Chapter 8. Syarat Menikah.

1181 Words
--Happy Reading-- POV Adam Kusuma Wardana. Namaku Adam Kusuma Wardana, pria kesepian yang jauh dari kasih sayang kedua orang tua. Ibuku yang paling aku sayang, telah kembali ke pangkuan Ilahi, saat usiaku masih menginjak sepuluh tahun. Belum genap satu bulan, Ayahku menikah lagi dengan sekretarisnya di kantor. Aku membenci ayahku, karena tidak bisa menahan hasrat kelelakiannya. Semudah itukah cinta ayahku pudar untuk ibuku? Secepat itu kah dia melupakan kepergian ibuku? Aku sungguh-sungguh tidak terima dengan apa yang ayah lakukan. Semenjak pernikahan ayahku dengan sekretarisnya itu, aku tidak mau lagi tinggal di rumah itu, karena aku merasa sakit dan sesak melihat istri baru ayah yang menempati kamar ibuku. Rumah yang penuh dengan kenangan manis bersama ibuku, seolah ternoda dengan kedatangan istri kedua ayahku. Aku pun meminta pindah ke rumah kakek Zein di desa dan melanjutkan pendidikanku sampai Sekolah Menengah Atas. Kemudian, melanjutkan kuliah di Singapore atas beasiswa yang aku dapatkan dari nilai-nilai terbaik di sekolahku. Semua biaya kuliahku sampai S2 di tanggung dengan bea siswa, sementara ongkos kuliah, makan, kebutuhanku setiap hari dan tempat tinggalku di Singapore, dibantu oleh kakek Zein. Setiap awal bulan, kakek Zein akan menstransfer uang sebesar lima juta rupiah lewat rekening bank milikku. Karena aku tinggal di Singapore, mata uang rupiah yang aku terima pun mengikuti nilai mata uang yang ada di sana. Aku pun harus bisa berhemat, dengan uang yang aku terima dari kakek Zein. Sampai akhirnya aku menjadi orang yang berhasil dan sukses dengan jerih payah kakek Zein dan usahaku selama ini. Tidak mudah berada hingga sampai di titik ini, menjadi pemilik perusahaan ternama di kota Jakarta. Aku masih ingat dengan pesan terakhir ibuku, lewat sebuah tulisan tangan di secarik kertas yang diberikan oleh wanita paruh baya yang bekerja di rumahku. “Temuilah Kakek Zein, jika kamu mengalami kesulitan.” Hanya pesan itulah yang aku terima, setelah kepergian ibuku yang aku tidak tahu sama sekali penyebabnya. Aku pun tidak tahu pasti, sakit apa ibuku dan mengapa kepergiannya mendadak seperti itu? Maka dari itulah, kata-kata wasiat terakhir ibuku yang membuatku berani mengambil keputusan untuk pergi menemui kakek Zein di desa. *** Aku pria mapan, tampan dan memiliki kekuasaan. Siapa yang tidak mengenalku di dunia bisnis dan industry. Tidak hanya itu, perusahaan yang aku geluti selama ini pun berkembang dengan melesat tajam. Banyak saingan bisnisku yang tertinggal jauh, atas apa yang aku raih. Semua perusahaan yang terlibat dan berhubungan langsung denganku, selalu mempercayakan sepenuhnya untuk bekerja sama dengan perusahaanku. Aku selalu memenangkan tender-tender besar yang banyak diincar orang. Aku memang memiliki otak yang genius, warisan dari ibuku yang kini sudah tiada. Kepintaranku ini menurun dari ibuku yang sangat genius. Ketika aku masih kecil, ibuku yang masih muda sudah menjadi seorang Kepala Sekolah dengan gelar Master. Pendidikan yang ibuku tempuh tidak sama dengan siswa lainnya. Diusia sebelas tahun, ibuku sudah duduk di bangku kelas tiga Sekolah Menengah Pertama, alias SMP. Karena kegeniusannyalah, ibuku naik kelas dengan loncat tiga tahun di atasnya. Sejujurnya aku kecewa dan marah dengan pernikahanku yang mendadak ini. Demi kakekku satu-satunya yang aku miliki, agar beliau berumur panjang, maka aku pun terima perjodohan ini dengan berbagai syarat yang aku ajukan. Tujuanku, agar wanita yang kelak akan menikah denganku, berpikir ulang untuk menjadi istriku. Usiaku memang mendekati kepala tiga, bukan berarti aku perjaka tua yang tidak laku. Namun, aku masih menjaga perasaan cinta untuk wanitaku yang sedang menempuh pendidikan Masternya di Inggris, satu tahun lagi. Kami menjalin kasih hampir lima tahun lamanya, genap satu tahun kelulusan dia bergelar Master, aku akan segera mempersuntingnya untuk menjadi wanitaku selama-lamanya, seumur hidupku dan menjadi ibu dari anak-anakku. Kakekku tetap tidak mau aku menunda pernikahanku lagi, dengan waktu satu bulan yang diberikan olehnya aku pun tetap tidak bisa membujuk wanita yang sangat aku cintai itu. Segala cara aku sudah lakukan, hingga aku pun menemuinya ke tempat ia menempuh pendidikan. Namun, hasilnya tetap nihil dan aku pun kecewa dengan jawaban yang dia lontarkan. “Ini impianku, ini cita-citaku. Jika kamu mencintaiku, tunggu aku satu tahun lagi. Jangan memintaku untuk menikah lagi, kalau kamu tidak mau kehilanganku!” ucapnya bernada tekanan. Dengan terpaksa, aku kembali tanpa hasil dan menerima perjodohan yang dilakukan oleh kakek Zein. Aku mengajukan beberapa syarat kepada kakek Zein, jika aku akan menikah dengan gadis pilihannya yang berasal dari desa tempat kakek Zein tinggal. Setelah kakek Zein menyanggupinya, aku meminta kakek Zein untuk menyumpal semua pelayan dan pekerja yang ada di rumah kakek Zein, untuk mengikuti semua yang akan aku lakukan setelah menikah nanti. “Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Asalkan kamu tidak mengingkari janjimu, untuk menikahi gadis pilihan Kakek.” Begitulah jawaban yang kakek Zein lontarkan satu minggu sebelum pernikahan ini terjadi, lewat video call yang kami lakukan. “Deal!” jawabku dengan tersenyum miring, lalu mengakhiri pembicaraan kami. *** Satu hari sebelum pernikahan, aku sudah berada di kediaman kakek Zein yang beberapa tahun ini jarang sekali aku datangi. Aku pun menagih janji kepada Kakek Zein, apakah syarat yang aku pinta itu sudah dipenuhinya? Ternyata, hingga detik ini pun gadis yang akan menikah denganku itu belum tahu kondisi laki-laki yang akan menikahinya. “Aku tidak akan menikah, jika Kakek masih juga belum mengatakan kepada gadis itu tentang kondisi laki-laki yang akan menikah dengannya,” ancamku dengan wajah memerah menahan kesal. ‘I-iya, cucuku. Tapi…” “Tidak ada pernikahan, jika Kakek ingkar,” potongku. “Baiklah, jika itu yang kamu inginkan, Adam.” Kakek Zein menghela napas panjang, menggelengkan kepalanya heran, dengan kelakuan cucu sepertiku ini. Aku tersenyum puas, misiku berhasil dengan sempurna. Jika gadis itu menolak menikahi pria lumpuh dan buta, aku bisa bebas kembali ke kota Jakarta dan focus untuk bekerja. Setelah satu tahun, aku akan segera mengejar impianku untuk menikahi wanita yang aku cintai, Kirana Larasati. “Lihat, Kakek sudah mengatakan kondisimu kepada calon besan! Sesuai apa yang kamu inginkan. Puas!” Kakek Zein menunjukkan pesan singkatnya yang bercentrang biru di aplikasi hijau, itu tandanya sudah dibaca oleh pihak keluarga wanita yang akan aku nikahi. Aku mengangguk kecil dengan hatiku yang bersorak riang. “Yes, kita tunggu sebentar lagi.” Sementara kakek Zein pergi dengan wajah muram, terlihat kecewa dengan permintaanku yang tidak masuk akal, pikirnya. “Maafkan aku, Kakek. Aku masih sangat mencintai kekasihku, Kirana Larasati.” *** Aku menunggu jawaban apa yang tertulis di pesan kakek Zein, sampai malam menyapa pagi. Hingga akhirnya, kakek Zein tersenyum lega, di pagi hari jawaban dari besannya itu telah menerima apa pun kondisiku. Meski cacat, mereka tidak mempermasalahkannya sama sekali. Aku ternganga tidak percaya, saat membaca pesan yang aku baca di ponsel Kakek Zein. “Gila… gila, ternyata masih ada gadis di zaman sekarang ini yang mau menerima perjodohan dengan laki-laki buta dan lumpuh. Di luar Nurul dan tidak habis Fikry.” Aku menggelengkan kepala. “Bersiap-siaplah! Satu jam lagi kita harus sampai di rumah mempelai perempuan,” ucap kakek Zein mengingatkanku. Aku pasrah, aku acungi dua jempol untuk wanita yang akan aku nikahi itu. Namun, aku masih meminta syarat kedua kepada kakek Zein, aku tetap akan menjalani sandiwaraku untuk tetap berpura-pura cacat di depan semua orang, terutama di depan calon istriku. Aku ingin menguji, seberapa tulus dan seriusnya gadis itu ingin menikah denganku. --To be Continue--
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD