Kedua kaki jenjangnya reflek berhenti, matanya fokus menatap ujung sepatunya sembari menarik napas dalam-dalam, berselang beberapa menit ia menoleh kesamping kanan melihat pantulan dirinya dicermin tembok ruang tamu. Ia menatap dirinya disana dengan seksama. Ada keresahan disana yang begitu jelas setelah pertemuannya dengan Shafa dua hari ini. "Kamu udah gak takut, harusnya kamu gak seresah ini." Gumamnya untuk memberi dirinya semangat, kehidupannya akan baik-baik saja seperti sebelumnya, dan meski Shafa muncul Arum akan tetap baik-baik saja. Arum tersenyum semangat lalu kembali berjalan menyapa mama, papa dan oma angkatnya yang masih tetap sama, tak ada yang berubah kecuali keketusannya berkurang. Arum harap kedepannya akan lebih baik dari sekarang. Arum kembali melangkah menaiki dere

