--Happy Reading-- Aku panik, memikirkan keadaan asisten Bisma yang selama ini sangat baik terhadapku. Segera aku tekan panggilan ke luar pada nomor yang tidak aku kenal itu. Siapa tahu saja nomor itu berasal dari rumah sakit atau bisa jadi dari nomor mas Adam. Salahku tidak menyimpan nomor ponsel mas Adam selama ini. Terlalu gengsi untuk meminta nomornya, padahal dia itu suamiku sendiri, meski hanya untuk satu tahun. Beberapa kali aku mencoba menghubungi nomor itu, panggilanku tidak kunjung dijawab malah direjectnya. Aku pun mendengkus kesal, dalam keadaan darurat seperti ini malah seenaknya panggilan orang direject. “Kenapa? Kok, cemberut gitu?” tanya Satria mengamati wajahku. “Panggilanku direject,” sahutku lirih, sambil mengerucutkan bibirku. Dalam hati ingin sekali berteriak kenc

