Chapter 7. Gadis Kecil.

1505 Words
--Happy Reading-- Hampir setengah jam aku membersihkan diri, rasa letih dan lelah seharian ini seolah sirna berganti rasa segar yang menguyur rambut dan tubuhku. Aku edarkan pandangan ke seluruh ruangan kamar, mencari keberadaan mas Adam. Ternyata dia sudah tidak ada, aku pun bisa bernapas dengan lega untuk sementara ini. Aku hendak mengganti pakaianku yang sudah basah tadi, mencoba mencari keberadaan koperku di seluruh pojok ruangan kamar. “Di mana koperku?” Plak! Aku memukul pelan keningku dengan telapak tangan. “Astagfirulloh, aku lupa.” Aku baru sadar, jika koper kecil milikku masih berada di dalam bagasi mobil juragan Zein. Koper yang hanya berisi beberapa potong pakaian beserta dalamannya yang aku perlukan dan beberapa buku bacaan yang aku gemari. Tidak banyak hal yang aku pikirkan, setelah menikah siang tadi langsung diajak ke rumah ini. Aku pikir, setelah menikah tadi, kami akan bermalam dan tidur di kamar kak Asma yang sudah dihias ala kamar pengantin. Namun, kenyataan yang aku jalani harus ikut ke rumah ini juga tanpa adanya bermalam di rumah ayah dan ibu. Jadi, aku hanya bisa membawa barang-barang milikku seadanya saja dengan satu koper berukuran kecil yang biasa aku bawa ke tempat kost. “Kenapa aku begitu ceroboh? Bisa-bisanya melupakan hal penting seperti itu,” rutukku pada diri sendiri. Aku panik dan bingung, apa yang mesti aku lakukan sekarang? Hanya handuk kimono yang aku kenakan tanpa pakaian dalam dan baju tidur. Tidak mungkin aku berani ke luar kamar ini dengan hanya memakai handuk. Arrrgh… Aku berteriak frustasi, sambil mengacak rambutku yang masih sedikit basah, karena aku hanya keringkan dengan handuk kecil saja. Aku tidak mau menggunakan hair dryer milik mas Adam, takut salah dan malah rusak nantinya. Seumur-umur, aku tidak pernah mengeringkan rambutku pakai alat itu. Aku takut rambutku kering dan pecah-pecah. Lebih baik alami dengan pakai handuk kecil seperti ini pun, lama-lama akan kering. Aku mengambil salah satu sisir yang berjejer di meja rias, untuk menyisir rambutku yang sedikit basah dan kusut. “Aku pinjam sisirnya sebentar ya, Mas,” ucapku lirih. Meskipun mas Adam tidak ada di kamar ini, sebagai manusia yang memiliki adab sopan santun, aku harus tetap meminta izinnya. Konyol memang, tapi itulah sifatku yang sudah tertanam dari kecil. Suara ketukkan pintu menyapa indra pendengaranku, kala tanganku sedang bergerak menyisir rambut. Aku pun segera menghentikan kegiatanku dengan menyembunyikan sisir yang aku gunakan di belakang punggungku. Aku takut, dikira tidak sopan oleh pemilik kamar ini, disaat berani-beraninya menggunakan barang milik orang lain. Pintu kamar yang tidak terkunci sebelumnya pun terbuka lebar. Nampak, dua pelayan wanita yang berdiri di belakang asisten mas Adam, yang bernama asisten Bisma. Kedua pelayan itu, aku masih ingat betul dengan nama mereka, Bik Wati dan Bik Ipah. Mereka membawa banyak pakaian. Aish, bukan pakaian. Lebih tepatnya gaun indah yang berjejer menggantung dan beberapa pakaian dalam. Selain itu, ada kotak makeup yang dijinjing oleh salah satu pelayan yang bernama Wati. Aku hanya bergeming, sampai-sampai melongo dibuatnya. Begitu banyak gaun indah yang berjejer menggantung dengan beraneka warna, sangat bagus dan pasti harganya sangat mahal, menurut pikiranku. Seumur hidupku, aku tidak pernah membayangkan bisa memakai gaun secantik dan seindah itu. Jangankan memakainya, menyentuhnya pun aku tidak berani. “Selamat malam, Nona Muda! Silahkan dipilih, gaun mana yang Nona Muda sukai.” Suara asisten Bisma mengejutkanku, membuatku tersadar seketika. “Eeeh… iya,” gugupku menggaruk kepalaku yang tidak gatal dengan menelan saliva berkali-kali. Rasa tidak percaya, jika aku akan mengenakan gaun secantik itu. Asisten Bisma tersenyum mengembang, lalu berpamitan. “Saya undur diri, Nona Muda! Setelah mengenakan gaun, secepatnya Nona Muda ditunggu oleh Tuan Besar dan Tuan Muda di ruang makan keluarga. Saya akan menunggu di luar.” Aku hanya bisa mengangguk kecil dengan tersenyum meringis. Perutku memang sudah keroncongan, sedari siang tadi belum diisi apa-apa. Terakhir aku makan, setelah acara akad nikah selesai, itu pun hanya sesuap nasi tumpeng ayam bakakak, ritual adat desa kami dalam setiap pernikahan yang harus selalu ada. Aku kehilangan selera makanku dengan pernikahan terpaksa ini. Masih bagus aku kuat berdiri hingga saat ini, tidak pingsan karena menahan lapar diperut. Perutku kelaparan, tapi mulutku enggan untuk dimasuki makanan. Asisten Bisma meninggalkan kami bertiga, lalu menutup pintu kamar yang dilewatinya. “Jangan lupa!” pesannya, setelah benar-benar pintu kamar tertutup rapat. Aku tersenyum kecut, seperti gadis kecil saja selalu diingatkan. Bik Wati dan Bik Ipah, yang memang sudah mengenalku beberapa saat yang lalu, terlihat sangat santun dan ramah terhadapku. “Ayo, pilih gaun yang Nona Muda sukai! Sepertinya, semua sangat pas dan cocok dengan ukuran tubuh Nona Muda,” ujar Bik Ipah. “Ya, Nona Muda! Pasti, Tuan Muda akan sangat terpesona dengan kecantikan Nona Muda,” ucap Wati dengan wajah berbinar. “A-apa? Terpesona? Maksud Bik Wati?” tanyaku ingin memperjelas apa yang baru saja diucapkan oleh salah satu pelayanku tadi. Bik Ipah melirik ke arah Bik Wati, dia pun menyenggol lengan Bik Wati dengan siku tangannya. “M-maaf, saya lupa. Saya lupa, kalau Tuan Muda tidak bisa melihat,” jelas Bik Wati takut jika aku salah paham. “Ooh…” ada nada kecewa dari bibirku tanpa sadar. Tanganku terulur ragu untuk menyentuh beberapa gaun yang indah itu, namun aku berusaha memberanikan diri. “Lembutnya,” ucapku dalam hati, ketika jemari ini meremas bahan gaun tersebut. Tanpa sadar, bibirku menerbitkan senyuman, begitu terbuai dengan kelembutan gaun yang cantik dan indah itu. “Itu sangat bagus, Nona Muda, jika gaun ini Nona Muda pilih. Apakah Nona Muda ingin segera memakainya?” tanya Bik Wati saat menangkap gerak-gerikku. Aku menggeleng pelan, terlalu malu untuk memakainya. Aku belum terbiasa dengan gaun mahal seperti ini. Namun, aku juga tidak mungkin akan mengenakan handuk kimono ini untuk makan malam bersama juragan Zein dan mas Adam. Tapi, aku memiliki pakaianku sendiri di koper yang ada di bagasi mobil juragan Zein. “Aku ingin memakai pakaianku sendiri, Bik. Tapi, pakaianku ada di dalam koper. Koper itu ada di bagasi mobil Juragan Zein. Apa bisa Bik Ipah atau Bik Wati mengambilkannya untukku?” “Koper Nona Muda sudah disimpan oleh Tuan Besar, kami tidak bisa mengambil sembarangan.” Deg! Jantungku tersentak kaget, untuk apa koper milikku dibawa oleh juragan Zein? “Pakailah gaun ini dulu, Nona Muda! Percayalah, suatu hari nanti koper Nona Muda akan dikembalikan,” ucap Bik Ipah dengan suara lembut dan mengusap pelan bahuku. Dengan terpaksa, aku pun mengangguk patuh dan mengenakan salah satu gaun yang sesuai warna kesukaanku, merah muda. “Tolong berbalik, aku malu kalau dilihat orang lain saat berganti baju,” pintaku dengan santun. Tanpa membantah, kedua pelayan itu pun berbalik badan untuk membiarkanku berganti baju. Gaun itu sangat pas dan cocok di tubuhku. Gaun merah muda, dengan lengan pendek, panjang selutut kaki dan mengikuti lekuk tubuhku yang kata orang sih ideal. Sedangkan menurutku sendiri, tubuhku ini terlalu kurus dan membuatku kurang percaya diri dengan bentuk tubuhku. “Sudah,” ucapku dengan wajah berseri. “Woow… sangat cantik,” puji Bik Wati dan Bik Ipah hampir bersamaan, saat mereka berbalik badan melihatku sudah memakai gaun yang aku pilih sendiri. Aku tersipu malu mendengar pujian kedua pelayan itu, hingga aku pun jadi salah tingkah dibuatnya. “Kami akan mendandani wajah, Nona Muda,” ucap Bik Ipah sambil membuka kotak makeup yang begitu lengkap dengan aneka bedak, lipstick, pembesih wajah, pinsil alis, mascara dan masih banyak yang aku pun tidak hapal dengan benada-benda asing tersebut. Aku tipikal gadis yang tidak suka dandan menor, lebih ke natural dan makeup tipis-tipis. “Jangan tebal-tebal ya, Bik! Aku tidak suka,” pintaku, saat wajahku mulai dipoles. “Baik, Nona Muda! Jangan khawatir!” sahut Bik Ipah dengan mengacungkan jempolnya. “Nona Muda pada dasarnya sudah cantik, jadi dipoles tipis pun akan sangat terlihat cantik,” timpal Bik Wati. Aku semakin tersipu malu dengan pujian mereka, hingga lupa dengan pesan asisten Bisma tadi. “Oh iya, aku sudah ditunggu Juragan Zein dan Mas Adam,” ucapku, membuat kedua pelayan itu pun juga tersadar dan kembali focus mendandani wajahku. *** Aku berjalan mengikuti langkah kaki asisten Bisma menuju ruang makan keluarga. Dengan wajah tertunduk dan kedua tangan yang saling bertautan, menahan degup jantung yang terus berdebar. Ada rasa gugup, takut dan panik menjadi satu, ketika akan berhadapan satu meja dengan pemilik rumah ini. Keringat dingin pun mengucur deras, saat langkah kaki ini tepat berdiri di hadapan mereka. “Cantiknya, cucu mantuku,” puji juragan Zein, memindai penampilanku. Aku pun meringis, semakin deras peluhku mengalir. Sementara mas Adam, terlihat menikmati makanan yang tersaji dipiringnya. Asisten Bisma menarik kursi di samping kakek Zein, yang menghadap ke arah mas Adam, kemudian mempersilahkanku untuk duduk. Aku pun patuh dan lekas duduk. “Terima kasih, Tuan,” ucapku. “Jangan panggil Tuan, Nona Muda! Panggil saja saya, Asisten Bisma,” ujar asisten Bisma. “A-a…” “Tidak apa, Bisma. Maklumin saja, namanya juga gadis kecil.” Mas Adam menyela ucapanku, yang membuatku sedikit jengkel. “Huuh… menyebalkan sekali!” grutuku menahan kesal di hati. Kalau saja tidak ada juragan Zein di sini, ingin aku sumpal mulutnya pakai piring yang ada di hadapanku ini. Lumpuh dan buta saja sangat menjengkelkan, apalagi kalau normal? Bisa-bisa habis aku ditindasnya semena-mena. --To be Continue--
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD