--Happy Reading-- Pagi ini, tidak ada lagi sepatah kata pun yang terucap dari bibirku. Aku enggan untuk berbicara, walaupun sekedar menyapa. Ada seonggok daging di dalam dadaku yang teramat sakit, kala menerima kenyataan jika aku hanya dijadikan pelarian cintanya. Sebisa mungkin, aku menutupi kesedihanku di hadapan semua orang yang ada di mansion ini. Aku pun bersikap tegar dan menghindari tatapan langsung dengan mas Adam. Mas Adam pun nampak terdiam, setelah apa yang aku ucapkan terakhir aku dan mas Adam bicara semalam. Ketika dia datang dan duduk di meja makan, hanya melirikku sekilas. Entah apa yang sedang dipikirkannya, aku tidak perduli. Aku focus menghabiskan sarapanku, secepat mungkin aku harus meninggalkan ruang makan, sebisa mungkin untuk tidak terlalu lama berada dekat denga

