Leo memasuki kediaman orang tuanya. Pintu dibukakan oleh pelayan rumah. Seorang laki-laki berusia enam puluhan menantinya di ruang tamu; Martin, kepala pelayan keluarganya. Orang yang sudah mengurus keluarga Issander sejak ia di sekolah dasar.
“Mari, Tuan. Tuan Anthony sudah menunggu Anda.”
Martin menepi dan mempersilakan Leo untuk berjalan di depannya. Saat mereka melewati koridor dengan langit-langit tinggi, Leo mendengar Martin berkata pelan.
“Tolong jangan bertengkar terlalu besar.”
Leo meliriknya sekilas dengan tenang. “Satu-satunya yang mengajakku bertengkar adalah mereka. Ini hanyalah serangan balasan atas perbuatan mereka sendiri.”
Martin menghela napas pelan. “Meski begitu, saya tetap berharap bahwa Anda dan Tuan Besar bisa menyudahi perang dingin ini.”
Obrolan mereka berhenti saat sampai di depan dua daun pintu tinggi berbahan jati yang masih menutup. Leo masuk dengan tenang sementara Jeremy menunggu di luar.
Jika biasanya ia merasa waswas setiap kali menginjak ruang kerja ayahnya, kali ini ia hanya merasakan ketenangan dan sedikit percikan kemarahan.
“Kulihat kau masih punya pikiran yang waras untuk datang ke sini.”
Leo melirik pada satu orang lain yang duduk di sofa tamu. Mengejutkannya, Darwyn Issander juga hadir di sana. Bagus. Bahkan kakeknya yang sudah menginjak 90 tahun itu juga ikut hadir di sini untuk menghadapinya?
Leo menarik napas dan duduk di sofa di depan Darwyn, sementara Anthony berada di antara mereka.
“Sekarang jelaskan padaku, apa-apaan semua ini, Leo Issander?!”
Anthony tampaknya sudah terlalu stres hingga langsung meledak begitu berhadapan dengannya.
“Apa yang kau pikirkan saat menggelar kompetisi ini? APAKAH MENURUTMU NAMA BAIK KELUARGA ISSANDER HANYALAH LELUCON?!”
Suara Anthony nyaring dan berat, mengirimkan kemarahan dan deretan kutukan yang tidak diujarkan melalui kata-kata. Namun, tepat mengenai d**a Leo. Ayahnya sudah bangkit dan bernapas semakin cepat. Berjalan bolak-balik, lalu menghadap Leo, sebelum berbalik lagi ke arah lain. Seolah kehabisan kata-kata.
Leo hanya mendongak sedikit, menatap ayahnya dengan ekspresi tenang dan serius yang tidak berubah. Ia menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke sandaran sofa.
“Apakah kita akan berpura-pura tidak tahu bahwa kalian yang membuatku mengambil langkah ini?”
Mulut Anthony menganga, menatap Leo tidak percaya. “Apa katamu?”
Leo beralih pada kakeknya. “Dan, Kakek, apakah kau juga masih pura-pura tidak tahu?”
Leo menarik napas dan memandang keduanya bergantian.
“Jika kalian tidak senang saat apa yang kalian miliki direnggut, maka seharusnya jangan merenggut milikku.” Suaranya pelan, dingin, dan penuh peringatan.
Leo memandang lurus—hampir memelototi—kakeknya. Sementara tatapan Darwyn sama kerasnya. Untuk sesaat keduanya tampak seperti dua singa yang bersiap saling menerkam. Meski sudah mendekati satu abad, postur Darwyn masih cukup tegap, dengan figur yang tinggi besar meskipun seluruh rambutnya praktis berwarna putih.
“Menjauh dari perusahaanku dan jangan ikut campur lagi.” Leo menekankan penuh ancaman sambil masih beradu ketegangan dengan kakeknya.
“ISSA Entertainment bukan mainan untuk bocah yang tidak tahu apa arti tanggung jawab.” Darwyn berkata untuk pertama kalinya. Pandangannya menusuk Leo dengan aura penuh kuasa dan kebijaksanaan.
Leo merasa semakin berang hingga akhirnya mendengkus, nyaris tertawa.
“ISSA Entertainment adalah milikku! Aku tidak menghabiskan enam tahunku membangunnya hanya untuk diberikan pada orang yang bahkan tidak bisa mengurusnya dengan benar!”
“Leo Issander! Kutantang kau untuk mengatakannya sekali lagi!” Anthony tidak bisa menahan diri hingga ikut menyela.
“SUDAH CUKUP!” Bentakan keras Darwyn menghentikan keduanya.
Pria itu menatap anak dan cucunya dengan kilat emosi. Ia beralih pada Leo. Mulai menyesal kenapa bisa-bisanya bocah itu mewarisi tak hanya hal baik tapi juga keburukan dirinya dan ayahnya sekaligus.
“Kau mau menantang soal kelayakanmu padaku? Apa kau pikir kau membangunnya seorang diri? Orang yang mendiskreditkan bantuan yang dia terima tidak layak disebut pemimpin.” Kata demi kata itu menyerang Leo lagi.
