8. I HAVE TO GO

1915 Words
"Makan makanan manis sama cokelatnya untuk sementara dikurangin dulu, ya, Anak Cantik," ucap Abiyan penuh kelembutan pada pasiennya yang masih berusia 5 tahun tersebut. Hari ini Abiyan bertugas di poli kesehatan gigi dan mulut. Sebetulnya, jadwalnya hari ini sedang kosong tetapi karena pekerjaannya secara administrasial tidak terlalu banyak, Abiyan memilih untuk melayani pasiennya di sana. "Gigi Sheila lusak gala-gala makan cokelat?" tanyanya dengan ekspresi polos yang sangat menggemaskan. Abiyan tersenyum lembut dan mengangguk. "Nanti kalau giginya Sheila sudah tumbuh lagi dengan bagus, boleh makan cokelat sama permen lagi. Tapi nggak boleh banyak-banyak, ya," sambungnya seraya melepaskan kain yang melingkari leher gadis mungil itu. "Tapi, Sheila suka makan permen dan es klim cokelat." Gadis itu masih mengungkapkan argumennya. "Iya, Sheila boleh kok makan es krim dan permen. Tapi tunggu sampai giginya sembuh dulu, ya. Sekarang giginya Sheila masih sakit, 'kan?" Abiyan menyolek gemas pipi pasiennya tersebut. "Sakit." Gadis itu mengangguk dengan polosnya lantas memegang mulutnya dengan kedua telapak tangannya yang mungil. "Kalau habis makan permen, Sheila harus?" tanya Abiyan mendikte. "Lajin gosok gigi. Bial gigi Sheila nggak lusak dan sakit," jawabnya polos yang membuat Abiyan mengacungkan ibu jari kanannya. Sementara ibunda dari balita mungil itu hanya tersenyum dan mengiyakan setiap ucapan sang putri. "Anak pintar," ucap Abiyan seraya menuliskan resep obat. "Giginya Kakak Doktel bagus sekali," puji Sheila saat melihat senyum Abiyan yang menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi. "Nanti kalau Sheila sudah besar, pasti giginya akan bagus juga. Sheila mau punya gigi yang bagus?" Gadis itu mengangguk dengan antusias. "Mau, Sheila mau punya gigi yang bagus sepelti Kakak Doktel, Bunda," ucapnya pada sang ibu dengan penuh semangat. "Iya, kalau begitu Sheila harus nurut sama Bunda dan Kakak Dokter, ya," ucap lembut sang ibu, membuat gadis itu berkali-kali menganggukkan kepalanya. "Ini resep obatnya, Bu. Bisa langsung ditebus di bagian Farmasi, ya," ucap Abiyan seraya mengulurkan kertas resep obat tersebut. "Sheila nggak mau minum obat, pahit," pekik sang balita seraya menutup mulutnya dan menggeleng dengan keras. "Obatnya nggak pahit, Sayang. Obatnya manis, seperti buah strawberry." Abiyan tersenyum lembut dan mengusap lembut pucuk kepala gadis itu. Jujur saja, ia kagum pada Sheila yang sama sekali tidak takut bertemu dengan dokter terlebih dokter gigi. Selama ini, Abiyan sering menjumpai kasus anak kecil yang ketakutan setiap diajak memasuki rumah sakit terutama poli kesehatan gigi dan mulut. Bahkan hingga ada yang menangis histeris dan pingsan. Kecuali, tentu kedua keponakannya. Abiyan tentu tidak menyalahkan hal itu. Ia dan banyak dokter di dunia ini mungkin sudah sangat terbiasa. Karena faktanya, di dunia ini sering kali pekerjaannya dijadikan sebagai kambing hitam oleh banyak orang tua untuk menasehati anaknya jika kelewat bandel. Tetapi yang terjadi justru menakut-nakuti. Seperti misalnya, tidak boleh nakal karena kalau nakal akan disuntik oleh dokter. Atau tidak boleh heboh saat menjenguk orang sakit karena dokternya bisa marah. Meskipun, memang tidak semuanya seperti itu Jadi, selain ilmu pelajarannya yang sudah sedemikian sulit. Hal itu juga menjadi tantangan tersendiri untuk para dokter. Utamanya adalah dokter gigi karena mereka yang paling sering bertemu dengan anak kecil. "Obatnya nggak pahit?" tanya Sheila meminta kepastian. Abiyan mengangguk yakin sambil tersenyum lembut. Resep obat yang ia berikan memang tidak sepenuhnya pahit, ada sedikit rasa manis karena memang ditujukan untuk anak-anak yang pasti sangat tidak menyukai rasa pahit. "Terima kasih banyak, Dokter. Kalau begitu kami permisi," pamit ibunda dari pasien ke 6 Abiyan hari ini itu. "Sheila, bilang apa sama Kakak Dokter?" tanyanya pada sang putri yang sudah turun dari kursi. "Telima kasih, Kakak Doktel. Sheila pulang dulu. Da-da," pamitnya lantas memberikan kiss bye pada Abiyan. Laki-laki itu tertawa pelan dan membalas perbuatan Sheila. "Da-da, Cantik." Begitu pasiennya beranjak, seorang perawat muda mendekat. Abiyan yang baru saja duduk dan akan menekan tombol pemanggil pasien lantas mengurungkan niatnya. "Ada apa, Suster?" "Maaf, Dokter Abi. Ada telepon untuk Dokter Abi. Sudah disambungkan di ruang kerja Dokter." Jawaban sang perawat membuat Abiyan mengernyitkan dahinya. Sangat jarang ada yang menelponnya pada jam kerja seperti ini, apalagi melalui sambungan rumah sakit. "Telepon dari siapa?" "Dari Singapura, Dokter." "Ah, baik. Terima kasih, ya." Sang perawat mengangguk dan segera undur diri. Abiyan melangkah cepat menuju lift yang akan membawanya ke ruang kerjanya yang berada di lantai 5, berhadapan dengan ruang kerja sang kakak. "Halo," sapa Abiyan setelah mengangkat gagang telepon berwarna hitam itu. "Mr. Nicho. Ini Albert." Jawaban di seberang membuat kedua alis Abiyan bertaut. Ada apa gerangan yang membuat sekretarisnya di Singapura itu menghubunginya? "Ada apa, Albert?" "Mr, salah satu investor kita yang berasal dari Malaysia tiba-tiba saja berniat untuk membatalkan kontrak. Alasannya, mereka tertarik untuk melakukan kerjasama dengan salah satu perusahaan pesaing kita yang dirasa lebih menjanjikan." "Mereka tidak bisa tiba-tiba membatalkan kontrak begitu saja, bukan? Benar hanya itu alasannya?" Hal itu terasa janggal menurut Abiyan, karena selama ini perusahaan selalu mempertimbangkan banyak hal sebelum menjalin kerjasama. Untuk urusan keuntunganpun sudah pasti sangat menjanjikan. Nyaris tidak ada alasan untuk membatalkan kontrak begitu saja. "Itu memang alasan resmi dari mereka. Tetapi menurut analisis saya dan Miss Ines, mereka hanya melakukan itu karena ingin bertemu dengan Anda, Mr. Nicho." Ucapan Albert membuat kening Abiyan seketika terasa pening sekaligus ingin tertawa. Ingin bertemu dengannya dengan alasan pembatalan kontrak? Ada-ada saja. "Ada alasan semacam itu." Abiyan membeo dan hal itu membuat Albert terkekeh di seberang sana. "Mungkin mereka kesal karena pada saat proses MoU dulu tidak bisa bertemu langsung dengan Anda, Mr," jelas Albert mengenai kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Ucapan Albert membuat Abiyan teringat. Memang saat proses permulaan kerjasama tersebut, Abiyan tidak bisa hadir. Saat itu ia sedang mengikui ujian kompetensi semester dari pihak universitas. Sementara acara penandatanganan MoU itu tidak bisa ditunda barang sedetik pun. Jadilah yang datang hari itu ialah om Bayu, menggantikan posisi Abiyan. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, itu bukan salah Abiyan, dong? "Ya sudah, tolong kirimkan detil masalahnya melalui surel. Sore ini juga saya akan ke sana. Dan tolong atur jadwal pertemuan saya dengan pihak mereka, kalau bisa besok," kata Abiyan memerintah. Setelah mendengar ucapan kesanggupan dari anak buahnya itu, Abiyan segera memutuskan panggilan. Abiyan melirik jam dinding yang terpasang di ruangannya. Jam makan siang sudah tiba sejak 15 menit yang lalu. Namun sebelum melangkah beranjak dari kursinya, terlebih dahulu Abiyan mengecek jadwalnya untuk 2 hingga 3 hari ke depan. Sekaligus memesan tiket pesawatnya. "Lah iya, gue hari Jumat kan udah janji sama anak-anak buat ke Bromo," gumam Abiyan setelah memeriksa jadwalnya. Abiyan benar-benar lupa akan agendanya dengan para sahabatnya itu. Bahkan jika saja ia tidak mendapat telepon dari Albert tadi, mungkin Abiyan akan lupa sepenuhnya. Mengingat ia juga merencanakan akan berkunjung ke rumah sang kakak. Abiyan sudah rindu sekali dengan kedua keponakan lucunya padahal baru 1 minggu yang lalu ia bertemu dengan mereka. "Ck, mau PDKT ada aja halangannya. Gimana gue bisa dapet cewek," keluhnya yang kini duduk bersandar pada kursi kerjanya. Tentu saja bukan tanpa alasan Abiyan berpikir demikian. Di umurnya sekarang yang menginjak angka 28 tahun, tentu tidak bohong jika Abiyan ingin memiliki seorang kekasih. Please, ia ini laki-laki normal. Dan kalau boleh ia berharap Annisa-lah yang akan menjadi pasangannya kelak. Abiyan bukan tipe orang yang bisa dengan mudah berkenalan dengan orang baru, untuk hal seperti itu. Menurutnya, hal itu sangat melelahkan dan membuang-buang waktu. Abiyan kemudian memesan tiket pesawat untuk berangkat ke Singapura. Ia memilih business class dari maskapai plat merah milik Singapura. Ia menduga sepanjang perjalanan nanti, akan banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja. Oleh sebab itu ia membutuhkan kenyamanan lebih. Sementara untuk perjalanan pulang, Abiyan belum akan memesan tiket. Ia baru akan memesan tiket sesudah memastikan jadwal kepulangannya nanti. Meskipun biasanya, harganya akan sangat mahal. Abiyan bermaksud untuk pergi ke kantin dan membeli makan, karena rencananya ia akan menyantap makanan di dalam ruangan. Tetapi sebelum itu, laki-laki itu justru melangkah menuju ke ruang kerja sang papa. "Masuk," sahut suara bariton dari dalam seusai Abiyan mengetuk pintu. "Papa sibuk? Nggak makan siang?" "Papa baru selesai makan siang dengan Mama kamu. Ada apa, Dek?" Dokter Zafran memang baru saja memasuki ruang kerjanya. Bahkan, snellinya masih tersampir pada sandaran kursi kerjanya. "Abi izin pulang awal ya, Pa. Nanti jam 4 pesawat Abi berangkat ke Singapura," ucap Abyan setelah menutup pintu ruangan utama tersebut. "Kok mendadak sekali? Is there any problem?" Abiyan mengangguk. Tidak mungkin ia berbohong karena akan percuma saja. Sang ayah juga berhak mengetahui karena orang tuanya juga memiliki saham di perusahaan tersebut. Abiyan mengikuti pergerakan sang ayah yang duduk di sofa. Jadilah saat ini, posisi mereka saling berhadapan. "Ada sedikit masalah, Pa. Abi harus menemui salah satu investor dari Malaysia. Nggak lama kok, kemungkinan Jumat sore Abi udah pulang lagi." "Masalahnya sebegitu bahaya sampai kamu yang harus turun tangan?" Abiyan menggeleng. Masalahnya sebenarnya tidak terlalu berbahaya dan seandainya pun investor itu tetap melakukan aksinya, perusahaan tidak mendapat efek yang terlalu signifikan. Hanya saja, Abiyan merasa perlu untuk mempertahankan investor sekecil apapun pengaruhnya sebab jika masalah kecil saja tidak tertangani dengan baik, bisa menimbulkan masalah yang lebih besar lagi nantinya. "Ya sudah, kamu lakukan saja yang terbaik. Sekalian Papa mau bilang, tadi pagi Papa sudah berdiskusi sama Kakak kamu, rencananya kita akan kasih kamu wakil kepala pelayanan. Kakak kamu bilang itu perlu apalagi kamu semakin sibuk akhir-akhir ini." Abiyan mengangguk membenarkan ucapan sang ayah. Semakin kesini, jadwalnya memang semakin padat. Jika biasanya ia bisa mengatur akan pergi ke Singapura setiap 2 atau 3 minggu sekali, namun mulai ada panggilan-panggilan mendadak yang memaksanya harus berangkat pada hari itu juga. Seperti hari ini, contohnya. Karena memang baik om Ashraf maupun om Bayu sudah semakin banyak melimpahkan tugas-tugas mereka kepada Abiyan. Ralat, tugas yang seharusnya memang menjadi tanggung jawab Abiyan namun sebelumnya dipegang oleh mereka. "Papa sama Kak Al udah ada kandidat?" Dokter Zafran mengangguk. "Ada beberapa kandidat yang cukup berpeluang. Tetapi Papa sama Kakak kamu tetap butuh suara kamu karena bagaimanapun kamu yang akan bekerja sama dengannya kelak. Tidak masalah sekalipun kandidat kamu berbeda dengan pilihan kami." Abiyan mengangguk dan tersenyum. Sejak dulu, ayahnya memang sangat demokratis "Nanti Abi coba lihat satu persatu. Kalau gitu Abi mau makan siang dulu, Pa.” Abiyan beranjak bangkit dari tempat duduknya. "Jangan ketularan Kakak kamu, keasyikan kerja sampai sering lupa makan," ucap dokter Zafran memperingatkan. Abiyan terkekeh sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. "Ngomong-ngomong, Kak Al lagi di ruangannya, Pa?" Dokter Zafran yang sudah kembali ke kursi kerjanya menggeleng. "Tadi sepertinya keluar. Mungkin makan siang dengan Kakak Ipar kamu." Abiyan hanya manggut-manggut mendengar ucapan sang ayah. "Nggak ada yang ngalahin bucinnya Kakak gue," gumamnya lirih, takut terdengar oleh sang ayah yang pasti akan menegurnya. Setelah berpamitan sekali lagi, calon Master dokter bedah mulut itu segera melangkah menuju kantin. Perutnya sudah sangat merasa lapar. Sambil berjalan, kini Abiyan berpikir mengenai rencana liburannya bersama geng koasnya tersebut. Abiyan memutuskan tidak akan memberitahu mereka. Ia berharap, urusannya akan selesai dengan cepat. Sehingga aegnda mereka bisa tetap terealisasikan. Karena jujur saja, Abiyan mengakui jka ia sendiri sangat membutuhkan aktivitas itu guna menyegarkan pikirannya. “Dokter Abiyan,” panggil suara lembut itu dari arah poli umum. Abiyan menoleh dan mendapati seorang perempuan sedang tersenyum manis ke arahnya. “Dokter Tiara. Mau ke kantin?” jawab dan tanya Abiyan beruntun. Dokter muda Bernama Tiara itu mengangguk. “Iya, Dokter. Sejak tadi Poli Umum padat sekali. Baru bisa keluar sekarang.” Tiara mensejajarkan posisinya di hadapan Abiyan. “Sekalian saja.” Abiyan mengisyaratkan tangannya untuk mengajak Tiara. Sejatinya, Abiyan tidak memiliki niat apapun selain untuk bersikap sopan. Tetapi tentu saja, apa yang kita anggap biasa saja bisa menjadi berbeda untuk orang lain. ‘Mudah-mudahan Jumat siang bisa langsung pulang, sesuai rencana.’ Abiyan menggumam dalam hati, masih dalam Langkah tenangnya yang tanpa sadar membuat gadis di sampingnya tersenyum cerah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD