Saat waktu makan siang tiba, Satria datang ke kamar inap Ayu. Ayu duduk di di ranjang rumah sakitnya sambil disuapi oleh Sarah.
"Daddy...!" Ayu berseru begitu melihat Satria membuka pintu kamar.
"Anak Daddy pinter ya, sebentar lagi makanannya habis!"
Satria mengelus kepala Ayu.
"Daddy punya hadiah buat anak Daddy yang cantik ini. Tarra!" Satria mengeluarkan sebuah boneka unicorn putih yang disembunyikan di belakangnya.
"Yeay boneka cantik!" Ayu memeluk boneka itu.
"Bilang apa sama Daddy?"
Sarah menegur Ayu dengan halus. Satria tersenyum mendengar Sarah mengucap kata Daddy, secara tidak langsung mengakui posisinya.
"Makaci Daddy"
"Sama-sama" Satria mengecup kening Ayu.
"Eh ada cuaranya!" Ayu menekan boneka tersebut lalu keluarlah suara kuda yang lucu.
"Silakan duduk Tu... eh... Mas!" Sarah mempersilakan Satria duduk di sofa tidak jauh dari ranjang pasien.
"Oh iya, ini makan siang" Satria menyerahkan paper bag berisi 2 porsi makan siang. Sarah menerimanya lalu mengambil piring dan menyajikannya di meja. Satria memperhatikan setiap gerak-gerik Sarah seraya mengulum senyum.
Serasa dilayani istri. Batin Satria
"Saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Mas Satria karena banyak sekali membantu kami dan bahkan Mas juga bersedia mendonorkan sumsum tulang belakang Mas untuk Ayu. Saya tidak tahu harus membalas dengan apa segala kebaikan Mas Satria" Sarah berucap penuh haru.
"Kamu dan Ayu sudah mengembalikan kehidupan saya, tidak perlu membalas dengan apapun"
Cukup menjadi pendamping hidup ku saja. Satria meneruskan kalimatnya dalam hati.
"Saya ikhlas nembantu" Satria memegang tangan Sarah.
"Maaf Mas!" Perlahan Sarah menarik tangannya.
"Kamu gak suka dipegang ya?" Ada raut kecewa di wajah Satria.
"Bukan muhrim Mas" Sarah menunduk.
"Oh saya kira kenapa, tapi waktu dulu saya ngamuk kamu peluk saya sampai saya tenang."
"Itu kan darurat, Mas hampir bunuh diri terpaksa saya lakukan itu."
"Saya rela ngamuk tiap hari biar dipeluk kamu."
Blush! Wajah Sarah merona mendengar penuturan Satria.
"Kalau lagi merona gitu kamu cantik, ngegemesin. Saya suka!"
Jantung Sarah bertalu-talu. Sarah mengambil nafas dalam-dalam berusaha menenangkan diri.
"Makan dulu mas nanti keburu dingin." Sarah menatap makanan yang sudah diletakkannya di meja sejak tadi.
Mereka berdua makan dalam diam. Sambil menyantap makanannya Satria menatap Sarah. Sesekali Sarah melihat Ayu yang asyik bermain boneka di ranjangnya dan saat tidak sengaja melihat ke arah Satria tatapan mereka bertemu lalu Sarah menunduk dan kembali melanjutkan makan siangnya.
Tidak lama pintu diketuk setelah Sarah dan Satria menghabiskan makan siang mereka. Manajer Rumah Sakit dan seorang dokter masuk ke dalam ruang perawatan Ayu.
"Tuan Satria maaf mengganggu, kami sudah menyiapkan kamar di sebelah kamar ini untuk Anda memulai prosedur operasi." Sang manajer Rumah Sakit berkata.
"Jam berapa operasi bisa dilakukan?" Satria bertanya pada sang dokter.
"Jam 12 malam ini, untuk itu Tuan Satria mulai puasa jam 2 siang ini."
Setelah memeriksa kondisi Ayu, sang dokter dan manajer Rumah Sakit pamit. Satria menelpon stafnya di kantor untuk membatalkan semua janji sampai besok.
"Sepertinya aku harus segera ke ruang sebelah untuk memulai prosedur operasi." Satria berdiri dan Sarah mengiringi.
"Saya antar Mas"
"Nggak usah, kamu di sini aja nemenin Ayu. Kasian nanti dia sendirian."
Perhatian banget sama Ayu. Sarah membatin.
"Ayu, Daddy pergi dulu ya nanti kita ketemu lagi" Satria mengusap kepala Ayu. Ayu mengangguk.
Satria melangkah menuju pintu bersama Sarah.
Jam 4 sore, Ayu masih tertidur di ranjangnya. Setelah shalat Ashar Sarah berniat mengunjungi ruangan Satria, baru saja sampai depan kamarnya Sarah mendengar pertengkaran antara Satria dengan Nyonya Wisesa.
"Mommy gak mau lihat hubungan kamu lebih dekat dengan Sarah. Cukup sampai donor saja!"
"Tapi Mom, Sarah itu yang mengembalikan hidup Satria."
"Sudah terlalu banyak yang kamu berikan buat perempuan kampung itu!"
"Mommy, Satria sayang Sarah dan Ayu!"
"Kamu sayang dia? Karena dia mirip Elvira makanya kamu merasa sayang. Elvira dan perempuan kampung itu beda derajatnya. Dia tidak jelas asal-usulnya! Dan dia memanfaatkan kemiripannya untuk membuat kamu jatuh cinta, semua perempuan suka harta! Buka mata kamu lebar-lebar!"
"Tapi Mom..."
"Tidak ada tapi, Mommy nggak mau punya menantu yang gak jelas asal-usulnya, camkan itu!"
Nyonya Wisesa meninggalkan ruangan dengan penuh emosi. Saat ia melewati pintu tatapan matanya bertemu dengan tatapan Sarah. Lalu memalingkan mukanya dan pergi begitu saja.
Sarah kembali ke ruangan Ayu dengan butiran air mata yang menetes deras.
Tidak jelas asal-usulnya
Tidak jelas asal-usulnya
Kalimat itu terus terngiang di kepala Sarah. Sarah memang tidak mengenal siapa orang tua kandungnya. Sejak usia 5 bulan ia ditemukan Mbok Nah di lapak pasar tempat Mbok Nah jual sayuran. Mbok Nah lah yang merawatnya sampai dewasa. Kebenaran ini baru diketahuinya beberapa saat sebelum Mbok Nah wafat.