bc

Rosalina Or Rose

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
revenge
dark
love-triangle
one-night stand
HE
age gap
badboy
single mother
drama
sweet
lighthearted
city
office/work place
cheating
like
intro-logo
Blurb

Rosalina adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama ibu angkatnya, Anggun. Di dunia malam, Anggun dikenal dengan nama Anggrek. Saat berusia tujuh belas tahun, keadaan memaksa Rosalina menggantikan posisi ibu angkatnya untuk bekerja sebagai pemandu di karaoke dan klub malam. Di tempat itu, ia menyembunyikan jati dirinya dengan nama baru, Rose. Mereka semua bernaung di bawah Madam Ara, pemilik tempat yang ternyata memiliki hati baik. Madam Ara memberikan tempat tinggal dan pekerjaan sebagai satu-satunya jalan bagi mereka untuk bertahan hidup. Rosalina pun harus menjalani dua kehidupan yang sangat berbeda: sebagai siswi sekolah di siang hari, dan sebagai Rose yang menghadapi kerasnya dunia malam saat matahari terbenam. Di tengah kenyataan yang membelenggu, ia berusaha mempertahankan sisa harga diri dan mencari jalan keluar dari takdir yang terasa dipaksakan.

chap-preview
Free preview
Kehidupan Rosalina
Malam itu hujan turun perlahan, memukul atap seng kontrakan yang sudah tua dan berkarat, menimbulkan suara gemerisik yang seolah menjadi irama kesunyian di lingkungan pinggiran kota yang mulai sepi. Jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika Rosalina melangkah masuk melewati pintu kayu yang hanya tertutup gorden kain tipis. Kakinya melangkah pelan, berusaha tidak menimbulkan bunyi, meski ia tahu suara hujan sudah cukup menutupi langkahnya. Usianya baru menginjak tujuh belas tahun. Sejak kecil ia tidak pernah mengenal wajah ayah kandungnya, dan ibunya meninggal dunia saat ia masih berusia empat tahun. Sejak saat itu, Anggun — wanita yang kemudian ia panggil ibu angkat — yang membawanya pulang, memberinya tempat berteduh, makanan, dan nama yang akan ia bawa sepanjang hidupnya: Rosalina. Namun, ia tumbuh menyadari bahwa kehidupan yang mereka jalani bukanlah kehidupan seperti anak-anak lain di lingkungannya. Ibu Anggun dikenal dengan nama samaran Anggrek di tempat-tempat hiburan malam, dan sejak kecil Rosalina sudah terbiasa pulang ke rumah yang kadang terasa sunyi, kadang terasa penuh dengan suara asing yang tidak ia mengerti maknanya sepenuhnya saat masih kanak-kanak. Malam ini, perasaannya terasa berbeda. Baru saja ia pulang dari tempat kerja pertamanya — berdiri sebagai Rose, nama baru yang diberikan Madam Ara padanya, mengawali hari-hari yang ia tahu akan mengubah seluruh jalan hidupnya. Ketika ia baru saja meletakkan tas dan sepatu di sudut ruang tamu yang sempit, telinganya menangkap suara yang membuat langkah kakinya terhenti seketika. Suara itu samar-samar, terdengar dari balik pintu kamar ibu Anggun yang tidak tertutup rapat. Awalnya hanya napas yang memburu, lalu diikuti desahan panjang yang terdengar lemah namun terasa berat, lalu diselingi suara tawa rendah yang bercampur dengan bisikan kata-kata yang tidak jelas maknanya. Jantung Rosalina berdegup kencang, dadanya terasa sesak seolah ada batu besar yang menindihnya. Ia tahu apa yang sedang terjadi, namun ia belum pernah melihatnya secara langsung selama ini. Biasanya ia segera masuk ke kamarnya sendiri dan menutup telinga, berharap suara itu segera berlalu. Namun malam ini, entah karena rasa lelah, bingung, atau rasa ingin tahu yang muncul di tengah kekacauan pikirannya, ia justru berdiri diam di tempat. Suara itu semakin jelas seiring angin malam yang menyelinap masuk lewat celah jendela. Ia mendengar suara pria yang berbicara dengan nada rendah, diikuti lagi dengan desahan dari mulut ibu angkatnya. Tangan Rosalina mengepal erat, kukunya menekan telapak tangan hingga