97

1157 Words

Dia tak menjawab ucapanku tadi, mungkin tercengang, mungkin pula hatinya seakan ditembus tombak ucapan pedas sehingga butuh waktu untuk meresapi perihnya. Panggilan sudah kututup tapi Hamdan memanggil lagi, kutolak, namun ia memanggil dan terus membuatku kesal. "Apa lagi!" kujawab tanpa salam karena kesal. "Aiisy ...." Dia tak menjawab, tapi menangis sejadi jadinya. Mungkin seumur hidup tak pernah kulihat pria itu menangis sesenggukan macam itu, tapi sekarang dia sungguh terlihat lemah. Kadang, cinta itu menguatkan tapi dengan perhitungan salah serta kecerobohan cinta bisa jadi duri yang menghancurkan. Tadinya hidup Mas Hamdan bahagia, lurus dan damai, kedatangan wanita baru membuatnya berpaling. Lalu, setelah berpisah denganku dia masih menderita juga, berharap bisa menyatukan kami pa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD