CHAP 5

1207 Words
" Jangan dekat atau jangan datang kepadaku lagi Aku semakin tersiksa karena tak memilikimu Kucoba jalani hari dengan bantuan dirimu Tapi hatiku selalu berpihak lagi padamu Mengapa semua ini terjadi kepadaku Tuhan maafkan diri ini Yang tak pernah bisa menjauh dari angan tentangnya Namun apalah daya ini Bila ternyata benar aku terlalu cinta dia ... Tapi hatiku selalu berpihak lagi padamu " Suara piano mengalun dari lantai dua rumah keluarga Dimitrio itu, Vita ikut semua kegiatan Freya di sekolah dan juga pemodelan pekerjaan atau menyanyi nya. Setelah diterbitkan minggu lalu Saat Freya mendapat teror, Vita bebas anak itu jadi super ketat. Belum lagi Alish yang sekarang ikut rumah bersama dua anak, Alex sedang pergi ke luar negri. Dan Jovan tentu saja jadi orang yang paling penting. Jovan pergi mengantar dan menjemput Freya, bahkan menyelinap ke kamar Freya setiap malam. "Stop, stop. Kak" Freya menghela nafasnya dan erick, lelaki yang menjadi pelatih vokal. Freya yang meluncurkan permainan piano nya. "Ayo Frey selesain latihan lo, gue mau pulang nih" Erick melirik Jovan yang sedari tadi melihat latihannya bersama Freya. "Lo pengiring gue atau pelatih vokal gue?" Freya balas bertanya "tangan lo gemetar lagi" "Kalau sudah selesai, suruh pelatih vokal kamu pulang" Jovan menyahut. "Abang apa sih ?, aku ini seleb. Penyanyi yang lagi terkenal, kenapa abang malah ngikutin aku juga pas latihan vokal" Freya berkata dengan kesal. "Terus biarin kamu berduaan sama si cungkring itu?" Jovan membalas. "Abang yang sopan sama kak erick, lagian aku di rumah. Di lantai dua dengan satu pelayan dan juga kak nara yang dari tadi takut sama abang berdiri di pojokan karna kursinya abang pakai" "Kalau menejer kamu mau duduk, duduk aja. Abang enggak duduk" "Tapi abang bikin takut teman-teman ku" Jovan menghela nafasnya lalu bangun dari duduk nya. "Ikut abang dan suruh teman-teman kamu pulang" Freya memalingkan perubahan yang di tekuk, ia tahu tatapan tajam. "Bentar ya kak, jangan pulang dulu" Freya berkata lalu menarik Jovan ke dalam kamarnya. [] "Abang" Freya membentak. "Aku lagi latihan" Jovan membuka kamar Freya, dia tidak suka melihat Freya berdampingan dengan lelaki di sampingnya, termasuk ayah dan juga kakaknya, Alex. Jovan menghimpit tubuh Freya di dinding, dan itu sontak membuat Freya membeku sebelum memberontak dan mendorong Jovan. "Bukannya abang sudah dinilai, jangan dekati cowok mana pun, atau kamu mau tangan cowok itu abang potong?" Freya menarik nafasnya, ia tercekat mendengarkan kalimat yang di lontarkan Jovan dengan begitu mudah. Tapi dia juga tidak bisa menganggap remeh kalimat kakaknya itu. Adrian dan Andre jadi contohnya. "Kenapa diam?" Jovan bertanya. Freya menggelengkan mundur, dan beringsut mundur menjauh dari Jovan. "Kamu sudah tahu aturannya, tapi suka melanggarnya. Memangnya kamu tidak perduli dengan teman-teman kamu itu?" Jovan kembali bertanya. " Psyco .." Freya mengumpat dalam hati nya. "Abang, kali ini aja. Jangan!" Freya memohon. Jovan menyeringai lalu mendekat dan menangkup pipi Freya, mencium bibir adiknya yang sensual yang berwarna merah alami itu. TOK..TOK .. Freya mendorong Jovan, dia bersyukur karna ada yang mengetuk pintu kamarnya. Dan dia bisa lepas dari Jovan walau hanya untuk lepas saja. "Aku harus membuka pintu," kata Freya. "Oke" Jovan mengecup pipi Freya sebelum duduk di meja belajar adiknya itu. Freya Membuka pintu kamarnya dan melihat seorang pelayan membawa satu kotak diberi dan juga surat berwarna coklat. "Paket buat nona" Freya menatap kotak itu dengan kening berkerut lalu menerima kotak itu. "Makasih" Freya tersenyum kecil, lalu menutup pintu nya. "Sini abang lihat" Jovan berkata, Freya mendengus pelan lalu memberikan kotak sedang pada Jovan. Jovan mengeraskan rahangnya saat dibuka kotak itu, Freya yang melihat itu tampak takut pada Jovan yang terlihat sangat marah. "Aku..aku ini apa?" Freya Membuka kotak itu, lalu membuangnya dengan nafas memburu. Kotak itu terlempar, satu ekor kucing putih yang sudah ada di sayat-sayat. "Tidak apa-apa, Frey" Jovan membawa Freya ke dalam dekapannya. "Ku..kucing mati" Freya memeluk Jovan dengan mengenakan yang bergetar. Jovan akan membunuh orang yang sudah menteror Freya, Meskipun itu keluarga sendiri. [] [] [] Jovan berjalan ke dalam ruangan yang gelap di dalam gedung kosong di pinggiran kota. Terima kasih jika dia tidak menerima belas kasihan kecuali pada Freya. Dulu saat usianya sebelas tahun, Jovan dan rumah pergi ke yayasan panti asuhan milik teman ibu di Jerman, saat ini juga seorang gadis kecil mendatangi dengan dua permen di panggil. Gadis itu tidak berbicara, Jovan berpikir gadis itu bisu. Jovan ingin gadis itu, gadis kecil yang akhirnya diangkat menjadi anak. Gadis kecil yang memberikan nama Freya . "Gimana?" Jovan bertanya pada seorang lelaki berbadan besar. "Sesuai permintaan Anda" lelaki itu menjawab. Jovan melangkahkan kaki nya semakin dalam ke ruangan itu, lalu duduk di pinggiran bath up yang di isi oleh seorang perempuan yang masih memakai seragam sekolah yang sama dengan Freya. "Please.." perempuan itu memohon dengan tubuh di penuhi ular. Jovan menyiksanya, membuat pembalasan yang setimpal karna menteror Freya. "Oke, gue bakalan lepasin lo. Katakan alasan lo menteror Freya" "G..gue cuma di suruh" perempuan itu menangis terisak, merasakan sakit di kaki nya karna di lilit ular besar. "Siapa?" Jovan membuka pisau lipatnya dan mulai menggoreskannya di wajah perempuan itu. Perempuan itu memekik, membuat ular-ular di sekujur tubuhnya kaget dam menggigit tubuhnya. "Katakan!" Jovan mendesak. "F..freya" perempuan itu menjawab lirih, membuat Jovan menautkan alisnya bingung lalu terkekah dan menusuk bahu perempuan itu. "Lo mau main-main sama gue?" Perempuan itu menggeleng dengan rasa sakit di sekujur tubuh nya. "Nikmati lah" Jovan menyeringai sambil menggores pipi perempuan itu lebih dalam, lalu melangkahkan kakinya pergi. [] "Freya" Nancy menyapa dengan senyuman manisnya yang tentu saja hanya kamuflase belaka. "Lo datang duluan, kak" Freya membalas dengan nada cerianya. Sepertinya Freya memanh harus menerima tawaran bermain dalam sebuah film, kalau sudah berurusan dengan Nancy. Freya harus tersenyum manis di depan orang-orang. "Gue model yang on time" Nancy membalas. "Gue dengar lo di teror" "Terimakasih atas kekhawatiran lo" Freya berkata. "Lo tahu mereka yang seperti itu harusnya mendekam di penjara, ini sudah seminggu lebih. Apa bokap lo enggak ambil tindakan tahu putri nya di teror" Freya tahu kalau Nancy sedang menyinggung nya. "Apa gue belum cerita ya, kalau yang menteror gue itu sudah masuk penjara dua hari setelah gue di teror" Freya menjawab dengan angkuh, dia tidak ingin kalah dari Nancy, walaupun itu bohong. "Syukyr deh, gue kira bokap lo enggak perduli gitu" Nancy mengusap rambut Freya. Rasanya Freya ingin menepis tangan Nancy, tapi tidak mungkin ia lakukan di depan para make up artis yang mendandani nya dan Nancy sekarang. Freya menutup matanya untuk meredakan emosi nya, lalu membuka matanya lagi. Dadanya seakan sesak saat melihat bayangan orang yang berdiri di belakangnya dan Nancy dari cermin. "Jangan ngelirik kakak gue" Nancy berkata tanpa perduli dengan reaksi orang-orang di sekitarnya. "Freya.." Freya tersenyum pada lelaki yang berdiri membelakangi nya. "Gimana amrik, kak Andre?" Freya bertanya. "Lo apa kabar?" Andre balas bertanya. "Baik, seperti yang lo lihat. Kak" Freya menjawab. "Frey, lo masih ingat kejadian yang ngebuat kakak gue harus di bawa ke amrik kan?" Nancy menyahut, membuat Freya diam dan bangun dari duduk nya. "Gue ke toilet dulu" Freya berkata. Andre masih menatap punggung Freya, saat sudah mengjilang di bakik pintu. "Lo kenapa, Nan?" Andre mendengus. "Kak, Jovan hampir ngebunuh lo. Dan lo masih ngarep sama adik nya?" Nancy menjawab. "Lo harusnya lupain Freya" "Lo tahu kalau gue sayang sama dia," Andre berdecak kesal. "Setelah lo koma enam bulan, dan Freya mutusin lo begitu aja" Nancy berdecih "cinta sih cinta, tapi enggak buta juga" "Bukan urusan lo" Andre membalas. "Keluar, gue enggak pengen ngelihat wajah lo" Nancy memejamkan wajah. Andre menghela nafasnya lalu keluar. .......................................... Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD