Bola mata Romeo membesar. Ia merogoh semua saku yang ada di jaket. Tidak menemukan sesuatu, tangannya beralih merogoh kantung seragam rumah sakit. Tetap tidak menemukan apa-apa di sana. Sadar bahwa dirinya sedang dalam bahaya, Romeo malah mengumpat dalam hati berulang kali sambil menyumpah serapahi Martin. Pria yang menyuruhnya kabur tanpa membekalinya dengan uang sepeser pun.
Jangankan untuk bertahan hidup dari kejaran para penjaga yang di sewa oleh ayahnya, Romeo bahkan yakin bahwa dirinya akan mati dua hari dari sekarang karena tidak memiliki apa-apa untuk dimakan.
Saat ini, Romeo sedang berada di dalam sebuah taksi sambil memegang ponsel. Hanya itu satu-satunya barang yang ia miliki selain semua barang pemberian Martin yang saat ini dikenakannya. Taksi sudah berjalan belum sampai lima menit. Mungkin sudah satu atau dua kilometer yang dilewatinya.
"Pak!" panggil Romeo. Tahu bahwa ia tidak memiliki apa pun untuk membayar taksi.
"Iya, Pak. Apa Bapak sudah menentukan alamat yang mau didatangi?"
Tadi saat menaiki taksi, Romeo hanya mengatakan bahwa sopir taksi hanya perlu membawanya pergi karena ia tidak tahu ingin pergi ke mana. Sekarang pun Romeo memanggil bukan karena dirinya sudah menentukan alamat atau tempat yang akan dituju olehnya, tapi karena ia tidak tahu akan membayar dengan apa.
"Sebelumnya saya mau minta maaf, Pak. Dompet saya ketinggalan, jadi untuk sekarang saya tidak memegang uang sama sekali."
Sontak saja taksi yang ditumpangi oleh Romeo berhenti begitu saja. Sang sopir menginjak rem secara mendadak. Hal yang membuat Romeo sempat tersentak ke depan.
"Kalau memang tidak punya uang kenapa tadi memberhentikan taksi saya?" tanya sang sopir.
"Saya bukan tidak punya uang, saya hanya lupa membawa dompet."
"Intinya tetap tidak punya uang untuk saat ini." Si sopir mendengkus halus, "cepat turun! Saya tidak mau mengantar kalau tidak dibayar," usirnya kemudian.
Mau tak mau akhirnya Romeo keluar dari taksi. Hanya diam di pinggir jalan saat taksi tersebut perlahan melesat menjauhinya.
Sekarang Romeo benar-benar tidak tahu ingin melakukan apa atau ingin pergi ke mana. Penderitaan seakan lengkap sudah. Kakinya belum pulih sepenuhnya dan itu mengakibatkan dirinya tidak bisa berjalan normal. Ia tidak punya uang dan tidak punya tempat tujuan. Semuanya persis seperti apa yang ia pikirkan tadi saat bersama Martin, bahwa dirinya akan menjadi gembel. Ucapan itu terjadi dalam kurun waktu yang terbilang sangat cepat, belum sampai satu jam.
Pada akhirnya Romeo memilih untuk berjalan kaki. Menerobos hangatnya cuaca sore hari yang memeluknya. Jaket yang ia kenakan semakin dirapatkan agar jikalau ada anak buah ayahnya yang lewat, mereka tidak langsung menyadari bahwa dirinya adalah Romeo yang mereka cari.
Romeo menyusuri trotoar jalan. Bergabung saat ada kerumunan. Berpura-pura menjadi bagian agar tidak ditemukan. Matanya dengan lincah berlari ke sana ke sini. Berulang kali Romeo menoleh ke belakangnya hanya untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang mengikutinya.
Terus berjalan, Romeo merasakan rasa lelah yang luar biasa. Ia menyebrang di zebra cross, menyusuri deretan pohon yang ada di trotoar jalan, berbelok setiap kali menemukan persimpangan, dan berakhir di sebuah minimarket yang ada di pinggir jalan.
Karena rasa haus yang nyaris membuat tenggorokannya kering kerontang, juga rasa lelah yang seakan membuat kakinya lepas, tanpa sadar Romeo mendekati minimarket tersebut. Jaket yang ia kenakan, juga rambut palsu yang terpasang di kepalanya dilepas kemudian dibuang ke tong sampah yang ada di depan minimarket. Setelah memasang topinya lagi, Romeo langsung menerobos masuk ke dalam minimarket tersebut.
Kakinya melangkah ke bagian paling belakang minimarket. Menemukan barisan minuman yang terpampang di dalam lemari pendingin. Tanpa pikir panjang Romeo langsung mengambil sebotol air mineral dan membawanya ke meja kasir.
Seorang perempuan dengan sepasang mata berwarna coklat gelap menyambutnya. Senyum ramah terpasang di bibir perempuan tersebut. Terlihat manis sekali di mata Romeo.
Romeo langsung meletakkan air mineral yang dibawanya ke atas meja kasir. Perempuan itu bertanya apakah dirinya ingin membeli sesuatu yang lain, dan Romeo menggeleng.
Lalu, seolah baru teringat sesuatu, bola mata Romeo membesar. Tangannya dengan cepat segera merogoh saku yang ada di bagian depan seragam rumah sakit, tidak menemukan apa pun selain ponsel miliknya yang sedikit menyembul keluar. Matanya melihat air mineral yang sedang dipegang oleh perempuan di depannya. Ia meneguk air liur.
"Saya tidak jadi membeli airnya," kata Romeo tiba-tiba. Ia langsung memutar tubuhnya dan berlalu begitu saja.
Namun, perempuan yang berdiri di balik meja kasir justru mengambil satu bungkus roti yang ada di ada mejanya dan segera menghitung roti tersebut sekalian dengan air mineral yang tadi ingin dibeli oleh Romeo.
Sebelum Romeo pergi dari minimarket, perempuan itu sudah lebih dulu keluar dari meja kasir dan mengejar Romeo.
"Hei!"
Merasa terpanggil, Romeo menoleh ke belakang. Mendapati kasir yang tadi sempat melayaninya berdiri di depan pintu minimarket yang baru saja tertutup. Tepat satu langkah dari posisinya.
Romeo menunjuk dirinya sendiri. Ia bertanya, "Kamu panggil saya?"
Perempuan itu mengangguk. Tangannya mengeluarkan botol air mineral dan sebungkus roti pada Romeo. Hal yang membuat romeo bingung.
"Ambil. Air mineral sama roti ini buat kamu." Perempuan itu berbicara karena Romeo tak kunjung mengambil air mineral dan roti yang ia berikan.
"Tapi saya tidak jadi membeli roti dan air itu."
"Iya, saya tahu. Saya kasih ini buat kamu. Jadi kamu terima aja, oke?"
Romeo mengerjapkan mata. Bertanya-tanya kenapa perempuan itu harus memberikan air dan dan juga roti secara percuma padanya?
"Saya tahu kamu pasti pasien yang kabur dari rumah sakit. Seragam, topi, sama masker yang kamu pakai sudah menjelaskan semuanya. Kamu tidak punya biaya 'kan buat bayar rumah sakit makanya kamu kabur?"
Lancang sekali. Romeo mengatupkan bibirnya. Perempuan yang berdiri di depannya jelas sedang mengejeknya. Terlebih saat perempuan itu menatapnya dari atas ke bawah. Memperhatikan dengan saksama seragam apa yang dipakainya. Kalau perempuan itu tahu bahwa dirinya adalah pewaris utama sebuah perusahaan besar, ia yakin perempuan itu akan menganga.
"Saya tahu kamu tidak punya uang, makanya tadi kamu tidak jadi beli air mineralnya." Perempuan itu kembali tersenyum, "tapi kamu tidak perlu khawatir, saya kasih ini gratis khusus buat kamu. Oke?"
Karena Romeo tak kunjung menerima pemberian darinya, perempuan itu meraih tangan Romeo secara paksa dan meletakkan air mineral beserta rotinya di sana. Mengundang dengkusan halus dari Romeo.
"Tidak perlu sungkan, anggap saja saya itu satu dari sekian banyaknya orang baik yang ada di Bumi ini. Oke?"
Romeo mengembuskan napas panjang. Perempuan itu sudah mengatakan kata 'oke' sebanyak tiga kali, dan ia dalam kondisi yang sangat halus sehingga tidak ingin menolak air mineral gratis itu.
"Saya masuk lagi, ya?" Perempuan itu menunjuk bagian dalam minimarket. Mendapati anggukan kepala dari Romeo, ia berlalu setelah sempat melempar senyuman sekali lagi.
Mungkin baru kali ini Romeo menerima pemberian dari orang lain. Perempuan itu orang asing baginya, tapi entah kenapa Romeo suka melihat senyuman itu dilemparkan untuknya.
Sementara si perempuan menduga bahwa pertemuannya dengan Romeo hanyalah kebetulan belaka, Romeo justru memilih duduk di lantai depan supermarket. Menyandarkan tubuhnya di bagian pojok sambil berpikir akan ke mana dirinya setelah ini. Martin belum menghubunginya, dan sekarang ia persis seperti anak hilang yang tersesat dan memilih untuk berteduh di suatu tempat.