Operasi cangkok sumsum tulang belakang Ayu berjalan sukses. Semenjak insiden pertengkaran Nyonya Wisesa dan Satria, Sarah menjadi lebih pendiam.
"Hari ini Ayu sudah boleh pulang kan?" Satria bertanya pada Sarah yang sedang merapikan pakaian-pakaian Ayu yang akan dibawa pulang.
"Iya"
" Aku antar pulang ya?"
"Nggak usah, kami naik taksi saja. Mas Satria sudah banyak berjasa kami tidak ingin merepotkan lagi"
"Saya nggak repot, saya kan pengen jadi daddy nya Ayu. Daddy beneran bukan cuma panggilan aja"
"Saya sudah pesan taksi, sebentar lagi dateng."
"Batalkan Sarah, saya yang akan antar kamu!" Nada bicara Satria meninggi.
"Maaf nggak bisa" Sarah tetap pada pendiriannya.
Satria mengambil ponselnya dan menelpon security untuk membatalkan taksi pesanan Sarah.
Akhirnya dengan terpaksa Sarah mau juga diantar Satria. Sepanjang perjalanan tiada kata terucap.
Sampai di depan kontrakan Sarah, mereka keluar dari mobil masih dalam keadaan diam. Sarah menggendong Ayu yang tertidur dan merebahkannya di kasur. Satria menunggu Sarah di ruang depan.
"Saya mau bicara" ucap Satria dengan suara berat.
"Kamu lebih diam semenjak operasi, jadi lebih dingin. Kenapa?"
"Nggak papa, saya hanya menyadari posisi saya yang bukan siapa-siapa tapi sudah terlalu banyak berhutang budi pada Tuan" Sarah menunduk.
"Berapa kali saya harus bilang saya ingin jadi Daddy nya Ayu jadi kamu tidak berhutang budi apapun."
"Derajat kita jauh berbeda."
"Saya suka kamu Sarah. Masa bodoh dengan derajat atau apapun itu. Saya ingin membangun masa depan dengan kamu, hanya kamu!" Satria memegang pundak Sarah sambil menatapnya yang terus saja menunduk.
"Maaf, saya tidak ingin menjadi bayangan Elvira. Saya tahu di hati Tuan hanya ada Elvira." Sarah melepaskan tangan Satria dari pundaknya dan bergerak mundur menjauhi Satria.
"Beri saya kesempatan membuktikan bahwa saya sungguh-sungguh menginginkan kamu."
"Maaf hari sudah sore, silakan pergi dari sini saya dan Ayu butuh istirahat." Sarah sudah tidak ingin mendengar apapun perkataan Satria. Dia tidak mau pembicaraan ini berlanjut karena jika diteruskan air matanya sudah pasti akan menetes.
"Kamu mengusir saya? Baiklah mungkin kamu memang butuh istirahat tapi saya akan kembali membuktikan ucapan saya"
Sarah menutup pintu sesaat setelah Satria keluar. Dia tak sanggup lagi menahan tangisannya. Dan tangisan itupun pecah bersamaan dengan masuknya Satria ke mobil.
Satria memukul stir mobilnya. Dia belum siap kehilangan untuk kedua kalinya. Walau saat ini status hubungan mereka belum jelas Satria ingin menikahi Sarah sesegera mungkin. Sosok Sarah sudah membuatnya jatuh hati. Walaupun tidak ada lamaran romantis, ia hanya menyatakan ingin menjadi daddy nya Ayu berkali-kali. Satria yakin Sarah memahami maksud hatinya, tapi perempuan butuh kepastian karena itu Satria merencanakan melamar Sarah sepulangnya dari perjalanan bisnisnya ke Jepang.
○○○
Tiga hari sejak Ayu pulang dari Rumah Sakit Sarah mendapatkan pekerjaan di sebuah rumah makan sebagai pelayan. Setiap hari Satria mengirim pesan namun tak satupun dibalas oleh Sarah, telpon dari Satria pun tidak pernah dijawabnya. Satria tidak lagi mengunjungi kontrakannya karena sibuk mengurus bisnisnya di Jepang.
Sarah tidak ingin menjawab pesan-pesan Satria, ia bahkan memutuskan untuk melupakan Satria karena ucapan nyonya Wisesa saat itu memang benar. Derajat yang jauh berbeda, asal usul Sarah yang tidak jelas dan kenangan Elvira apalagi ditambah nyonya Wisesa tidak merestui hubungan mereka maka akan semakin berat hidup Sarah. Selama ini hidupnya sudah cukup berat tidak perlu ditambah lagi bebannya. Sarah hanya ingin hidup damai bersama Ayu.
Setiap jam makan siang rumah makan tempat Sarah bekerja selalu ramai. Dua orang pemuda yang terlihat seperti eksekutif muda memasuki rumah makan dan duduk di meja dekat jendela. Sarah menghampiri mereka.
"Mau pesan apa?" Sarah memegang pensil dan buku kecil.
Salah satu pemuda melihat ke arah Sarah dengan ekspresi terkejut dan menepuk teman di sebelahnya yang sedang sibuk dengan smart phone nya. Tatapan terkejut juga diberikan teman yang ditepuknya, mereka berdua menatap Sarah tak berkedip.
"Maaf saya ulang sekali lagi, mau pesan apa?"
"Em... nasi, sop buntut dan lemon tea."
"Saya ...juga sama."
"Ok, nasi 2, sop buntut 2, lemon tea 2."
Sarah segera membawa catatannya ke bagian dapur sementara kedua pria tadi berbincang.
"Jangan-jangan dia yang selama ini gue cari Gus"
"Loe harus pastiin dulu, banyak orang mirip Bas"
"Feeling gue dia orangnya"