terasa sakit. Ia merasa malu, bingung, sekaligus merasa ada rasa aneh yang menyelinap di dadanya — campuran antara rasa jijik, takut, dan kesadaran pahit bahwa tidak lama lagi ia pun akan melangkah ke dunia yang sama. Tanpa sadar, kakinya melangkah perlahan mendekati celah pintu itu. Ia tidak bermaksud mengintip dengan sengaja, tapi rasa penasaran yang bercampur dengan rasa takut membuatnya ingin melihat kenyataan yang selama ini hanya ia dengar lewat suara semata. Dari celah sempit itu, matanya menangkap bayangan yang bergerak di dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya lampu tidur yang remang-remang. Ia melihat ibu Anggun, yang malam itu mengenakan pakaian yang lebih tipis dan terbuka dibandingkan saat ia berada di rumah pada siang hari. Tubuhnya terlihat tergolek di atas kasur, namun kemudian ia melihat bagaimana posisi mereka berpindah, tidak hanya terbatas di atas tempat tidur saja. Kadang mereka bergerak mendekati meja rias yang penuh botol kosmetik, lalu ke tepi jendela, hingga ke lantai yang hanya dialasi tikar tipis. Setiap perpindahan itu disertai suara desahan dan bisikan yang semakin meninggi, membuat udara di dalam kamar itu terasa panas dan sesak. Rosalina menahan napasnya. Matanya terbelalak, namun ia tidak bisa memalingkan wajahnya seketika. Ia melihat bagaimana ibu Anggun yang selama ini ia kenal sebagai sosok yang kadang tegas, kadang lembut saat memberinya makan atau menasehatinya, berubah menjadi sosok yang berbeda — lemah, menyerah, namun seolah terbiasa dengan segala hal yang terjadi pada tubuhnya. Ia melihat bagaimana ruangan sempit itu menjadi saksi bisu dari segala gerakan yang dilakukan tanpa batas tempat, seolah tidak ada ruang yang terlarang untuk melampiaskan keinginan itu. Di luar hujan masih turun, namun suara di dalam kamar itu terasa lebih keras daripada suara hujan. Pikiran Rosalina melayang pada kata-kata yang diucapkan Madam Ara beberapa hari yang lalu. “Dunia ini tidak selalu memberi jalan yang indah, Nak. Kadang kita hanya punya satu pintu untuk bertahan hidup. Anggun sudah melakukannya bertahun-tahun untuk membesarkanmu. Sekarang giliranmu memilih apakah ingin ikut jalan itu, atau membiarkan kalian berdua terjerembab dalam kemiskinan dan hutang yang menumpuk.” Kata-kata itu terngiang kembali di kepalanya. Hutang yang ditinggalkan mantan suami ibu Anggun, biaya hidup yang semakin mahal, dan kondisi kesehatan ibu Anggun yang belakangan ini sering menurun — semuanya menjadi alasan yang membuatnya akhirnya mengangguk setuju untuk menggantikan posisi ibu angkatnya. Ia tahu ia tidak punya pilihan lain. Sebagai gadis yatim piatu tanpa keluarga lain, tanpa pendidikan yang cukup untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, ia hanya bisa menerima apa yang ada di hadapannya. Di balik celah pintu itu, ia melihat lagi bagaimana ibu Anggun terlihat tersenyum samar di tengah desahannya, seolah mencoba menutupi rasa lelah yang mendalam. Rosalina mengerti, senyum itu bukanlah tanda bahagia sepenuhnya, melainkan topeng yang harus dipakai agar bisa bertahan hidup. Ia melihat bagaimana tubuh ibu angkatnya bergerak mengikuti irama yang dipaksakan, berpindah dari satu sudut ruangan ke sudut lain, seolah tidak ada tempat yang aman untuk menyembunyikan kenyataan pahit itu. Rasa panas menyelimuti pipi Rosalina, bukan karena rasa malu semata, tapi karena ia sadar bahwa tidak lama lagi ia pun akan berada di posisi yang sama. Ia akan menjadi Rose — sosok yang terpisah dari Rosalina yang dikenal sebagai siswi sekolah yang pendiam dan rajin belajar. Di siang hari ia masih bisa mengenakan seragam, duduk di bangku kelas, melupakan sejenak kenyataan hidupnya. Namun saat matahari terbenam, ia harus melepas identitas itu dan mengenakan pakaian yang berbeda, masuk ke dalam dunia yang baru saja ia saksikan bentuknya lewat celah pintu itu. Tiba-tiba terdengar suara tawa keras dari dalam kamar, disertai suara benda yang sedikit tergesek ke lantai. Rosalina tersentak, segera melangkah mundur dengan hati-hati, takut ketahuan sedang mengintip. Ia kembali berdiri di ruang tamu, punggung bersandar pada dinding yang dingin, napasnya terengah-engah seolah baru saja berlari jauh. Suara di dalam kamar itu masih terus terdengar, namun kali ini ia berusaha menutup telinganya dengan kedua telapak tangan, mencoba memisahkan dirinya dari kenyataan yang baru saja ia lihat dan dengar. Pikirannya melayang pada Madam Ara, wanita paruh baya yang memiliki tatapan mata tajam namun menyimpan kebaikan di baliknya. Madam Ara adalah pemilik klub malam tempat mereka bekerja, namun ia tidak pernah memaksa atau menyiksa siapa pun. Ia memberi tempat tinggal yang layak, memberi makan, dan bahkan mengingatkan mereka untuk selalu menjaga kesehatan dan keamanan diri. “Di dunia ini, kamu bisa mengendalikan dirimu sendiri asalkan kamu tahu batasannya,” ujar Madam Ara saat pertama kali bertemu dengannya. Kata-kata itu menjadi satu-satunya pegangan yang ia miliki saat ini. Di dalam kamar sebelah, suara itu perlahan mereda, digantikan oleh suara napas yang teratur dan gerakan yang lebih pelan. Rosalina tetap berdiri di tempatnya, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara, membasahi pipinya yang terasa dingin. Ia tahu ia tidak bisa lari dari kenyataan ini. Ia adalah Rosalina di siang hari, dan ia akan menjadi Rose saat malam tiba. Ia harus belajar menerima bahwa kehidupannya terbagi menjadi dua bagian yang sangat berbeda, dua dunia yang terpisah namun saling terhubung tak terelakkan. Ketika akhirnya pintu kamar itu terbuka perlahan, ibu Anggun keluar dengan rambut yang sedikit berantakan dan wajah yang terlihat lelah namun berusaha tersenyum lembut saat melihat Rosalina masih berdiri di ruang tamu. “Sudah pulang, Nak?” tanyanya dengan suara yang masih sedikit serak. Rosalina mengangguk pelan, mencoba menyembunyikan rasa gelisah yang meluap di dadanya. “Iya, Bu. Baru saja sampai.” Ibu Anggun mendekat, menyentuh bahu putri angkatnya dengan lembut. Matanya menatap wajah Rosalina seolah ingin mengatakan banyak hal, namun akhirnya hanya menghela napas panjang. “Maafkan ibu jika kau melihat atau mendengar hal-hal yang tidak pantas. Ini bukan jalan yang ibu inginkan untukmu, tapi ini satu-satunya cara agar kita bisa terus hidup.” “Aku mengerti, Bu,” jawab Rosalina dengan suara bergetar. “Aku akan melakukannya. Aku akan menjadi Rose, seperti yang ibu lakukan. Kita akan bertahan bersama.” Malam itu, di dalam kamar kecilnya sendiri, Rosalina berbaring menatap langit-langit yang penuh noda air. Ia masih teringat setiap gerakan, setiap suara, dan setiap bayangan yang ia lihat tadi malam. Ia tahu perjalanan baru ini tidak akan mudah. Ia harus membawa dua identitas sekaligus, menyembunyikan satu sisi dari dunia luar, dan menerima sisi lain yang terasa asing dan berat. Namun di tengah kegelapan itu, ia berjanji pada dirinya sendiri: apapun yang terjadi, ia tidak akan pernah melupakan siapa dirinya yang sesungguhnya. Ia adalah Rosalina, gadis yatim piatu yang berjuang, dan Rose hanyalah topeng yang ia pakai untuk bertahan hidup. Hujan akhirnya berhenti, meninggalkan udara yang dingin dan segar. Di luar, kota mulai terlelap, namun di dalam hati Rosalina, sebuah perjalanan baru yang penuh teka-teki dan tantangan baru saja dimulai.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
736.8K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
970.9K
bc

A Warrior's Second Chance

read
354.4K
bc

Not just, the Beta

read
345.9K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook