"Apa yang bisa aku lakukan jika ayah dan kakak saja tidak pernah menganggapku ada. Apakah aku harus meninggalkan kuliah dan pergi dari rumah?"
"Tapi, keadaanku begini? Tak bisa melihat dan tak tahu arah untuk pergi," monolog Safiya berdiri di depan jendela.
Semilir angin membelai wajah ayunya, menerbangkan anak rambut yang sengaja ia biarkan tergerai. Safiya masih berdiri di depan jendela untuk menguarkan rasa sesak di dadanya.
Setiap hari hampir mendapatkan perlakuan tidak adil oleh ayahnya. Membuat hati gadis itu seperti ditikam ribuan jarum hingga membuat banyak luka.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?" gumam Safiya.
Helaan nafas panjang keluar dari bibirnya. Betapa rumit kehidupan yang harus gadis ini jalani. Safiya menoleh saat suara pintu terdengar dibuka. Aroma parfum Iqbal menguar memenuhi ruangan.
"Ada apa, Kak?" tanya Safiya dengan suara datar.
Iqbal terpaku di depan pintu kamar adiknya. Masih menatap lurus ke arah gadis cantik dengan rambut dikucir berdiri.
"Dia begitu peka dengan keberadaan seseorang," ucap Iqbal lirih.
"Aku hanya ingin bicara sebentar, sebelum aku lupa," jawab Iqbal.
"Katakan!" Safiya berbalik arah sehingga berhadapan dengan Iqbal yang tak mau masuk ke dalam kamar.
"Mulai besok, jangan lagi pergi ke kampus!"
"Kenapa, Kak? Bukankah selama ini aku tak membuat kesalahan. Aku patuh setiap kau suruh menjauh, aku juga tidak membawa-membawa nama ayah dalam urusan apa pun?" tanya Safiya dengan kerutan di kening tanda tak mengerti.
"Ayah yang membuat keputusan untuk ini, alasannya aku pun tidak paham. Mungkin beliau akan menyuruhmu sekolah di rumah," jawab Iqbal yang memang tak mengerti dengan alasan ayahnya yang menyuruh Safiya berhenti kuliah.
Safiya tersenyum miris, dia merasa ayahnya masih bertahan dengan sikap egoisnya. Dia tak pernah mengerti ataupun memahami keinginannya. Safiya dipaksa rela mengalah demi kemauan sang ayah.
"Bilang sama ayah aku tetap akan kuliah!"
Safiya meninggalkan kakaknya ke kamar mandi. Bahkan pintu berdenting nyaring karena gadis itu sengaja membanting pintu kamar mandi.
"Astaga, aku baru tahu sifatnya kalau marah," gumam Iqbal sambil menghela nafas panjang.
Lelaki tampan itu pergi dari kamar Safiya kembali ke kamarnya. Sedangkan adiknya masih mengurung diri di kamar mandi dengan rasa kecewa yang begitu dalam.
"Mama .... Bawalah aku ke tempatmu," ucap Safiya dengan suara bergetar menahan tangis.
Rasanya setiap menit yang Safiya lewati, terasa begitu berat. Ingin meneruskan sekolah saja, dipersulit.
"Ayah yang menyuruh kakak mengatakan itu? Aku harus bicara padanya," monolog Safiya.
___
Makan malam di rumah megah itu hening tak ada obrolan. Hanya denting sendok yang beradu di atas meja. Iqbal dan Hamzah pun seperti orang lain. Tak pernah curhat mengenai apa pun.
Secara bergantian, kedua lelaki itu mulai beranjak meninggalkan meja makan. Safiya tak merasa kaget, karena setiap hari memang dia harus menyelesaikan makan seorang diri.
"Nona, mau sesuatu lagi?" Ria bertanya dengan suara lirih.
Safiya menoleh ke sebelah kanannya, mendongakkan wajahnya, lalu menggeleng.
'Sebenarnya, aku ingin kamu menemani makan, Mbak. Tapi, aku takut Ayah akan marah,' ucap Safiya dalam hati.
Ria membereskan piring bekas makan Iqbal dan Hamzah sambil menunggu Safiya selesai. Ia juga menyiapkan minuman untuk nonanya agar tak kesulitan mengambil saat ingin minum.
"Makasih, Mbak!" Safiya tersenyum tanpa tahu di mana letak berdirinya Ria.
"Kalau tidak ada Tuan, silakan katakan apa saja yang Nona inginkan. Saya akan coba berikan untuk anda," ucap Ria tulus.
"Terima kasih, Mbak. Pokoknya terima kasih karena sudah baik padaku. Ada hal yang harus aku bicarakan dengan ayah. Bisa tolong antar aku ke ruang kerjanya?"
Safiya memang tidak tahu di mana kamar kakaknya, ayahnya dan letak ruangan penting yang lain. Yang dia hafal hanya jalan menuju kamar, ruang tengah, ruang tamu dan dapur.
"Boleh, mari saya antar." Ria menggandeng lengan nonanya.
Safiya sambil mengingat jalan itu agar nanti saat kembali ke kamar, bisa melakukan sendiri.
"Sampai, Non. Mau saya tungguin?" Ria sebanarnya khawatir Hamzah akan marah. Tetapi, dia juga tak bisa mencegah kemauan nonanya.
Safiya menggeleng, "Saya bisa kembali ke kamar sendiri, Mbak. Saya sudah hafal jalannya," jawab Safiya.
"Oke, hati-hati, ya." Ria hanya bisa percaya, kalau nonanya akan baik-baik saja.
Safiya mengetuk pintu besar itu, tak lama, terdengar suara Hamzah yang mengizinkan masuk. Saat Safiya berhasil membuka pintu, lelaki paruh baya itu menghembuskan nafas panjang.
"Ada apa, Safiya?" Hamzah sepertinya tak mau basa-basi.
"Aku ingin bertanya sesuatu, Yah!" Safiya berjalan ke arah meja kerja ayahnya.
Hamzah pun berdiri dari tempat duduknya, dia juga penasaran dengan apa yang akan ditanyakan oleh anaknya.
"Apa, katakan cepat! Karena ayah ada pekerjaan yang belum selesai!"
"Ayah selalu mementingkan pekerjaan. Apa tidak ada sedikit pun keinginan untuk menghabiskan waktu denganku, Yah?"
Tatapan mata Hamzah tertuju pada Safiya yang masih berdiri beberapa langkah dari meja kerjanya. Wajahnya sangat tenang namun memberikan tatapan luka untuk Safiya.
"Jangan terus bermimpi, Safiya. Kau tahu apa alasannya. Jadi, jangan paksa aku untuk terus mengucapkan kata-kata yang akan menyakitimu."
Safiya tersenyum tipis, namun mengisyaratkan luka yang begitu kentara. Namun di mata Hamzah semua menjadi tak berguna. Apapun yang dialami Safiya, lelaki itu tak mau tahu.
"Aku tak pernah bermimpi manis, Yah. Karena aku takut jika terbangun semakin membuat aku menangis karena ilusi."
Baiklah, aku juga tak akan berbasa-basi. Kakak datang ke kamarku, hanya untuk mengatakan kalau besok, aku tidak boleh ke kampus."
Safiya sengaja menjeda ucapannya, hanya untuk mendengar kalimat bantahan dari ayahnya. Nyatanya, sudah beberapa detik berlalu, tak ada suara dari sang ayah. Sehingga, Safiya melanjutkan bicara.
"Ayah yang menyuruh Kakak untuk melakukan itu? Atas dasar apa, Ayah menyuruhku kuliah di rumah? Jawab Yah?"
Safiya memberikan beberapa pertanyaan untuk ayahnya.
"Jawabannya cuma satu, Safiya. Kau ini punya keterbatasan. Kau harusnya patuh, karena tidak mungkin kau ataupun ayah menyembunyikan identitasmu sampai kau sembuh. Lagi pula, untuk apa kuliah?"
Ucapan Hamzah kembali melukai Safiya, gadis itu berupaya tegar, agar dia tak semakin ditertawakan oleh ayahnya.
"Yah, tidak usah setiap menit kau ingatkan pun aku tidak lupa ingatan, kalau aku cacat. Orang cacat ini punya impian sama seperti yang lain, Yah. Biarkan aku menggapai itu semampuku." Safiya bicara dengan menggebu, membuat nafasnya memburu.
Sudut bibir Hamzah tertarik ke atas membentuk lengkungan senyum. Sayangnya, senyum ejekan, bukan senyum bangga akan keinginan belajar yang menggebu dari sang putri.
"Sadarlah, Safiya, kau ini tidak bisa melihat. Lupakan mimpi setinggi gunung itu!" Hamzah mengatakan itu sambil menarik kerah kemeja yang dipakai Safiya. Lalu, dia lepaskan begitu saja, membuat tubuh gadis itu tak seimbang. Dalam sekali hentakan, tiba-tiba tubuh ringkih itu terdorong karena Hamzah sengaja melakukannya.
Karena tak bisa menyeimbangkan tubuhnya, Safiya jatuh tersungkur dan menabrak sudut meja. Bagian kanan atas matanya membiru bahkan mengeluarkan darah. Safiya meringis kesakitan sambil mengelus pelan keningnya.
Memejamkan mata sejenak karena sakit serta pusing yang mendera. Saat mencoba berdiri dan membuka mata, Safiya kaget karena ada sesuatu di luar nalarnya yang hanya manusia biasa.