Empat

808 Words
Kondisi Satria kian hari kian membaik. Hal-hal pribadi seperti makan dan mandi sudah bisa dilakukan sendiri. Kursi roda pun sudah ditinggalkannya. Komunikasi verbal yang masih belum dilakukannya, ia masih sering terdiam dan merenung. Sarah meminta izin nyonya Wisesa untuk tidak bekerja selama 4 hari karena harus menjenguk neneknya Ayu di kampung. Sarah tetap menganggap mertuanya itu sebagai orang tuanya walaupun suaminya sudah wafat lebih dari dua tahun yang lalu. Setelah 4 hari tidak bekerja, pagi-pagi ia sudah tiba di kediaman keluarga Wisesa. Seperti biasa ia menuju kamar Satria. Sarah tidak menemukan siapapun di kamar itu, biasanya Satria masih di ranjangnya atau sedang duduk di teras kamar ditemani Adi sang perawat. Tiba-tiba Satria keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk sebatas pinggang dengan rambut yang masih setengah basah.Dada bidangnya terekspos bebas. Sarah terkejut, selama ini hanya almarhum suaminya yang pernah ia lihat seterbuka itu. Jantung Sarah berdetak kencang. "Maaf..." Sarah menutup matanya dan segera membalik badannya menuju pintu. "Berhenti di situ. Tunggu dan jangan pergi Sarah!" Suara bass Satria memerintah. Sarah pun terdiam mematung sambil menormalkan detak jantungnya ia mengambil napas perlahan. Selain terkejut melihat Satria tanpa pakaian ia juga terkejut karena kini Satria juga sudah mampu berkomunikasi secara verbal padanya. Setelah beberapa menit Satria yang sudah berpakaian mendekati Sarah dan menepuk bahu Sarah perlahan. Sarah pun membalik tubuhnya. Aroma maskulin tercium oleh Sarah. Sarah tetap menunduk. "Bisa pakaikan dasiku?" Suara Satria lembut mengalun di telinga Sarah. Tinggi Sarah yang hanya sebahu Satria membuatnya harus mendongak. "Maaf... saya ti-tidak bisa." Satria tersenyum mendengar jawaban Sarah. "Belajarlah mengikatkan dasi jadi lain kali bisa membantuku." Sarah mengangguk. Satria berbalik menuju cermin lalu mengikatkan dasinya dengan rapi. "Kalau bisa sendiri kenapa menyuruhku." gerutu Sarah pelan sekali. "Kau bilang apa?" Tanya Satria sambil melihat bayangan Sarah di cermin. "Ngg.... itu sarapan sudah siap." jawab Sarah asal. "Ok kalau begitu kita sarapan." Satria memakai jasnya dan berjalan menuju pintu sampai di depan pintu ia menoleh pada Sarah. "Hei melamun saja, ayo kita sarapan!" "Sarapan?" Sarah merasa bingung selama ini ia tidak pernah sarapan bersama Satria. “Iya, kita sarapan bersama.” Masih dengan kebingungannya Sarah berjalan di belakang Satria. Di ruang makan, Satria duduk di ujung meja sebelah kanan dan Sarah di sebelah kiri Satria. Hidangan berupa sandwich dan orange juice telah disajikan. "Ayo makan!"Satria menatap Sarah yang masih terlihat bingung. Makanan yang telah disediakan merupakan rezeki yang tidak boleh ditolak begitulah benak Sarah berkata "Bismillahirrohmanirrohim" Sarah mulai menyuapkan sandwichnya sedikit demi sedikit. "Mulai hari ini aku kembali ke kantor, sudah lebih dari 6 bulan posisi CEO kosong. Siang ini mommy kembali dari Lombok. Ada yang ingin kau katakan? Dari tadi keliatan bingung." Satria memperhatikan Sarah. "Saya hanya terkejut Tuan sudah sehat." "Oh ya bagaimana kabar Ayu?" "Baik." Sarapan pun berlanjut dengan senyuman yang terus menghiasi wajah Satria. Setelah Satria berangkat ke kantor tidak ada lagi hal yang dilakukan Sarah ia merasa bosan. Sarah berfikir untuk berhenti bekerja karena Satria sudah tidak membutuhkan bantuannya lagi. Menjelang sore nyonya Wisesa kembali dari Lombok. Sarah pun mengungkapkan keinginannya untuk berhenti bekerja karena ia merasa tidak dibutuhkan lagi dan Ayu butuh perhatian lebih. Nyonya Wisesa mengabulkan permintaan Sarah, sejumlah uang diberikan di luar gaji Sarah sebagai tanda terima kasih. Sarah senang sekali bisa pulang lebih awal dan membeli sebuah boneka untuk Ayu. Sesampainya Sarah di rumah Ayu menyambutnya. "Ibu..." Ayu memeluk Sarah. Tidak lama pelukan pun dilepaskan Sarah, telapak tangan Sarah ditempelkan ke kening Ayu. "Kamu demam lagi ya?" Sarah mengambil thermometer untuk mengecek suhu tubuh Ayu. "38°, Ayu makan, terus minum obat ya" Semakin malam kondisi Ayu semakin memburuk. Tiba-tiba Ayu mimisan dan aliran darahnya tidak juga berhenti. Sarah segera membawa Ayu ke Rumah Sakit. Sudah 2 hari Ayu dirawat dan belum ada perkembangan berarti. Berbagai tes sudah dilakukan, kini Sarah menunggu kedatangan dokter yang akan menjelaskan kondisi Ayu. "Anak ibu mengidap kanker darah atau leukimia stadium lanjut." Deg! Satu kalimat dokter Willy membuat jantung Sarah serasa berhenti. "Ayu masih bisa sembuhkan dok?" Penuh harap Sarah berucap. "Agar Ayu dapat sembuh harus segera dilakukan operasi pencangkokkan sumsum tulang belakang. Kita harus mencari donor yang sesuai dengan kondisi Ayu" "Saya akan segera mencari donor untuk Ayu. Terima kasih atas penjelasannya dok." Sarah keluar dari ruang dokter dan segera menelpon keluarga almarhum suaminya karena golongan darah Ayu sama dengan almarhum ayahnya maka besar kemungkinan ada donor yang cocok namun tidak satupun anggota keluarga almarhum suaminya memiliki golongan darah yang sama dengan Ayu. Golongan darah Sarah berbeda dengan Ayu, Sarah selama ini hidup sebatang kara tanpa keluarga kandung. Ibu angkatnya pun sudah lama meninggal. Sarah mendesah pasrah setelah selama satu jam mondar-mandir sambil menelpon. Ya Allah tolonglah hambaMu ini. Batin Sarah memohon. Sarah berjalan menuju ruang rawat Ayu. Sampai di pintu ruang rawat anak kelas III, ia berhenti menahan tangis. Sarah mundur beberapa langkah lalu bersandar di dinding Rumah Sakit. Duduk di lantai sambil menekuk lututnya dan menangis terisak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD