Bab 4 Skandal Perundungan

1497 Words
“Kau menyuruhku ke sini hanya untuk mengantar ini? Em, aku ini bukan pesuruhmu.” Leo masuk ke ruangan dengan wajah datar dan malas. Wanita yang sibuk berkutat dengan manekinnya segera semringah. “Astaga, adikku yang satu ini memang benar-benar anak yang baik. Aku cinta padamu!” Emily berseru riang, berlari lalu memeluknya erat. Tertawa merasakan Leo terdiam kaku sambil berusaha menjauhkan tubuh. Emily mengambil paper bag dari tangan Leo, mengintip isinya. iPad kerja berisi seluruh busana hasil rancangannya, sketch book, serta binder color palette andalannya. “Maaf merepotkan. Untungnya kau sedang di luar dan ke arah sini. Kami ada rapat siang ini. Aku bisa mati jika ini tidak ada.” Emily merepet, membenarkan meteran kain di lehernya. Leo bersandar di meja, melirik saat merasakan tatapan kakaknya. “Apa?” Emily menghela napas menggeleng. “Apakah kau tahu kekacauan seperti apa yang kau buat kemarin? Kau mengumumkan kompetisi ibu pengganti, lalu pergi kabur ke luar negeri! Menghindari Ayah dan Kakek yang menggila dan wartawan yang haus darah.” Leo memandangi ruangan, pura-pura bukan dirinya yang sedang dibicarakan. “Mereka tidak bisa merilis pernyataan apa pun karena kau mengontrol ISSA. Dan seminggu kemudian kau kembali, saat pendaftaran kompetisinya hampir selesai dan tidak bisa dipersoalkan lagi. Kau benar-benar mau melawan Kakek dan Ayah, hah? Ini sudah berlebihan.” “Jika kau hanya ingin mengomel maka aku akan pergi. Pekerjaanku masih banyak.” Leo tidak berniat mendengarkan lebih lama jadi ia bersiap pergi. “Leo,” panggil Emily menahannya. “Jadi, untuk apa kompetisi ini sebenarnya?” Leo menoleh, menatap kakaknya tenang. “Untuk mencari wanita yang bisa melahirkan pewarisku. Entah kenapa dua orang tua itu terus menganggap aku butuh pewaris padahal usiaku masih 32 tahun.” Emily menghela napas. “Kau tahu bukan itu maksudnya. Mereka ingin kau menikah dan memiliki anakmu sendiri.” “Kalau begitu aku akan menemukan istriku sendiri.” Leo membalas lagi, mulai kesal. “Aku bisa mencari istriku sendiri. Aku hanya tidak suka cara mereka mengatur dengan siapa aku harus menikah.” Emily menghela napas lagi, menatap adiknya yang keras kepala. “Baiklah. Kalau begitu temukan istrimu itu dan bawa dia ke rumah. Carilah pacar, demi Tuhan! Jangan bekerja terus—!” Leo tidak mendengar sisa kalimatnya karena sudah pergi lebih dulu. Ia melihat jam tangan, sebentar lagi waktu makan siang selesai. Selepas pertemuan bisnis di restoran tadi ia meminta Jeremy kembali ke kantor lebih dulu. Masih ada waktu sebelum meeting-nya yang selanjutnya. Langkah Leo melambat saat melihat orang-orang berkumpul di koridor. “Astaga! Tuan Leo Issander! Apa yang Anda lakukan di sini?” Orang yang Leo kenali sebagai produser menghampirinya kaget. “Ada apa ini?” Leo tidak menjawab dan bergerak ke pintu lebih dulu. “A-ah, itu … ada sedikit ketegangan … bukan masalah besar, tentu saja!” Tidak ingin reputasinya rusak, produser itu berusaha menenangkan. Namun, begitu Leo masuk ke ruangan, yang ia dapati adalah kejutan yang menyenangkan. Set lokasi terang dan bersih, lengkap dengan properti yang digunakan. Di tengah ruangan sepertinya ada yang bertengkar. Namun, yang menarik perhatiannya adalah gadis bergaun hijau muda yang tegak dengan wajah keras dan tatapan tajam di tengah ruangan. Melirik sekelilingnya, ia akhirnya tahu siapa yang sedang digunjingkan para staf ini. “Jika tidak ada yang bisa membuktikan bahwa aku sudah tidur dengan manajerku, maka aku akan menampar semua orang yang menyebarkan berita bohong tentang kami.” Suara gadis itu penuh tekanan. Seluruh ruangan membeku. Seolah tombol baru saja menyala di kepalanya. Leo membara dalam adrenalin. Matanya mengikuti subjek itu dengan tajam, tapi belum apa-apa gadis itu sudah menghilang. Leo keluar dari ruangan dengan senyum separuh di bibir. Menempelkan ponsel ke telinga setelah menekan tombol panggil pada kontaknya. “Jeremy. Artis Virgo Thanaya, aku ingat dia telah menandatangani kontrak dengan ISSA. Cari informasi tentangnya, dan berikan padaku hasilnya siang ini. Aku akan tiba lima belas menit lagi.” *** Eric yang agak tertinggal mengejar Virgo, membukakan pintu mobil lalu ikut masuk. Menatap Virgo dari spion tengah mobil. “Mau katakan padaku alasan kau menamparnya?” Virgo diam agak lama. “Dia menyalakan lampunya tanpa seizinku.” Eric menarik napas lagi. “Oke. Aku sudah menemui Kate dan meminta maaf.” “Sudah mengobatinya juga?” “Sudah.” Virgo mengangguk. “Kalau begitu masalah selesai.” Eric mulai menjalankan mobil. “Aku akan mengantarmu ke Emerald. Ibumu menelepon dan bilang ingin bertemu denganmu.” Wajah Virgo yang tadi sudah kesal, kini bertambah pahit. Setengah jam kemudian, mereka sampai di Emerald, butik kelas atas ibunya yang dibangun dari penghasilan Virgo. Wanita paruh baya itu sudah menunggunya di ruangan pribadi. Virgo masuk dengan ekspresi masih sama kerasnya. “Aku tidak ingat kita punya urusan yang harus diselesaikan. Aku sudah mengirimimu uang untuk bulan ini.” Wanita itu, Victoria Baker, mendesah napas jengah. “Apakah seperti itu caramu bicara pada ibumu?” Virgo mendengkus. “Oh, apakah sekarang kau ibuku? Satu-satunya alasanmu ingin bertemu denganku adalah untuk menyuruhku mendapatkan lebih banyak uang.” Wajah Victoria berkerut marah. Kulit wajahnya yang kencang karena sentuhan operasi plastik dan klinik kecantikan kini memerah. Ia bangkit menuju Virgo dan menampar pipinya kuat. Virgo merasa wajahnya panas dan telinganya berdenging, tapi ia tidak menampilkan ekspresi kesakitan yang pasti akan disukai ibunya. Wajahnya masih datar. Ia hanya mengusap bagian dalam mulutnya dengan lidah saat mengecap rasa asin darah yang meleleh. Napas Victoria naik turun selagi telunjuknya terangkat pada Virgo. “Anak yang tidak tahu tata krama hanya perlu dipukul!” Victoria lalu mengedik pada petugas butik yang sejak tadi masih berdiri diam di sudut ruangan. Menunduk dalam-dalam karena selalu merasa ngeri setiap kali ibu dan anak itu bertemu. Ia lalu bergerak atas perintah Victoria. “Apa-apaan ini?!” Virgo berontak saat mereka mulai mengukur lingkar d**a dan pinggangnya. “Aku hanya perlu mendapatkan ukuran tubuhmu. Jadi, diamlah!” Victoria masih fokus pada layar ponselnya, tampak puas saat membaca informasi lanjutan dan persyaratan kompetisi yang saat ini menggemparkan negeri karena jumlah hadiahnya yang tidak masuk akal. “Apa?! Untuk apa?!” “Sejak kapan kau berani bertanya tujuanku?! Ini demi prospek karirmu. Selanjutnya kau hanya perlu menurutiku dan teruslah berperan menjadi anak baik! Dasar sial, sudah seharusnya kau melakukan ini sebagai bentuk terima kasih padaku karena sudah membesarkanmu dan tidak membuangmu ke jalanan!” Virgo mengepalkan tangannya erat-erat hingga telapaknya terluka. Menatap wanita itu dengan air mata yang nyaris tumpah, bukan lagi karena rasa sakit tapi juga kemarahan. Apa maksudnya terima kasih karena sudah membesarkannya? Ia belum mati bukan karena kebaikannya, tapi karena dirinya sendiri yang bertahan hidup meskipun Victoria tidak memberinya makan atau memukulinya berhari-hari. Ia ingat semua kepahitan dan rasa sakit itu. Dan ia tahu, bahwa bagi Victoria, ia bukanlah putrinya. Melainkan investasi terbesarnya yang paling menjanjikan. *** “Sudah kubilang, bukan aku yang mulai!” Virgo berteriak begitu memasuki koridor. Jejak basah mengikuti langkahnya sejak tubuhnya keluar dari kolam renang hotel, lokasi syutingnya hari ini. “Ini bukan soal siapa yang mulai, Virgo.” “Lalu apa?! s****l gila itu yang terus-terusan mengusikku! Kau tidak dengar apa yang dia ocehkan tentangku? Dia mengataiku datang ke hotelnya untuk menelanjangi diri di depan Bruno supaya sutradara itu memberiku proyek iklan. Dia juga bilang bahwa aku merisaknya!” “Virgo.” “Eric, aku tidak akan marah jika yang dia katakan benar. Tapi kali ini dia keterlaluan!” “Jadi karena itu kau mendorong Natalie ke kolam?” “Dia bilang aku mendorongnya dan menyiramnya dengan air. Enak saja! Setidaknya aku harus melakukan kejahatannya dulu baru boleh dituduh bersalah!” “Virgo!” Nada bicara Eric sudah tinggi. Namun, Virgo masih sangat marah. Ia menatap Eric nyalang dan berniat mendebat lagi. Tapi melihat Eric yang menatapnya lurus, ia jadi urung. Gadis itu menggeram, membanting handuknya ke lantai. Eric memungut benda itu. “Tunggu di ruanganmu, aku akan menemuimu nanti.” “Kenapa ke sana?! Aku mau pulang!” “Karena aku harus menemui penanggung jawab iklan dan juga manajer Natalie. Kita harus segera membenahi salah paham ini. Aku tidak ingin melihat rumor burukmu lagi besok pagi.” Kekesalan Virgo masih belum reda. Sambil mengentak kaki, ia berjalan ke salah satu ruangan yang diperuntukkan bagi para artis. Keributan masih berlangsung di area kolam karena drama yang dibuat Natalie masih belum berakhir. Sementara di ruangannya, jejak basah memenuhi lantai dari setiap langkah Virgo. Gadis itu bergetar kedinginan. Syuting hari ini berlangsung lama, dan ini bukanlah cuaca yang baik untuk dihabiskan di kolam renang sambil bermain air. Virgo membongkar tas dengan gemetar, memilah di antara pakaian yang tergantung, mencari pakaian yang tadi ia kenakan. Ia harus bersalin jika tidak ingin mati kedinginan. Tak lama itu Eric kembali dengan wajah muram. Ia memasangkan jaket tambahan pada Virgo, mengambil barang-barang mereka dan bersiap pergi. “Aku akan mengantarmu pulang dan menjemputmu lagi sore nanti. Kau bisa beristirahat di rumah sampai saat itu.” Virgo berjalan di sampingnya dengan agak gelisah. “Kau mau pergi lagi?” Eric mengangguk. “Aku harus ke kantor. Masalahnya jadi agak panjang.” Sialan. Apakah ia baru saja membuat masalah besar lagi?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD