Andre, lelaki dengan rambut hitam itu memandang Freya yang sedang berpose dengan Nancy.
Freya memang bukan yang pertama bagi dia, tapi Freya menjadi yang pertama yang harus memperbaiki perempuan itu setelah menjalin hubungan dua tahun dan putus karna Jovan.
Matanya yang berubah terus memandang Freya sejak satu jam yang lalu, mereka bertemu di ruang make up. Andre tidak akan melepas Freya hanya karna Jovan, kakak Freya yang psyco itu.
"Hei .." Nara menyapa, dan duduk di sebelah Andre.
"Apa kabar?" Andre tersenyum.
"Baik, senang bisa ketemu lo lagi" jawab Nara. "Gue dengar lo udah selesain S1 lo di Newyork, selamat ya"
Andre terkekah, Nara rindu dengan senyuman mantan Freya itu. Bohong jika Nara tidak suka dengan kehidupan seniman itu, Freya punya keluarga yang harmonis dan kaya raya, wajah cantik, kakak tampan, dan pacar tampan. Dan Nara nikmati Andre sebelum lelaki itu bertemu Freya.
"Jovan juga sudah balik?" Andre bertanya.
"Iya, dan kegiatan Freya jadi di batasin Jovan, kakak posesif" jawab Nara sambil terkekah "jadi Freya suka kesal sendiri gitu"
"Kayaknya kalau enggak ngomel enggak jelas, bukan Freya namanya" Andre ikut terkekah.
"Lo kangen sama Freya?" Nara bertanya.
"Gue sama Freya sudah lama berakhir" Andre menjawab, sesekali dia melihat Freya yang tersenyum lebar sambil memeluk Nancy di depan kamera.
Hubungan Lova dan membenci Freya dan Nancy di acungi jempol, mereka terlihat seperti teman yang saling perduli, padahal nyatanya mereka saling menyindir dan beradu mulut di kamera belakang.
"Gatal badan gue meluk cewek kayak lo" Freya berbisik.
"Aku harus mandi s**u biar gue lagi" Nancy balas berbisik.
Freya mengela nafasnya saat fotografer mengatakan kalau pemotretannya bersama Nancy sudah selesai.
"Jangan dekati kakak gue lagi" Nancy berjalan di sebelah Freya.
"Maaf, gue sudah punya pacar. Ngapain gue gangguin kakak lo" Freya tersenyum miring.
"Memang enggak tahu diri, lo pacaran sama Jovan di belakang sih lo?" Nancy mencibir.
"Maaf Nancy, pacar gue bukan bang Jo. Tapi seseorang yang lo kagumi. Gue emang lebih beken dari lo"
"Maksud lo?"
"Daniel, Aktor yang lagi naik daun yang disebut tipe" Freya tersenyum lebar. "Lo kalah lagi"
"Aku benci kamu, Cheryl" Nancy mengepalkan menerima.
"Gue suka nama ibu panti, tapi ibu dan ayah gue lebih suka nama Freya" Freya memeluk Nancy "gue duluan, kak"
[]
Freya duduk di balkon kamarnya dengan telinga yang di sumpal earphone yang memutar lagu lama dari seorang penyanyi wanita yang sekarang sudah tidak ada kabarnya lagi.
Freya termenung sambil membaca surat teror yang di kirim dengan kotak berisi kucing mati itu, sejahat-jahat nya Nancy. Perempuan itu tidak akan mengirim teror ekstrim seperti itu.
"Putri mengambil" kalimat itu masih terngiang di kepala Freya, sampai satu earphone nya di lepas disetujui mendongak dan tersenyum lebar.
"Galau?" Alex bertanya.
"Bang Al" Freya memeluk Alex
"Abang dengar lagu baru kamu, bagus" Alex terkekah.
"Oh ya jelas, Freya" jawab Freya dengan bangga.
Alex menghela nafasnya lalu tersenyum dan merangkul bahu Freya.
