"Tidak, meski aku terlihat egois dan kejam, berbagi suami adalah pilihan yang tak sanggup kulakukan, berilah aku hukuman lain, tapi jangan menuntutku untuk menyerahkan Mas Hamdan pada Maura."
Kuhampiri ibu mertua lalu bersimpuh di hadapannya, aku menangis, memohon pengertian agar wanita itu tidak merestui keinginan anaknya.
"Saya sudah lama bersamanya, inikah balasan untuk semua pengabdian saya, haruskah sepahit ini, Bu?"
"Aku tidak setuju, tapi aku juga mempedulikan kesehatan anakku, bagaimana jika setelah ini sakitnya semakin parah?"
"Aku akan merawatnya dengan baik, aku berjanji bahwa dia akan pulih dan melupakan impiannya," jawabku bersungguh-sungguh.
"Jika kau sanggup, aku tak bisa mencegahnya, biarlah ayah mertuamu yang akan bicara pada Hamdan," jawab Ibu.
"Terima kasih," balasku lirih.
Setelah kedua mertua dan ayahku pamit, kini tinggal aku dan Ibu yang duduk berhadapan dan membisu di ruang tamu.
Mas Hamdan Mash tertidur, juga anak anak sudah berada di kamar mereka masing-
masing.
"Ibu yakin anak-anakmu gelisah mendengarku menangis," gumam ibu.
"Iya, aku tak bisa menyembunyikannya."
" Sampai kami datang, gadis itu masih duduk di gerbang," ucap ibu sambil menghela napasnya pelan.
"Biarkan saja dia duduk seperti anjing yang kepalanya borok, aku tidak peduli, akan kubuat harapannya menikahi suamiku pupus."
"Aku juga tidak setuju suami mau menikah lagi tapi wanita tidak berdaya Aku tidak ingin menjadikan aku sebagai wanita yang menentang syariat dalam Islam poligami tidak dilarang, terlebih suamimu mapenda dia minta izin dengan baik-baik," ucap Ibu menatapku.
"Tapi kenapa ibu harus?" Aku memprotes ibuku.
"Ibu harus bagaimana? Haruskah Ibu terang-terangan menunjukkan penolakan Ibu di depan mertuamu? bukankah itu akan membuat mereka semakin mendukung keinginan Hamdan? buatlah Mereka malu dan berpikir, Nak."
"Aku khawatir justru ucapan ibu membuat mereka seakan diberi angin segar," sanggahku pelan.
"Kecuali jika mereka tidak peka dan tidak punya perasaan, mereka juga punya anak perempuan," jawab ibu sambil beranjak ke kamar putri, beliau akan tidur di sana menemani anakku malam ini.
Kututup pintu, merapatkan gorden lalu beranjak ke kamar setelah mematikan lampu ruang tamu. Kupandangi suamiku yang masih terbaring di temani cahaya lampu temaram berwarna kuning, lalu aku duduk di sisi pembaringan sambil memandangi jendela, sinar rembulan nampak redup bertengger di balik awan kelabu. Suasana malam yang redup seakan kompak dengan perasaanku.
"Aisyah, orang orang sudah pulang?" Ternyata suamiku terbangun.
"Iya, kecuali ibuku, dia tidur di kamar putri," jawabku pelan.
"Aku ingin ke kamar mandi," ucapnya sambil mengumpulkan tenaga dan berusaha bangun, namun dia gagal dan mengeluhkan kepalanya yang sakit.
"Kau mau kutolong?"
"Tidak, aku baik baik saja," jawabnya berusaha berdiri sembari bertumpu ke dinding.
"Andai kau menjaga kesehatanmu selagi memikirkan cinta, tentu sakit itu tidak akan terjadi," ujarku pelan.
Dia tak menjawab, hanya mendesah lalu beranjak ke kamar mandi. Sekembalinya dari kamar kecil, dia kembali merebahkan diri, sambil berkali kali menghela napas.
"Wanita itu datang mengantarkan bubur, tapi kebencianku mengahalanginya untuk menjumpaimu. Mungkin menurutmu aku salah, tapi menurutku itu benar. Aku tak bisa membiarkan kecemburuan menyakitiku, juga hati anak-anak."
"Anak anak tidak marah ... kau saja yang begitu," jawabnya dingin.
"Setelah tahu bahwa Mas ingin menjadikan Maura maduku, sudut pandang putra dan putriku berubah. Mereka tidak setuju," balasku.
Mas Hamdan terdiam, tidak mengatakan apapun setelah itu, sedag aku merebahkan diriku dengan posisi membelakanginya, tak sadar air mataku tumpah di bantal, tapi aku tak paham perasaan apa yang sedang bergejolak, tumpang tindih, hingga diri ini merasa galau.
"Haruskah aku meminang wanita itu untukmu?"
"Kurasa kau tak akan melakukannya," gumam suamiku.
"Apa yang akan kau berikan jika aku bisa?"
"Umurku dan segala yang ada di dalamnya," jawabnya lirih.
"Omong kosong, niatmu saja sudah membunuhku."
Percakapan kami berakhir setelah itu.
**
Kulipat sejadah setelah doa panjang dari sepertiga malam, cahaya keemasan mulai menerangi ufuk timur menandakan hari baru menungguku.
Kubuka pintu dan pintu pagar, untuk menyapu sekaligus menunggu penjual jajanan membawakan dagangannya. Biasanya putri dan Raihan sangat menyukai kue lupis, jadi aku akan membeli untuk mereka.
" Assalamualaikum, Mbak," ucap Salah satu pekerja di kebun kami.
"Iya, Pak Hasan, tumben pagi pagi," ucapku.
"Begini Bu, kami di kebun kehabisan pupuk, juga, beberapa pekerja mau minta tolong pinjam uang, Bu. Katanya buat belanja anak," ucap Pak Hasan yang merupakan orang kepercayaan kami.
"Oh ya, juga ... Apakah bulan ini suami saya belum memberikan upah pekerja?"
"Mungkin beliau lupa, saya tahu kabarnya Pak Hamdan sakit, sebenarnya kami juga malu minta upah, tapi ... ya, begitulah, Bu," ucap pria itu dengan wajah malu dan terlihat amat terpaksa.
"Sebentar ya, Pak." Aku bergegas masuk ke kamar, memeriksa sisa uang dari lemari dan dompetku.
"Ya, ampun hanya ada satu juta," gumamku sambil menerawang, jarak mesin ATM yang ada di kecamatan tak bisa kutempuh dalam waktu dekat, aku harus bagaimana?
Kucoba membongkar lagi isi lemari, barangkali aku punya simpanan yang terlupakan, tapi tiba tiba dari balik lipatan pakaian Mas Hamdan kutemukan secarik kertas yang cukup membuatku penasaran. Kupingut kertas itu dan kubuka, ternyata itu nota pembelian perhiasan, tertanggal ... dua Minggu lalu?
Seingatku, Mas Hamdan tak memberiku hadiah, dia juga tak memberitahuku apa apa. Mungkinkah dia belikan hadiah untuk ibunya?
"Ini ada satu juta ya Pak, siang nanti saya akan berikan tambahannya, setelah saya ambil uang ke ATM," ucapku sambil menyerahkan uang itu pada Pak Hasan.
"Ah, baik Bu, makasih. Jika ibu ke kecamatan, saya minta tolong sekalian pupuknya ya Bu, satu sak saja," balasnya lagi.
"Insya Allah."
Kini aku berdiri dalam kebingungan, merasa tanpa peran Mas Hamdan semuanya makin berat saja. Kadang ada beberapa hal yang hanya bisa ditangani oleh laki-laki, sementara aku sedikit kaku dalam mengahadapi tugas baruku, benakku bertambah dua kali lipat.
"Mas ... Kamu belum bayar upah buruh bulan ini?" tanyaku pada pria yang kini sedang duduk dalam posisi menyandar di ranjang.
"Maaf, aku lupa ...."
"Kertas ini apa, nota pembelian perhiasan untuk siapa? Di sini tertulis tiga juta, Mas?"
Pria itu nampak terkejut dan salah tingkah.
Dia gelagapan dan berusaha sekuat tenaga menelan ludah.
"Untuk ibu mertua atau untuk siapa? Biasanya ibumu akan cerita jika kamu memberikannya sesuatu, kalungnya untuk siapa?"
"Ah, sebenarnya kalungnya untuk ...."
"Membeli perhiasan bukanlah prioritas utama sekarang Mas, ada hal yang lebih diutamakan, seperti contohnya upah buruh dan kebutuhan di kebun," potongku segera.
Kulirik gambar kalung itu, dia terlihat cukup indah dengan ornamen bunga hati sebagai bandulnya.
"Lalu kalungnya di mana?"
"Ah, maaf ...." Dia makin gelisah mendengar pertanyaanku.
"Hilang atau dicuri?"
"Sebenarnya aku tak tahu persis, aku minta maaf, aku akan mencarinya nanti," ucap suamiku sambil meminta kertas itu. Kuserahkan padanya dengan rasa curiga yang bertambah-tambah, aku yakin dia berikan kalung itu pada Maura.
*
Kupacu motor, menuju ibu kota kecamatan untuk membeli pupuk dan mengambil uang. Tanpa kusadari, di tengah jalan, aku kembali melihat pelakor muda itu berdiri, seperti biasa dia menunggu angkot hendak ke pasar.
"Bagus aku menemukanmu di sini," sapaku.
Kuhentikan motor tepat di depannya, menatapnya dengan seksama, sedang dia mulai merasa tak nyaman.
"A-ada apa?"
"Semalam aku menemukan nota pembelian perhiasan ketika kutanya mas Hamdan dia bilang bahwa perhiasannya hilang, tapi sekarang aku menemukan benda itu di lehermu," ucapku menatapnya tajam.
"A-aku ...." Dia mencoba melindungi kalungnya.
"Sebenarnya beberapa bulan terakhir suamiku dililit hutang, kemarin rentenir datang dan aku berniat menutupi hutang tersebut dengan kalung yang dia beli. Tolong kembalikan itu padaku," ucapku tegas.
"Tapi ini pemberiannya ...."
"Dia menyuruhku untuk memintanya kembali," jawabku tegas.
"A-aku gak percaya, Mas Hamdan gak mungkin ...."
Wanita itu terus mundur hingga dia terjungkal, kurampas benda itu dari lehernya sedang ia menangis tak terima, tak banyak bicara, aku lalu bergegas pulang ke rumah.
"Sayang ... sepertinya aku menemukan kalung yang kau beli itu," ucapku melempar kalung yang sudah putus itu ke pangkuannya, sementara pria itu langsung pucat menatapku.