Part 06

1015 Words
Setelah makan mereka beranjak pergi. Lardo tak lupa menggandeng tangan Stela dan menatap mata hijau itu dengan senyumnya. Stela hanya diam. Dia bingung dengan apa yang dia rasakan. Bahkan dia tak mengelak saat digandeng oleh laki laki b******k itu. Ah stela mengabaikan pikiran pikiran bahwa dia sudah jatuh cinta sama pria itu. "Tidak mungkin." batin Stela. Lardo bingung menatap Stela. Kenapa dia dari tadi diam saja. Tidak seperti biasanya yang banyak ngomong. "Kau kenapa?" tanya Lardo. "Tidak apa." balas Stela. "Kenapa diam saja dari tadi?" tanya Lardo. "Aku pulang sendiri, tidak perlu mengantarkanku." ucap Stela. "Kau pergi denganku, jadi kau pulang harus denganku juga." balas Lardo dingin. Tapi Stela tak menghiraukannya. Dia langsung bergegas pergi keluar cafe dan mencari taxi. Lardo mengikutinya dari belakang, takut terjadi sesuatu dengan Stela. Hari juga sudah beranjak semakin larut malam. Ditengah jalan Stela tidak melihat jalan kanan dan kiri. Tiba-tiba ada mobil melaju kencang, namun Stela tidak mengetahui karena dia fokus dengan pikiriannya sendiri. "STELA AWAS MOBIL!" teriak Lardo sambil berlari menuju kearah Stela. Stela kaget lalu menoleh, dan ternyata benar ada mobil. Tapi tiba-tiba dia seperti didorong oleh seseorang. Stela jatuh ketepi jalanan. Namun orang itu jatuh terpental jauh. Orang itu tertabrak mobil. Stela terkejut, ternyata orang itu Lardo. Dia menyelamatkan nyawanya. Bahkan dia tidak peduli dengan nyawanya sendiri. Stela langsung berlari menghampiri lardo. Banyak darah dikepalanya. Lardo tak sadarkan diri, badannya lemah, mukanya pucet. Stela menangis, dia tak menyangka akan seperti ini. Andai dia tadi tidak kekeh untuk pulang sendiri mungkin ini tidak akan terjadi. Banyak orang yang datang menghampiri untuk menolongnya. Stela mencari kunci mobil disaku Lardo dang bergegas pergi mengambil mobil lardo dan kembali ketempat itu lagi. Stela menyuruh orang-orang itu untuk mengangkat lardo kedalam mobil. Setelah itu ia langsung pergi kerumah sakit dan tak lupa mengucapkan terimakasih kepada orang orang tadi yang sudah menolongnya. Diperjalanan stela tak henti hentinya mengangis. Dia menyalahkan dirinya sendiri. Lardo terlihat sangat pucat sekali. "Maafin aku." ucap Stela lirih sambil menyeka air matanya. Stela melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesampai dirumah sakit stela langsung memanggil perawat untuk menangani Lardo. Perawat langsung datang dan membawa lardo ke ruang penanganan. Stela hanya bisa menunggu dari luar. Dia tidak diperbolehkan masuk. Ini semua tidak akan terjadi jika ia tidak kekeh untuk pulang sendiri. Andai stela menurut untuk diantarkan pulang semuanya tidak akan terjadi. Ponsel Stela berdering dan ternyata itu dari Zelle, langsung ia mengangkatnya. "Hallo nona anda di mana? Ini sudah larut malam. Apa anda tidak pulang malam ini?" tanya Zelle. "Saya baru dirumah sakit." balas Stela menahan tangisnya. "Apa nona baik baik saja? Anda dirumah sakit mana Nona? Biar saya dan pengawal menuju rumah sakit itu?" tanya Zelle cemas. "Tidak usah, aku baik baik aja." balas Stela. "Lalu siapa yang sakit nona?" tanya Zelle. "Lardo." balas Stela menahan air matanya. "Apaaaa tuan Lardo? Pria yang waktu itu mengantarkan nona pulang?" tanya Zelle panik. Bagaimanapun Zelle masih sangat mencintai lardo walaupun Lardo sudah menyakitinya. "Iya." balas Stela. "Sekarang bagaimana keadaannya nona? Apa dia baik-baik saja?" tanya Zelle khawatir. "Kenapa terlihat khawatir? Kau mengenalnya?" tanya Stela. "Tidak nona. Saya hanya kasian saja." balas Zelle mencoba tenang. Stela tidak menjawabnya. Ia langsung mematikan ponselnya. Dokter yang menangani Lardo sudah keluar dari ruangan. Stela langsung beranjak menemui dokter itu. "Bagaimana keadaannya dok?" tanya Stela. "Luka dikepalanya parah. Dia mengalami koma. Anda harus banyak banyak berdoa untuk kesembuhannya. Semoga semua lekas membaik." ucap dokter itu. "Apa saya boleh melihatnya dok?" tanya Stela khawatir. "Boleh. Asal jangan menganggu pasien." balas dokter. Dokter itu pun langsung pergi meninggalkan stela sendiri. Stela menutup mulutnya dengan tangan, ia masih tak percaya lardo dalam keadaan koma. Stela berjalan keruangan lardo. Ditubuh lardo banyak berbagai alat medis. Melihat itu stela semakin menangis. Pria yang biasa menganggunya kini sedang terkapar lemah tak berdaya dan itu semua gara-gara stela. Mata stela menatapnya sayu. Stela berjalan mendekat kesamping lardo dan duduk didekat lardo. Tangannya menggenggam tangan lardo sambil mengangis. "Maafin aku. Tolong bangun, buka matamu " mohon Stela. Namun hasilnya nihil. Mata lardo masih setia terpejam. Itu membuat stela semakin sedih. Stela menjaga lardo sampai ketiduran disamping lardo. Tangannya tetap memegang tangan lardo. --- Sinar matahari terpancar cerah hingga masuk kedalam ruang perawatan melalui celah cendela itu membuat stela terbangun. Ternyata stela semalaman menunggu lardo sampai ketiduran. Stela bangun melihat lardo berharap pria yang dihadapannya itu sudah membuka matanya. Namun ternyata masih setia menutup matanya. Hati stela terasa sakit melihat laki laki dihadapannya itu terkapar lemah tak berdaya. "Aku pergi sebentar." pamit Stela. "Aku akan kembali" ucapnya lagi sambil beranjak pergi. Stela pulang ke mansion untuk membersihkan dirinya. Pulang menggunakan mobil lardo. Hal itu membuatnya meningat kejadian semalam. Kejadian itu selalu terbayang dipikiran stela. Namun mau gimana lagi? Andai waktu bisa diulang kembali, Stela pasti akan pulang bersama lardo malam itu. Namun sudahlah, semua sudah terjadi dan harus dijalani. Tak terasa stela sudah sampai didepan gerbang mansion. Tinnn tinnn tinnnn... Mendengar klakson penjaga itu langsung membuka gerbang. Stela langsung menjalankan mobilnya ke arah mansion dan langsung disambut zelle. "Nona Stela bagaimana keadaan tuan Lardo?" zelle berjalan mendekat ke stela dengan cemas "Koma" balas Stela sambil pergi menuju kamarnya. "Semoga cepat sembuh nona." ucap Zelle sambil tersenyum. Zelle tak mau mendapat masalah. Dia tak mau stela mengetahuinya bahwa dia pernah mempunyai hubungan dengan lardo. Walapun zelle hanya dimanfaatkan. Tetapi zelle tidak bisa membohongi hatinya. Dia masih tetap mencintai lardo. Stela masuk kekamar dan langsung mandi. Selesai mandi stela prepare untuk kerumah sakit lagi. Tak lupa makeup tapi tetap natural. Agar kelihatan lebih fresh. Semua sudah selesai, stela sudah siap. Stela berjalan kebawah menuruni tangga. Diliatnya zelle diruang tamu kelihatan gelisah. Lantas stela mengeryit bingung. "apa Zelle mengenal lardo?" batin stela bertanya. Namun stela langsung menepisnya. Mana mungkin lardo kenal zelle. Lardo orang keras kepala mana mungkin zelle mau kenal dengannya. Lantas Stela berjalan menuju kearah Zelle. "kau kenapa gelisah seperti itu?" "emm... Tidak apa nona." balas Zelle tersenyum canggung. "emm.. Nona mau kerumah sakit?" tanya Zelle. "Iya." balas Stela. "Apa saya boleh ikut nona?" tanya Zelle takut. "Boleh." balas Stela sambil berjalan keluar mansion dan diikuti zelle. Mereka berdua masuk mobil dan melajukan dengan kecepatan sedang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD