Luka

1861 Words

Kedua sudut bibir Arum terangkat kemudian menggigit bibir bawahnya, bahkan sampai saat ini ciuman itu masih terasa. Itu bukan ciuman pertamanya tapi entah kenapa rasanya ciuman terakhir masih membekas dan terasa panas disana, bahkan dengan gilanya Arum masih merasakan bibir hangat dan penuh kakaknya masih menempel dibibirnya. Gila memang, mungkin Arum memang sudah gila sekarang. Tanpa tau malu Arum mengikuti permainan kakaknya tanpa memikirkan konsekuensinya, yang jelas Arum taunya jika kakaknya mencintainya. "Aku mencintaimu, Arum" "Jangan sakit sayang" "Aku cinta Arum" "Sayang Arum" Arum reflek menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sekujur tubuhnya memanas, wajahnya memerah, napasnya terasa berat, jantungnya semakin bertalu-talu saat perkataan Elang kembali melintas dikepalan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD