Ratu jalanan & Raja sibuk

1447 Words
Suara riuh dan teriakan kemenangan sang Raja jalanan menyambut Lea yang memang memenangkan balapan malam ini. Memang sudah tidak ada tandingan siapa pun yang melawannya maka akan di kalahkan dengan begitu mudah. Semua orang memberikan selamat kepada Lea yang seperti biasa menggunakan masker dan topi hitam sebagai ciri khasnya malam ini. El yang berada di samping Lea merangkulnya tanpa canggung. “Udah nggak tahu lagi gue harus bilang apa, emang lo keren banget!” seru El yang tidak pernah salah dengan tebakannya kalau Lea akan selalu memenangkan balapan. “Makasih juga karena lo udah bisa bawa gue keluar dari rumah,” ucap Lea. Yang memang tadi El berhasil meyakinkan ayahnya untuk membawa Lea jalan keluar rumah, apalagi ada sang ibu yang tentu memberikan ijin karena sudah tidak asing lagi dengan kedekatan El dan anaknya. “Jam sembilan ni, gue anterin lo balik lah,” ucap El setelah melihat jam di pergelangan tangannya. Ia sudah berjanji akan membawa pulang Lea tidak lebih dari jam sembilan malam, mereka juga datang dengan Rashi tetapi gadis itu tengah bersama dengan gebetannya, katanya sih sedang tahap pendekatan tingkat akhir. Memang ada-ada saja. Lea mengangguk setuju, ia juga tidak mau di curigai karena pulang terlalu malam oleh ayahnya, belum lagi kakak lelakinya yang pasti sudah menjadi satpam rumah yang menunggu di depan pintu kalau Lea belum juga pulang. “Rashi gimana?” tanya Lea kepada El, sejak tadi ia belum melihat keberadaan Rashi, meski sahabatnya itu mengatakan tengah bersama dengan gebetan tetapi Lea pikir masih berada di sekitaran tempat balapan, ternyata tidak terlihat batang hidungnya. “Tadi chat gue, katanya udah pulang di telepon nyokap.” Lea mengangguk, kemudian mengajak El untuk segera pergi dari wilayah balapan, malam ini aman sekali untuk mereka, karena tidak ketahuan oleh pihak keamanan, bisa gawat kalau sampai ketahuan, urusannya akan panjang dan Lea pasti ketahuan oleh kelurganya kalau terlibat balapan liar. “Lo mau beli jajan dulu nggak, Le?” tanya El, mereka sudah dalam perjalanan pulang dengan El yang membonceng Lea, motor yang Lea gunakan untuk balapan tadi juga milik El. Karena tidak mungkin membawa motornya keluar di saat El sudah ijin mengajak jalan, bisa curiga kalau jalan berdua tapi memakai motor masing-masing. “Beli martabak, biasa buat tutup mulut kakak gue biar nggak ngomel karena pulang malam,” balas Lea dengan tubuh agak ke depan agar El bisa mendengarnya. El mengangguk, segera menuju penjual martabak langganaan mereka. ** Lea memberikan jaket hitam kepada El setelah turun dari motor lelaki itu. Mereka sudah berada di depan rumah Lea. “Sekali lagi makasih, El. Emang sohib gue paling baik deh.” Lea masih berdiri di samping El yang duduk di atas motornya, lelaki itu tersenyum manis sembari menganggukkan kepalanya. “Selow, Le. Apa sih yang nggak bisa gue lakuin buat lo,” ucapnya di akhiri dengan kekehan. Sementara Lea tampak mendengkus mendengar perkataan El yang menjurus ke gombalan receh seperti biasa. “Gembel lo!” “Cakep gini gue di sebut gembel. Emang asuu!” “Heh! Mulut lo minta gue tambol pake asbak!” seru Lea mendengar umpataan dari mulut El tadi. “Canda, cantik.” “Emang gue cantik, baru tahu lo,” balas Lea mengibaskan rambutnya. “Iya-iya udah sono, anak gadis nggak boleh di luar malam-malam,” usir El yang membuat Lea kembali mendelik. “Tadi apaan, Juminten. Gue kan di ajak lo keluar malam-malam, sekarang lo bilang aak gadis nggak boleh keluar malam, otak lo sehat,” ucap Lea penuh penekanan pada perkataannya. El malah terkekeh, senang kalau bisa membuat Lea marah, melihat wajah garang gadis itu menjadi hiburan tersendiri untuk seorang Gabriel.   “Udah sana masuk, gue juga mau balik,” pamit El. “Hati-hati lo, nggak usah ngebut cuma beda komplek juga.” “Siap madam. Lo kaya nyokap gue ya lama-lama.” “Lah istri kedua bokap lo dong gue.” “Anjiirr! Amit-amit dah, lo nggak boleh kaya gitu, Le.” “Ya ampun maaf-maaf, canda doang Om.” “Om-om mata lo kelilipan! Jangan bercanda kaya gitu anjirr.” “Iya-iya khilaf tadi, lagian gue nggak tertarik sama yang udah punya istri. Cewek apaan gue anjiir kalau kaya gitu, mending sama—“ “Mending sama gue,” ucap El memotong perkataan Lea. “Kiamat dong dunia.” “Kamvret lo!” ** Pagi ini Lea hampir saja terlambat, semalam setelah pulang balapan dengan El lalu makan martabak dengan kakaknya, Lea malah berlanjut menonton drama korea yang masih tersisa dua episode, alhasil malam itu ia menonton sampai tamat. Alarm di kamarnya, di tambah suara sang bunda yang membangunkan dirinya dari luar kamar, baru membuat Lea terbangun dengan terbirit-b***t masuk ke dalam kamar mandi. Sekarang Lea sedang sarapan dengan yang lain. Makan dengan tenang meski waktu hampir menunjukkan pukul tujuh tepat, ada jam kuliah di pukul delapan tetapi perjalanan dari rumah menuju kampur luar biasa sekali, kalau Geral bilang Lea ini terlalu lebay padahal hanya butuh waktu setengah jam saja sampai di kampusnya. “Kakak yang anter,” ucap Geral selesai mereka sarapan. Sang ayah sudah lebih dulu berangkat ke rumah sakit, katanya ada operasi pagi. Lea yang hendak beranjak dari kursinya menatap ke arah Geral. Lea sedang ingin memakai motonya dan tidak mau di antar oleh sang kakak. “Aku pakai motor aja, udah lama nggak di pake nanti rusak,” ucap Lea yang sudah memegang kunci motornya. Geral mencibir, “Alasan, awas aja kalau ngebut. Masih ada waktu dan kamu nggak akan telat ke kampus kan.” “Iya bawel, Lea berangkat mau pamitan sama Bunda di depan,” ucap Lea kemudian membawa tasnya dan segera berlalu dari ruang makan.  “Bun, Lea berangkat ke kampus ya, pakai motor.” Lea berjalan mengahampiri bundanya yang tengah menyiram tanaman. “Nggak di antar sama Kakak?” tanya sang bunda. Lea menggeleng, “Pulangnya ada janji sama Rashi mau ke toko buku, biar gampang bawa motor aja.” Ayara –Bunda Lea- mengangguk, setelah itu Lea pamit dan mencium tangan bundanya, berjalan ke arah sepeda motor yang sudah terparkir cantik di halaman depan rumah. Lea begitu bersemangat karena sudah cukup lama ia tidak memakai motor kesayangannya ini, motor gede yang di hadiahkan neneknya kepada Lea. Sebenarnya Lea sih yang juga merayu agar di belikan. ** Sean tengah sibuk dengan pekerjaannya, selama beberapa hari ini ia harus berada di bali untuk mengurus pekerjaannya, meninggalkan sang anak bersama dengan orang tuanya di rumah. Baru beberapa menit lalu mereka melakukan panggilan video, Sean sudah kangen. Tidak biasa meninggalkan Rissa dengan jarak jauh seperti ini, kalau untuk meninggalkan karena pekerjaan memang tidak asing tetapi kalau sampai berbeda pulau seperti sekarang baru pertama kali ia lakukan. Semoga tidak lagi karena belum sehari ia berada jauh dengan anaknya ternyata sudah sangat merindukan. Sean baru saja selesai sarapan, hari ini ia akan mengecek keadaan hotel dan melihat kekacauan apa saja yang terjadi di sana. Sean sendiri keheranan ini pertama kalinya hotelnya memiliki masalah sampai ia sendiri yang harus turun tangan. Hari ini sepertinya akan menjadi hari pertama yang begitu sibuk selama Sean berada di Bali. ** “Jadi apa yang sebenarnya terjadi di sini? Kemana Pak Herdi?” tanya Sean kepada salah satu pegawai hotelnya. Tadi saat ia sampai di hotel dan melihat suasana yang begitu ramai, mogok kerja beberapa pegawai membuat suasana hotel yang sedang banyak di kunjungi orang-orang membuat beberapa pegawai lain kewalahan. Sean bersyukur masih ada pegawai lain yang melakukan pekerjaan, sebelumnya ia mendapatkan laporan bahwa semua pegawai melakukan mogok kerja. “Sudah dua minggu Pak Herdi tidak ada, Pak. Saya dan yang lainnya curiga dengan tingkah laku Pak Herdi akhir-akhir ini.” Sean mengernyit kebingungan, “Memang ada apa dengan dia?” tanya Sean meminta penjelasan. Pak Herdi ini penanggung jawab di hotel yang di pilih oleh Sean, tidak menyangka malah melakukan hal yang begitu mengecewakan. “Mohon maaf, Pak, sebelumnya. Bukan saya lancang dan sampai menuduh, tetapi memang ada saksi yang melihat kalau Pak Herdi sering kali mengambil uang milik hotel dan di masukkan ke rekening pribadinya. Di tambah gaji pegawai yang mendapatkan potongan tanpa alasan dan semua ini membuat pegawai mogok kerja.” Sean terkejut dengan apa yang terjadi, tidak tahu kalau selama ini orang yang ia percaya malah melakukan tindakan yang sudah di pastikan menjurus ke arah korupsi kan. Padahal Sean begitu memercayakan hotel ini kepada Pak Herdi selama ini. Kalau sudah begini Sean tidak akan mempekerjakan lelaki itu di sini. “Kalau begitu saya akan segera urus semuanya, panggil Bagus ke ruangan manager,” perintah Sean kepada pegawainya. Sean duduk di kursi ruangan manager, memijat pelipisnya pelan, ia tidak menyangka sekali akan ada masalah seperti ini. Tetapi Sean bersyukur karena semua di ketahui secara cepat dan ia akan langsung menindak lanjuti apa yang terjadi, terutama untuk pegawainya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD