Nyonya Wisesa mempertemukan Sarah dengan dokter yang biasa menangani Satria. Sesuai instruksi dari dokter, Sarah banyak bercerita tentang apa saja pada Satria terkadang membacakan majalah atau buku.
"Tuan saya menemukan majalah bisnis ini di perpustakaan, edisi lama tapi covernya foto tuan Satria" Sarah duduk di samping Satria membuka sebuah majalah yang diletakkannya di atas meja.
Sarah membuka halaman demi halaman dan membacakan isinya.
"Wow ternyata Anda pernah mendapatkan penghargaan sebagai pebisnis termuda dengan prestasi terbaik di Asia versi majalah ini!"
Satria hanya terdiam melihat artikel yang ditunjuk Sarah tidak ada respon berarti darinya.
Sudah seminggu Sarah melakukan hal yang sama tetapi ia tidak pernah kecewa ataupun kesal dengan respon Satria padahal setiap hari dia seakan-akan bicara dengan patung.
"Halo..."
"Sarah kamu dimana? Tuan Satria mengamuk"
Bi Inah menelpon Sarah saat Sarah baru saja tiba di depan mansion keluarga Wisesa.
"Baru aja nyampe bi"
"Cepet masuk, Tuan sedang mengamuk di kamar!"
Bi Inah terdengar panik.
Sarah berlari dari gerbang depan disambut bi Inah yang mengiringinya ke kamar Satria.
Rupanya Satria baru saja terbangun dari mimpi buruknya dan mengamuk. Nyonya Wisesa sedang keluar kota, biasanya dalam kondisi seperti ini Nyonya Wisesa yang menenangkan Satria.
"Aku membunuh Elvira, aku pembunuhnya!"
Satria berteriak air matanya menetes. Kamar sudah sangat berantakan. Pecahan vas bunga, cermin dan lampu meja berserakan di lantai.
"Tenangkan diri Tuan!"
Adi berusaha mengajak Satria bicara.
"Aku akan menyusul Elvira!"
Satria mengambil sebuah pecahan kaca dan mengarahkan pada pergelangan tangannya.
"Jangan lakukan hal bodoh Tuan, kematian Elvira bukan salah Anda. " Sarah angkat bicara
"Aku yang membunuhnya, aku!"
Satria mulai mengiris pergelangan tangannya. Adi yang melihat itu tidak tinggal diam, ia berusaha menghalangi tindakan Satria dengan menarik tangan Satria tetapi Satria mendorong Adi hingga ia jatuh tersungkur di lantai.
Sarah yang melihat itu, segera memeluk Satria. Hal yang sering dilakukannya jika Ayu tantrum. Awalnya Satria berontak namun Sarah memeluknya begitu erat hingga Satria menangis di bahu Sarah.
"Aku membunuhnya, aku membunuh Elviraku....huhuhu...."
Sarah mengusap punggung Satria dan berkata dengan suara lembutnya. "Tuan tidak membunuh siapapun, kematiannya adalah takdir. Kalau sudah takdirnya kematian akan datang walau di atas ranjang."
“Aku... membunuhnya...”
“Kematian setiap orang sudah ditentukan Allah, Tuan Satria tidak pernah berniat membunuhnya semua murni kecelakaan. Tuan harus kuat, almarhum Nona Elvira pasti sedih jika menyaksikan Tuan seperti ini.”
Usapan di punggung Satria dan kata-kata Sarah menenangkannya. Sarah melepaskan pelukannya dan menatap Satria.
"Kematiannya bukanlah salah Anda, biarkan ia tenang dengan mengenang segala kebaikannya. Nona Elvira akan bahagia jika Anda juga bahagia dan dia pasti sedih jika melihat Anda seperti ini. Anda harus kuat dengan cobaan ini demi nona Elvira, Nyonya Wisesa dan orang-orang yang menyayangi Anda"
Satria terdiam dan menatap Sarah. Sarah menarik tangan Satria perlahan dan mengajaknya duduk di tepi ranjang.
"Sekarang Tuan berbaringlah sebentar lagi dokter datang untuk memeriksa Anda!"
Satria pun berbaring, Sarah merapikan selimut sampai sebatas d**a Satria. Sementara itu Bi Inah dan Adi sibuk membersihkan kamar.
Semenjak hari itu Satria tidak lagi mengamuk justru cenderung lebih tenang. Dokter pun mengatakan kondisi Satria membaik.
Berkebalikan dengan kondisi Satria, Ayu putri dari Sarah justru kondisi kesehatannya semakin memburuk. Ia terlihat semakin lemah.
Hari ini Sarah terpaksa membawa Ayu bekerja karena Mak Haji sakit. Sambil menemani Satria, Sarah mengawasi Ayu yang bermain tidak jauh dari mereka. Sesekali Sarah menemani Ayu bermain lalu kembali membacakan buku untuk Satria.
"Ayu, ibu mau ke toilet dulu ya. Ayu main sendiri dulu. Ibu cuma sebentar nanti balik lagi"
Ayu mengangguk tanda mengerti. Bosan dengan boneka, Ayu mengambil bola kecil berwarna pink dan melemparnya. Bola tersebut jatuh di dekat kaki Satria. Ayu melihat bolanya tapi tidak berani mengambilnya tidak diduga Satria menunduk mengambil bola itu lalu berdiri dan berjalan mendekati Ayu. Satria berjongkok sejajar dengan Ayu lalu memberi bola itu pada Ayu. Dan Satria tersenyum, senyum pertama sejak kematian Elvira.
Sarah dan nyonya Wisesa yang melihat itu terpana, ini adalah kemajuan yang sangat pesat. Satria sudah bisa berinteraksi dengan orang lain.