Ciee Ateu Lea

1374 Words
“Ceritanya panjang, pokoknya gue nggak mau tahu lo harus bantuin gue jadi pengasuh!” Lea tampak terkejut namun setelahnya memekik senang. Tentu saja karena ia sangat suka anak kecil, apalagi anak perempuan yang nantinya bisa ia dandani, seperti rambutnya yang di kepang, memilihkan pakaian yang lucu-lucu. Membayangkannya saja membuat Lea senang luar biasa. Biar bar-bar tetapi Lea suka sekali dengan anak kecil. Kalau saja kakaknya sudah menikah dan memiliki anak, ia tentu akan semakin senang karena memiliki keponakan yang lucu-lucu. “Kok lo kaya kesenengan gitu sih, harusnya kan lo kaget seheboh mungkin.” Rashi tampak heran dengan respon yang Lea berikan. Sungguh di luar dugaanya, apalagi sahabatnya malah tampak girang sekali. “Iya dong gue senang banget banget banget ...” Lea begitu antusias, kapan lagi ia bisa bersama dengan anak kecil. “Lagian kenapa gue harus kaget, lo lupa ya kalau gue ini suka banget sama anak kecil,” lanjutnya. Rashi menepuk keningnya, dia benar-benar lupa kalau Lea memang senang sekali dengan anak kecil. “Oke berarti gue selamat sekarang dan keponakan gue bisa sama lo,” ucapnya tanpa basa-basi. “Yes!” pekik Lea kembali membuat Rashi menggeleng melihatnya. “Oke adik manis, sekarang kita main berdua aja, biarin deh Tante kamu yang cerewet ini, nggak usah sedih mendingan sama Kak Lea aja,” lanjutnya kali ini menatap gadis kecil yang sejak tadi memerhatikan mereka. Mungkin kebingungan dan bertanya-tanya, kenapa ada manusia macam tante dan teman tantenya. “Kakak mata lo! Enak banget gue Tante terus lo Kakak, ya Tante juga lah, mau banget lo kelihatan muda,” cibir Rashi tidak terima kalau Lea menyebut dirinya dengan sebutan Kakak kepada sang keponakan. “Idih! Gitu aja sewot!” balas Lea ikutan mencibir, “Lagian kenapa sih, orang gue ini masih kek dedek gemas, jadi masih kelihatan lah kaya Adik sama Kakak kalau sama ponakan lo ini,” lanjutnya. “Terserah lo aja deh, Le. Memang suka-suka Lea kan.” “Nah gitu dong, kan lebih mending, daripada gue nyuruh ponakan lo manggil Bubu.” Rashi mendelik, “Lo mau banget punya anak ya, jomlo aja udah terima dengan lapang dadaa,” katanya. “Please deh, saudara Gopi. Jangan suka bawa-bawa kejomloan gue, biarkan gue yang menikmatinya sendiri. Lagian, lo mau nggak sih gue bantuin? Kalau nggak, gue pulang!” “Iya-iya, anjirr sensi amat lo udah kek p****t bayi.” Lea melotot mendengar perkataan Rashi, astaga untung saja ada anak kecil, kalau tidak sudah pasti banyak lah kalimat ummpatan yang akan keluar dari mulut manisnya. Lea memilih untuk fokus pada keponakan Rashi, daripada mereka tidak berhenti ujungnya saling meledek satu sama lain. Kali ini biarlah dirinya mengalah. “Kamu namanya siapa cantik?” tanya Lea sembari mengelus lembut rambut si gadis kecil yang sudah berada di sampingnya. “Lissa,” balasnya begitu imut membuat Lea semakin gemas. “Lisa kek artis korea ya, cocok mata kamu juga sipit-sipit,” kata Lea. “Bukan ... nama aku Lissa.” Lea menggaruk kepalanya tak gatal, kemudian menoleh menatap Rashi dan meminta sahabatnya untuk menjelaskan. Ia memang suka dengan anak kecil, tetapi memang tidak selalu mengerti apa yang di katakan oleh anak kecil. “Namanya Rissa, Le.” “Oh .. Rissa. Kalau gitu ayo kita main!” ajak Lea begitu semangat, hal tersebut membuat senyum si gadis kecil itu terbit, sama seperti Lea yang begitu semangat, Rissa pun semangat karena kali ini ia mendapatkan teman baru, tidak bersama dengan tantenya. **  “Ateu Lea, ini bagus nggak?” Rissa menunjukkan gambar yang sudah ia warnai kepada Lea yang duduk di sampingnya, selesai bermain boneka, lalu bermain sepeda di halaman belakang, Lea mengajak Rissa mewarnai gambar yang sebelumnya sudah ia minta kepada Rashi untuk menyiapkan buku gambar yang nantinya akan di pakai oleh Rissa. Maklum Lea kan tidak tahu di mana saja menaruhnya. Karena Rashi meminta bantuan Lea untuk menjaga keponakannya, akhirnya sebelum pergi ia pun menyiapkan semuanya. Iya. Rashi memang sahabat yang paling anjim sekali, itu menurut Lea. Tadi meminta Lea ke rumah dan menjaga keponakannya, tetapi Rashi malah mengatakan akan keluar rumah sebentar karena ada urusan. Lea malah jadi berpikir kalau Rashi akan jalan dengan si Maroko alias Marko yang padahal masih memberikan harapan palsu. Lea yang melihat gambar hasil karya Rissa tersenyum dengan menunjukkan deretan giginya, tidak lupa dengan dua jempol dari kedua tangannya, “Hebat! Gambar Rissa banget banget, nanti Rissa bisa tempel ini di kamar ya,” ucap Lea. Rissa yang mendapatkan pujian dari Lea tersenyum lebar, “Makasih ya, Ateu. Tadi kan udah ajalin aku,” ucapnya. Rissa akhirnya memanggil Lea dengan panggilan Ateu, menurut Lea dirinya jadi imut kalau di panggil seperti itu dan tanpa paksaan pun Rissa dengan senang menurutinya, gadis kecil itu juga senang bersama dengan Lea. “Ini udah jam berapa ya, Rissa mau makan siang sama apa?” tanya Lea. Ia ingat sedari tadi begitu asyik bermain sampai lupa mengisi perut masing-masing, di rumah juga hanya ada mereka berdua karena pemilik rumah belum pulang, baik ibunya Rashi, apalagi Rashi yang baru saja pergi. Lea juga aneh sekali, tidak ada asisten rumah tangga di rumah ini. Kalau kata Rashi tadi sih, simbok sedang pulang kampung, tetapi tidak ada yang menggantikan pekerjaan rumah, jadinya memang tadi kewalahan waktu Rashi menjaga Rissa di rumah. “Ayam goleng, tadi Nenek bilang ada ayam di kulkas, tapi Tante Lashi nggak bisa, kalau Ateu Lea bisa masaknya?” tanya Rissa dengan wajah polosnya yang membuat Lea terkekeh. “Bisa dong! Rissa mau makan ayam berapa? Satu atau sepuluh?” tanya Lea tentu bercanda, mana mungkin ia membiarkan Rissa memakan ayam goreng sampai sepuluh biji. Yang berlebihan itu tidak baik kan. “Wah Ateu hebat!” pekik Rissa bertepuk tangan. “Ateu tadi bisa jahit boneka yang udah lusak, telus benelin sepeda punya lissa juga,” lanjutnya menatap kagum ke arah Lea. Mungkin tidak akan ada yang menyangka kalau Lea serba bisa. Di mata orang Lea seperti gadis manja yang hanya mengandalkan asisten rumah tangga kalau ingin makan, mengandalkan pekerja di rumahnya kalau ada barang yang rusak. Padahal di balik sikap bar-bar, cenderung ceplas-ceplos, tidak beraturan, Lea ini serba bisa. Tidak hanya urusan dapur tetapi yang lainnya, seperti tadi, membenarkan rantai sepeda milik Rissa. “Lissa mau dua aja deh, kan nggak boleh banyak-banyak,” ucapnya lagi. “Oke tuan putri!” balas Lea semangat. Kemudian mengajak Rissa ke dapur untuk membuatkan ayam goreng. ** “Makasih ya, Le. Lo mau jagain keponakan gue,” ucap Rashi. Gadis itu sudah sampai rumah sejak satu jam lalu, di mana Lea dan Rissa sedang makan bersama, Rashi tidak menyangka Lea dengan mudahnya bisa menjaga dan menemani Rissa main sampai mereka berdua makan bersama layaknya Tante dan keponakannya. Rashi benar-benar dibuat kagum oleh sahabatnya itu. “Santai aja dan makasih juga karena lo udah beliin gue cake, ah ... senang banget, gue nggak harus diet-diet karena mau makan enak terus,” balas Lea berbinar mendapatkan cake yang ia sukai dari Rashi. “Lo juga udah bantuin gue.” “Kalau gitu gue pulang dulu deh, udah sore juga, nanti malah keburu malem,” pamit Lea, meski rumahnya dekat dengan Rashi tetapi tetap saja ia terlalu lama di luar rumah, beruntung bundanya tahu kalau ia sedang ke rumah Rashi yang berada di komplek lain. “Ateu mau pulang?” tanya Rissa. Kedua matanya sendu, menunjukkan ketidakrelaan kalau Lea pulang. Gadis itu sangat suka dengan teman dari tantenya, Ateu Lea membuat ia senang main bersama-sama. “Iya, kan udah mau malam. Rissa sama Tante Rashi ya sekarang.” “Yah ...” keluhnya benar-benar terlihat tidak rela. “Nanti kita main lagi deh,” janji Lea kepada Rissa membuat gadis kecil itu tersenyum. “Beneran?” Lea mengangguk tanpa ragu. “Asyik! Janji ya Ateu, nanti aku mau beli es klim, kan udah janji,” ucapnya. “Siap cantik. Kalau gitu Ateu Lea pulang dulu ya,” balas Lea. “Iya, hati-hati ya, Ateu.”  Lea melambaikan tangannya setelah masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobil, dibalas dengan Rissa dengan penuh semangat sebelum akhirnya mobil milik Lea keluar dari halaman rumah Rashi. Senyum di wajah Lea tidak pernah luntur, ia benar-benar senang karena hari ini bisa kenal dengan gadis menggemaskan bernama Rissa. Lea jadi tidak sabar ingin kembali bermain dengan gadis kecil itu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD