanti ia menemukan fakta bahwa Martin lah yang berbohong, ia tidak akan sungkan memukul kepala Martin dengan sepatunya.
"Tolong dengarkan saya." Martin menatap Romeo serius, "setelah keluar dari sini, saya akan pergi ke toilet. Nanti akan ada satu penjaga yang mengantar Anda untuk fisioterapi. Sedangkan satu penjaga yang lain akan melapor kepada ayah Anda mengenai Anda yang pergi fisioterapi. Tetap perhatikan saya. Begitu saya keluar dari toilet, Anda harus berpura-pura ingin pergi ke toilet juga. Di sana saya sudah menyediakan sesuatu untuk Anda. Mengerti?"
Romeo mengangguk. Martin memintanya untuk memasukkan ponselnya ke dalam saku dan jangan sampai ketahuan. Romeo melakukan hal itu.
Rencana keduanya dimulai. Martin mengambilkan kursi roda untuk Romeo. Membantu Romeo untuk duduk di sana. Meski sudah bisa berjalan, Martin memang selalu melakukan hal itu untuk pergi ke tempat fisioterapi. Katanya, menunggu Romeo jalan sama seperti menunggu keong.
Ketika Martin mendorong kursi roda Romeo keluar, keduanya menjalankan aksi mereka. Dua penjaga yang bertugas langsung mendekati Romeo. Martin meminta satu penjaga untuk mendorong kursi roda karena dirinya ingin pergi ke toilet, dan penjaga itu mengiyakan.
Pergilah Martin ke toilet. Seperti perintah Martin, Romeo terus memperhatikan sampai Martin sudah berjalan cukup jauh. Salah satu penjaga mulai mendorong kursi rodanya, dan satu penjaga yang lain melapor melalui telepon persis seperti perkataan Martin.
Martin berbelok ke kiri. Dan Romeo meminta agar pria yang mendorong kursi roda bergerak lebih cepat. Sampai di belokan, Romeo melihat Martin memasuki sebuah pintu. Di sanalah toilet yang dimaksud Martin.
Kursi roda terus berjalan. Beberapa meter setelah berjalan lurus melewati belokan tersebut, Romeo meminta berhenti.
"Sepertinya aku ingin pergi ke toilet," kata Romeo.
Pria yang mendorongnya bertanya, "Kenapa tadi Anda tidak pergi ke toilet yang ada di kamar Anda?"
"Karena tadi aku tidak ingin buang air. Memangnya menurutmu hal itu bisa dikontrol?"
"Tidak, Tuan."
"Ya sudah, bawa aku ke toilet terdekat sebelum menjalani fisioterapi."
Karena toilet terdekat berada tepat di belokan yang tadi mereka lewati, kursi roda kembali diputar. Satu orang yang melapor berjalan ke arah mereka karena sepertinya laporan sudah selesai. Romeo berbelok di belokan, dan bersamaan dengan itu Martin keluar dari toilet.
"Kalian mau ke mana? Tempat untuk fisioterapinya bukan di sini?" tanya Martin.
Sekarang Romeo tahu bahwa Martin ternyata pandai berakting juga. Karena itu ia dibuat sangat yakin bahwa Martin benar-benar tidak sedang mempermainkannya.
"Aku ingin pergi ke toilet." Romeo yang menjawab.
"Ahh, begitu. Baiklah." Martin berjalan melewati Romeo. Ia menunjuk satu orang yang baru sampai. Orang itu adalah penjaga yang tadi melapor, "Kamu ikut dengan saya untuk menemui dokter. Laporkan perkembangan yang akan dikatakan dokter nantinya."
"Baik, Pak."
"Dan kamu!" Martin menunjuk penjaga satunya, "jangan alihkan pandanganmu dari Tuan Muda. Kau harus menjaganya dengan benar. Setelah keluar dari toilet, kalian harus langsung pergi ke tempat fisioterapi. Mengerti?"
"Mengerti, Pak."
Sementara Martin dan satu penjaga bergerak menjauh, Romeo menahan tawa saat dirinya berhenti tepat di depan pintu toilet. Rupanya Martin benar-benar lucu jika sedang berpura-pura sambil menyusun rencana.
Penjaga yang mendorong Romeo membuka pintu toilet. Bersiap untuk mendorong kursi roda masuk, tapi Romeo menahannya dengan berkata, "Kamu tidak perlu mengantarku sampai ke dalam. Aku bisa buang air sendiri."
"Tapi saya harus memastikan agar tidak ada sesuatu yang terjadi pada Anda, Tuan."
"Tidak perlu. Tunggu saja di sini." Romeo turun dari kursi roda, "dan sepertinya kamu harus menunggu lama karena aku akan buang air besar."
"Tidak apa-apa, saya akan menunggu di sini. Tolong berhati-hati, Tuan."
Romeo berdecih. "Aku bukan anak kecil!" Lantas segera menutup pintu.
Tidak ada siapa pun. Beberapa pintu yang ada di sana terbuka. Menandakan bahwa tidak ada yang sedang memakai toilet. Seperti perkataan Martin, sudah ada sesuatu yang disiapkan Martin di sana. Sebuah paper bag berwarna hitam terletak di atas wastafel.
Romeo berjalan ke arah paper bag tersebut. Segera membongkar isinya. Ada sebuah jaket kulit, rambut palsu ikal berwarna cokelat, masker, juga topi. Yang membuat Romeo geleng-geleng kepala, di bagian depan paper bag terdapat sebuah kertas menempel berisi pesan yang ditulis menggunakan pulpen.
Ini pesananmu, Babe. Jangan lupa hubungi aku. Kalau nanti kamu sudah sembuh, jangan lupa pesan hotal untuk kita sebagai bayaran semua barang-barang ini.
Kira-kira begitulah pesannya. Martin menyusun rencana dengan sangat matang, tepat, dan menjengkelkan di waktu yang bersamaan. Pria itu secara tidak langsung seperti sedang mengejeknya yang jelas tidak pernah dekat dengan perempuan.
Romeo langsung memakai semuanya. Ia melemparkan paper bag tersebut ke dalam salah satu pintu terbuka sehingga siapa pun yang menemukan paper bag tersebut akan mengira bahwa ia berganti pakaian di dalam sana. Meski Martin masuk ke dalam toilet sebelumnya, pria itu bisa berdalih bahwa dirinya tidak melihat apa-apa.
Langsung saja Romeo pergi dari sana. Berhasil melewati penjaganya yang berdiri di depan pintu. Penjaganya itu sempat melihatnya sekilas, tapi karena topi dan rambut palsu yang dikenakannya, dia langsung mengalihkan pandangan.
Karena kondisi kakinya yang belum memungkinkan rumahnya untuk berlari, Romeo hanya berjalan pelan. Sampai ia menemukan seorang perempuan yang sedang berdiri di depan lift. Begitu pintu lift terbuka, Romeo mempercepat langkahnya dan menerobos masuk.
Tidak sampai lima menit, Romeo sudah sampai di lantai dasar. Ia segera keluar dari rumah sakit sambil memperhatikan sekitarnya. Di beberapa tempat berbeda, ia menangkap empat orang yang berseragam serupa seperti dua penjaganya. Bersamaan dengan langkahnya menuruni anak tangga, empat orang berseragam itu saling memberi kode dan berlari hendak memasuki rumah sakit. Langsung saja Romeo menaikkan maskernya, menurunkan topi yang dikenakannya, serta merapatkan jaketnya.
Romeo sekuat tenaga mempercepat langkahnya. Sepertinya penjaga yang berdiri di depan pintu toilet baru saja menyadari bahwa dirinya hilang.
Di dekat gerbang, ponsel pemberian Martin bergetar. Romeo langsung mengangkatnya.
"Tuan Muda, tolong dengarkan saya baik-baik. Anda harus lari sejauh mungkin dari rumah sakit ini, karena seluruh anak buah Pak Ryan sudah mulai menyebar untuk mencari Anda. Bersembunyilah di tempat yang aman sampai saya menemukan cara untuk bertemu dengan Anda dan memberikan tempat tinggal untuk Anda. Ponsel yang saat ini sedang Anda pegang hanya saya yang mengetahui nomornya, jadi tolong jangan sembarangan memberikan nomor ini kepada orang lain apalagi menerima telepon dari nomor lain selain nomor saya. Mengerti?"
Romeo mendengkus. Martin mengajarinya dengan penuh penekanan seolah dirinya adalah bocah sekolah dasar yang tidak mengerti jika hanya dibilangi satu kali.
"Kalau Anda mengerti, saya akan langsung menutup teleponnya."
Benar. Setelahnya panggilan dimatikan begitu.
Sementara keriuhan terjadi di dalam rumah sakit karena salah satu pasien yang hilang, Romeo menghentikan sebuah taksi di depan gerbang rumah sakit dan memulai pelariannya.