Chapter 9. Kulkas Sepuluh Pintu.

1478 Words
--Happy Reading-- POV Annaya Ahmad. Aku menikmati makan malam ini dengan sangat lahap. Mungkin saja, karena perutku yang sudah berdemo meminta diisi sedari siang tadi. Isi di piringku tandas tak bersisa dengan waktu dalam sekejap mata. Kakek Zein menatap ke arahku dengan tatapan heran dan detik berikutnya dia tersenyum mengembang. “Tambah lagi, Cucuku.” Wajahku berbinar, mendengar ucapan kakek Zein. “Apakah boleh?” tanyaku, lalu melirik ke arah mas Adam. Di mataku, mas Adam terlihat datar dan tetap asik menikmati isi piringnya. “Tentu boleh, Sayang,” ucap kakek Zein begitu senang. Tanpa bicara lagi, aku pun segera mengisi piringku dengan dua centong nasi dan satu potong ayam bakar dengan satu sendok sayur asam kesukaanku. Tidak lupa aku menambahkan satu potong tempe dan tahu. Lupakan rasa malu sejenak, asalkan perutku kenyang setelah seharian penuh hanya terisi beberapa suap nasi tumpeng saja. Aku segera melahap kembali isi piringku, tanpa ragu dan mengabaikan wajah dingin dan datar mas Adam. Kadang aku berpikir, kenapa badanku tetap segini-gini saja, padahal napsu makanku itu sangat banyak. Meskipun kadang-kadang aku kehilangan napsu makan, jika sedang banyak masalah seperti kemarin malam. Namun, sekalinya kelaparan, aku bisa kalap seperti saat ini. Kakek Zein terus menerbitkan senyuman, dia begitu menyukai tingkah gadis sepertiku. Di matanya, aku seperti putrinya yang sudah tiada. “Pelan-pelan, Sayang! Kamu seperti Dahlia Wardana, Putriku satu-satunya.” Kakek Zein mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes. “Banteng, mana bisa pelan-pelan, Kek!” celetuk mas Adam membuatku tiba-tiba tersedak. Uhuk… Rasa pedas dalam tenggorokkanku menjalar hingga ke hidung dan telingaku, membuat kedua mataku memerah dan mengeluarkan sedikit air mata. Sontak, kakek Zein menepuk-nepuk tengkukku, karena panik. “Ini, minum!” mas Adam menyodorkan gelas miliknya yang masih utuh. Aku pun refleks mengambil gelas dari tangan mas Adam, untuk mengurangi rasa pedas yang menyiksaku. Glek! Air minum dari gelas mas Adam tandas. Rasa pedas yang aku rasakan lambat-laun sedikit berkurang. Aku tidak mau mengucapkan terima kasih kepada mas Adam, semua ini karena ulahnya yang menyebalkan. Menjengkelkan, ingin rasanya menelan hidup-hidup ini orang. Dengan bibir mengatup dan mata melotot ke arah mas Adam, kedua tanganku mengepal kuat bertumpu di atas meja. “Huuh, dasar kulkas sepuluh pintu,” grutuku pelan. Sikap dingin dan ketus mas Adam, aku anggap seperti kulkas sepuluh pintu yang dinginnya melebihi es yang ada di kutub utara. Seketika, kakek Zein tertawa terbahak mendengar apa yang aku ucapkan. Meski pelan, ternyata kakek Zein mendengarnya. Bahkan, kakek Zein memperhatikan apa yang sedang aku lakukan. Mas Adam menyunggingkan bibirnya, aku yakin dia pun mendengarnya juga seperti kakek Zein. Hanya saja, dia tidak melihat apa yang aku lakukan. “Nggak seratus pintu sekalian, huem?” Mas Adam malah menggodaku. Aku tertunduk malu dengan menarik kedua tanganku ke bawah meja. Lantas aku meremas ujung gaunku dengan perasaan tidak karuan. Apa yang aku ucapkan pelan, ternyata didengar oleh dua laki-laki beda generasi itu. Seolah tahu apa yang sedang aku rasakan, kakek Zein menghentikan tawanya dan memintaku untuk segera menghabiskan makananku. “Habiskan isi piringmu, Sayang! Nanti, nasinya nangis.” Aku meringis, menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Mendengar kata-kata kakek Zein, mau tidak mau aku melanjutkan makanku yang sempat tertunda tadi, hingga isi piringku tandas tak bersisa. Aku menuang kembali air ke dalam gelas mas Adam, yang tadi dia berikan saat aku tersedak. “Eeee…” bunyi sendawa dari dalam mulutku, setelah isi gelasku tandas. Aku pun meringis malu, sudah tidak sopan bersendawa dengan sangat kencang di hadapan kakek Zein dan mas Adam. “Maaf…” ucapku penuh penyesalan, sambil menutup mulutku. Kakek Zein terkekeh dengan kelakuanku, sambil mengusap pelan bahuku. “Tidak apa-apa, Cucuku.” “Dasar, perut karung! Tidak sopan,” celetuk mas Adam pedas. Sontak, aku dan kakek Zein menoleh ke arahnya bersamaan. “Aish.. rese banget ini suami,” kesalku dalam hati. “Hah… suami? Tidak-tidak! Bukan suami, tapi kulkas sepuluh pintu,” gumamku menggeleng-gelengkan kepala. Kali ini aku harus berhati-hatii bicara, meski pelan sekali pun. Aku takut mas Adam atau kakek Zein bisa mendengarnya seperti tadi. “Adam…” ucap kakek Zein mendelikkan matanya. Sepertinya percuma saja apa yang dilakukan oleh kakek Zein. Toh, mas Adam kan tidak bisa melihat. Mana bisa tahu, jika kakek Zein sedang melotot ke arahnya “Air minumku, Bisma!” seru mas Adam. Bisma pun segera melangkah maju, menghampiri mas Adam dan hendak mengambilkan air yang diminta. Namun, aku segera menyodorkan gelasku yang belum tersentuh ke arahnya . “Ini airnya, masih utuh belum aku minum.” Sontak, asisten Bisma menghentikan gerakan tangannya yang hendak menuang air. Dia pun lekas menaruh kembali gelas yang kosong ke tempatnya semula. Lalu, melangkah mundur menjauh dari kami. Mas Adam hanya terdiam dengan apa yang aku lakukan, menaruh sendok dan garpunya, padahal isi piringnya belum habis. Dia mengambil gelas yang aku sodorkan, lalu menenggak isi gelasnya dengan tandas. Setelah itu, mas Adam meminta asisten Bisma untuk membawanya pergi. “Antar aku ke kamar, Bisma!” Dengan cekatan, Bisma pun melangkah ke arah mas Adam. Namun, dengan cepat pula aku menahannya. “Biar aku saja, Tuan Bisma! Aku kan istrinya.” Asisten Bisma mengangguk pelan, setelah beberapa detik menatap ke arah mas Adam. Padahal mas Adam itu buta, mengapa asisten Bisma selalu menatap ke arah mas Adam? Meskipun dia tidak melihat ke arah mas Adam, bukan kah tidak berpengaruh apa-apa? Toh, mas Adam juga tidak tahu jika asisten Bisma mengangguk, menggeleng atau apa pun yang tidak menimbulkan suara. Aku tersenyum kecil ke arah kakek Zein, sambil mengangguk hormat. Tanda pamit meninggalkan kakek Zein. Kakek Zein pun membalasku dengan melakukan hall yang sama sepertiku. “Selamat untuk menghadapi Malam Pertama,” ucap kakek Zein sambil tersenyum mengembang. Deg! Jantungku tersentak, saat mendengar kata malam pertama. Membuat sekujur tubuhku meremang dan aliran darahku berdesir. Sementara mas Adam memejamkan matanya, aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Lupakan! Aku menepis kata-kata kakek Zein yang sedikit mengganggu pikiranku. Segera kudorong kursi roda mas Adam menuju kamar. “Ayo, Tuan! Kita ke kamar.” “Cucuku, Anna!” panggil kakek Zein bangkit dan menghampiri kami. “Ya, Ju… eh, Kakek,” sahutku masih kikuk. “Jangan memanggil Tuan, Sayang! Panggil dengan seperti halnya sebutan istri kepada suaminya. Bisa panggil Mas, Akang, Abang, Aa atau apa pun itu, asalkan jangan panggil Tuan, okay!” tuturnya tegas. “Syukur-syukur, bisa panggil sayang, honey, my husband, my love atau my darling seperti anak-anak zaman now,” slorohnya dengan terkekeh geli. Uhuk… Ucapan kakek Zein, membuat kami terbatuk bersamaan. Betapa menggelikan, beberapa nama panggilan yang disebutkan oleh kakek Zein, membuat telingaku mendadak gatal dan bulu kudukku berdiiri. Sementara mas Adam berdecak sebal dengan memanyunkan bibirnya.“Ck.. apa-apaan sih, Kakek. Ralat kata-kata yang terakhir tadi!” rajuk mas Adam. Kakek Zein malah tertawa dengan kata-kata mas Adam yang menolak nama panggilan terakhir tadi. Semakin cucunya kesal, semakin dirinya akan tertawa lebih keras lagi. Tidak ingin semakin jengkel, Mas Adam segera memintaku membawanya masuk ke dalam kamar. “Cepat, pergi dari sini!” “I-iya, Mas,” ucapku gugup. Saking paniknya, aku memanggil pria dingin ini dengan sebutan Mas. Mas Adam bergeming, saat aku mulai mendorong kursi rodanya menuju kamar. Entah apa yang sedang dipikirkannya, aku masa bodoh. Aku terlalu panik tadi, jadi asal saja aku memanggilnya dengan panggilan Mas. *** Di dalam kamar. Aku membantu mas Adam untuk turun dari kursi roda dan memapahnya ke atas ranjangnya yang berukuran super big. Lalu, membantunya menyadarkan kepalanya dengan bantal yang aku dirikan di belakang punggungnya di headboard, sesuai permintaanya. Mas Adam menarik selimutnya sendiri, hingga menutupi perutnya. Kedua matanya terpejam, disaat aku masuk ke kamar mandi. “Kamu tidur di sofa!” titah mas Adam disaat baru saja aku ke luar dari kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci muka. Hampir saja aku terlonjak, saat suara mas Adam mengagetkanku. Aku pikir sudah tidur tadi, ternyata masih terjaga. “ Aku tidak bisa tidur, kalau kamu juga tidur di sini,” alasannya. Lagi pula siapa juga yang mau tidur dengannya, keGRan banget nih orang. “Ya, Mas. Alhamdulilah,” ucapku penuh syukur. “Aku pinjam bantal dan selimutnya, Mas” ucapku sambil mengambil bantal dan mencari selimut yang tidak terpakai. Mas Adam terdiam, aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Apa mungkin, selimutnya hanya ada satu? Ah, jangan-jangan memang benar ada satu. “Kalau tidak ada…” “Ya sudah, tidur saja di sini!” sela mas Adam memotong ucapanku, dengan menepuk kasur dengan tangannya. Deg! Lagi-lagi jantung ini berdebar kencang dengan apa yang baru terlontar dari bibir mas Adam. Secepatnya aku menarik napas kuat-kuat dan menghembuskannya secara perlahan. Setelah jantung ini normal kembali, aku pun lekas menggeleng sambl menggigit bibir bawahku. “Nggak, Mas. Biar aku di sofa saja.” Aku berjalan menuju sofa sambil menenteng satu bantal dan merebahkan diri di sana. Bayangan akan ucapan Malam Pertama dari kakek Zein, terus terngiang di benakku. Seketika, aku bergidik ngeri. “Hiih… tak akan pernah,” gumamku lirih, sambil meringkuk memeluk diri. --To be Continue--
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD