Bab 10 Kesepakatan Ibu Pengganti

1561 Words
“Rahimku rusak. Kemungkinan aku tidak akan bisa hamil. Jadi, aku tidak bisa menepati persyaratanmu tentang ibu pengganti meskipun aku menginginkannya.” Untuk sesaat Leo tidak tahu apa yang harus dikatakan. Virgo juga seolah tidak menginginkan balasan lain. Leo mendesah kemudian mengedik ke arah sofa. “Duduklah dan tunggu di sini.” Pria itu menghilang di balik pintu di sudut ruangan, kemudian kembali sambil membawa handuk putih. Menyampirkannya ke kepala Virgo lalu menaikkan suhu ruangan dan duduk di sofa lain tanpa mengatakan apa pun. “Jadi, kau membenciku, tapi tetap menerima rencana ini?” Virgo memutar mata mendengar pertanyaan itu bernada senyum. b******n, ejek saja aku sepuasmu. “Kupikir kau berhak tahu.” Virgo merapatkan handuk di bahu dan melingkupi tubuhnya. Baru merasakan hawa dingin yang merasuki tulang. Leo mengangguk kalem. “Yah, kita tidak harus saling menyukai untuk melakukannya—sejujurnya malah lebih baik seperti ini,” jawabnya tenang. “Tapi, Virgo, aku tidak percaya padamu. Kau bisa saja mengada-ada soal rahimmu yang rusak agar kau tidak perlu hamil dan memilih menyanggupi tugas lain yang lebih gampang hanya dengan pura-pura jadi kekasihku.” Virgo menganga tak percaya. “Apa?” “Aku sudah bilang. Kesepakatan ini untuk dua hal dan tidak ada negosiasi untuk mengubah itu.” Virgo menatapnya diam, tampak sangat marah seolah baru dikhianati. Gadis itu bangkit, “Seharusnya aku memang tidak perlu datang ke sini.” Leo mencekal tangannya sebelum ia benar-benar pergi. “Karena itulah aku akan memastikannya sendiri. Akan ada pemeriksaan kesehatan sebelum program kehamilan dimulai nanti. Kita akan lihat apakah kau berbohong atau tidak.” Virgo mendengkus dan hampir tertawa, “Kau sialan. Wanita mana yang akan menggunakan kecacatan mengerikan seperti itu sebagai lelucon kebohongan?” “Kita praktis tidak saling kenal. Kau tidak suka padaku. Kau pikir setelah fakta itu, aku akan bisa percaya padamu?” Leo menatap gadis itu lurus dan tenang. “Virgo, jika ada yang berbohong di antara kita, kau pikir siapa yang paling dirugikan?” Virgo masih tidak terima dikatai pembohong, jadi dia menyalak. “Tapi aku tidak bohong!” Perdebatan terhenti ketika pintu diketuk dan disusul suara Jeremy. “Masuk,” ujar Leo. Jeremy masuk dan terkejut saat mendapati atasannya sedang berpegangan tangan dengan Virgo. Ia segera menunduk. “Maaf, saya akan kemari lagi nanti jika pembicaraannya belum selesai.” Aura di ruangan terasa tegang jadi Jeremy memutuskan pergi, tapi Virgo menyelanya. “Tidak perlu, kami sudah selesai.” Leo melepaskan cekalannya, menatap gadis itu sambil berpikir, lalu menoleh pada Jeremy. “Jeremy, siapkan kontraknya.” Ia melirik gadis itu lagi. “Dan bawakan teh hangat saat kau kembali.” *** [KONTRAK KERAHASIAAN & PERJANJIAN KERJASAMA SUROGASI] Virgo membaca kontrak di hadapannya dengan tidak nyaman. Menyadari bahwa ini akan jadi kontrak kerja paling menguras jiwa dan raga di sepanjang karirnya. [PIHAK PERTAMA (Orangtua Intensional/Ayah Biologis): Leo Issander] [PIHAK KEDUA (Ibu Pengganti sekaligus Pendonor Sel Telur): Virgo Thanaya] Tangan Virgo mengepal membaca kata demi kata dalam tiap bagian tertera. Berusaha terlihat tenang meskipun ia menahan napas. Meskipun ia tidak perlu memusingkan ini karena tidak akan mengandung bayi apa pun, tapi kalimat demi kalimat itu membuat sudut hatinya agak sakit. [Pihak Kedua bersedia berperan sebagai pasangan romantis dan/atau tunangan resmi Pihak Pertama di hadapan publik selama periode kontrak.] Ia membaca sekilas section itu, melewatkan bagian dimana dia harus bersedia tampil di sekian acara resmi sebagai pasangannya. Serta deretan keharusan lain untuk menjaga citra keluarga Issander selama periode kontrak. Bukan urusannya, itu adalah urusan Leo. [Anak yang dilahirkan dari proses ini adalah anak sah dari Pihak Pertama.] [Pihak Kedua melepaskan semua hak hukum, pengakuan, dan tanggung jawab terhadap anak, serta setuju bahwa anak akan sepenuhnya diasuh oleh Pihak Pertama.] Sebongkah batu seolah tersangkut di tenggorokan Virgo. Ia meredakan debaran jantungnya dan mengusir kegelisahan yang merangkak naik di dadanya. Dahinya berkerut saat ia sampai di satu section. [Perjanjian ini dibuat dengan maksud agar Pihak Kedua mengandung dan melahirkan anak untuk Pihak Pertama melalui dua tahap sebagai berikut:] [Tahap Pertama – Pembuahan Alami (6 bulan)] [Pihak Kedua akan menjalani proses pembuahan alami dengan Pihak Pertama, secara sadar dan sukarela, dalam periode maksimal enam (6) bulan sejak tanggal dimulainya proses ini.] [Tahap Kedua – IVF] [Apabila tahap pertama gagal dan kehamilan tidak tercapai dalam periode 6 bulan, maka kedua pihak sepakat untuk melanjutkan ke metode IVF menggunakan s****a Pihak Pertama dan sel telur dari Pihak Kedua.] “Tunggu, kenapa kita menggunakan metode alami juga? Kenapa tidak IVF saja?” Virgo protes dengan agak nyolot. Leo sudah menduga poin itu akan dipermasalahkan. Namun, ia menambahkan hal itu bukan tanpa alasan. Jadi ia menggeleng sebagai tanda tidak setuju. “Orang yang jadi ibu pengganti juga akan menjadi kekasihku selama periode kontrak. Hubungan rekayasa itu akan diragukan jika semua proses dilakukan secara IVF sejak awal.” Virgo masih menatapnya dengan curiga dan permusuhan, “Tidak ada urusannya metode kehamilan dengan pendapat orang-orang. Toh, tidak akan ada yang tahu metode apa yang kita gunakan.” Leo tersenyum sambil menggeleng. “Sayangnya, kau salah. Orang-orang akan tahu. Mereka akan tahu.” Virgo tidak mendebat lagi meskipun ia masih sangat ingin meneriaki Leo. Ia sudah hampir menyelesaikan seluruh section tentang hak dan kewajiban. Agak terpana melihat poin-poin hak yang akan dia terima pasca persalinan dan surogasi selesai. Sudah ia duga. Orang kaya memang selalu bisa menggunakan uangnya sebagai kompensasi agar keputusannya terlihat benar dan layak. “Jika aku jadi kekasihmu dan melakukan surogasi untukmu, kau akan membereskan skandal dan rumor burukku?” “Ya. Seperti yang tertulis di kontrak. Aku—bersama ISSA—akan memastikan menanganinya agar kerugian yang kau terima seminimal mungkin. Bagaimanapun, kami adalah agensimu.” Virgo diam. Untuk saat ini cukup itu yang ia butuhkan. “Aku punya satu syarat.” Virgo berkata tenang, meletakkan berkas di pangkuannya. Leo mengerutkan kening, tidak bisa menduga entah apa yang akan gadis gila ini ajukan sebagai syarat. Ia kemudian mengangguk. “Katakan.” Virgo menatapnya serius. “Undur periode pembuahan alaminya di bulan kedua. Aku tidak mau melakukannya di bulan pertama.” Leo terdiam. Sejujurnya, itu akan menjadi bentuk kecurangan. Jika diundur pada bulan kedua, itu artinya ia hanya punya waktu lima bulan untuk mengusahakan kehamilan Virgo. Kesempatan hamilnya juga akan berkurang. Di tempatnya, Virgo sedang menunggu idenya ditolak. Meskipun ia membutuhkan bantuan orang ini, tapi sedikit bagian hatinya masih berharap ia tidak perlu melakukan hal ini. Jika Leo yang menolaknya maka ia tidak akan terlalu merasa bersalah pada hidupnya dan tinggal menjalani neraka ini sampai itu berlalu. Pria itu duduk dengan bertumpang kaki. Tangannya bertautan di lutut. Dan matanya masih mematrinya dengan lekat seolah menakar untung dan rugi. Tatapan itu terlalu dalam sampai Virgo merasa rikuh. “Apakah ada syarat lain?” Leo akhirnya bertanya setelah terdiam lama. “Ya?” Virgo agak kaget. Matanya menatap kontraknya lagi, tidak bisa memikirkan hal lain. Ia menggeleng, “Tidak. Sepertinya tidak ada.” Leo mengangguk. “Oke, deal.” … … Virgo termangu. Deal? Deal, katanya?! “Silakan tanda tangan kontraknya. Tanggalnya sudah diatur untuk berlaku efektif mulai hari ini.” Leo menegakkan duduk, menatapnya sambil menunggu, dengan binar mata yang menyala-nyala seolah habis memenangkan sesuatu. “Aku juga tidak ingin melakukannya di hotel.” Virgo menambahkan buru-buru, hampir putus asa saat berusaha membuat Leo mengubah keputusannya. Leo mengerutkan kening. Pembelokan poinnya terlalu tiba-tiba hingga ia sangat bingung. “Oke, tidak di hotel.” Mata Virgo sudah membulat sempurna. Dadanya naik turun dirayapi kepanikan. “Aku juga tidak mau ada … em … kebiasaan seksual yang tidak wajar.” Kali ini Leo benar-benar menganga. Tampak jelas tersinggung. “Virgo Thanaya, apakah aku terlihat seperti seorang maniak di matamu?” Ia bertanya dengan nada tidak percaya. Namun, gadis itu masih diam dan hanya menatapnya menanti jawaban. “Tentu saja tidak!” Leo menjawab dengan lebih banyak penegasan daripada yang ia maksudkan. Ia mulai tergoda ingin mengguncang tubuh gadis itu agar berhenti membayangkan yang tidak-tidak. “Jadi, bisakah kita tanda tangani kontraknya sekarang? Atau kau masih punya pemikiran gila yang ingin diluruskan?” Virgo menatapnya agak marah dan hampir merajuk karena dikatai. Ia memandangi kertas di tangannya lagi. Bagaimanapun, ia yang datang ke sini secara sukarela. Dan ia tahu benar kesepakatan macam apa yang akan ia terima ini. Ia tidak bisa mundur. Ia hanya butuh bertahan selama lima bulan. Bahkan setelahnya pun, Leo pasti akan menyerah mengusahakan kehamilan yang mustahil ini. [Pelanggaran klausul kerahasiaan ini akan dikenai penalti sebesar $5.000.000.] Dendanya mengerikan. Yah, kompensasi surogasinya sendiri adalah $10 juta. Jadi, ia tidak yakin apakah boleh mengomel saat ini. Virgo menarik napas. Semuanya sudah hancur sekarang. Memangnya bisa seburuk apa lagi hidupnya? Gadis itu mengambil pulpen dan membubuhkan tanda tangan di kolom namanya. Sementara Leo memberikan tanda tangan miliknya setelahnya. Seolah seluruh udara di sekitar keduanya berubah begitu pulpen itu diletakkan. Tanda tangan itu tidak lebih dari sekadar goresan hitam di atas putih. Namun, seolah tali magis baru saja menjerat jari manis keduanya untuk disatukan dalam ikatan yang membawa lebih banyak hal dibandingkan sebuah kesepakatan kertas semata. Setelah itu keduanya bertatapan. Seharusnya tidak ada yang berubah. Namun, Virgo merasa satu beban baru saja menggantung di hatinya. Leo mengulurkan tangan lebih dulu. Ekspresinya tampak profesional, tapi senyum tersirat di bibirnya mengartikan hal lain. Virgo balas menjabat tangan itu. Namun, kalimat Leo selanjutnya membuat hatinya bergetar waspada dan tulang belakangnya meremang lagi. “Aku menantikan kerjasamamu. Ini adalah hari pertama hubungan kita. Mulai sekarang, kau adalah kekasihku dan akan menjadi ibu anakku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD