Mas Duda & Miss Bar-bar

1059 Words
Satu minggu kemudian.  “Sean titip Rissa ya, Ma. Sebenarnya aku juga nggak mau ninggalin tapi benar-benar kerjaannya nggak bisa di wakilin, harus aku yang datang.” Sean tiba-tiba saja harus terbang ke Bali karena salah satu hotel miliknya mendapatkan masalah. Entah apa yang di lakukan manager hotelnya di sana yang membuat seluruh pegawai hotel melakukan mogok kerja dan meminta pemilik hotel untuk bertanggung jawab. Baru kali ini Sean bahkan dibuat geram dengan orang yang di berikan tanggung jawab untuk mengurus hotel yang berada di sana. Sampai pegawainya mogok kerja seperti ini, benar-benar memalukan sekali. Sean mendapatkan kabar tersebut tadi malah setelah salah satu orang yang memang Sean minta untuk selalu mengawasi hotel mengatakan bahwa semua pegawai tidak datang untuk bekerja. Bagaimana nasib orang-orang yang menginap di hotel itu, Sean tidak habis pikir. “Iya kamu tenang aja, kaya sama siapa sih. Lagian Mama senang banget kalau Rissa bisa sama Mama di sini.” Kali ini Sean menatap kepada sang anak yang tampak cemberut sambil memeluk boneka kesayangan gadis kecil itu karena mengetahui kalau papannya akan pergi jauh tanpa dirinya. Mengingat meski Sean sibuk bekerja, tidak akan pernah meninggalkan anaknya selama ini. Satu minggu tentu sangat lama kan untuk gadis kecil itu jauh dengan sang ayah. “Papa janji bakalan selesai lebih cepat, Rissa sama Nenek dulu ya. Nanti Rissa mau di beliin apa?” Rissa menggeleng dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca. “Lissa cuma mau Papa aja, jangan ninggalin Lissa ya, Pa,” lirihnya membuat hati Sean tidak tega meninggalkan anaknya, tetapi mau bagaimana lagi ini pekerjaannya. “Papa nggak ninggalin Rissa kok. Papa kan kerja aja nanti pulang lagi dan bisa main deh sama Rissa.” “Janji?” Rissa menatap Sean meminta sang ayah untuk berjanji dengan mengacungkan kelingkingnya. Sean tersenyum lembut menyatukan kelingking mereka, “Papa janji. Nanti kan bisa video call pakai handphone Nenek atau Tante Ara.” Rissa mengangguk, kembali tersenyum. “Pinter banget anak papa.” Sean mengelus rambut sang anak, memberikan kecupan lembut di puncak kepalanya. “Papa berangkat dulu ya, nanti kalau sudah sampai Papa kabarin dan kita bisa video call,” ucap Sean yang lagi-lagi di balas oleh sang anak dengan anggukan kepala. ** “Cowok ke sepuluh yang pernyataan cintanya lo tolak selama dua minggu ini,” ucap Rashi melihat lelaki yang baru saja berlalu meninggalkan mejanya dengan Lea. Mereka memang sedang makan siang di kantin Fakultas dan pemandangan yang tidak asing lagi adalah Lea yang mendapatkan pernyataan cinta dari mahasiswa di sini. Entah dari Fakultas yang sama dengan mereka atau dari Fakultas lain. Aeleasha, gadis itu memag begitu populer meski bar-bar namun pesonanya selalu membuat lelaki terpikat dan ingin sekali menyetuh hati gadis tersebut. Namun selama sekolah dan sampai sekarang Lea sudah menjadi mahasiswa, tidak ada satu pun lelaki yang bisa menyentuh hatinya. Lea terlalu mengagumi sosok aktor korea sampai ingin sekali memiliki kekasih yang berparas mirip aktor dari negeri ginseng tersebut. Namun tidak hanya paras saja, karena meskipun lelaki yang menyatakan cinta kepadanya sudah sipi-sipit mirip aktor korea kalau hatinya tidak sreg, tetap saja Lea tolak.       