Soundtrack:
Good thing : Zedd ft Kehlani
Kim Keira sudah bekerja di Jeon Corporation sejak tiga tahun terakhir sebagai sekretaris Jeon Jungkook. usianya baru 25 tahun bulan Juni kemarin. Dia juga cantik, pintar, berbakat dan elegan. Jeon Jungkook sangat menyukai etos kerjanya yang selalu rapih. Dia juga rajin serta lugas.
Tetapi ada satu hal yang kadangkala membuat Jungkook berpikir bahwa Keira lebih mirip ibunya ketimbang sekretarisnya ketika dia sedang mengomel seperti sekarang ini.
"Anda tau kan sedang ada di mana? Bagaimana jika bukan saya yang buka pintunya? Bagaimana jika yang melihat orang lain? Yunho mungkin? atau Hana, atau Yoonghee atau yang lain? Pokoknya kalau selain saya yang melihat, apa yang akan mereka pikirkan tentang Anda?! Bos tolong ya, lain kali jangan lakukan itu di kantor. Saya tidak ingin terjadi hal buruk pada reputasi Anda. Bagaimana jika kejadian ini akan dimanfaatkan oleh oknum yang ingin menghancurkan nama baik perusahaan! Kalau saya laporkan ini ke ketua beliau pasti akan sangat marah melebihi saya. Bos dengar tidak sih saya bilang apa!"
Walau ketika marah, Jungkook suka sekali melihat matanya yang berapi-api itu. Onyx yang membara, menantangnya namun menggoda secara bersamaan. Suara marahnya juga tidak pernah meninggi. Keira selalu bisa menata dirinya sesuai porsi. Tak mau berlebihan agar tak mencoreng keanggunannya. Salah satu hal yang disukai Jungkook, yakni, kesabarannya.
Beda hal kalau bagi Keira, yang jika melihat kelakuan Bengal si bos, dirinya pun terkadang frustrasi. Usia Jungkook sudah dewasa tapi sifat kekanakannya terlampau menyebalkan melebihi bocah sepuluh tahun, yang kadang membuatnya kualahan. Contoh pertamanya seperti tadi siang. Ketika wanita galak bernama Madam Kim hampir menjambaknya karena sikap ogah-ogahan si Jeon.
Tak pelak karena semua hal tersebut, Jungkook juga sering kena omel orang tuanya. Kalau bukan karena paksaan sang ayah untuk ikut andil menjalankan perusahaan, dia pasti berakhir seperti pria urakan yang suka foya-foya dan julukan si anak manja akan melekat padanya untuk selamanya.
Lihat apa reaksinya ketika Keira sudah mengomel begitu? Jungkook malah tengah asik mengorek telinganya sambil kedua kaki terangkat ke meja. Hampir-hampir menggeser papan nama Direktur Jeon di sana. tampangnya biasa saja, santai seperti tak melakukan kesalahan.
Lalu dia berujar, "Saya paham, saya tahu, jadi bisa berhenti sekarang Kei?"
Mulut Keira terkatup. Tapi dia tak tahan untuk kembali mencibir, "Kalau paham tolong jangan diulangi lagi. atau saya adukan ke ketua."
"Oke-oke. oh... sudah jam berapa ini? sudah waktunya pulang, kan?" Jungkook berdiri seraya melihat jam menunjukkan pukul delapan malam. Dia menghampiri Keira dan memegang kedua pundaknya. Dilihatnya betul bagaimana wajah cantik sekretarisnya itu. Level kecantikan yang berbeda. Seperti bunga mawar. Jika wanita yang selama ini dia temui hanya sekedar cantik dan menyegarkan mata, namun Keira itu beda. Dia cantik dan dia bukan sekedar cantik. Keira lebih cantik di dalam dirinya yang membuat pria manapun tak berkutik.
Jungkook menahan senyum melihat tatapan tajam Keira. Wanita itu hanya dapat mengerjap. Memilih untuk tak menghindar.
"Yang tadi itu, cuma salah paham. Aku tidak menduga Sora akan bersikap begitu," ujar Jungkook.
"Anda seharusnya bisa menghindarinya," balas Keira.
Jungkook mengangguk. "Ya-ya, kau benar. Dan tenang dia tidak akan datang lagi. Aku sudah menyuruhnya untuk tidak menemuiku lagi setelah hampir memperkosaku. Untung kau datang tepat waktu."
"Kenapa Nona Sora harus melakukan itu?" tanya Keira dengan alis mengerut.
"Ya, aku juga tidak menyangka" Jungkook menegakkan badannya. "Pokoknya lain kali kalau dia mau menemuiku di kantor, bilang saja aku sedang ada urusan di luar, oke?"
Keira mengangguk. "Tapi bos bilang dia tidak akan datang lagi, 'kan?" tanyanya cemas.
Jungkook menepuk pundak Keira pelan. "Tentu saja."
"Kalau begitu baguslah." Keira tersenyum lega. Dia melihat arloji yang melingkar cantik di pergelangan kiri. "Saya pamit dulu," katanya.
"Silakan."
Maka Keira membungkuk sejenak sebelum berbalik. Suara ketukan heels-nya menemani langkahnya yang menjauh sampai benar-benar menghilang di balik pintu ruangannya.
Jungkook mendekat pada pinggiran jendela kaca tembus pandang memperlihatkan penampilan malam Seoul yang indah dan ramai di penuhi kerlap lampu-lampu kota. Sambil mengingat apa yang dilakukan Sora padanya siang tadi.
Sora adalah wanita yang sudah menjalin hubungan dengannya selama sebulan terakhir. Mulanya Jungkook merasa cocok. Tetapi lama-kelamaan dia merasa muak lantaran sifat Sora semakin menyebalkan. Wanita itu tak puas dengan hanya mengencani satu pria. Dia suka memeras, manipulatif, suka merengek, mengatur, punya ambisi berlebihan, egois dan obsesif. Jelas Jungkook tak suka ada wanita seperti itu di dekatnya.
Dan insiden yang tadi siang itu adalah puncaknya...
"Jadi aku dibuang?!" sentak Sora.
"Aku tidak mengatakannya begitu. Aku hanya bilang kita tidak bisa lagi bertemu," jelas Jungkook.
"Intinya kau membuangku!" Sora masih melotot. Dia sudah sangat kesal.
Jungkook tak menggubris. Dia memunggungi Sora dan memilih mendekati jendela kaca yang menampilkan keadaan di luar.
Jungkook memejam mendengar Sora berkata lagi dengan nada yang terdengar menyebalkan baginya. "Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Jeon."
Jungkook spontan berbalik. Dia sudah sangat kesal. "Terserah!" sentaknya. " Intinya sekarang pergilah dan jangan datang lagi dan membuat kerusuhan di kantorku."
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku!"
"Aku bisa, aku punya hak, kenapa aku harus mempertahankan hubungan aneh dengan wanita sepertimu? Demi Tuhan selama ini aku hanya buang-buang waktu."
"Kau kejam, Jeon." Sekarang Sora menangis.
"Astaga. ini melelahkan." Jungkook memijat keningnya. Dia beranjak menghampiri Sora lalu hendak menariknya keluar.
Namun, Sora bersikap di luar dugaan Jungkook. wanita itu mendorongnya sampai terhempas ke sofa dan menaikinya sambil tak berhenti mengatakan, "JANGAN LAKUKAN INI PADAKU! JEON k*****t!"
Lalu wanita itu membuka paksa bajunya sampai terlepas.
Dan begitulah Keira datang ke ruangannya.
Benar-benar hari yang menyebalkan.
Jungkook mengeluarkan ponselnya. Dia menghubungi nomer sahabatnya Jaehyun. Namun baru dua kali sambungan, tiba-tiba saja suara heels yang melangkah setengah berlari terdengar gaduh dari lorong di luar ruangan.
Jungkook menjauhkan ponselnya dari telinga dan terkejut melihat Keira balik lagi. wajahnya yang panik berkeringat, sedang nafasnya tak beraturan.
"Bos, Nona Sora sedang menuju kemari! Saya bertemu dengannya di bawah. S-saya naik tangga darurat untuk memberitahu hal ini."
"Sial. Apa lagi yang dia inginkan sebenarnya?" Jungkook ikut panik. Dia tidak mau berhadapan dengan Sora yang menyebalkan. Dia tidak mau mendengar rengekannya yang menjengkelkan.
Jungkook memutar otak. Bersembunyi jelas tidak mungkin karena Sora pasti tau dia masih di sini makanya datang lagi. wanita itu licik sekali. kalau tidak ditangani sekarang, mungkin dia akan terus kembali.
Dilihatnya Keira. Lalu terlintaslah sebuah ide.
Tuk
Tuk
Tuk
Suara heels terdengar mendekat.
Jungkook menarik Keira ke meja kerjanya. Mendudukkannya di sana sampai membuat papan nama, berkas-berkas, pulpen dan benda-benda disekitarnya harus tersingkir dan berjatuhan ke lantai.
"B-bos mau apa?" tanya Keira ketika Jungkook membuka tiga kancing bajunya.
"Tenang dan ikuti," beritahu Jungkook.
"Tapi..."
"Ssst..."
Jungkook melepas dasinya sendiri serta mengeluarkan kemejanya. "Mian, Keira..." ucapnya sebelum mencium wanita itu yang jelas tak siap.
Keira membeliak. Dia berusaha mencerna situasi apa yang saat ini terjadi. namun di kepalanya hanya dipenuhi bibir lembab, kenyal yang sekarang menempel di bibirnya. Kedua telapak tangan hangat menangkup sisi wajahnya , rok span yang mengetat di bagian paha serta d**a Jungkook yang menempel membuatnya merasakan harum parfum si bos memenuhi penghidunya.
Di lain sisi, Sora semakin mendekat. Wanita itu berambut pirang, dengan make up tegas terutama di bagian bibir yang dipoles lipstick warna merah menyala. Tubuhnya dibalut blus satin warna biru safir. Tas merk Prada bertengger di tangan kanan.
Matanya masih tersirat amarah seperti siang tadi karena dia masih merasa urusannya dengan Jungkook belum selesai. Sampai akhirnya ia membuka pintu ruangan Jungkook lantas apa yang dilihatnya membuat tas Prada senilai ratusan juta terjatuh ke lantai saking terkejutnya.
"Jungkook apa yang..."
Mendengar suara Sora, Jungkook menjauhkan wajahnya dari Keira yang memejam dan berusaha mengatur napas. Lipstick Keira sudah berantakan dan sebagiannya membuat bibir Jungkook turut merah-merah.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Sora syok kala melihat keadaan Keira, apalagi Jungkook yang berantakan.
Ekspresi Sora mirip seperti wanita tersakiti yang memergoki kekasihnya berselingkuh, persis seperti di drama-drama itu.
Jungkook menghadap Sora dan menaikkan bahu sejenak. "Persis seperti apa yang kau lihat," katanya. Jungkook memamerkan smirk.
"Jadi... kau memutuskanku karena wanita ini?" tanya Sora tak percaya.
Keira membuka matanya untuk melihat Sora yang berada di depan pintu. Wajah wanita tersebut memerah. Air matanya bergulir deras mengaliri pipi. Mulanya Sora tak melakukan apapun melainkan melihat mereka berdua bergantian.
Sampai ketika Sora tampak kian geram, ia melangkah cepat mendekat ke arah mereka.
Membaca situasi yang terjadi, Keira lekas bertindak. Ia spontan turun dari meja. Diraihnya lengan Jungkook dan menariknya ke belakang tubuhnya.
Sora yang semula ingin menampar Jungkook makin geram karena Keira yang terlihat berusaha melindungi. Maka jadilah dia menampar Keira setelah dia sampai di hadapannya. Hingga membuat Keira terhuyung ke samping. Pipi kanan yang menjadi sasaran tamparan Sora pun memerah.
Jungkook barusan saja hendak melerai, akan tetapi Keira dengan cepat menghadap Sora. Tampak Keira pun tak kalah geramnya. Tatapannya dingin, auranya menjadi-jadi sampai rasanya suhu di udara turun drastis hingga membuat Sora mundur seiring Keira yang mendekat.
"Aku sudah benar-benar muak, kau tau tidak Nona Sora? Bukankah bos saya bilang untuk jangan datang lagi? apa kau tuli?"
"MEMANGNYA KAU SIAPA!"
"Aku yang harusnya tanya padamu, kau itu siapa setelah dicampakkan? Menyedihkan sekali seperti kau tidak lagi punya harga diri untuk meminta pria yang sudah membuangmu supaya memungutmu kembali. Apa sebutan yang cocok untukmu? Sampah? Jalang? Pengganggu?"
"Beraninya k—"
"DIAM! AKU BELUM SELESAI BICARA, JALANG!" bentak Keira hingga Sora tersentak dan menciut.
Jungkook juga terkejut mendengar suara Keira. Makin terkejut lagi ketika Keira menerjang lebih dulu untuk menarik rambut Sora sampai keduanya pun terlibat adegan saling jambak.
"Wanita licik! Sudah berapa kali kau tidur dengannya, jalang! Dasar w*************a!" Sora nyaris berteriak.
"Beraninya mulut kotormu itu menghinaku!!" Keira makin menarik kuat rambut Sora sampai wanita itu menengadah dan menjerit kesakitan.
Suasana semakin rusuh serta tak terkendali oleh amukan dua wanita ini.
Sial. Jungkook bingung harus melakukan apa kalau begini jadinya. Tetapi dia tak perlu melakukan apapun ketika dilihatnya Keira berhasil mengunci kedua tangan Sora sebelum mendorongnya keluar.
Di sana dia berkata lagi, "Pergi dan jangan kembali lagi. aku tidak mau mengotori tanganku untuk menghabisimu. Aku tidak pernah main-main untuk membasmi serangga," ujar Keira dingin dan penuh ancaman.
Kata-kata tersebut berhasil membuat Sora benar-benar ketakutan. Tak perlu berlama-lama, wanita yang sudah terlihat pucat melihat Keira itu pun pergi dari sana. langkahnya tertatih. Keira melihatnya dari ambang pintu ruangan Jungkook sampai Sora benar-benar lenyap setelah berbelok di ujung lorong yang di sana terdapat lift.
Setelah itu, barulah Keira menghela napasnya. Setelah merapikan rambut berantakannya, dia menghampiri Jungkook yang masih terpana setelah kejadian singkat beberapa saat yang lalu tersebut.
Keira... Keira jauh lebih tangguh dari apa yang dia pikirkan dan itu membuat Jungkook takjub. Apa yang tidak dapat Keira selesaikan sebenarnya?
"Situasi sudah aman bos. Maaf seharusnya saya bisa menghentikannya saja sejak awal ketika melihat wanita itu di lift tadi. Bukannya malah membiarkannya menemui bos dan semuanya kembali kacau.Ya... tapi sudah tidak apa-apa." Keira tersenyum. Sesaat kemudian dia tertegun melihat bibir Jungkook.
Satu pertanyaan dalam benaknya, "apakah yang menempel di sekitar bibir Jungkook itu adalah warna lipstiknya?"
Keira menyentuh bibirnya sendiri.
"Bos... a-apakah saya boleh pulang?" tanya Keira.
Jungkook mengerjap. "Ya... ya silakan. Tapi sebentar soal yang tadi, maaf aku hanya..."
"Saya mengerti kok," pungkas Keira. "Kadang situasi tidak terduga membuat kita jadi tidak bisa berpikir jernih," sambungnya.
"Ya." Jungkook membenarkan.
"Saya pamit."
Namun Jungkook menahannya, "Saya antar, bagaimana?" tawarnya. Mengabaikan dering ponselnya. Panggilan dari Jaehyun yang menghubunginya balik.
Keira berpikir sejenak. Ada perasaan tak enak dalam dadanya. Tetapi dia tidak mungkin menolak tawaran dari bos nya, 'kan? Itu lebih tidak mengenakkan lagi.
"Baik. Terima kasih,"ucap Keira.
***
Sinar layar MacBook yang menampilkan berita acara kasus sengketa tanah milik Lim Jonghun membuat Jimin berulangkali memperbaiki kacamata berbingkai hitamnya. Pemuda berparas manis yang merupakan seorang pengacara tersebut berupaya konsentrasi. Tetapi sesekali ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan jam setengah sebelas malam dengan begitu gelisah. Jelas sekali Jimin tak bisa fokus.
"Apa ada lembur? Apa dia membuatnya tidak bisa istirahat lagi? sial seharusnya dia tidak terlalu memaksanya bekerja dengan keras," ujarnya setengah menggerutu.
Suara ketikan di keyboard menemani keheningan. Lalu beberapa saat kemudian, pada akhirnya dia mendengar suara deru mobil di halaman depan.
Jimin lekas beranjak dari duduknya untuk menghampiri jendela depan. Ia singkap tirainya dan melihat Keira, kekasihnya diantar Jeon Jungkook.
Jimin mendengus kesal. Ia pun keluar rumah untuk turut menghampiri Keira yang sudah keluar dari mobil mewah Jungkook. sedangkan bosnya itu masih setia di kemudinya.
"Hai, Hyung," sapa Jungkook setibanya Jimin di samping Keira dan merangkul wanita itu. bersikap posesif.
Jimin adalah kakak tingkat Jungkook dulu sewaktu di universitas, jadi Jimin tau betul bagaimana Jungkook dan rumor tentangnya.
"Aku mengantarkan Keira karena cemas ini sudah larut. Tidak baik wanita pulang sendirian."
Jimin diam saja. hanya mengulas senyum. Walau dalam hati dia mati-matian menggerutu seperti,
"Beraninya mencemaskan pacarku."
"Kalau cemas seharusnya tidak usah membiarkannya pulang larut."
Walau begitu Jimin tetap bersikap tenang dan berujar, "Terima kasih sudah mengantarkannya dengan selamat. Kau boleh pergi."
"Jim," tegur Keira sambil menyikut Jimin.
Jungkook hanya tersenyum. "Tidak usah sungkan, Keira adalah sekretarisku yang paling berharga, aku pasti akan selalu memperlakukannya dengan baik."
"Terima kasih." Keira membungkuk namun pundaknya segera ditahan Jimin yang mendelik pada Jungkook. mengisyaratkan padanya untuk lekas pergi dari rumah mereka.
"Kalau begitu aku pamit. Kei, terima kasih hari ini. sampai ketemu besok."
Keira ingin membalas namun dia mengurungkan niat ketika melihat Jimin yang tampak sangat tidak senang.
"Kenapa tidak bilang padaku untuk menjemputmu?" tanya Jimin setelah Jungkook pergi.
Keira menatap Jimin, "Kau pasti sibuk."
"Aku pasti tetap akan menjemputmu," katanya. Dia mengesah. "Lain kali kalau Jungkook ingin mengantarkanmu pulang, kau bisa saja menolaknya."
"Aku tidak mungkin menolak tawaran dari bos, Jim. Kau kan tau aku ini adalah sekretarisnya. Lagipula hubungan kami hanya sebatas itu. tidak lebih. Apa yang harus kau curigakan?"
"Noda lipstik di bibirnya dan harum parfum pria di tubuhmu," ujar Jimin tajam. Keira terkejut. Jimin berkata lagi. "Itu yang membuatku harus curiga. Apa lagi?"
"Ini..."
"Kalau kau mengilah aku anggap kau benar berselingkuh dengannya."
"Aku bisa jelaskan!"
Jimin mendengus. Dia pergi meninggalkan Keira untuk masuk ke dalam. Sementara wanita itu mengikutinya seraya memelas. Berharap mereka tak bertengkar oleh masalah yang sama lagi untuk yang kedua kali.
Jadi sekretaris dengan bos seperti Jungkook, memanglah tidak mudah. Keira mengakuinya sekarang.