--Happy Reading-- Di dalam kamar. Aku mengambil waslap dengan semagkuk air hangat untuk mengompres wajah mas Adam yang mengalami luka memar, akibat perkelahiannya dengan Satria yang tak bisa dihindari. Setidaknya, luka memar di wajah mas Adam akan berangsur-angsur memudar. Pembulu darah yang membeku akibat pukulan pun, perlahan-lahan akan pecah dan mengalir normal seperti sedia kala. “Uuh..” desis mas Adam meringis lirih. “Pelan-pelan, Sayang,” pintanya manja. “Issh… ! Cuma segini saja, ngeluh. Tadi, pas berkelahi dengan Satria kemana, Bos?” godaku menggeleng heran. Mas Adam mengulum senyum, lalu berbisik manja. “Kan rasanya beda, Sayang.” “Masa, sih?” Aku menekan sedikit kuat memar di sudut bibir mas Adam, menerbitkan senyuman jahil. “Awwh… perih, Sayang.” Mas Adam kembali mendes

