"Tolong jelaskan padaku, jelaskan dengan kata-kata yang kira-kira tidak akan membuatku berteriak marah!" ucapku dengan urat leher yang sudah menegang.
Sekuat tenaga kutahan dorongan untuk tidak memukul orang.
Bayangkan dia menghianatiku membelikan wanita itu sebuah kalung emas sementara gaji pekerja tidak dibayarkannya, dia mengabaikan kami dan lupa segalanya.
"Aku minta maaf," ucapnya sambil menelan ludah.
"Baiklah, aku menerima permintaan maafmu, tapi tolong katakan, kau kemanakan uang untuk gaji pekerja, aku yakin jika kau berani memberikan wanita itu perhiasan, kurasa kamu juga punya cadangan untuk aku, anak-anak dan juga para buruh tani."
"Maafkan aku," ucapnya lemah. Andai tak sakit akan kubotaki kepalanya.
"Apakah permintaan maaf itu artinya kau mengakui semua perbuatanmu dan membenarkan bahwa kamu sudah tidak punya uang lagi?!"
"Aku memang lalai ....."
"Baik, terima kasih, akan kutahan emosiku, aku akan ambil wudhu, salat Dhuha dan meminta agar Allah mencabut nyawamu!" teriakku dengan ... emosi!
*
Hari bergulir dan keadaan suamiku tidak membaik, dia masih tidak mampu bangkit sendiri tanpa berpegangan pada sesuatu. Kurasa berat badannya juga ikut turun seiring dengan cekungnya bola mata serta seringnya dia gemetar lemas.
Jangan tanya bagaimana pelayananku, karena sesakit-sakitnya hati, aku selalu berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik. Makanan dan pakaian selalu kusiapkan air hangat untuk mandi juga selalu tersedia di jam yang sama. Tapi kelihatannya Mas Hamdan memang tidak mampu melupakan kekasihnya. Dia bersamaku, tubuhnya ada di sini, tapi hatinya di kejauhan sana.
Karena suamiku tidak bekerja, pemasukan kami jadi berkurang. Di sisi lain kebutuhan rumah tangga makin banyak, juga pengeluaran untuk musim tanam membuatku nyaris menguras seluruh tabungan, yang tak kalah membuatku ingin menyerah adalah tekanan batin, pusing, dan mentalmu mulai terguncang melihat Mas Hamdan yang makin hari makin tak kuasa bergerak.
Ibu mertua datang setiap hari untuk mengunjungi anaknya, diam-diam wanita itu menangis pilu meratapi nasib keluargaku di hadapan foto besar kami. Wanita yang selalu ingin menunjukkan ketegarannya itu, sebenarnya sangat rapuh dan tatapan matanya seolah berharap bahwa aku akan meluluskan keinginan Mas Hamdan untuk menikah lagi, lalu anaknya akan kembali sembuh dan hidup normal kembali.
"Aku harus bagaimana, Bu?" tanyaku pada wanita yang lalu menyeka air matanya jika melihatku datang. Wanita berhati lembut itu selalu bersikap baik padaku, sehingga aku tidak tega menyakiti hatinya.
"Tidak tahu," ucap wanita lemah.
"Haruskah aku membiarkannya ...?"
"Aku akan berterima kasih jika kau melapangkan d**a, aku akan berhutang budi dan seumur hidup bersujud di kakimu seakan kau adalah pahlawanku," jawab wanita itu lirih.
"Tapi rasanya itu tak sepadan untukku, akuntak yakin bisa bertahan."
"Wanita itu memang mendapatkan hati Hamdan, tapi dia tidak akan memenangkan hatiku, tidak akan sama sekali,
Aku tidak mengerti, apa Ibu mertua sedang bersungguh-sungguh atau hanya mengumbar janji, tapi menatap sorot bola matanya di antara garis kerut yang menunjukkan kematangan usia, kuyakin dia tak sedang berbohong.
"Akan kupikirkan ...."
"Tidak akan ada pesta atau acara ngunduh mantu, Aku tidak akan membuka hati untuk wanita itu. Aku tidak memiliki kesan yang baik pada pencuri, meski dia cantik dantaat beribadah." Ibu mertua bangkit, lalu meninggalkanku kembali pulang ke rumahnya.
Berbicara dengannya membuatku seakan mendapatkan energi dan kekuatan baru, ibu mertua memberiku setitik kepercayaan diri, tapi aku belum yakin atas keputusanku.
"Rumahku istanaku, keluargaku tempat berlindung dan ketentraman hatiku, mengapa aku harus meninggalkannya hanya karena pelakor ingusan yang bahkan belum bersih mencuci pakaian dalamnya! Tidak akan kubiarkan!" Aku lalu berdiri, menemui Mas Hamdan yang masih terbaring, hendak mengajaknya berdiri dan duduk di teras rumah.
"Mas sudah makan?" tanyaku sambil melirik wadah makanan yang sejak tadi kuletakkan di sisinya.
"Sudah."
"Tapi kenapa makanannya masih utuh?"
"Aku sungguh sudah makan," jawabnya lemah.
"Aku muak Mas, aku sungguh muak denganmu, jadi kau sungguh ingin bersamanya!?" Kugebrak piring piring itu dengan nampannya.
"Tidak."
"Lalu kenapa kau tidak mau sembuh?!"
"Kesembuhan itu datang dari Yang di Atas."
"Omong kosong, aku sangat kecewa denganmu," gumamku sambil mengusap air mataku.
**
Pukul sepuluh malam, tak sadar rupanya diri ini telah tertidur di sofa ruang keluarga. Aku terbangun karena cuaca dingin yang menusuk dan gangguan nyamuk yang terus berdenging di telinga.
Rupanya lampu lampu belum dinyalakan, selain lampu depan dan kamar tidur anakku Raihan. Kuperiksa satu persatu bilik anakku, dan menemukan mereka sudah tertidur dengan posisi buku di pelukannya. Kuambil buku itu, meletakkannya di meja lalu menciumi kening putriku, kuselimuti dia dan menutup kembali pintu kamarnya.
Aku beralih ke kamarku untuk memeriksa keadaan Mas Hamdan, Lamat lamat kudengar suara orang yang berbincang-bincang di jendela ada suara rintihan dan tangisan sedih yang tadinya kupikir adalah hantu penunggu rumah. Ketika kubuka alangkah sakit hatinya aku ... Kudapati Maura sedang berbincang-bincang dengan Mas Hamdan lewat jendela kamar.
"Mas ... Maura, apa yang kalian lakukan?"
Gadis itu terkesiap dan bersiap hendak kabur, tapi aku segara menghalanginya dengan menghadang gadis itu tepat di pintu gerbang rumah.
"Kamu mau ke mana?"
tanyaku sambil menangkap lengannya.
"Maaf, Mbak saya datang kemari sebagai penawar sakit Mas Hamdan," ucapnya dengan bola mata berkaca-kaca.
"Penawar sakit suami orang?!" tanyaku dengan tangan terangkat, siap memukul wajahnya.
"Maafkan aku mbak," ucap gadis itu sambil menjatuhkan dirinya di kakiku,
"Aku gak tega melihat Mas Hamdan seperti itu, saya sungguh tak tega, Mbak, andai ada sesuatu yang bisa membuatnya membaik, aku akan melakukannya."
"Baik, ada jalan terbaik, menjauhkan kami dari suamiku, ke jauh sekali!" tegasku.
Tiba tiba angin kencang, kilat berkelebat dan memantulkan terangnya ke wajah Maura, bola matanya yang yang berkaca-kaca nampak terang ditimpa cahaya langit.
"Demi Allah, jika Mas Hamdan meninggal karena aku, aku tak akan bisa memaafkan diriku," ucapnya yang kini berani menatap mataku.
"Oh, ya, semua derita ini, kehancuran rumah tanggaku, itu karena perbuatanmu, jika dia meninggal, aku akan mengutuk dirimu merana selamanya."
"Jangan katakan itu, Aisyah, jangan... kumohon ....." Suamiku terlihat menyusul tertatih-tatih ke pintu.
"Oh jadi sekuat tenaga kau bangun demi wanita ini? Jadi kau sungguh tak tahan lagi, Mas. Baiklah, menikahlah dengannya, menikahlah agar kau puas!" teriakku sambil mendorong gadis itu terjatuh ke pelukan Mas Hamdan.
"Kalian sudah menang, selamat," ucapku sambil beranjak masuk ke dalam rumah.
Baiklah, aku sudah lelah, aku lelah berjuang, biarlah barang rongsokan itu diambil pemulung, Mas Hamdan memang sudah tak serasi denganku.