Leo membalas tatapan kakeknya dengan serius. “Jangan lupa, Kakek. Kita sudah sepakat. Tidak ada lagi yang boleh menarik keputusannya.”
Darwyn melemaskan tubuh dan bersandar ke sofa, tampak lebih tenang dan masih penuh kuasa.
“Tentu. Sembilan tahun lalu kau menolak rancangan pernikahan kami untukmu dengan putri keluarga Graham*. Enam tahun lalu kau juga menolak pertunangan dengan keluarga Hadwin. Sekarang aku tidak menuntut pernikahan apa pun lagi darimu.”
“Kakek bilang akan mengizinkanku mewarisinya secara sah jika aku memiliki pewaris. Aku sedang mencari pewaris sekarang. Aku tidak butuh istri untuk bekerja.”
“Bocah berandal ini!” Anthony tersulut lagi dan hampir memukul belakang kepala Leo jika saja Darwyn tidak mencegahnya.
“Kau pikir kami akan mengizinkanmu memiliki anak tanpa menikah? Kau pikir akan jadi apa keluarga Issander ini?! Syarat itu dibuat agar kau benar-benar menikah dan memiliki anak.” Anthony marah lagi. Tiba-tiba merasa dirinya menua sekian tahun menghadapi putra bengalnya.
Leo memejamkan mata, mulai merasa pusing.
Leo berkata dengan penekanan di setiap katanya, menahan emosi yang mulai naik. “Sudah kubilang, aku bertindak sesuai kesepakatan kita. Kalian hanya menyebutkan pewaris, bukan pernikahan ataupun istri. Aku tidak melanggar apa pun di sini.”
Anthony kehabisan kata-kata. Sementara Darwyn hanya menatap cucunya lurus, penuh pemikiran. Cucunya ini sama kritisnya dengan dirinya di saat muda. Dan memberlakukan etika bisnis dan keuntungan di antara keluarga bisa menjadi pisau bermata dua.
Ia tahu cara lain membuat cucunya patuh adalah mengikatnya dengan aturan yang bersedia ia patuhi.
“Kalau begitu perbarui kesepakatannya.” Darwyn akhirnya berkata tenang dan final.
Leo memusatkan pandangan pada kakeknya lagi. Merasa kagum sekaligus jengkel, bisa-bisanya laki-laki hampir satu abad ini terus-terusan menantangnya! Tidak bisakah dia duduk tenang saja di rumah dan biarkan dirinya yang mengurus perusahaan?!
Wajah serius Darwyn memancing kesadaran Leo. Pria itu lalu berkata dengan suara berat yang agak serak.
“Lakukan merger. Gabungkan ISSA Entertainment dan Sport Management ISSA. Lalu kau bisa memiliki keduanya.”
Penawaran menggoda dan amat bernilai itu seperti bom atom yang baru saja dijatuhkan. Anthony tercengang, sementara Leo terpaku dalam konsenstrasi dan insting kalkulasinya yang menderas.
Leo tidak ingin tampak terlalu tergoda, tapi seluruh sel tubuhnya sedang bergetar karena antusiasme. Dua hal, dua mimpi dan pencapaian yang paling ia inginkan dan berusaha ia gapai selama ini. Yang terus tertunda hanya karena dia adalah putra bungsu—pilihan terakhir keluarga.
“Kau bisa ambil keduanya. Tapi tidak ada ibu pengganti. Aku ingin kau membawakan pernikahan.”
Seolah ada kawat yang baru saja terputus. Syarat itu baru saja meruntuhkan beberapa rencana yang sudah mulai tersusun di kepala Leo.
Besarnya nilai perusahaan raksasa itu sebanding dengan harga yang harus dibayar. Leo bahkan tidak bisa merasa marah karena dalam hati kecilnya tahu bahwa itu akan sebanding.
Sial. Kakeknya tahu bagaimana cara bermain.
Leo diam sejenak. Memirigkan kepalanya ke satu sisi sambil menimbang cepat.
“Oke. Tidak ada ibu pengganti. Aku akan menikah dengan orang pilihanku. Tanpa campur tangan kalian.”
Ia lalu bangkit, bersiap pergi.
“Jangan membodohiku dengan pernikahan kontrak apa pun itu, Leo. Jika aku tahu kau melakukan ide bodoh itu, maka kesepakatan ini akan berakhir.” Darwyn menatap tajam Leo sebelum pria itu sempat bergerak.
Leo membalas tatapan itu dengan tenang. Senyum skeptisnya muncul.
“Aku tidak sebodoh itu.”
Leo berbalik, menatap ayahnya sekilas kemudian berjalan menuju pintu.
“Jika terbukti pernikahanmu palsu, atau kalian memutuskan bercerai sebelum lima tahun pernikahan, maka klausa Peralihan Kepemilikan akan berlaku.”
Suara Darwyn terdengar begitu Leo meraih kenop pintu. Leo membatu. Seperti sebelumnya, kakeknya tidak akan memberinya celah sedikit pun. Ia terdiam sambil memandang pintu selama beberapa detik. Kemudian menariknya dan keluar dari ruangan tanpa menoleh.