Stela pergi kedapur untuk mengambil minum. Lardo terus saja mengikuti Stela dari belakang dan itu membuatnya risih.
"Stop! Jangan mengikutiku lagi!" kesal Stela.
"Memangnya tidak boleh mengikuti pacar sendiri?" tanya Lardo.
"Indah sekali mata hijau itu" batin Lardo.
"Tidak!" ketus Stela.
"Tapi suatu saat kau akan suka saat aku terus mengikutimu seperti ini." ucap Lardo.
"Tidak akan!" ucap Stela mencebik sebal.
"Ya tunggu saja." ucap Lardo sambil mengedipkan mata sebelah.
Stela diam tak menjawab. Baginya dia hanya akan membuang buang waktu jika menjawabnya lagi. Memang pria itu keras kepala, b******k lagi. Tapi dia sangat tampan, apalagi mata itu, mata biru yang indah, tidak bisa dipungkiri pria itu memang menawan.
"Kau tinggal di sini sendiri?" tanya Lardo.
"Bukan urusanmu." balas Stela malas.
"Kalau orang tanya itu di jawab." ucap Lardo.
"Daddy & Mommy." balas Stela jengah.
"Oh begitu." ujar Lardo mangguk-mangguk.
"Orangtuamu kemana? Kok disini sepi?" tanya Lardo lagi.
"Bukan urusanmu!" bentak Stela.
"Mana ponselmu??" tanya Lardo.
Stela mengeluarkan ponselnya dari saku. Langsung saja Lardo merebutnya.
"Main sahut-sahut aja sih." cibik Stela.
"Kita pacaran tapi aku tidak punya nomormu" ujar Lardo menyimpan nomor Stela.
Stela hanya diam tidak peduli. Setelah selesai menyimpan nomornya Lardo segera mengembalikan ponsel Stela.
"Aku pulang dulu." pamit Lardo sambil mengecup bibir Stela dan segera bergegas pergi dengan kekehannya.
"DASAR m***m!" teriak Stela.
Lardo melewati Zelle yang sedang duduk melamun diruang tamu. Zelle melihat Lardo dengan rasa dendam yang teramat besar. Namun lardo hanya mengacuhkannya sambil tersenyum sinis.
---
Dimalam hari Stela merasa kesepian. Daddy belum pulang sibuk dengan kerjaannya. Mommy belum pulang masih pergi bersama teman-temannya. Stela segera menelefon sahabatnya Fredella.
"Dimana?" tanya Stela.
"Club biasanya. Ada apa?" balas Della.
"Sama siapa?" Tanya stela.
"Rad" jawab Della.
"Okay." balas Stela.
"Ada apa? Kau mau kesini?" tanya Della.
"Tidak. Aku ingin istirahat saja malam ini." jelas Stela.
Stela langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban Della. Tiba-tiba ponsel stela berdering. Ada telfon dari nomor yang tidak dikenal. Stela langsung menolaknya. Namun ponselnya berdering lagi. Tapi alih-alih menjawab malah ditolak lagi oleh Stela, hingga ponsel Stela berdering terus menerus. Itu membuat stela kesal lalu mengangkatnya.
"s**t! Kau siapa berani menganggu istirahatku?" bentak Stela.
"Hai baby Ala, selamat malam. Ini aku pacarmu yang super tampan." ucap Lardo.
"Stop gangguin aku!" kesal Stela.
"Tidak bisa Ala, aku selalu merindukanmu." balas Lardo terkekeh.
"b******k!" umpat Stela.
"Baby Ala bicaranya yang bagus ya. Tidak baik wanita berbicara seperti itu." Ucap Lardo.
"I dont care!" ketus Stela
"Hm ya sudah. Kau dimana?" tanya Lardo.
"Mansion." balas Stela.
"Pukul 08.00 malam aku jemput, kita dinner. Tidak ada kata penolakan atau aku bilang daddymu." ucap Lardo sambil mematikan telphonennya.
"Ancem terus!" kesal Stela.
Stela beranjak dari kasur dan mencari baju untuk dinner pertama kalinya. Terpaksa. Ya, terpaksa karena Lardo mengancamnya. Stela memilih memakai dress berwarna putih diatas lutut dan dibiarkan rambutnya tergerai. Tak lupa ia memoles wajahnya dengan makeup. Tidak terlalu tebal, lebih tepatnya natural. Stela terlihat cantik dan anggun. Apalagi mata hijau yang membuat semua cowok melihatnya kagum.
Tinn tinn tinnn...
Terdengan suara klakson mobil berbunyi dan itu sudah dapat dipastikan mobil lardo. Ya, lardo sudah menunggu didepan mansion. Stela bergegas kebawah dan membuka pintu mansion. Lardo keluar dari mobil terkejut diam mematung melihat penampilan stela dari atas sampai bawah. Sungguh cantik dan sangat anggun.
"Tidak usah lihat-lihat." sarkas Stela sinis dengan memincingkan matanya.
"Emang tidak boleh melihat pacarnya sendiri?" tanya Lardo.
"Tidak!" sarkas Stela.
"Kau tampak cantik malam ini." puji Lardo.
"Memang. Dari dulu!" balas Stela percaya diri.
"Ayo berangkat, keburu malam." ajak Lardo sambil menggandeng tangan Stela. Tak lupa membukakan pintu mobil untuk Stela.
"Silahkan masuk baby Ala." ucap Lardo tersenyum.
"Thank." balas Stela.
Lardo bergegas menuju mobil dan membuka pintu untuk dirinya sendiri. Lalu menyetir dengan pelan sambil sesekali melihat Stela. Diperjalanan mereka berdua hanya diam tanpa saling bicara.
Akhirnya mereka tiba disalah satu cafe terkenal di New York. Lardo membukakan pintu mobil untuk stela.
"Silahkan baby Ala" ucap Lardo sambil tersenyum manis.
"Thank." balas Stela sambil keluar dari mobil.
Lalu mereka berdua duduk ditempat yang sudah lardo pesan. Tempatnya romantis, cocok untuk orang pacaran. Lilin satu ditengah menambah kesan romantis. Sederhana namun bisa membuat stela tersenyum. Pada dasarnya stela memang tidak pernah dinner, bahkan pacaran saja belum pernah merasakan. Tapi banyak para pria yang ingin menjadikannya pacarnya bahkan istri. Namun Stela menolaknya mentah-mentah.
"Kau suka?" tanya Lardo.
"Biasa saja." balas Stela mencoba menutupi kebahagiannya. Namun lardo mempunyai kepekaan yang kuat. Lardo sebenarnya tau, tapi dia hanya diam saja karena tidak mau membuat acara malam ini berantakan.
Lardo menarik tangan stela dan memasangkan cincin itu jari manisnya.
"Sekarang kau milikku. Ini cincin sebagai bukti bahwa kau milikku." ucap Lardo melihat Stela sambil tersenyum manis.
Stela tidak menjawab, dia masih terkejut apa yang dilakukan pria b******k itu. Tiba-tiba mengklaim seenaknya bahwa Stela miliknya tanpa menunggu jawaban Stela. Stela merasakan ada yang mencium keningnya. Pria b******k itu yang menciumnya. Stela hanya diam menutup mata saat lardo menciumnya. Jantung stela berdetak kencang. Tidak tau apa sebabnya. Yang penting sekarang stela menjadi gugup. Namun stela menepisnya. Didepan ini hanya laki laki b******k yang hanya mempermainkan perempuan. Tidak, stela tidak percaya dengan lardo.
"Aku tidak mau!" ketus stela sambil melepaskan cincin itu.
"Tidak ada penolakan Stela!" bentak Lardo.
Stela diam. Dia takut dan terkejut. Dia bahkan tidam percaya baru melihat lardo semarah ini dan membentaknya. Untuk sekarang biarlah stela mengalah.
Lardo memasangkan cincin itu kembali ketempat semula, jari manis stela. Terlihat cantik seperti yang memakainya.
Setelah itu mereka makan bersama tanpa ada sepatah kata apapun. Lardo hanya sesekali tersenyum menatap wajah stela dan itu membuat stela kembali gugup. Baru sekarang stela merasakan perasaan seperti ini. Ada apakah ini? Mengapa perasaan stela menjadi seperti ini? Apa stela jatuh cinta? Tidak tidak mungkin. Bahkan stela sangat membenci laki laki b******k itu. Stela menepis pertanyaan pertanyaan konyol itu. Pikirannya sudah rusak mungkin sejak bertemu dengan laki laki b******k itu.