Lea tampak lesu setelah keluar dari ruang kelas di jam pertama kuliahnya. Semalam ia kurang tidur jadi pagi ini tidak begitu semangatk saat di dalam kelas. Lea bahkan hampir kena tegur kalau Rashi yang duduk di sampingnya tidak menyenggol kakinya yang sialnya sembari di injak membuat Lea mengumpat namun lebih dulu du bungkam oleh tangan Rashi, lagi-lagi sahabatnya itu sang penolong tetapi juga seringnya menyebalkan.
Mereka masih ada jam kedua di siang nanti, akhirnya memilih untuk mencari makan lebih dulu, katanya Rashi tidak sarapan karena tadi terlambat. Lea sampai keheranan kok bisa mereka kelihatan kompak seperti itu, bedanya Lea masih sempat sarapan itu pun masih was-was karena takut terlambat.
“Le, semalam lo sampe jam berapa sama si El? Menang balapannya?” tanya Rashi baru duduk di kursi kantin.
Suasana kantin masih sepi, hanya ada beberapa mahasiswa saja, mungkin sebagian besar berada di kelas masing-masing. Biasanya akan ada El juga bersama dengan mereka, tetapi lelaki itu belum kelihatan batang hidungnya. Maklum tadi El pergi duluan entah ke mana, kebiasaan anak itu memang hilang tiba-tiba, datang tiba-tiba, begitu kata Lea.
“Lupa gue pokoknya malam lah. Please ya pake nanya segala, ya pasti gue menang dong,” balas Lea dengan gaya songongnya membuat Rashi mendengkus. Lea terkikik melihatnya, “Lagian lo juga, lupa banget deh kalau udah sama gebetan, gimana udah jadian? Kasih gue pajak jadian lah kalau gitu,” lanjutnya kepada Rashi.
“Jadian dari dubai! Ya masa gue yang harus nembak dia duluan—“
“Matii dong,” sahut Lea memotong perkataan Rashi.
“Bukan kaya gitu, Marfuah! Yang jomlo nggak akan perna ngerti.”
“Anjirr banget lo! Sok banget ya sekarang, mentang-mentang udah punya gebetan. Lihat aja nanti kalau gue udah punya oppa korea, gue bakalan umbar-umbar sama lo.”
“Kek aiib anjirr di umbar,” celetuk Rashi.
Lea melotot mendengar perkataan sahabatnya. Aiib katanya? Seenak jidat sekali Rashi saudaranya Gopi itu kalau bicara. Bukannya mendoakan Lea mendapatkan jodoh oppa korea, malah menjengkelkan seperti itu.
“Gue lagi serius ini.”
“Mau banget di seriusin?”
“Udah lah! Nggak akan bener banget emang kalau kita berdua ngomong serius, lo somplak, gue jadi ketularan anjirr!” seru Lea.
Rashi terbahak, kalau tidak begini mana seru dan berwarna persahabatan ini.
“Eh beneran gue tanya serius ini, lo belum juga jadian sama si Maroko?”
“Marko, Le. Lo suka-suka banget ubah nama orang, kesian Bapak sama emaknya udah kasih nama bagus malah lo nistakan.”
“Canda elah. Sensi banget kek p****t bayi,” ucap Lea. “Jadi gimana jadian nggak?” pasalnya Lea begitu penasaran di karena kan ini pertama kalinya Rashi cukup lama dekat dengan seorang lelaki, pendekatannya terlalu lama kalau menurut Lea yang masih menjomlo sampai sekarang.
“Belum, dia nggak gerak banget. Gue kan kaya di kasih harapan palsu.”
“Kalau kaya gitu ngapain lo masih keukeh aja sama dia.”
“Ya gimana dong, Le. Gue udah suka banget sama dia dari lama terus sekarang bisa deket sama dia kan jadi gue berharap banget gitu bisa jadian, punya pacar dan nggak jomlo kaya lo,” ucap Rashi malah meledek Lea. Untung saja Lea sudah kebal kalau urusan perjomloan, memang sudah begitu adanya, mau bagaimana lagi, meski sesekali sensitif juga sih, suka-suka Lea saja mau bagaimana.
“Biar gue yang ngomong sama si Maroko lah. Nggak bisa gini! Masa sahabat gue kena harapan doang, emang minta di sambelin kali matanya.” Lea tampak emosi, memang kalau sudah urusan dengan sahabatnya, Lea akan menjadi orang paling depan dalam hal apapun. Tidak mau lah Lea kalau sampai sahabatnya kena PHP alias pemberi harapan palsu.
“Terharu banget gue punya sahabat kaya lo, Le. Tapi nggak gitu juga sih, biarin aja deh dia sadar sendiri, kalau emang dia suka juga sama gue, ya syukur, kalau nggak, ya mungkin belum jodoh.”
“Bijak sekali anda saudara Gopi.”
“Lea!”
**
Lea mendengkus kesal, ia baru saja sampai di rumah dan berada di kamar sedang merebahkan tubuhnya sebelum memiliki niat untuk mandi. Dan handphonenya tiba-tiba berdering dengan nama kontak sang penelepon ‘saudara Gopi’ membuat ia mau tak mau mengangkat panggilan tersebut, karena Lea yakin Rashi akan terus meneleponnya sampai di angkat olehnya.
“Iya, dengan Aeleasha Navya Dexter di sini. Ada perlu apa ya?”
Di seberang sana, Rashi memutar matanya jengah. Kelakuan sahabatnya memang selalu ajaib, tinggal menjawab halo saja pakai acara kalimat panjang seperti rel kereta api.
“Le, ke rumah gue sekarang dong,” pinta Rashi.
“Ngapain? Baru juga gue rebahan cakep di sini,” balas Lea kembali rebahan.
“Penting banget, Le. Menyangkut hidup dan mati gue, ayo lah! Lo kan sahabat gue terbaik sekomplek. Tinggal nyebrang komplek aja ribet amat.”
“Lo minta tolong atau nyuruh pake maksa segala sih!”
“Iya deh, maaf-maaf. Gue lagi minta tolong demi hidup dan mati gue, Le.”
“Halah lebay banget lo jadi manusia! Lagian apa sih? Nggak biasanya lo selebay ini pake bawa-bawa hidup mati segala, semua itu ada di tangan Tuhan. Kita sebagai manusia hanya terus melakukan kebaikan, berdoa dan beribadah.”
“Sumpah demi apapun! Nggak tepat waktu banget lo ceramah, Lea.” Rashi terdengar geram, tetapi Lea malah cekikikan, puas sekali kalau sudah membuat Rashi emosi.
“Nah gitu dong emosi. Kan seru,” sahutnya semakin membuat Rashi ingin mengumpat.
“Seriusan ini anjiir! Pokoknya gue tunggu di rumah, nggak pake ini itu, gue siapin cake sama jus buat lo.”
“Ceritanya nyogok? Maaf Bunda gue bilang nggak baik terima sogokan.”
“Lea! Sumpah ya bikin gue mau santet lo tahu nggak!” seru Rashi.
“Astaga, tobat, Shi. Iya-iya gue ke sana, yaelah emosi banget kek cewek aja.”
“Ya emang gue cewek!”
“Oh kirain sejenis umbi-umbian.”
“Kamvret lo! Buruan!”
“Iya, bidadari otw.”
“Mana ada bidadari bar-bar,” gumam Rashi sebelum menutup teleponnya.
**
Lea mengendarai mobilnya ke rumah Rashi yang memang masih berada di komplek yang sama namun berbeda blok saja. Sebenarnya keluarga Rashi baru pindah beberapa bulan ke sini, tetapi membuat mereka justru senang karena Rashi dan Lea bisa selalu bergosip hanya dengan melewati beberapa blok rumah mereka.
Tadinya Lea ingin memakai sepeda motornya, toh hanya ke rumah Rashi saja yang masih di linkungan sama. Tetapi bundanya, wanita yang ia cintai sejagat raya ini memberikan satu kotak kue yang katanya untuk di berikan kepada Rashi dan keluarganya. Lebih tepatnya untuk Rashi sih, karena gadis itu memang sangat menyukai kue buatan Bunda Lea. Membuat Lea memutuskan untuk mengendarai mobil karena kesulitan membawa barang.
Hanya membutuhkan waktu lima menit saja Lea sudah berada di depan gerbang rumah Rashi. Pak satpam yang memang sudah tidak asing lagi dengan Lea segera membuka gerbang dan membiarkan mobil Lea memasuki halaman rumah.
Lea turun dari mobil membawa titipan bundanya, Lea memanggil Pak satpam tersebut saat ia masih berdiri di samping pintu mobil. Satpam tersebut berlari menghampiri Lea.
“Ada apa, Non?” tanya satpam tersebut.
“Ini buat Bapak, teman ngopi,” ucap Lea memberikan satu kantung plastik kepada Pak satpam yang tentu saja di terima dengan senang hati.
“Makasih banyak, Non. Selalu saja kasih Bapak teman ngopi tiap ke sini.”
Pak satpam memang tidak aneh lagi dengan apa yang selalu di berikan oleh teman dari nona mudanya. Lea memang selalu membawa makanan dan di berikan pada satpam di rumah Rashi. Katanya memberikan reward karena Pak satpam sudah bekerja menjaga keamanan rumah sahabatnya.
“Rashi ada, Pak?”
“Non Rashi ada di dalam, biar Bapak kasih tahu kalau Non Lea datang.”
“Nggak perlu, Pak. Lea aja masuk deh, anggap rumah sendiri,” ucapnya diiringi kekehan membuat satpam tersebut tersenyum maklum. Benar-benar tidak kaku kalau berbicara dengan Lea, bahkan gadis itu selalu sopan sekali kepada siapapun terutama yang lebih tua darinya.
“Baik, silahkan, Non.”
Lea pamit dan berjalan ke arah pintu masuk rumah Rashi. Rumah ini tampak asri apalagi banyak bunga yang di tanam oleh ibunya Rashi. Lea sangat tahu kalau sang pemilik rumah begitu menyukai bunga, sama seperti bundanya.
Memang tidak asing lagi Lea berada di sini, jadi ia tidak ragu langsung masuk ke dalam rumah, apalagi tadi Rashi meminta tolong dirinya untuk datang dengan agak memaksa membuat Lea berpikir ada masalah yang Rashi hadapi.
Suasana di dalam rumah tampak sepi, seperti rumah tanpa penghuni. Rashi tidak ada di mana pun membuat Lea bingung sekali. Apalagi sampai di ruang tengah, ada beberapa mainan yang berserakan di dekat meja, Lea menggeleng, apa Rashi baru saja bermain dengan mainan bocah.
“Rashi!” Lea akhirnya memanggil gadis itu, menyimpan apa yang sejak tadi ia bawa di atas meja, lalu duduk di sofa sembari terus memanggil nama Rashi.
“Ini anak di mana sih, katanya butuh bantuan. Nyuruh orang buat cepet-cepet ke sini, tapi batang hidungnya nggak kelihatan,” ucap Lea sedikit menggerutu.
Lea memang terbiasa di rumah Rashi dan tampak tidak ragu untuk masuk ke dalam meski tuan rumah tidak membuka pintu secara langsung untuknya, tetapi Lea juga memiliki batasan, ia tidak serta merta berani untuk naik ke lantai atas atau ke ruangan lain kalau bukan Rashi yang meminta atau memang sedang ada orang rumah. Kata bundanya tidak sopan, harus atas ijin sang pemilik rumah.
“Ras—“
“Lea tolong gue!”
Suara Lea terputus melihat keadaan sahabatnya yang luar biasa berantakan, sebenarnya apa yang terjadi pada Rashi? Lalu tatapannya beralih pada seorang anak kecil, anak perempuan yang berdiri di samping Rashi. Lea berbinar melihat anak perempuan tersebut, kemudian berlari menghampiri keduanya yang berada di dekat tangga.
“Ih lucu banget!” seru Lea memerhatikan anak perempuan tersebut. “Namanya siapa cantik? Ih kok gemes sih, jadi pengin bawa pulang,” ucapnya lagi.
“Sana bawa pulang! Gue pusing!” seru Rashi bahkan mendorong pelan anak perempuan itu mendekat pada Lea yang berdiri di hadapannya.
Lea sih tampak senang, tangannya sudah menggenggam tangan mungil milik anak perempuan tersebut. “Sejak kapan lo punya anak, Shi?” tanya Lea yang mendapat pelototan dari Rashi.
“Enak aja! Keponakan gue ini,” balas Rashi agak ketus.
Lea terkekeh apalagi melihat kondisi Rashi saat ini, sahabatnya baru melakukan apa sih sampai kaya gini. “Terus lo kenapa itu berantakan amat kaya habis gempa.”
“Ceritanya panjang, pokoknya gue nggak mau tahu lo harus bantuin gue jadi pengasuh!”