Cara menolaknya tetap sama, dari lelaki pertama sampai lelaki terakhir tadi yang menyatakan cinta di dua minggu terakhir ini. Lea menolak dengan mengataan sorry, kakak gue suka makan orang apalagi cowok yang dekat sama gue. Ajaib sekali kan perkataannya, meski membuat lelaki yang menyatakan cinta kepadanya kebingungan dan terus memaksa, tetapi akhirnya kabur juga karena jurus selanjutnya adalah Lea akan menendang kaki lelaki itu. Jangan salah, Lea ini jago bela diri. Gurunya adalah sang kakak, Geraldi Rional Dexter. “Lagian kenapa sih pada ngebet banget, udah tahu gue tolak, masih aja ngulang kesalahan yang sama,” gerutu Lea mengingat lelaki tadi adalah lelaki yang sama dengan kemarin. Lelaki ke sembilan dan sepuluh adalah orang yang sama, tidak menyerah meski kemarin di tolak oleh Lea. “Artinya dia pantang mundur, maju terus biar pun mentok.” Rashi melahap makanannya kembali setelah terganggu karena kedatangan lelaki tadi, mereka pun kembali menyantap makanan masing-masing. “Maju mundur cantik dong biar kek princess.” Tak berselang lama seorang lelaki datang menghampiri meja mereka, duduk di hadapan Lea tanpa merasa bersalah. “Muncul demiit,” celetuk Rashi. “Siialan, lo!” umpatt lelaki itu mendengar ejekan Rashi yang memanggilnya demiit. “Fakultas lain ada yang ngajak lo balapan, Le,” ucap lelaki itu. Fyi. Lea memang kerap kali balapan motor. Tanpa orang-orang terdekatnya ketahui gadis itu terkenal ratu jalanan. Tidak banyak yang tahu identitas dari Lea yang merupakan raja jalanan karena yang mereka tahu Lea adalah lelaki, atau kerap kali mereka panggil King. Hanya kedua orang yang berada di hadapannya ini yang mengetahui semua itu. Untuk yang lainnya meski mereka di lingkaran yang sama, tidak pernah tahu identitas asli Lea karena setiap kali mereka berkumpul, Lea akan mengenakan jaket hitam, topi dan masker.   “Kok lo tahu?” tanya Lea. “Dengar doang, yang lain pada heboh gitu deh kalau si Hans bakalan tantang  King balapan. Nanti juga ada info dari anak-anak.”      “Kapan?” “Nanti malam.” “Ya Ayah gue lagi di rumah.” “Gampang itu, nanti gue yang bantuin lo ijin.” “Bilang gimana?” “Ya bilang aja kalau kita mau kencan.” “Mana ada kencan jam sepuluh malam, Maesaroh!” seru Lea. “Lagian siapa juga yang mau kencan sama lo, cowok tukang php. Tobat El, kasihan anak gadis orang kena harapan palsu terus.” El atau Gabriel terkekeh mendengar perkataan Lea. Selain Rashi yang merupakan sahabatnya. Satu-satunya lelaki yang dekat dengan Lea adalah Gabriel, hal tersebut karena mereka merupakan teman sejak masuk ke sekolah menengah pertama, yang saat itu sang bunda mengenalkan Lea kepada Gabriel yang merupakan anak dari teman bundanya. Dulu Gabriel ini sulit sekali untuk bersosialisasi, hanya dengan Lea yang  meski menyebalkan sekali di mata Gabriel karena tingkah laku Lea yang kadang memalukan, tetapi Lea selalu ada bersamanya. Menjadi orang yang paling depan saat Gabriel di bully karena tubuhnya yang gemuk, tidak lupa dengan kacamata yang bertengger di wajahnya. Kalau sekarang, Gabriel sudah berubah. Lelaki itu berubah menjadi begitu tampan dan menjadi idola para perempuan. Tidak untuk Lea, karena di matanya Gabriel tetap lah orang yang sama. Masih Gabriel si teman cupunya waktu sekolah dulu. Tidak akan ada yang menyangka kalau lelaki itu sangat berbeda dengan masa lalunya. Dan tidak ada yang tahu bagaimana Gabriel dulu kecuali Aeleasha.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD