"Sudah 3 hari ini Sarah tidak kelihatan, kemana dia?"
Satria membuka percakapan di meja makan saat sarapan bersama ibunya.
"Dia resign tepat saat mommy pulang dari Lombok."
"Resign? Kenapa?" Satria berhenti menyuapkan makanannya.
"Dia merasa tidak dibutuhkan lagi dan ingin lebih memperhatikan anaknya."
Satria segera menyelesaikan sarapannya. Fakta bahwa Sarah sudah berhenti bekerja membebani pikirannya. Selama 3 hari ini ia disibukkan oleh pekerjaannya sehingga tidak tahu kabar tentang Sarah.
Map-map yang menumpuk di meja dibuka Satria satu persatu namun pikirannya tetap tertuju pada satu orang yaitu Sarah. Akhirnya Satria memutuskan untuk menemui Sarah.
"Mang, kita ke rumah Sarah. Mang Usep tau rumahnya kan?" Satria masuk ke dalam mobil diikuti supirnya.
"Tau Tuan tapi Sarah lagi nggak ada di rumah, di Rumah Sakit." Mendengar jawaban supirnya Satria mengernyitkan dahi.
"Ya sudah kita ke Rumah Sakit"
Sedan Bentley hitam itu pun bergerak keluar dari kantor.
"Kamu tau dari mana Sarah di Rumah Sakit?"
"Barusan dia telpon Tuan, nanyain golongan darah saya katanya buat Ayu."
"Ayu sakit apa?"
"Nggak tau Tuan, Sarah langsung tutup telpon begitu tau golongan darah saya beda sama Ayu."
Satria berjalan memasuki lobby Rumah Sakit, semua staf berdiri dan memberi hormat. Satria berjalan menuju ruangan rawat inap anak. Dilihatnya Sarah sedang duduk bersandar ke tembok sambil memeluk lututnya dan menundukkan kepalanya. Satria berjongkok di depan Sarah.
"Sarah!" Suara bass Satria dan tepukan di bahunya membuat Sarah mendongakkan wajahnya.
"Tuan Satria?" Sarah menyeka air matanya dan menatap Satria penuh tanya.
"Kamu terlihat kacau, pulang dan istirahatlah biar saya yang jaga Ayu!" Ada rasa sedih di hati Satria yang berusaha ditutupinya.
"Tapi Tuan..."
"Nggak ada tapi-tapi! Ini perintah! Kalau Ayu melihat kamu seperti ini pasti dia sedih. Mang Usep akan mengantar kamu pulang."
Perintah dari Satria tidak bisa ditolak Sarah. Dengan langkah gontai ia menuju ke mobil bersama Mang Usep.
Satria memanggil manajer, direktur Rumah Sakit dan dokter yang menangani Ayu untuk dimintai keterangan terkait kondisi Ayu.
Sampai di rumah, merebahkan tubuhnya di kasur tubuhnya terasa amat lelah dan tidak terasa sudah 2 jam ia tertidur. Sarah segera mandi dan bersiap kembali ke Rumah Sakit.
Sarah berjalan melalui lorong Rumah Sakit, sampai di depan pintu ruang rawat anak kelas III ia membuka pintu perlahan. Ia melihat kasur yang ditempati Ayu sudah kosong. Berbagai prasangka buruk berputar di kepalanya, ia bergegas menuju Nurse Station.
"Suster, kemana anak saya Ayu? Dia tidak ada di kamarnya? Apa dia baik-baik saja?"
"Ibu tenang dulu. Pasien sudah dipindah kamarnya atas permintaan Tuan Satria."
"Sekarang dimana kamarnya?"
"Ruang VVIP di lantai 5"
Setelah berterima kasih pada perawat Sarah berjalan menuju ke lift dan menekan tombol 5.
Sarah membuka pintu perlahan, ruang ini sangat besar dengan hanya satu ranjang. Dekorasi khas anak-anak di dindingnya. Terdapat sofa dan ranjang untuk keluarga pasien.
Satria sedang membacakan sebuah buku cerita anak pada Ayu. Ayu mendengarkan dengan seksama walau terlihat tubuhnya masih sangat lemah.
"Ibu..."
"Sayang, maaf ya tadi ibu ketiduran." Sarah mencium kening Ayu.
"Daddy temenin Ayu baca cerita, Daddy juga beliin Ayu boneka."
"Daddy siapa?" Satria yang mendengar laporan Ayu hanya senyum-senyum sambil melihat ke arah jendela.
"Daddy Satria bu" Ayu menunjuk Satria.
"Saya yang menyuruh Ayu panggil saya daddy, gak pa-pa kan?"
"Tuan bukan ayahnya"
"Saya ingin jadi ayahnya Ayu"
Deg!
Perkataan Satria membuat jantung Sarah berdetak lebih cepat.
"Terima kasih Tuan sudah membantu kami, ruang ini pasti sangat mahal. saya akan membayarnya walaupun harus mencicil" Sarah mengalihkan perasaannya.
"Nggak perlu diganti Rumah Sakit ini bagian dari Wisesa Grup, dan kamu sudah berjasa mengembalikan hidup saya."
'Oh jadi karena balas budi.'Batin Sarah bicara
"Daddy, Ayu mau es klim"
"Daddy tanya dokter dulu ya, kalau boleh nanti Daddy beliin."
Satria keluar menuju ruang dokter. Tidak berapa lama ia kembali dengan membawa 2 buah ice cream.
"Ini ice cream buat Ayu dan ibu, Daddy harus ke kantor lagi."
Satria mencium kening Ayu.
"Terima kasih Tuan Satria"
"Jangan panggil saya Tuan, hubungan kita bukan atasan dan bawahan lagi. Panggil nama saja"
"Saya nggak bisa, Tuan lebih tua dari saya."
"Kalau begitu panggil saja Aa, Mas atau oppa juga boleh. Jangan panggil bang saya nggak suka."
"Pilihannya cuma itu?" Sarah merasa hubungan mereka belum sedekat itu.
"Dipanggil sayang juga saya tidak keberatan." Satria menaikan alisnya.
"Saya panggil Mas saja deh" Sarah tiba-tiba menjadi gugup.
“Mas... ok saya suka. Kamu bisa panggil saya dengan panggilan itu”
Satria terkekeh sambil melambaikan tangannya pada Ayu.
Pagi hari berikutnya seorang dokter datang dan memeriksa Ayu. Setelah memeriksa secara detail dokter tersebut bicara pada Sarah.
"Ada kabar gembira bu, kita sudah mendapatkan donor untuk operasi transplantasi sumsum tulang belakang Ayu. Golongan darahnya sama dengan Ayu dan hasil tes HLA nya juga memiliki kecocokan dengan Ayu."
"Alhamdulillah, saya senang sekali dok. Kalau boleh tahu siapa pendonornya ya?"
"Tuan Satria Abimanyu Wisesa."
***
Human Leucocyte Antigen (HLA) merupakan suatu protein atau penanda yang ditemukan pada sebagian besar sel pada tubuh manusia, yang bertanggung jawab pada pengaturan sistem imun tubuh, dan biasanya digunakan untuk proses pencocokan antara donor dan resipien (penerima donor) pada proses transplantasi sel punca hematopoeiteik. HLA tidak sama dengan golongan darah, walaupun sama-sama bersifat genetik atau diturunkan.