21+
Keira menegakkan badannya. Sudah jam enam pagi sementara Jimin di sampingnya masih pulas tertidur. Setelah semalam lelah meladeni Jimin agar amarahnya reda, kini Keira harus merasakan tubuhnya pegal semua.
Ia menghela sambil mencoba meraih kaus hitam agak kebesaran Jimin yang tergeletak di lantai. Memakaikannya pada tubuh telanjangnya seraya ia berdiri dan memungut pakaian mereka yang berserak di mana-mana. Jimin kalau sudah marah memang tidak akan kenal bagaimana Keira yang kualahan. Walau Keira memang sudah terbiasa dengan yang namanya hukuman kalau Jimin sudah termakan api cemburu.
Sebagai pacar, Jimin memang sangat posesif. Juga mengerikan kalau sudah ada pria yang berusaha mendekati wanitanya. Mereka sudah menjalin hubungan selama dua tahun. Sudah tinggal bersama sejak enam bulan lalu, dan akan menikah tiga bulan lagi. Jadi demi menjaga sampai hari itu tiba, Jimin hanya ingin melindungi hubungannya dari hal-hal luar yang berpotensi merusak hubungan tersebut.
Sebab alasan itulah Keira berusaha maklum walau kadangkala Jimin bersikap terlalu berlebihan. Seperti menyuruhnya berhenti menjadi sekretaris Jungkook karena Jungkook bagi Jimin adalah sesuatu yang berbahaya. Kendati Keira masih kukuh mengatakan bahwa hubungan mereka hanyalah sebuah profesionalitas semata.
Keira merapikan rumah mereka. Mulai dari membereskan berkas-berkas di meja kerja Jimin dan menatanya hingga tersusun rapi. Dia menyalakan penyedot debu dan membuka tirai-tirai, membiarkan sinar matahari yang mulai tampak menyambut pagi ini masuk ke dalam rumah.
Setelah selesai dengan itu, ia pun memasak sarapan. Dapur seketika riuh oleh Keira yang memotong daun bawang dan menggoreng ikan. Sudah seperti istri saja. Dan itu adalah hal yang sangat disukai Jimin. Pekerjaannya selalu selesai dan Keira terbiasa membuat orang-orang di sekitarnya merasa nyaman karena sikap yang selalu bisa diandalkan tersebut.
Sedang asik-asik memasak, lengan kokoh memeluk perutnya. Pemiliknya tentu saja Jimin yang kini menyandarkan dagunya manja di pundak Keira. Wajahnya masih mengantuk. Setengah memejam dan bibir yang sedikit merengut.
"Morning Babe," gumam Jimin serak.
"Morning," sapa Keira balik. Dia tersenyum melihat Jimin kesulitan membuka matanya.
"Mandi sana. Aku sudah siapkan air hangat. Setelah itu kita sarapan."
"Tumben tidak masak omelet hari ini." Jimin memeriksa pan yang berisi ikan salmon. Aromanya sangat harum bercampur daun bawang. Perut Jimin bertambah lapar.
"Kau kira aku selalu masak omelet?" omel Keira sembari tangannya lihai membalik ikan.
"Biasanya."
"Oke mulai besok aku akan membuang omelet dari daftar menu sarapan kita."
Jimin terkekeh rendah. "Apapun yang kau masak akan selalu enak."
"Jangan menggombal."
"Aku serius."
"Kalau begitu biarkan aku selesaikan ini dan pergilah mandi." Keira sedikit menggeliat kala pelukan Jimin kian mengerat.
"Eum, morning kiss ku mana?"
Keira menoleh ke samping dan mengecup bibir Jimin yang setengah mengerucut. "Sudah ya."
"One more."
"Ahh, cepat sana mandi."
"One more..."
"Oh God..."
Keira memberikan sekali lagi kecupan agak lama dan menarik bibirnya sebelum Jimin berbuat lebih jauh. Karena takut mereka tidak akan selesai dengan kegiatan itu.
Dia melihat seringaian puas Jimin. Pria itu ternyata belum mengenakan pakaiannya walau Keira lupa kalau pakaian Jimin sedang dia pakai. Jimin hanya sempat mengenakan celana pendek yang sudah kusut. Itupun karena Keira lupa memasukkannya ke keranjang cucian kotor. Karena kalau tidak, mungkin Jimin akan keluar telanjang.
Jimin pernah begitu. Dan Keira pasti akan mengomelinya.
Keira tersenyum melihat Jimin berjalan lagi menuju kamar sambil bersenandung.
Tapi dia berteriak lagi karena baru ingat sesuatu yang sudah dia siapkan sebelum memasak tadi. "Baby, pakaian kerjamu sudah aku gantung di balik pintu, ya!"
"Thankyou, Hun!" sahut Jimin dari dalam kamar.
***
Jungkook masih mengenakan piyama sedangkan stick game masih ada di tangannya.
Layar monitor menampilkan permainan Garena yang sudah game over masih menyala sepanjang malam. Jungkook tertidur di sofa. Tadinya dia bersama Jaehyun, tapi Jaehyun sudah bangun lebih dulu dan pulang sekitar setengah jam yang lalu.
Kini tinggal Jungkook sendirian di sana.
Snack-snack berserak di sekitar sofa. Begitupula berkaleng-kaleng minuman soda dan bir. Dia baru tertidur sekitar sejam yang lalu. Kantung matanya samar terlihat.
Jungkook baru terbangun sewaktu ponselnya berdering untuk yang ke sembilan kali dari kolong meja. Dia terjatuh ke lantai setelah berusaha meraih gawai tersebut. Kini dia meringis kesakitan walau akhirnya berhasil meraih ponselnya dan panik saat tau Keira lah yang menelpon.
Rusuh. Jungkook mendudukkan diri. kepalanya sempat terbentur pinggiran meja, menghasilkan bunyi 'Dug' yang keras sekali.
Jungkook kini mengaduh kesakitan.
"Halo, Kei," sapanya sambil mengusap-usap puncak kepalanya seraya meringis perih. Dia merasakan kulit kepalanya sedikit benjol kala diraba.
"Bos, Anda baik-baik saja?" tanya Keira cemas.
"Oh, ya-ya. Tentu."
"Bos, hari ini ketua ingin menemui Anda jam sembilan."
"Tiba-tiba?"
"Tidak tiba-tiba. Saya kan sudah tulis di jadwal. Lagi-lagi Bos tidak baca, ya?"
Jungkook menepuk jidat. "Aku lupa."
Keira menghela. Ingin sekali mengomel. Tapi dia seperti menahannya untuk sekarang. Tidak tau kalau nanti.
"Bos sudah akan ke kantor, 'kan?"
"Aku belum mandi."
"What?! Bos ini sudah jam berapa?! Bos kan tau ketua tidak suka terlambat."
"Aduh , iya-iya..." Jungkook melihat jam dinding. Dan gawat sudah jam delapan lewat sembilan belas menit. Ketua mungkin akan menendang bokongnya kalau memang dia terlambat.
Omong-omong yang dimaksud ketua adalah ayahnya. Dan gawat Jungkook kalau ayahnya tau dia malas-malasan bekerja dan membuatnya menunggu.
"Kei, apa kau bisa kemari secepatnya?"
Sementara Keira di kantor kini merotasikan bola matanya. Dia sudah menyiapkan kopi karena berpikir Jungkook sudah datang lebih dulu daripada dirinya.
Mendengar permintaan tersebut, Keira pun akhirnya setuju.
Dia bergegas memesan taksi menuju rumah Jungkook yang tidak jauh dari sana. bersiap membereskan kekacauan yang dibuat Jungkook padahal masih terlalu pagi.
Sesampainya dia di kediaman Jungkook, Keira menekan bel sekali dan Jungkook langsung membukanya. Pria itu masih shirtless dengan handuk melilit pinggang.
Tubuhnya masih terdapat sisa-sisa buliran air dan ada juga sedikit sabun di bagian d**a. Harumnya begitu menyegarkan sampai Keira gugup dan salah tingkah sendiri ketika masuk dan Jungkook segera ke kamarnya.
Keira membeliak melihat bekas-bekas snack dan berkaleng bir yang berserak di lantai. Lantas dia berinisiatif untuk memungut sampah-sampah tersebut. Membuangnya ke tong sampah yang ada di dapur. lalu sekalian membersihkan dapur yang berantakan.
"Astaga, kacau sekali," gerutu Keira selagi ia mencuci piring.
"Sudah jam berapa ini?" dia melihat arlojinya. Seketika dia menahan napas, "Astaga sudah jam sembilan kurang."
Baru saja dia hendak memanggil Jungkook, tau-tau dia mendengar suara dari kamarnya.
"Argh!"
Itu suara geraman kesakitan Jungkook. tanpa babibu, Keira berlari menuju kamar dan lupa mengetuk saat membuka pintunya.
Di sana dia melihat Jungkook sedang kesulitan menarik gesper celana. Wajahnya memerah, mungkin daging k*********a terjepit. Hal tersebut membuat Keira hampir tertawa tapi kasihan.
"Bos, kenapa?!"
"Aku tidak percaya ini bisa tersangkut. Sial sekali," omelnya sambil meringis. Dia masih mencoba menariknya. "Aku akan menuntut toko laundry di seberang jalan itu karena sudah merusak ini. Sayangnya aku tidak bisa pakai celana yang lain. Ayahku suka aku pakai celana ini. Dia suka bahannya. Tapi kenapa sekarang malah membuatku kesal?"
"Kenapa Bos tidak cuci sendiri?"
"Tidak ada waktu."
Keira mendekati Jungkook yang masih berusaha itu. pria itu heran ketika Keira mendekat.
"Sini saya bantu."
"Eh, tapi..."
"Jangan berpikir macam-macam, kan sudah tugas saya membantu kesulitan apa saja yang Anda alami."
"Ah kau benar."
Jungkook pun membiarkan Keira berlutut di lantai selagi memegang gespernya.
Situasinya agak aneh dan menegangkan sekaligus.
Kenapa Jungkook sama sekali tidak bisa menghentikan pemikiran joroknya? Adegan ini dan posisi ini pernah di lihatnya di sebuah film dewasa berjudul ; Bos and secretary. Keira mungkin tidak pernah menontonnya. Tapi Jungkook sering.
"Kei, sudah berapa lama kau bekerja denganku sebagai sekretaris?" tanyanya mengalihkan otak m***m yang sedang bekerja.
"Bulan depan tepat tiga tahun," jawab Keira. Dia masih melerai benang-benang yang menyangkut di retsleting Jungkook. lalu sedikit demi sedikit menariknya.
"Selama itu, apa aku sering membuatmu kesulitan?"
Jungkook tersenyum mendengar Keira menghela dan berujar. "Tidak, Bos."
"Sering, ya? mengaku saja."
"Iya. Sesekali. Tapi saya maklum. Bos kan juga baru. jadi kita sama-sama membantu."
Jawaban yang membuat Jungkook lega.
"Jangan berhenti membantuku, ya. kau harus selalu di sisiku," ujar Jungkook.
Keira tidak terlalu bisa menjamin setelah dia teringat segala omelan Jimin. tapi, melihat Jungkook yang memang begitu membutuhkannya, rasanya Keira akan mempertimbangkannya.
Dia hampir menarik utuh retsleting tersebut namun karena celana yang dikenakan Jungkook juga agak kekecilan. Atau karena Jungkook memilik postur yang besar, entah bagaimana ceritanya itu sedikit menyangkut lagi walau Keira hampir menariknya sampai keatas.
Karena tenaga ekstra tersebut, Jungkook tak sengaja kehilangan keseimbangan dan terhuyung ke depan. Mengakibatkan area sensitif miliknya mengenai hidung Keira.
Hanya sebentar dan tak sampai dua detik namun itu terasa sekali.
Karena sudah selesai dan kecanggungan harus segera diakhiri, terlebih mereka harus bergegas, Keira pun menegakkan badannya walau dia terkejut saat Jungkook menahan pundaknya agar dia tetap berlutut.
Dilihatnya Jungkook menelan saliva. Wajahnya gugup saat berkata, "K-kei, bisa bantu aku lagi?"
"Apa... yang bisa saya bantu?" tanya Keira sambil menengadah. Firasatnya sudah tidak enak.
Jungkook merasakan celananya semakin mengecil karena fantasinya sudah kemana-mana akibat posisi ini.
"Aku butuh bantuanmu lagi," dia melirik ke juniornya.
Keira mengerjap. Dia tak menyangka setelah lama bersama Jungkook, ini hari paling aneh mereka berdua. Keira hendak menolak namun ia lihat wajah Jungkook tampak memerah. Apalagi telinganya.
Keira kini tau bahwa Bos-nya tersebut sedang terangsang.
Keira menyalahkan diri sendiri karena tidak hati-hati. Walau menganggap Jungkook adalah teman sekaligus atasan, tapi dia lupa Jungkook juga laki-laki.
"Aku sedang kesulitan," ujar Jungkook. "Tolong, ya.Eum? Sekali ini saja. Setelahnya anggap tidak pernah terjadi. "
Dengan berat. Keira mau tak mau harus menurut berhubung dia sudah termakan omongan sendiri.
Jungkook tersenyum tipis ketika Keira akhirnya setuju dan kini bergerak membuka gespernya kembali. Jungkook pikir dia akan mengganti celananya setelah ini. Persetan dengan kesukaan sang ayah.
Ia memejam saat merasakan tangan lembut Keira mengeluarkan juniornya. Begitu pas dan hangat. Jantungnya berdebar dan adrenalinnya membuat tubuhnya memanas.
Keira sudah beberapa kali melakukan ini dengan Jimin. jadi dia tak begitu kesulitan saat melakukannya pada milik Jungkook.
Jungkook menengadah saat akhirnya fantasinya terpenuhi kala Keira memasukkan miliknya ke dalam mulut. Sedikit menekan lidahnya di ujung dan menenggelamkannya. Begitu berulangkali sampai Jungkook tak bisa menahan tangannya untuk menyentuh puncak kepala Keira dan menekan belakang kepalanya.
"Sshhh... so good. Kau pandai sekali. Apa yang tidak bisa kau lakukan. Hm?" ceracaunya sambil melihat Keira yang sangat lihai itu. "Aku sangat beruntung memilikimu," katanya lagi dengan suara yang berat dan sedikit serak.
Keira merasakan tenggorokannya penuh. milik Jungkook itu besar dan membuatnya sulit untuk memasukkan secara utuh. Walau Keira tak terkejut karena dia memang sesekali melihat bagian ini dari balik celana, tercetak dan mengembul.
Keira sesekali memainkan ujungnya dan menekan-nekan mainannya. Dia menengadah dan melihat Jungkook yang menjilat bibir berulangkali dan kini menggigit bibirnya. Mendesah pelan sambil berusaha tersenyum pada Keira yang masih melakukan pekerjaannya dengan baik. Sampai dirasakannya Jungkook hampir sampai, lantas mencapai orgasmenya.
Keira menelan itu semua karena dia juga tak terlalu keberatan.
Jungkook tersenyum puas. Dia menarik Keira untuk berdiri. Ia hendak menyambar bibirnya yang masih basah, namun Keira segera menutup mulut Jungkook dan berkata dengan tajam,
"Kita harus cepat, Bos. Anda Sudah sangat terlambat."
"Tidak apa-apa. sesekali ayah memang harus menunggu."
"Tapi..."
"Oke-oke," Jungkook terkekeh rendah. "Aku ganti celana dulu. tunggu saja di luar. Tidak lama, kok."
Dan Keira menurut. Wanita itu pun keluar dari kamar Jungkook. Lantas bergegas menuju westafel karena mendadak dia ingin muntah. *)