--Happy Reading-- Aku melongo, setengah terkejut dengan wajah panik, saat melihat mas Adam meringis pelan. Buru-buru aku turun dari atas ranjang dan berniat membantunya. “Sini, aku bantu bangun, Mas!” ajakku tulus. Namun, dengan kasar mas Adam menepis tanganku yang berniat baik membantunya. Ada rasa sesal dalam hati, kenapa harus cape-cape menolongnya? Seharusnya aku itu tertawa terbahak, saat melihat pria egois dan arrogant itu terjatuh kesakitan. “Singkirkan tangan siallmu itu! Aku masih bisa sendiri, tidak butuh bantuanmu Gadis Pembawa Siall!” oceh mas Adam dengan tatapan sinis. Dia merasa, aku ini selalu membawa siall dalam hidupnya. “Ya sudah,” ucapku menarik tanganku kembali. Aku tidak mau berdebat panjang, ujung-ujungnya aku juga yang kalah.”Lagian, kenapa juga mas Adam ada di

