“DI MANA VIRGO? BUKANKAH TADI AKU SUDAH MENYURUH KALIAN UNTUK MEMBAWANYA KE SINI?!!”
Teriakan jauh sutradara terdengar lagi. Kate, si penata busana, bertambah panik. “Baik! Tolong tunggu sebentar, akan saya panggilkan.”
Dia menyeret paksa kakinya ke pintu. “Bagaimana ini? Kenapa tidak kalian saja yang bangunkan?! Ini baru hari pertamaku dan harus bertemu rubah gila?!”
Set lokasi pemotretan dan syuting video iklan itu tampak ramai, tetapi ruang ganti bagian belakang kini lengang. Sebuah kertas bertuliskan nama sang artis ditempel di pintu. Virgo Thanaya.
Ia mendesis lirih, membuka pintu perlahan dan memanggil dengan bisikan. “Permisi. Nona Virgo?”
“Pendaftaran Kompetisi Ibu Pengganti yang diselenggarakan oleh putra bungsu dari delapan bersaudara Issander telah memasuki hari terakhir, menghasilkan sekitar seratus ribu pelamar. Antusiasme ini terbilang fantastis mengingat sosok ayah dari bayi yang akan dikandung oleh ibu pengganti masih dirahasiakan dan belum muncul sama sekali ke hadapan publik. Meski begitu, rumor terus beredar bahwa Issander muda adalah pribadi rupawan yang gagah dengan aset tidak terhitung ….”
Begitu pintu dibuka, suara berita dari ponsel Virgo terdengar pelan. Memutar siaran berita acak dari trending news hari ini. Benda itu tergeletak di sofa, selebihnya tidak terlihat apa-apa karena ruangan gelap gulita.
Di atas sofa, seorang gadis tertidur dengan posisi duduk karena tidak ingin membuat gaun hijau mudanya kusut.
Kate mematikan siaran berita. “Nona Virgo, persiapannya sudah selesai. Syutingnya akan dimulai.” Ia berkata pelan dan gemetar.
Kate berusaha menepuk lengannya yang sama sekali tidak menggerakkan Virgo.
Tidak bisa begini. Sutradara disiplin itu pasti akan marah jika mereka tidak segera ke set lokasi.
Kate meraba sakelar di belakang sofa. Begitu lampu menyala, mata Virgo terbuka seketika, dipenuhi pandangan kaget dan kengerian. Ia langsung beringsut dalam posisi terjaga dan tangannya melayang begitu saja ke hadapannya.
Bunyi tamparan itu terdengar nyaring dalam gema menyakitkan.
“Agh!” Kate memegangi pipinya yang merah. Sebuah goresan cukup panjang melukai pipinya, meninggalkan jejak darah karena gesekan kuku Virgo yang baru saja menamparnya.
Detik berikutnya gadis itu sudah menangis.
Sementara Virgo, jantungnya bergemuruh hebat selagi tangan dan kakinya mendingin. Ia mengepalkan tangan. Matanya masih tidak melembut dan menatap sekeliling lalu berhenti di gadis itu dengan tajam. “Siapa yang menyuruhmu menyalakan lampunya?!”
“A-aku … hanya berniat membangunkanmu. Kamarnya gelap sekali, jadi aku menyalakan lampunya. T-tapi … kenapa aku … ditampar?” Ia gemetar sambil mengusap air mata di pipinya.
“Keluar.” Virgo berkata tegas dengan tatapan tajam yang sama sekali tidak melembut.
Pertengkaran itu mulai mengundang perhatian hingga sudah ada beberapa orang berdiri di depan ruang tunggunya, mulai berbisik-bisik.
“Aku tidak bermaksud … ak-aku minta maaf.”
“AKU BILANG KELUAR!” Mendengar nada suara Virgo lebih tinggi, gadis itu segera pergi tanpa menoleh lagi. Orang-orang yang melihat kini bergosip semakin keras, apalagi setelah melihat Kate memegangi pipinya yang merah dan terluka.
“Astaga, kupikir hari ini tidak akan ada kejadian lagi.”
“Rubah gila itu keterlaluan! Apakah dia baru saja menamparnya?!”
“Mentang-mentang selebriti nomor satu negeri ini! Perilakunya benar-benar buruk! Kenapa masih ada yang mau bekerja sama dengannya?!”
“Permisi sebentar. Maaf. Permisi.” Seorang pria memecahkan dengung gosip sambil berusaha melewati orang-orang agar bisa masuk ke ruangan.
“Ssstt! Manajernya datang.”
“Heh, pria bodoh itu. Dia seharusnya mencari pekerjaan lain dan meninggalkan Virgo sejak lama. Aku heran kenapa dia mau bertahan sejauh ini.”
Tawa mencemooh kemudian terdengar. “Yah, kupikir kita bisa tahu kenapa. Maksudku, siapa yang akan menolak jika disodori barang secantik itu? Mau gila atau tidak, rubah tetaplah binatang yang indah. Sudah pasti dia dapat bagian untuk menikmatinya. Sutradara ataupun manajer, semua pria sama saja.”
Pria itu kemudian menutup pintu tepat di hadapan para pekerja yang bergosip. Eric selaku manajer akhirnya berhasil menenangkan Virgo agar gadis itu bisa tetap melanjutkan syuting meski dengan mood yang agak buruk.
Gosip sudah menyebar begitu mereka memasuki set lokasi.
“Ugh, aku tidak tahan lagi. Wajahnya benar-benar songong!”
“Sstt. Dia bisa mendengarmu. Kau tidak takut ditampar juga? Aku yakin dia bukan hanya menampar, tapi juga mendorongnya ke dinding. Kau lihat wajah Kate tadi?”
Virgo membuang muka. Aku bisa mendengar kalian, sialan!
Gerombolan wanita itu kemudian terkikik mengejek. Lily, penata rias pribadinya, kembali dari kamar mandi dan merapikan lagi riasan Virgo sebelum memulai syuting.
Bisik-bisik tidak berakhir bahkan setelah pemotretan selesai. Virgo benar-benar muak, jadi ia berjalan mendekati penata busana yang tadi membicarakannya. Bersikap seolah Virgo adalah orang tuli yang tidak bisa mendengar mulut besarnya.
“Nona Karin.” Virgo memanggil dingin.
Gadis itu membatu dengan raut ketakutan selagi dia mendongak menatap Virgo. “Y-ya?”
Senyum dingin Virgo muncul. Ke mana sikap penuh nyali yang tadi bersemangat mengatainya?
“Apakah kau melihat aku mendorong gadis itu ke dinding?”
Wajah Karin tampak seputih kertas, mencari dukungan dari sekeliling. “Tidak. T-tapi tidak ada yang melihat juga bahwa kau tidak melakukannya.”
Virgo menganga tak percaya, dan detik berikutnya tertawa. Wanita sialan ini benar-benar gigih.
“Hahaha! Tentu saja.” Ia menoleh, mencari Kate. Wajah Kate memucat karena tegang. Tapi Virgo tidak peduli dan bertanya tak acuh. “Hei, apakah aku mendorongmu ke dinding?”
Kate memandang berkeliling, kemudian menggeleng.
Virgo masih melihat Kate dengan datar dan tenang. “Kau boleh menuntutku karena menamparmu. Manajerku akan menanganinya.”
Kemudian ia memandang semua orang dengan dingin. “Jika tidak ada yang bisa membuktikan bahwa aku sudah tidur dengan manajerku, maka aku akan menampar semua orang yang menyebarkan berita bohong tentang kami.”
Seluruh lokasi set seketika hening. Semua orang saling pandang dan mengalihkan tatapan dari Virgo yang seolah menyala dalam kemurkaan.
Saat itu juga suara dehaman dari sutradara penanggung jawab memecah keheningan. Ekspresinya tidak enak. Ia terus melirik ke samping, pada pria tinggi tegap bersetelan kerja dengan elegansi maskulinitas yang memikat. Yang baru saja tiba dan masih tidak mengatakan apa-apa selain memandangi kejadian itu dengan tatapan tenang dan tajam.
“Astaga! Tuan Presdir ada di sini!”
Sutradara menghampiri Virgo tergesa, tapi Eric mencapainya lebih dulu. “Virgo, jaga sikapmu. Presdir agensi ada di sini!”
Namun, Virgo terlalu lelah dan tidak ingin peduli. “Lalu kenapa? Biarkan dia melihat. Tidak ada salahnya untuk tahu bahwa syuting iklan ini tidak lebih dari tempat gosip.” Gadis itu beralih pada sutradara dan membungkuk sekali untuk berpamitan.
Ia meninggalkan tempat itu tanpa mengetahui bahwa tatapan tajam orang itu masih mengikutinya hingga ia menghilang di balik pintu. Bersama dengan gunjingan orang-orang yang masih mengatai arogansinya.
Lelaki itu masih belum bergerak. Mata pria itu biru dengan rambut ikal agak keriting berwarna hitam yang mencapai telinga. Ia memiringkan kepala untuk mengamati lebih lekat, bibirnya spontan melebar sedikit dalam senyum tidak terlihat.
Ah, itu dia calon mempelainya. Akhirnya ia menemukan calon ibu yang tepat untuk pewarisnya.