Chapter 10. Mendatangi Perkebunan Teh.

1276 Words

--Happy Reading-- Kedua mataku mengerjap, saat sinar mentari masuk melalui cela jendela kamar. Aku melirik jam dinding besar yang terpasang di tembok. Pukul tujuh pagi, itu berarti aku bangun kesiangan dan tidak menjalankan kewajibanku untuk sholat shubuh. “Astagfirulloh, aku kesiangan. Bagaimana ini? Aku tidak sholat.” Aku edarkan bola mataku ke arah ranjang. Namun, tidak ada sosok mas Adam di sana. Apa mungkin mas Adam pergi sendiri? Ah, itu mustahil. Aku ingat betul, pintunya aku kunci semalam. Bagaimana mungkin, mas Adam bisa ke luar kamar dengan pintu terkunci? Baru saja hendak bangkit dari sofa, suara handel pintu terbuka mengalihkan pandanganku. Terlihat, sosok mas Adam yang datang dengan kursi rodanya seorang diri. Dia pun segera menutup pintunya dengan cepat. “Baru bangun, hu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD