Part 04

1231 Words
Sesampai di depan mansion Lardo segera turun dan membuka pintu mobil untuk Stela. Sedangkan Stela turun dengan wajah kesalnya. "Cepat masuk." ketus Stela. "Okay baby Ala." balas Lardo tersenyum. "Tidak perlu pakai embel-embel baby, lebay!" ketus Stela "Kita kan pacaran, jadi terserah aku dong." balas Lardo dengan senyum smirknya. "Tidak boleh!" ucap Stela cepat. "I dont care." balas Lardo. Stela tidak ingin menjawab Lardo lagi. Stela males berdebat, lagian kalo Stela menjawab pasti ngga bakal selesai selesai. Lardo memang keras kepala, apa yang dia mau harus terpenuhi dengan cara apapun. Melihat Stela datang penjaga itu langsung bergegas membukakan pintu mansion itu. Stela bergegas masuk ke mansion. Lardo membuka pintu dan mengikuti Stela dari belakang. Di dalam Stela bertemu dengan Grizelle yang tengah duduk diruang tamu, Zelle tersenyum manis melihat stela datang. Tiba-tiba di belakang ada pria yang mengikuti Stela. Zelle melihatnya lantas terdiam mematung melihat pria itu. Terlihat Zelle menahan sesak didada. Bayangan masalalu yang dibuang jauh-jauh lantas teringat kembali. Adelardo Garnaraga pernah menjalin hubungan dengan Grizelle. Lardo dan Zelle dulu bertemu disalah satu club malam di New York. Banyak kenangan yang telah di lalui mereka berdua. Zelle sangat mencintai Lardo. Namun sebaliknya Lardo hanya ingin merusak Zelle. Lardo selalu memanjakan Zelle dengan uangnya dan Zelle memberikan keprawanannya untuk Lardo. Waktu itu Zelle dan Lardo sedang ada diapartemen Lardo. Hanya ada mereka berdua Zelle dan Lardo. "Apa kau mencintaiku sayang?" tanya Lardo sambil membelai rambut Zelle. "Ya, apa kau meragukan cintaku sayang?" balas Zelle. "Buka begitu sayang. Apa buktinya kalau kau mencintaiku?" tanya Lardo. "Kau mau bukti apa sayang supaya kau percaya akan cintaku ini?" balas Zelle menatap mata Lardo dengan serius. "Aku ingin bercinta denganmu sayang." ucap Lardo tersenyum manis melihat sambil melihat Zelle. "Apa kau bercanda sayang? Kita belum menikah. Aku menjaga keprawananku ini untuk suamiku kelak dan kau belum tentu menjadi suamiku." balas Zelle. "Apa kau tidak percaya denganku?" tungkas Lardo. "Aku percaya sayang." balas Zelle tersenyum manis. "Lalu kenapa kau masih meragukanku?" tanya Lardo ketus. "Bukan begitu sayang. Aku hanya takut setelah kau merasakan tubuhku lalu kau meninggalkanku." ucap Zelle. "Tidak akan sayang. Apa kau percaya padaku?" ucap Lardo mengelus pipi Zelle. "Ya aku percaya padamu Lardo." balas Zelle tersenyum. "Jadi apa kau mau bercinta denganku?" tanya Lardo antusias. Zelle hanya mengangguk dan tersenyum malu. Lardo tersenyum puas melihat anggukan Zelle. Itu artinya Zelle setuju. Lardo langsung melumat bibir Zelle dengan rakus, Zelle pun membalasnya. Lardo mengangat tubuh zelle keatas ranjang dan menidurkan zelle tanpa menghentikan ciumannya itu. Tangan Lardo tidak tinggal diam, tangan kekar itu meraba p******a milik Zelle. Lardo melepas ciuman itu lalu pindah kearah leher membuat sang empu merasakan desiran panas yang belum pernah di rasakannya. Tangan Lardo membuka baju Zelle dan melepas bra yang Zelle kenakan. Kini tinggal celana yang menutupi tubuh Zelle. Lardo langsung mengulum p****g Zelle dan sesekali memberikan tanda merah. Tangan satunya memilin p****g Zelle membuat sang empu merasakan kenikmatan. Tanpa sadar Zelle mendesah. Membuat lardo senyum puas karena Zelle sudah di atas batas sadar. Lardo langsung melanjutkan aksinya. Lardo pindah melumat telinga Zelle. Itu membuat Zelle lebih mendesah. "Ahhh geli sayang." racau Zelle kenikmatan. Lardo tidak membalas ricauan Zelle. Sekarang lardo menuju bawah dan melepaskan rok yang dipakai Zelle. Segera lardo melepaskan celana dalam zelle yang masih tertinggal. Melihat v****a zelle membuat yang ada didalam celana lardo meminta dipuaskan. Sudah tidak tertahankan lagi. Tapi lardo menahannya. Lardo menciumi v****a Zelle dengan rakus dan kasar. Zelle semakin mendesah menahan geli yang ada dibawah sana. Melihat itu lardo semakin gencar melumat liang kewanitaan Zelle. Sesekali lidahnya menerobos liang kewanitaan Zelle. "Ahhhh Lardo itu nikmat sekali" racau Zelle. "ini masih belum seberapa sayang, tunggu waktunya tiba kau akan lebih merasakan surga dunia" balas Lardo lalu melepaskan celana yang dipakainya. Kini Lardo sudah naked di depan Zelle, melihat itu Zelle menatap lardo sambil menelan ludah susah payah. "Kenapa kau melihatku begitu sayang? Apa punyaku kurang besar?" tanya Lardo dengan senyum smirknya. Zelle melotot tak percaya lardo mengucapkan itu dengan entengnya membuatnya kikuk menahan malu. Segera Lardo menindih tubuh Zelle dan langsung melumat bibir Zelle dengan rakus sambil mengesek yang dibawah sana. Zelle membalas ciuman Lardo dan menahan nikmat yang ada dibawa sana. Setelah puas Lardo kembali kebawah dan memasukan satu jari tengah kedalam v****a Zelle lalu mengeseknya hingga membuat Zelle meracau kenikmatan. "Ahhh Lardo aku mau pipis." racau Zelle menahan yang akan keluar didalam sana. "Keluarkan saja sayang" balas Lardo sambil menggesek gesekan jarinya kedalam liang kewanitaan Zelle. Bahkan sekarang sudah tiga jari yang mengesek diliang kewanitan Zelle, membuat Zelle sudah tidak tahan lagi dan keluarlah orgasmenya yang pertama. Lardo sudah tidak tahan lagi. Lardo menatap Zelle tersenyum dan di balas senyumannya oleh Zelle. "Ini cuma sakit sebentar, selanjutnya akan nikmat. Tahanlah sayang." ucap Lardo mencium bibir Zelle. "Aku takut Lardo." balas Zelle cemas. "Tidak usah takut sayang. Ini akan nikmat." ucap Lardo menenangkan. Zelle tidak menjawab hanya ada senyuman dibibirnya, itu membuat Lardo puas dan melakukan aksinya. Lardo mulai memasukan kedalam liang kewanitaan zelle. Tapi itu terlalu sulit karena v****a zelle masih sempit. Tapi lardo sudah tidak tahan akan napsunya. Lardo mulai menggesekkan di v****a Zelle dan langsung memasukkan kedalam v****a Zelle dengan sekali hentakan yang kuat membuat Zelle terbelalak kaget menahan rasa sakit diarea kewanitaanya.  "Akkkhhhh sakitttttt." teriak Zelle frustasi. "Tahan sebentar sayang, setelah ini cuma akan ada kenikmatan." ucap Lardo mencium bibir Zelle. Tak terasa mata Zelle mengalir deras menahan rasa sakit. Tangan zelle mencengkram pundak lardo untuk mengurangi rasa sakit. Lardo mengehentikan agar Zelle bisa bernapas sebentar. Terlihat darah segar mengalir dibawah sana. Setelah itu lardo langsung mulai menggeseknya lagi dengan pelan. Awalnya Zelle masih kesakitan menahan perih, tapi lama kelaman rasa sakitnya menjadi rasa nikmat. Tanpa sadar zelle mendesah dalam nikmat. "Ahhhh ini nikmat sayang" racau Zelle menggeliat. Lardo semakit cepat memaju mundurkannya, membuat tubuh Zelle terhentak mengikuti dorongan Lardo dibawah sana. "Aahhh lebih cepat lagi sayang." racau Zelle. "Ahhh iya sayanggg." balas Lardo. "Aahhhhhh ahhhh ahhh." desah Zelle. "Punyamu sempit sekali sayang ahhh ahhh ahhh." racau Lardo. "Ahhhhh aku mau keluar sayang" ucap Zelle. "Tahan sebentar sayang, kita keluarin bareng." balas Lardo. "Ahhhh ahhh ahhhh." mereka melepaskan bersama. Lardo o*****e yang pertama dan Zelle o*****e yang kedua. "Terimakasih sayang kau nikmat sekali " ucap Lardo mencium kening Zelle dan tidur disamping Zelle dengan napas terengah-engah. Zelle langsung memeluk Lardo dengan erat. Lalu mereka tidur bersama. Beberapa hari setelah kejadian itu Lardo menjadi susah dihubungi. Zelle khawatir jika Lardo akan meninggalkannya. Zelle mencoba menghubunginya namun hasilnya nihil. Zelle tidak putus asa, dia tetap mengubungi lardo lagi. Akhirnya Lardo menggangkat telphon dari Zelle. "Lardo kau dimana? Kenapa beberapa hari ini kau susah dihubungin?" tanya Zelle panik. "Aku sibuk, jangan ganggu." ketus Lardo "Apa kau tidak ada waktu untukku? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?" Tanya Zelle menahan isakanya. "Ya, aku memang tidak mencintaimu, aku hanya ingin tubuhmu. Tidak lebih!" tungkas Lardo. "b******k!" teriak Zelle frustasi. Lardo tidak menjawab dan langsung mematikan telpon itu. Betapa bodohnya Zelle menyerahkan dirinya untuk pria b******k seperti itu. Kini yang ada hanya isak tangis Zelle yang semakin keras. Tiba-tiba ada tangan yang menepuk pundaknya membuat lamunannya buyar. Terlihat air mata itu segera turun dari kelopak matanya. "Kau menangis? Kenapa?" tanya Stela. "tidak Nona Stela, Saya tidak kenapa-kenapa." balas Zelle tersenyum menahan sesak di dadanya. "Kau boleh cerita sama saya kalo ada yang menyakitimu." ucap Stela tegas lalu berjalan ke dapur. Lardo melihatnya sebentar dan tersenyum smirk lalu mengikuti Stela dengan wajah tak berdosa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD