Jovan mengerutkan sedikit alisnya saat melihat kamar Freya kosong, padahal Alex melihat jika Freya mencari nya saat pulang tadi.
Jovan memang suka kecolongan saat tahu Freya berpacaran selama ia pergi keluar kota, tapi semuanya sudah ia bereskan. Mungkin besok berita kalau aktor dinamai Daniel akan keluar, kalau lelaki itu di larikan ke rumah sakit karna tabrakan.
"Chéry?" Jovan suka memanggil Freya dengan sebutan kesayangan dalam bahasa Prancis itu, selain panggilan manis.
Jovan mengangkat satu alis nya saat melihat Freya duduk di bawah samping tempat tidur dengan wajah yang di sembunyikan dalam bantal.
"AWAS LO NANCY, GUE BALAS" teriakan Freya tertahan di bantal itu. Freya mendongak dan menyibak rambutnya ke belakang.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Jovan terkekah. Freya yang melihat senyum Jovan, rasanya ingin menyumpahi kakaknya itu karna sudah tersenyum semanis dan setampan itu.
"Jangan ketawa!" Freya merengut.
"Bang Alze kamu nanyain abang tadi" kata Jovan.
"Bang Jo bilang mau ngedukung aku apa saja yang terjadi" Freya tidak perduli kalau ia tampak sangat tergantung dengan Jovan, yang menarik sekarang dia tidak ingin kalah begitu saja dari Nancy.
Jovan mengangguk lalu menarik Freya bangun dari duduknya di lantai, lalu berhasil duduk di pangkuan Jovan.
"Bang Al juga sudah bilang kalau kamu sudah meminta izin sama Nancy" Jovan berkata, membuat Freya mengaku bodoh karna mau saja duduk di pangkuan Jovan hanya karna yakin kalau Jovan akan mendukungnya.
"Abang ngedukung mereka?" Freya menatap Jovan dengan wajah yang sudah memerah karna dialog.
"Bang, Nancy itu penggali emas. Sekali belanja bisa mencapai jutaan, model pekerjaannya juga udah sampai buka s**********n" Freya membentak, membuat Jovan tertawa mendengarnya.
"Wajar lah, dia punya uang" Jovan membelas. "Kartu kredit yang diberikan kemaren juga kamu kuras tuh"
"Itu beliin mami sama kak Alish tas hermes" jawab Freya.
"Buat sogok hubungan kamu sama Daniel ?, cewekku harusnya kamu tahu kalau lelaki itu enggak akan selamat"
Freya memalingkan pimpinan, tidak ingin melihat senyum iblis kakaknya itu. Entah apa yang terjadi dengan Daniel tetapi sebagian diri Freya bersyukur jika lelaki berengsek itu di celakakan Jovan.
"Bang Jo enggak takut setuju dengan hukum?" Freya bertanya setelah turun dari pangkuan Jovan.
"Hukum bisa di beli, chèry" Jovan tersenyum miring "kamu khawatir?"
Freya memalingkan mencoba, diam dan tidak menjawab.
"Kamu hanya cukup menurut dan diam, kamu tahu aturan kita" Jovan mengecup leher Freya.
"Aku takut," kata Freya.
"Chèry, jika kamu memang suka. Nikmati saja!" Jovan tersenyum miring "jangan mempertimbangkan apapun, cukup abang yang kamu ingat"
Jovan menindih tubuh Freya, dan mulai menyerang bibir sensual yang menjadi candunya itu, menyecapnya Meskipun Freya tidak membalas ciumannya.
Jovan itu psyco, tapi sebagian besar dari yang ingin dibuka oleh Freya tetapi itu tidak mudah karna nafsunya yang besar.
"Akh .." Freya memekik saat Jovan meremas dadanya dengan kencang. "Sakit"
"Kamu tahu kalau abang selalu nafsu di dekat kamu" Jovan membangunkan tubuh Freya dan mendudukkan nya di pangkauan Jovan.
"S..sudah!" Freya memegang tangan Jovan yang sudah masuk ke dalam baju Freya.
"menikmati atau salah satu orang kamu terluka" Jovan menatap tajam.
Freya menundukkan tantangan dan mengangguk pelan, Freya takut kalau korban Jovan semakin banyak.
Jovan Membuka baju Freya dan menikmati d**a sintal adiknya itu. Freya mendongak saat makan lidah Jovan bermain di sekitar p****g nya. Jovan sengaja mempermainkannya dan Freya menginginkan sesuatu yang lebih.
"T..tolong h..hisap" Freya berkata dengan wajah yang memerah. Mendengar itu Jovan tersenyum miring lalu meremas kencang d**a sebelah kiri Freya dan menggigit dan menghisap p****g sebelah kanan.
[]
Freya tahu jika dikembalikan dengan Jovan ini salah, Freya menghela nafasnya. Memangnya senang dengan Jovan apa ?, selain mereka adalah kakak.
Freya cukup tahu diri, sebagai anak yang di bawa dari panti asuhan harusnya dia tidak mau lancang dengan Jovan, apa yang akan di katakan kalau dia tahu Jovan memperlakukannya layaknya wanita dan bukan adik.
Mungkin wajar jika semua kalimat Nancy Benar itu benar, dia tidak tahu diri karna beruntung bersentuhan dengan Jovan yang merupakan kakak angkatnya, Meskipun menganggap dia tidak pernah menganggap Freya sebagai anak angkat. Freya tahu jika mendukungnya sangat baik, menyediakan dukungan dan kasih sayang mereka tidak sesuai antara kakak-kakaknya yang lain.
Lelaki yang sering memanggilnya Psyco gila itu, nyatanya selalu memberikan pelukan ternyaman yang pernah Freya rasakan, Tapi jika perlu mereka tahu apa yang telah mereka perbuat mungkin saja Freya akan di usir dan di lagi, seperti saat wanita yang tidak Freya ingat sedang itu , meninggalkannya di bawah pohon oak di depan panti asuhan dalam keadaan hujan lebat. Freya tidak yakin, tapi dia tidak ingin pergi dari tempat tinggal sekarang.
"Abang bangun!" Freya mendongak, melihat wajah tampan Jovan yang sedang terpejam. Jovan tidak menidurinya, mereka hanya melakukan beberapa adegan panas.
"Hmm .." Jovan hanya berdehem saat menjawab lalu melepaskan pelukannya di tubuh Freya setelah mengecek singkat bibir adiknya itu.
"Nanti ibu sama ayah nyariin" Freya berkata "abang harus keluar dari kamar ku"
Freya tanpa sadar mengerutkan keningnya karena sedang bermain kucing-kucingan dengan keuangannya.
"Kamu takut kita ketahuan?" Jovan bertanya.
"Abang tahu posisi ku" Freya menjawab
"Kita bisa pergi, abang bisa lepas semuanya demi kamu"
Freya menghela nafasnya, ia ragu. Tapi sebagian besar dalam dirinya ingin bersama dengan Jovan.
Perempuan mana yang tidak suka dengan kalimat manis itu, meminta untuk melihat apakah dia akan meminta Freya, Meskipun Jovan memang agak gila tapi Freya harus jujur pada dirinya sendiri jika dia mau punah dengan kalimat Jovan.
[] [] []
Freya tahu jika ini akan sedikit memalukan di depan ibu panti nya saat ayah nya membanting sendok dan suara dengusan terdengar dan berubah jadi canggung saat Alex mengatakan akan mengganti pernikahannya bulan depan dan akan menikahi Nancy dipindahkannya.
"Kamu sedang bercanda?" Javier menarik nafasnya "pernikahan kamu sudah di depan mata, Alex"
"Batalkan, aku mau menikahi Nancy. Ayah" alex menjawab. "Di restui atau tidak"
"Lex, kamu enggak bisa begitu saja membatalkan pernikahan yang sudah di rencanakan dari tahun lalu" Vita berkata.
"Maaf Bu, tapi Alex hanya ingin menikahi Nancy," Alex menggenggam tangan Nancy yang ada di atas meja, dan dari sana. adalah salah. Salah, minta Nancy tahu kalau sedari awal dia dan Alex memang saking memanfaatkan. Tapi kali ini Nancy ingin berbangga diri sendiri saja karna ia menang mendapatkan Alex, di banding wanita pun tahu itu hanya hubungan simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan antara dia dan Alex.
Freya yang melihat pemandangan di menyetujui, antara Alex dan Nancy dengan saling bertautan dan sedang bertanya jika mereka akan menikah. Membuat tangan Freya sedikit gemetar karna takut bereaksi nanti dia besar-besaran dan Jovan ketahuan.
Bukan berarti Freya ingin bersanding dengan Jovan, yang selalu di sebutnya Psyco gila. Tapi bagaimana murkanya nanti bagaimana jika ia tahu dan Jovan punya hubungan, Freya bisa berpikir jika ia akan langsung di usir sebagai anak pungut yang tidak tahu diri, sudah di berikan hidup enak dan di beri hati, sekarang minta tolong dan ingin punya Jovan.
" Chèry .." Jovan berbisik dan menepuk paha Freya dengan pelan.
"Maafkan aku yang tidak ingin dirimu karna juga menyukai kak Alex, tapi kami serius. Dan juga kami sudah menjalin hubungan satu tahun terakhir saat kak Alex di jodohkan, aku tahu kalau ini terdengar egois, tapi karna karier aku. Aku minta agar kak Alex merahasiakan hubungan kami "Nancy menjelaskan dan itu membuat Javier mendapatkan dari duduk nya.
"Biar Daddy yang memilih masalah membatalkan pernikahan kamu" Javier berkata.
"Lanjutkan makan kalian, biar mommy yang ngomong" Vita ikut ngomongnya itu.
"Maaf ya bu, makan malam kita jadi kacau" Nancy berkata dengan senyum tulusnya.
"Ibu mengerti, dan maaf juga ibu enggak bisa mengatakan apa pun yang tadi"
Jovan tidak tahu apa yang harus dipertimbangkan Freya, padahal tadi di kamar Freya mengatakan jika dia tidak akan pulih Nancy menjadi istri Alex, tapi saat ini yang terjadi malah sebaliknya. Freya terdiam dengan tangan yang sedikit gemetar, tetapi kemudian adiknya mengangkatnya sambil tersenyum pada Jovan. Meminta agar Jovan paham mengapa Freya mau suka itu.
Freya takut dengan kedua orangtuanya, dulu Jovan sudah disuruh keluar negri untuk bisa sadar kalau ia tidak bisa memiliki Freya. Orangtuanya itu sangat menyayangi Freya, bahkan setelah diterbitkan di mana mommy nya di larikan ke rumah sakit karna terlalu syok.
"Apakah kamu baik-baik saja?" Jovan bertanya.
Dan Freya mengangguk saat menjawab. Ada yang suka dirimu Freya yang menginginkan Jovan, tapi rasanya butuh. Ia tidak akan bisa bersanding dengan Jovan, entah itu karna perasaan dan juga status, Freya tidak yakin dengan semua.
................................... Tbc