"Ayah sudah ketemu penteror itu, tapi dia sudah meninggal" kata Alex.
"Hah?" Freya menatap kaget, bagaimana bisa berlalu tiba-tiba.
"Bang Al juga enggak tahu, yang pasti kata ayah dia sudah meninggal mengenaskan" jawab Alex. "Ayo makan malam"
"Oke," kata Freya.
"Ada Nancy dan mantan kamu tuh di bawah," Alex tersenyum.
"APA?" Freya memekik kaget "kak Andre?"
Alex tertawa dan mengangguk.
"Bang Al, kapan bang Jo mukulin kak Andre lagi gimana?" Freya berdecak kesal lalu berlari keluar kamarnya.
Badannya menabrak sesuatu yang keras hingga memundurkan langkahnya.
"Abang ..?" Freya membulatkan pandangan melihat Jovan yang di tabraknya.
"Ya, kekasihku?" Jovan mengangkat satu alisnya.
Suara tawa membuat Freya berbalik dan menatap kesal ke arah Alex.
"Bang Al bohong" kata Freya.
"Salah sendiri ngapain galau, dah ah. Jo urusin tuh adek" Alex mengacak rambut Freya lalu berlalu pergi.
"Jadi, kenapa?" Jovan bertanya. Freya menggeleng sebagai jawaban.
"Bang Al tuh ngegodain" Freya merengut kesulitan rasa khawatir dan penasarannya.
Jovan tersenyum lalu merangkul Freya.
[] [] []

" Hari ini
Ku terima kabarmu
Kau Tanya apakah ku baik saja
Kau katakan kau mau pulang
Karena tak sanggup jauh dariku
Tapiku, aku tak bisa datang.
Aku tak bisa pergi.
Aku hanya bisa terdiam
Aku ingin pulang
Ingin cepat pulang
Agar aku bisa bertemu kamu
Aku ingin pulang
Ingin cepat pulang ....
Agar aku bisa
Agar kudapat memeluk kamu
Kau katakana kamu rindu kamu
Dan aku tak bisa mengirimmu idisana
Aku juga sangat rindu kamu
Ku juga ingin bertemu
Tapiku, aku tak bisa datang
Aku tak bisa pergi
Dan ku hanya bisa terdiam
Aku ingin pulang
Ingin cepat pulang
Agar aku bisa bertemu denganmu
Aku ingin pulang
Ingin cepat pulang ...
Agar aku bisa
Agar kudapat memelukkamu
Ohh ...
Tunggu aku lagi lagi
Kuadakan segera pulang
Dan ku juga tak sanggup tanpamu
Berjanjilah kan simpan semua
Segera rindu dan cintamu Hanya untukku sendiri buat aku
Aku Ingin Pulang
Ingin Cepat Pulang
Agar akudapatbertemukamu
Akuinginpulang ....
(Ingin Cepat Pulang agar aku DAPAT
Bertemu)
Aku Ingin Pulang, Ingin Cepat Pulang ...
Agar aku DAPAT, agar aku DAPAT, agar
aku DAPAT
Memeluk kamu"
Freya duduk di perpustakaan dengan telinga yang di sumpal earphone dengan lagu yang akhir-akhir ini di dengarkannya.
Freya tidak tahu kenapa dia sangat menyukai lagu lama itu, padahal dia tidak pernah bertemu dengan penyanyi asli lagu itu. Rasanya lagu itu langsung membuatnya menjadi sesuatu yang aneh, seperti lagu itu memang di ciptakan penyanyi itu untuknya.
Freya melirik pada lelaki berseragam yang acak-acakan yang sejak tadi meliriknya. Freya mengenal lelaki itu, lelaki pembuat onar di sekolah yang juga Adik kelasnya.
"Aneh" Freya mendengus, lalu menulis tanda di selembar kertas, lalu meninggalkannya di atas meja dan pergi.
Tapi sampai di luar perpustakaan, Freya menghentikan langkahnya karna suara lelaki yang diangkatnya.
"Freya"
Freya berbalik melihat lelaki berandal yang diundang dipanggil dengan memegang selembar kertas yang diijinkannya di atas meja tadi.
"Gue bukan penggemar lo" Lelaki itu berkata.
Freya tidak suka dengan lelaki lebih muda dari nya, lebih suka lelaki itu setampan anggota Jeno NCT. Lagi pula Jovan tetap yang paling tampan.
Freya tersadar dari lamunannya saat tanpa sadar meraih Jovan, kakaknya yang psyco itu.
"Siapa yang suka penggemar gue" Freya membalas.
"Ngapain lo ngelirik gue, terus ninggalin tanda tangan lo di atas meja?"
Freya membaca tag nama lelaki itu segera.
"Lo yang ngelihatin gue sejak di perpus tadi, pas gue lirik balik lo kelihatan salting. Apa loe ngeliatin gue lo lo ngeliatin gue lo lo jadi jadi stalker gue, Barack?"
Lelaki itu terdiam mendengar penuturan Freya.
"Gue lagi punya masalah, jangan khawatir. Tetap semangatin gue aja" Freya tersenyum tulus, dan itu membuat lelaki itu tertegu.
"Gue dengar lo mau ngedaur ulang lagu Ariel liliana?" Barack bertanya.
"Tunggu aja" jawab Freya.
[]
"Cheryl?"
Freya menoleh melihat wanita mematahkan baya yang masih cantik di usianya, tersenyum dan menghela nafasnya lega setelah dilihat. Dan Freya mengenal wanita itu.
Freya memang menunggu Jovan menjemputnya di kafe sampaing sekolahnya, ia tidak menyangka bisa bertemu ibu panti asuhannya di jerman.
"Ibu Jane ..?" Freya langsung memeluk wanita itu. "A A..."
Freya tidak bisa berkata apa-apa saat bertemu wanita di membantah ini.
"Kamu sangat terkenal" wanita itu berkata. "Kamu memang anak wanita itu"
"Maksud ibu Jane?" Freya mengerutkan keningnya, tidak mengerti tentang arah pembicaraan ibu panti asuhannya itu.
"Enggak kok, kamu seperti Vita. Kamu sudah menjadi bagian keluarga dimitrio sayang"
"Ibu bisa tinggal di apartemen abang kalau mau, ibu berapa lama di sini?" Freya bertanya dengan semangat
"Lusa ibu harus kembali ke jerman, kamu yang harusnya mengunjungi. Kamu dan Nancy sama-sama di adopsi dan di bawa kesini" jane mengusap rambut Freya.
"Ibu mau makan malam denganku dan Nancy?" Freya bertanya.
"Kalau kalian tidak sibuk, kenapa enggak" Jane menjawab
Freya mengangguk.
Kafe Bunyi lonceng membuat Freya menoleh dan melihat Jovan masuk.
"Itu bang Jovan" kata Freya.
"Anak cowok yang kamu kasih permen, yang bikin kamu ngomong lagi?" Jane berdiri dan mengulurkan berhasil pada Jovan yang terlihat bingung tapi tetap menyambut uluran tangan itu.
"Abang, ini ibu panti" kata Freya.
Jovan mengangguk dan tersenyum ramah.
"Nanti malam aku sama Nancy mau makan malam sama ibu" Freya menjelaskan.
"Gimana kalau makan malam di rumah, nanti ibu akan di antar jemput supir kami" Jovan menawarkan dan membuat Freya mendengus.
"Tidak masalah, nanti hubungi saya" Jane memberikan nomer handphone-nya pada Freya.
"Kalau begitu, kami harus pulang duluan. Sampai jumpa" Jovan pamit tanpa berniat menunggu Freya, lelaki itu langsung merangkul Freya dan membuka kembali cafè.
.......................................... Tbc