Di sebuah rumah yang terletak di kawasan Jakarta Selatan terlihat seorang pria bertubuh tinggi besar serta parasnya yang amat tampan sedang berlari kecil mengelilingi rumah di mana ada sebuah taman dengan bunga warna-warni telah bermekaran. Sedangkan di teras ada seorang wanita dengan tubuh sedikit tambun sibuk membersihkan kaca jendela dan sesekali menoleh ke arah pria itu yang belum berhenti dari kegiatannya sejak setengah jam lalu. Tak jauh dari posisi wanita itu ada sebotol infus water yang telah disediakan di atas meja serta sebuah handuk kecil untuk digunakan menghapus keringat. Senyum wanita itu terukir melihatnya yang belum terlihat lelah dan kembali melanjutkan kegiatan karena baru saja dimulai. Tak sampai 10 menit akhirnya pria itu menghentikan kegiatannya serta berjalan santai menuju teras dan menarik kursi, lalu mendudukkan tubuhnya seraya meraih botol itu yang langsung diminum. Maka, wanita itu menatapnya dan ada keringat telah membasahi sekujur tubuh kekarnya di mana leher mulus pria itu bergerak turun naik ketika apa yang diminum melewati kerongkongan.
"Sehat sekali sampai keringat keluar sebanyak itu, Den!" ujarnya cepat di mana dia sendiri jarang sekali berolahraga sambil menggerakkan tangan kanan untuk menggosok kaca jendela dengan sebuah lap.
Mendengar ucapan itu, pria yang tak lain adalah Marco menghentikan minumnya tanpa meletakkan botol itu ke meja dan masih menggenggamnya. Dia menoleh kepada wanita tersebut yang selama ini mengurus rumah, meskipun ketika malam hari dia akan kembali ke rumahnya dan meninggalkan Marco sendirian. Dia adalah Mbak Yuli, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di pemukiman tak jauh dari komplek di mana Marco tinggal.
"Makanya olahraga, Mbak. Biar bisa langsing dan sehat juga. Dijamin Mas Juned nempel terus nanti!" jawabnya malah meledek balik dan membuat Mbak Yuli tersenyum saja.
"Hari ini Den Marco tidak ke toko? Kok jam segini masih di rumah?"
"Ke toko dong, Mbak, tapi setelah makan siang saja dan sorenya akan mampir ke rumah Erika sebentar karena dia meminta untuk makan malam di sana." Jawaban itu meluncur enteng dari mulut Marco diikuti tangan kanannya yang menyodorkan kembali botol itu ke mulut.
Mbak Yuli hanya mengangguk paham tanpa mengucapkan kalimat lainnya. Helaan lega terdengar olehnya yang hanya mampu tersenyum dan melihat para tetangga berlalu lalang di depan rumah untuk mengerjakan kegiatan masing-masing, hingga terdengar suara tukang sayur yang selama ini menjadi langganannya. Dengan cepat, Mbak Yuli menghentikan pekerjaannya dan beranjak menuju depan rumah untuk membeli beberapa bahan sebagai menu makan siang.
Dari teras Marco hanya memperhatikan para ibu-ibu yang terdengar berisik karena terjadi tawar-menawar dengan tukang sayuran. Bahkan, gelak tawa pun begitu terdengar dan selalu menjadi pemandangan pagi hari bagi Marco yang tak pernah berubah. Namun, di tengah senyumnya yang terukir menertawakan tukang sayur akibat dikerumuni oleh ibu-ibu, sekelebat ingatan kembali muncul akan kejadian semalam yang dia lalui. Mendadak raut wajah Marco yang semula tersenyum kini terdiam bersama sorot mata berubah tajam ketika mengingat wajah Nando.
Marco sangat ingat dengan wajah Nando yang begitu menyebalkan dan sudah melakukan tindakan kurang ajar kepada seorang gadis. Dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan bersama rasa emosi yang kembali muncul ketika melihat lebam yang ada di wajah Irene serta pikirannya menerawang jauh sekiranya bagaimana kondisinya saat ini. Namun, Marco menanam keyakinan dalam hati jika Irene sudah mendapat perawatan yang tepat setelah tiba di rumahnya. Ya, tanpa Irene sadari kalau Marco sebenarnya tidak meninggalkan dia di parkiran tersebut serta melihat kedatangan Rezo. Dalam diam dan dari tempat yang tak terlihat, Marco memperhatikan apa yang mereka lakukan dan tahu kalau Rezo adalah teman Irene.
Melihat kedatangannya, Marco merasa lega karena Irene akhirnya berada di tangan orang yang tepat. Setelah kepergian mereka barulah dia beranjak dari tempat itu untuk pulang. Marco adalah pria dewasa dan tak mungkin dengan tega meninggalkan seorang gadis yang baru dia selamatkan dari upaya pelecehan tanpa penjagaan. Pikiran Marco mengenai Irene akhirnya terhenti disusul bangun dari duduk nyamannya setelah keringat yang mengucur di tubuh telah kering akibat angin pagi yang bertiup sepoi-sepoi. Bergegas Marco masuk ke dalam rumah setelah menatap sebentar ke arah depan di mana Mbak Yuli masih sibuk di depan bersama yang lainnya. Tentu saja Marco tahu bincang tersebut tak akan berakhir dalam waktu singkat dan hal itu tak pernah dilarang. Apalagi Marco sudah menganggap Mbak Yuli seperti keluarganya sendiri dan dia hormati.
Setengah jam akhirnya berlalu di mana Marco telah rapi dengan pakaian santai yang hanya mengenakan celana pendek berwarna hitam serta kaos putih yang membalut tubuh kekarnya. Walaupun tak keluar rumah, Marco tak pernah luput mengenakan parfum kesukaannya dan barulah keluar kamar untuk menikmati sarapan. Sesampainya di ruang makan, dia melihat Mbak Yuli telah kembali dan sedang memotong sayuran yang baru saja dibeli.
"Mau masak apa, sih, Mbak?" tanya Marco penasaran dengan apa yang akan Mbak Yuli masak hari ini bersama tubuhnya menyentuh kursi dan menatap nasi goreng kesukaannya telah tersaji.
"Mau masak ayam serundeng dan capcay. Apa Den Marco ingin memakan sesuatu biar Mbak masakin sekalian," jawab Mbak Yuli yang sedang mempersiapkan bahan tersebut serta menanyakan sekiranya adakah makanan yang diinginkan Marco.
"Tidak usah, Mbak. Apapun yang Mbak buat akan kumakan dan yakin kalau rasanya pasti enak." Begitulah jawaban yang diberikan oleh Marco tanpa menoleh pada Mbak Yuli yang tersenyum. Ya, dia tahu kalau Marco bukanlah pria cerewet yang suka memilih makanan. Bahkan, Mbak Yuli tak pernah merasa pusing untuk mengimbangi sifat Marco karena dia merupakan pria dewasa dan sangat mandiri serta tak selalu bergantung padanya. Bahkan, Marco kerap mencuci pakaiannya sendiri tanpa menunggu Mbak Yuli yang melakukannya, hingga hal itu sering membuatnya merasa tak enak.
Mbak Yuli menghentikan tangannya yang sedang memotong sayuran dan menatap dalam ke arah Marco yang sedang menikmati sarapannya dalam diam. Tak ada handphone di hadapannya seperti kebanyakan orang yang memainkan handphone, meskipun sedang makan.
"Beruntung sekali wanita yang menjadi istrimu kelak, Den. Mbak doakan semoga kau segera menemukan jodoh terbaik." Mbak Yuli membatin dalam hati dan memanjatkan doa terbaik bagi kebahagiaan Marco yang sudah dianggap seperti adik sendiri.
Tanpa terasa matahari telah berada di ufuk barat pertanda hari telah sore. Adapun Marco sedang berada di salah satu toko miliknya yang terletak di kawasan Depok untuk memantau para pekerja. Ketika waktu telah menunjukkan pukul 4 sore, akhirnya Marco pamit kepada pekerja di sana untuk segera menuju ke rumah Erika sebagaimana dia telah berjanji untuk datang ke rumah. Membelah jalan yang terpantau macet dan jenuh, akhirnya Marco tiba di kediaman Erika setelah menempuh perjalanan hampir dua jam. Marco tiba di sana ketika waktu menunjukkan pukul 6 di mana langit mulai gelap.
Ketika melalui pintu gerbang, tak lupa Marco menyapa penjaga rumah yang tentu mengenalnya dengan baik. Setelahnya barulah Marco melajukan mobilnya menuju halaman untuk parkir dan terlihat mobil milik Dion telah berada di sana lebih dulu. Dia tersenyum tipis karena yakin kalau Dion sengaja pulang lebih awal dari kantor karena tahu akan kedatangannya.
Bergegas Marco keluar dari mobil dan masuk ke rumah serta berpapasan langsung dengan Dion yang sedang menuruni anak tangga. Senyum terukir jelas di wajah Dion menyambut kedatangan Marco dan menghampiri.
"Baru datang, Kak," sapa Dion yang menggunakan panggilan itu setelah dirinya resmi menjadi suami Erika.
Pada mulanya tentu Dion tidak menyematkan panggilan sopan itu kepada Marco. Apalagi keributan selalu terjadi antara mereka, meskipun berujung kerukunan hadir akibat pernikahan yang terjadi antara Dion dan Erika di mana benci berubah cinta.
"Harusnya sudah tiba satu jam lalu, tapi macet di mana-mana. Entah sampai kapan kemacetan bisa teratasi di negara ini!" jawab Marco apa adanya dan dimaklumi oleh Dion.
"Oya, Erika mana, Yon?" tanya Marco yang langsung mengarah kepada Erika, meskipun keduanya tetap melangkahkan kaki menuju ruang keluarga.
"Ada di dapur sedang membantu Mbak Yoyo menyiapkan makan malam."
Belum sempat mereka sampai di ruang keluarga, tapi sudah berpapasan dengan Erika muncul dari arah dapur dan tersenyum mendapati Marco yang baru datang dan sedang bersama Dion.
"Loh, kapan datangnya, Kak. Kok aku tak dengar suara mobilnya!" ucap Erika karena tidak menyadari akan kedatangan Marco.
Dia pun kian mendekat dan berhenti di depan Marco seraya meraih tangan kanannya, lalu mencium punggung itu di mana dia tetap melakukan kebiasaan tersebut. Terlihat Dion yang mengukir senyum karena senang melihat sikap Erika yang begitu menghormati Marco selaku kakaknya. Dengan demikian, tak ada alasan bagi Dion untuk tidak menghormati Marco yang diperlakukan sedemikian rupa oleh Erika. Apalagi perangai Marco sangat baik dan peduli kepada pernikahan mereka.
"Maklumlah, Dek. Kau sedang sibuk di dapur, ditambah caraku datang tidak dengan berteriak-teriak seperti preman," jawab Marco yang membuat senyum Erika kian lebar, meskipun diikuti tangannya yang mencubit bagian perut hingga membuatnya sedikit meringis.
Akhirnya mereka mendudukkan tubuh di sofa dan tanpa ragu Dion menyalakan TV agar bincang santai itu kian ramai. Adapun Erika kembali menuju dapur untuk membantu Mbak Yoyo di mana masakan sebentar lagi selesai.
"Ada apa semalam tiba-tiba menanyakan kabar Om Sopian? Mau periksa gigi, Kak?" Marco menoleh mendengar tiba-tiba Dion membahas kembali apa yang dia tanyakan semalam melalui sambungan telepon.
Mata Marco terlihat biasa saja dan menyiratkan tidak ada hal serius, tapi dia yakin kalau ada sesuatu pada Marco karena tidak mungkin dia tiba-tiba menanyakan tentang Sopian tanpa sebab.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu kabarnya saja karena sudah lama tidak bertemu," jawab Marco dengan suara tenang serta mata yang menatap pada layar TV di mana sedang menayangkan berita malam.
Adapun Dion terlihat mengangguk pelan karena apa yang dikatakan oleh Marco ada benarnya di mana dia pun sudah lama tak bertemu dengan Sopian, sehingga alasan tersebut dirasa masuk akal. Namun, tiba-tiba dia menoleh lagi pada Marco ketika sebuah pertanyaan kembali terlontar dari mulutnya.
"Oh ya, Yon. Siapa nama putri Om Sopian yang cerewet itu?"