96

1075 Words

Hari itu, entah apa yang membuat Raihan anakku tiba tiba hadir, tanpa kuberitahu, dia sudah mengenakan pakaian abu abu sutra senada dengan gamisku, ada peci dan kain pinggang yang bersarung hingga ke lututnya. Dia memasuki tempat acara lalu menyalami aku dan irsyad secara bergantian. "Selamat, Bunda, selamat Om," ucapnya dengan nada tulus, aku tak melihat sandiwara atau keterpaksaan di wajahnya, wajah dan gestur anakku nampak santai dan ringan. "Terima kasih, Nak," jawabku menerima uluran tangannya. Masih dengan rasa heran yang menggelayuti hatiku, aku penasaran sekali kenapa tiba-tiba Raihan datang dan menunjukkan penerimaannya, tapi aku tidak terlalu membiarkan itu kentara, khawatir keheranan Itu akan menular kepada Mas Irsyad. Acara lamaran berlangsung khidmat hingga rangkaian prose

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD