CHAP 4

1359 Words
Melanggar larangan Jovan sama saja dengan membangunkan jiwa psycopath kakak nya itu, tapi dia tidak akan tega melihat sahabatnya terbaring di rumah sakit, jadi setelah menyelesaikan pekerjaannya. Freya langsung di antar Nara ke rumah sakit untuk menjenguk Adrian yang sudah seminggu ini di rawat setelah insiden Jovan mencelakainya. Tentu saja setelah dua hari Jovan pergi, Freya baru berani menjenguk Adrian. Takut kalau kakak nya itu berbuat semakin gila kalau tahu ia menjenguk Adrian. Freya menatap khawatir pada sahabatnya itu lalu memegang tangan kanan Adrian. "Gue kuat, Frey" "Lawan lo Jovan" Freya menjawab dalam benak nya. "Nanti lukanya membekas, gimana?" Freya bertanya. "Gue tattoo" Adrian menjawab lirih tapi  di ikuti oleh senyum nya "lo bilang, lo suka cowok tattoo an kayak om lo" "Uncle Levin sih romantis, ngetattoo tubuhnya buat aunt" Freya merengut. Lalu mengeluarkan mp3 nya. "Minggu depan lagu baru gue liris" Freya memasangkan earphone nya di telinga Adrian. "Ini agak galau sih, tapi gue suka. Yang satu nya gue lebih suka" Adrian terdiam, hanyut dalam lagu yang di dengarkan Freya untuknya. Seminggu ini dia selalu memikirkan Freya, dan pada akhirnya sahabat yang di cintai nya itu akhirnya menjenguknya dengan alasan sibuk di studio rekaman. Adrian tidak masalah dengan itu. "Frey.." "Hmm?" "Bisa lo kesini lagi besok?" "Siap" Freya tertawa sambil hormat layaknya selrang tentara, membuat Adrian tersenyum kecil. [] Ini hari ke empat Jovan pergi dan kedua orangtua nya sudah pulang mendahului kakaknya, jadi Freya bisa merasa tenang karna Jovan pasti tidak akan bisa berbuat aneh pada nya. Apalagi ibu nya menjemputnya ke sekolah siang ini, mereka juga menjenguk Adrian sebelum pergi bersama menemui Alish untuk makan siang bersama. "I Love Sushi" Freya berkata dengan senyum lebar nya saat ibu dan kakaknya itu makan bersama nya di salah satu restoran jepang di mall. "Tos dulu" Alish berkata yang langsung di balas Freya. "Cewek di keluarga kita suka sushi semua, kecuali daddy sama Jo" "Kak jangan bahas abang dong" Freya menjawab. Vita mengangkat wajahnya melihat anak bungsunya yang masih mengenakan seragam itu, vita merasa dejavu dengan kalimat Freya. "Ayo curhat!" Alish berkata. Vita semakin intens menatap anak nya itu, dia hanya takut kalau Jovan melakukan hal gila seperti yang di lakukan Javier pada nya dulu. "Malas ah, bang jo itu suka seenak nya. Bang Al aja posesif enggak separah bang Jo" Freya menjawab. "Kita jodohin aja Jo sama nancy" Alish berkata. "Jangan!" Freya menjawab "aku enggak suka nancy, yang ada dia malah ngajak aku ribut mulu" "Katanya malas, terus jangan. Kamu manjanya sama kak alish aja deh, sama Jo mulu deh" "Enggak gitu kak, kasian Nancy nya nanti. Bang Jo kan serem" "Abang enggak berbuat aneh kan sama kamu?" Vita bertanya. "Eng..enggak mom" vita menggigit pipi bibirnya lalu memilih memakan sushi nya. Freya tidak ingin menyusahkan ibunya itu, apalagi ibunya sangat memanjakannya dan sudah membuatnya seperti ini, Freya sadar posisi nya dan cukup tahu diri. "Oh iya, kenapa ya Adrian bisa sampai di culik tapi cuma sehari doang" Alish berkata. "Enggak tau juga, padahal Adrian enggak punya musuh" Freya menjawab. "Plus ganteng" Vita menyahut, dia tidak akan memaksa Freya. Mungkin bercerita pada suami nya nanti akan lebih baik, dan mencari tahu sendiri. "Adrian banyak fans nya, mom" Freya menjawab "Tapi betah ngejomblo" "Dia kan suka sama kamu, berani taruhan enggak?" Alish membalas. "Sahabat, kita cuma sahabat. Kak" Freya berkata. "Sahabat macam apa yang ngikutin show kamu sampai ke lima kota besar cuma buat kamu suruh-suruh. Adrian kan bucin kamu" "Aku punya pacar, Daniel" Freya menjawab "tapi bang Jo jangan sampai tau ya mom, kak. Daddy juga" "Yaudah satu tas hermes, sebagai tutup mulut nya" vita menjawab. "Sumpah mom, aku sama daniel belum juga ada seminggu. Kalau daddy tau nanti aku di marahin, bang Jo juga pasti marahin aku" Freya berkata. "Lebih takut sama bang Jo atau daddy?, nanti kak alish ajarin bisa pacaran diam-diam di belakang daddy" alish tertawa. "Daddy enggak akan ngebunuh orang, kalau bang Jo bisa" [][][] Jovan menatap ke arah luar kaca mobilnya, sebentar lagi ia akan pulang dan bertemu Freya lagi. Jovan tahu kalau orangtua nya akan menentang hubungan nya denga Freya, Tapi semenjak Jovan memaksa adik nya itu untuk mengatakan cinta dan setelah menandai nya dua tahun yang lalu, Jovan sudah menyatakan Freya sebagai miliknya. Jovan sampai di pekarangan mansion keluarga nya itu, ia langsung turun dengan sedikit tergesa ingin menemui adik nya itu. Malam ini Freya tidak akan pergi kemana pun, lagi pula dia sudah menghubungi adik nya dan adiknya itu menjawab kalau malam ini akan di rumah saja. Tentu saja Jovan juga sudah mengatakan pada Nara dengan sedikit ancaman kalau Nara harus membatasi jadwal Freya mulai sekarang. "Jo.." Vita memeluk putra nya itu. "Gimana perjalanan bisnis kamu?" "Biasa aja, mana Freya?" Jovan balas bertanya setelah melepaskan pelukan ibunya itu. Vita semakin merasa takut melihat respon Jovan yang menanyakan Freya. "Kenapa kamu nanyain Freya?" Javier menyahut. "Apa salahnya menanyakan adik Jo sendiri" Jovan menjawab. "Jangan gangguin adik kamu, dia lagi belajar" Javier berkata. Jovan mendengus pelan, dia ingin bertemu Freya-nya bukan beradu argumen dengan daddy nya itu. "Aaaaaaaa....." Sampai suara pekikan dan langkah kaki terdengar dari arah tangga, membuat Jovan langsung melangkahkan kaki nya dengan cepat dan menangkap tubuh Freya yang menegang ketakutan. "Abang?" Freya menumpahkan air matanya dan langsung memeluk Jovan. Freya tidak sadar saat tas sekolah nya di isi dengan banyak ular kecil bahkan ada ular kobra yang berada dalam bungkusan kain di dalam tas nya. Freya yang berniat mengerjakan tugas sekolah merasa aneh saat ada pergerakan di dalam tas nya. Memang sejak ibu nya menjemputnya tadi, ia hanya menenteng tas ranselnya dan langsung meletakkannya di bagasi belakang. Tubuh Vita rasanya seakan oleng melihat bagaimana Jovan memeluk Freya posesif, mengingatkannya dengan suami nya dulu memperlakukannya. "A..abang ada ular" Freya menangis ketakutan, sedangkan Jovan menarik nafasnya mencoba mengatur luapan emosi nya. "Ular?" Ulang javier. "Ular dad, dalam ransel ku" Freya melepaskan pelukannya. Vita menutup mulutnya tidak percaya, lalu memeluk Freya yang ketakutan. "Banyak mom" Freya berkata. Jovan langsung naik ke lantai dua ke arah kamar Freya. Ia bersumpah akan membunuh orang yang menteror Freya setelah melihat banyak ular kecil tidak berbisa bergerak di dekat meja belajar Freya, bahkan ada satu ular kobra yang sudah naik ke tempat tidur Freya. Javier mengepalkan tangannya melihat kamar anak bungsu nya, ia akan mendatangi sekolah Freya besok untuk mencari tahu pelaku teror pada putri nya. Yang pasti sekarang ia harus menelpon orang untuk membersihkan kamar anaknya. [] Freya tidak bisa tenang, tangannya masih gemetar mengingat banyak ular yang berada di kamarnya sekarang dan salah satu dari ular itu bisa saja membunuh nya. "Semuanya sudah bersih, bed cover nya juga sudah di ganti" Javier datang bersama Jovan di belakang nya. Freya menggelengkan kepalanya, ia masih merasa tidak aman. "Freya mau tidur di kamar mommy dan daddy?" Vita menawarkan. "Freya biar Jo yang urus. Mommy sama daddy bisa istirahat" Jovan menyahut. "Eng..enggak mom, Freya bisa panggil pelayan buat nemenin. Mom sama dad juga perlu istirahat" Freya tidak ingin membuat orangtua nya itu khawatir. Freya harus kuat, dia juga pernah dapat teror dulu dari haters nya, walaupun malam ini teror itu sangat keterlaluan. "Kalau daddy tau kamu berbuat Aneh, daddy pastiin kamu terbaring di rumah sakit" Javier berkata pada jovan lalu mengecup puncak kepala Freya. "Daddy bakalan ngejaga kamu, besok daddy pastiin orang yang meneror kamu akan merasakan akibatnya" Javier berkata, dan Freya mengangguk. "Kamu yakin enggak pengen mommy temenin?" Vita bertanya. "Mom, ada aku" Jovan menyahut lagi. Vita menghela nafasnya lalu mengecup pipi Freya yang masih pucat lalu pergi bersama Javier. Jovan duduk di sebelah Freya, dan membawanya ke dalam pelukan Jovan. Freya menangis lagi. "Ssssttt" Jovan mengusap rambut Freya.  Dia tidak akan membiarkan siapapun mengganggu Freya. Jovan akan memastikan sebelum daddy nya menangkap orang itu, Jovan akan membalasnya dengan hal setimpal. "Aku mau pindah kamar" Freya berkata sambil menghapus air matanya dengan kasar. "Aku takut" "Ada abang, abang janji akan ngejaga kamu" Jovan berkata. Freya tahu ini salah dan membuatnya terlihat lemah di depan Jovan tapi pelukan psyco gila ini mampu membuatnya sedikit tenang. "Ingat..?" Freya bertanya "abang pernah janji akan ngejaga aku walaupun aku nyakitin abang" Jovan mengangguk. "Ingatan kamu emang kuat" Jovan menjawab. "Aku ingat pas aku ngasih permen ke abang di panti asuhan, tapi kali ini aku pengen ngomong serius." Freya  memeluk Jovan. "Terimakasih" Freya berkata. "Psyco gila" ...........................Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD